Kampong Blangkon Serengan, At Glance (Secuplik Tentang Kampung Blangkon Serengan)

Serengan Quarter located on south side of city of Solo, Central Java,  might not as popular as other urban settlement such as Kauman or Laweyan. However, the narrow alleys and crowded houses presents an interesting story. The dense region is known as Kampong Blangkon, a nickname for place-based community which many of the resident make a living as blangkon artisan. Blangkon is traditional javanese headdress worn by men and made of batik fabric.

Gula Dan Kenangannya Yang Tak Lagi Manis

Sangat mudah menemukannya. Terbaring di tepi akses utama antara kota Solo dan Yogyakarta tepatnya Jalan Raya Yogya-Solo Km 25, Klaten, setiap orang yang berkendara antar dua kota tersebut pasti melewati. Banyak yang menyebutnya museum gula Gondang karena berada satu komplek dengan Pabrik Gula Gondang Baru yang dulu bernama Gondang Winangoen. Suiker fabriek yang dibangun tahun 1860 ini sendiri masih berproduksi walau terengah-engah.

Mengecap Perjuangan Senyap Sang Republik

Bisa dimaklumi jika nama Roebiono Kertopati terdengar asing sebagai pelaku sejarah perjuangan nasional. Gaungnya tenggelam oleh riuh nama tokoh-tokoh kondang yang sosoknya abadi dalam buku sejarah maupun nama jalan seperti Soekarno, Hatta, Soedirman, Gatot Subroto dan lain-lain. Bahkan jika dibanding seperti Tan Malaka, Aidit, Muso, Kartosuwiryo yang masih terdengar lebih familiar terlepas dari percikan kontroversi kalau tak mau dibilang antagonis.

Membaca (di) Bandung

Sang Ilahi menurunkan wahyu pertama, dalam agama Islam, berupa perintah untuk membaca. Sebuah tengara nyata bahwa literasi adalah laku maha penting bagi manusia untuk membangun peradaban. Sayangnya Indonesia masih tertinggal dalam perkara ini. Dan diyakini rendahnya minat baca menjadi salah satu faktor utama penyebab si negara beribu pulau tertinggal oleh kereta kemajuan global. Sudah banyak angka menyajikan ironi. Salah satunya data yang dirilis oleh PBB pada tahun 2015 melalui UNESCO mengungkap bahwa presentase minat baca Indonesia di kisaran 0.01 persen, terendah di antara para tetangga ASEAN.

The Agony of Bekonang (Nyawa Meregang Bekonang)

It’s a common sight to find drums and firewood pile in front of a house. Those are mark of home industries of alcohol ran by the house owner. Bekonang, a small village in Mojolaban district, Sukoharjo regency, Central Java, Indonesia, is an old legend for generations to liquor lovers especially in Central Java and beyond thanks to its ciu (local liquor). It is a bold statement from the residents of Bekonang, one of them is Mujiman, 68, an alcohol producer titled Ngudi Rejeki.

Mengetuk Pintu Laweyan

Laweyan adalah batik. Konotasi itu telah terbangun sejak lama. Apalagi selepas daerah yang berada di tepi Kota Solo itu resmi bertajuk Kampoeng Wisata Batik pada 2004. Namun seorang teman asal Solo, Halim Santoso meyakinkan saya bahwa Laweyan lebih dari sekedar batik. Sebuah bujukan tersamar. Ditemani Halim, saya pun menjajal membuktikan lisannya itu. Di luar perkiraan. Alih-alih banyak orang atau kendaraan berseliweran, kampung ini lengang untuk ukuran tempat wisata padahal saat itu hari minggu.

Bandung Street Fighter (Pejuang Jalanan Bandung)

Bandung, the West Java capital is a communal area and popular destination at a  time. It has hectic street just like other big cities. Almost no time for calmness. Hard, dusty and noisy. It is a melting pot which leads to high risk of conflict. Yet it offers living for those who made a try, the strong who dear to face the risk of working on the street. Messy weather and the ruthlessness of street are classic problem that always set to say hello at the most unexpected times. Street is no place for the faint-hearted. Here are some of the Bandung street fighters