Menyibak Sisi Kehidupan Melalui Environmental Portrait

Coba perhatikan foto-foto di halaman ini. Saya menghasilkan potret-potret tersebut dalam rangka penugasan dari klien maupun project pribadi. Harusnya anda bisa dengan mudah menebak apa profesi subyek dalam foto tersebut. Sekarang coba bandingkan jika foto tersebut diambil di sebuah studio foto dengan latar polos atau foto pemandangan artifisial layaknya foto-foto wisuda. Apakah anda masih bisa dengan mudah mengetahui pekerjaan si subyek foto? Nah, foto-foto ini bisa disebut sebagai environmental portrait.

The New Chapter : The Best Moment In 2015 (Semangat Baru)

Many events took place in 2015. The most memorable was the born of the new center of universe, my baby. As his presence, a new challenge yet spirit has emerged. In other side, my understanding of photography become deeper than before. Instead about the camera and other technical terms, it’s actually about how to master the patience, aware to detail and moment, endure the persistence, find different perspective, communicate with people, respect the nature and many more. For those who have a passion about life, photography provide almost everything beyond our imagination.

Memotret Pemandangan (tips)

Seorang teman pernah mengatai saya sebagai penipu. Itu karena dia merasa kecewa ketika berkunjung ke sebuah pantai yang menurutnya pemandangannya jelek. Sedangkan di tempat yang sama, saya dapat menghasilkan foto yang menurutnya bagus, dan foto itulah yang membuatnya ingin berkunjung ke pantai tersebut. Pernah merasakan hal yang sama? Kenapa bisa demikian? Kemungkinan besar karena teman saya tersebut berkunjung di waktu yang salah, ketika musim hujan dimana langit lebih sering tak berwarna cerah. Lalu apa hubungannya dengan memotret pemandangan? Sangat berhubungan sekali. Mari kita mulai dari dasar.

Terlepas dari sebuah karya seni yang sangat subyektif, fotografi tetap memiliki standar umum agar bisa dikatakan bagus. Setidaknya ada 3 hal yang membuat sebuah foto dikatakan menarik. Lighting (pencahayaan), komposisi, dan momen. Foto pemandangan sangat bergantung pada hal yang pertama. Betapa terlalu sering kita melihat foto Gunung Bromo dan selalu bagus. Karena selain pada dasarnya Bromo memang sudah indah dari sananya, (hampir) semua orang memotret Bromo di pagi hari. Saat itulah cahaya matahari menyingkap semua keindahan gunung tersebut. Tapi adakah yang pernah memotretnya di sore hari, atau di musim hujan mungkin?

Itu sebabnya fotografer senior Arbain Rambey pernah mengatakan, foto pemandangan itu selalu tentang lighting, lighting dan lighting. Walau demikian anda tetap bisa mengkombinasikannya dengan permainan komposisi dan momen agar foto lebih menarik dan terlihat berbeda. Saya akan menunjukkan bahkan dari tempat memotret yang sama pun foto pemandangan yang lebih menarik bisa dikreasikan hanya dengan sedikit usaha dan kesabaran. Beberapa waktu yang lalu saya datang ke Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, ketika matahari terbit. Disitu saya mengambil posisi di sebuah jalan kecil di sebelah barat candi, berhadapan langsung dengan arah matahari terbit. Mudah diduga saya ingin mengambil siluet dari Candi Plaosan.

Foto pertama dibawah ini adalah foto wajib. Di kalangan fotografer profesional, ini disebut safe shot, yaitu foto pertama yang pasti diambil ketika datang di sebuah lokasi pemotretan. Sebuah foto yang tidak membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkannya. Bagi saya foto ini sudah bagus. Elemen utama yaitu cahaya dan bentuk siluet candi berhasil ditangkap dengan baik. Apalagi saya mendapatkan bonus berupa bulatan kuning matahari yang tepat muncul dari balik garis horizon. Penampakan seperti ini biasa disebut dengan ‘kuning telor’. Sekali lagi, karena saya datang di waktu yang tepat. Kini saatnya untuk membuat foto lebih menarik lagi dengan mengkombinasikannya dengan elemen lain.

IMG_6627_editWM
Foto pertama

Di foto kedua saya coba mengkreasikannya dengan momen. Kebetulan candi Plaosan masih sarat dengan suasana pedesaan. Petani berangkat ke sawah atau anak-anak bersepeda ke sekolah sering melintas dan bisa menjadi obyek yang menarik untuk dikombinasikan dengan siluet candi Plaosan. Dengan sedikit kesabaran, sebuah foto yang menarik bisa dihasilkan. Satu hal yang kurang hanyalah obyek anak naik sepeda terlihat agak blur karena rana kamera membuka sedikit lambat. Jangan lupa juga untuk mencoba berbagai posisi agar hasil terbaik bisa didapatkan.

IMG_6679_editWM
Foto kedua

Terakhir, di foto ketiga saya mencoba bermain dengan komposisi. Dalam hal ini, saya mencoba menambahkan obyek lain yaitu daun ketela yang memiliki bentuk yang cukup unik. Dengan beberapa kali eksperimen mengubah sudut kamera dan mengganti obyek tambahan, foto yang menarik bisa dihasilkan. Dapat juga bermain dengan framing, yaitu menggunakan obyek tambahan seolah sebagai bingkai bagi obyek utama.

Selamat mencoba.

IMG_6718_editWM
Foto ketiga

Start From Zero : The Best Moment In 2014 (Memulai Sebuah Awal)

Two critical decisions have been and it became the beginning of a completely new life to me in 2014. Being a husband and releasing the comfort zone as an office workers. I started it both almost in the same period. Some think I’m crazy. So let the time prove whether I have the right or wrong decision.

Redefining The Dreams : The Best Moment in 2013 (Akhirnya Saya Memiliki Mimpi)

My journey in 2013 was getting farther and farther. Not just about in terms of distance but the life lesson as well. I met so many precious moments in unexpected places and it made my new vision. Its like a tiny point of light suddenly appear when you locked in a dark cave.

Farther : The Best Moment in 2012 (Berjalan Lebih Jauh)

2012, began to leave the job without any apparent reason for the sake of traveling. Many new things came and it was so fun. And became more interested to photography in the same year. I had been visited some of the best spot to take picture in Java. Soon I realized that now I have more than a pair of eyes to see. The other eye has become a gift and I’m so grateful. Yep, the camera.

Beginning of A Beginning : The Best Moment In 2011 (Awal Dari Sebuah Awal)

Anteng Kitiran, calm like a vane. A javanese metaphor means always on the move. He was talented to not stay still since his childhood. Then its not a surprise if he had almost made an accident. That day his father took him to a tennis court near the Lempuyangan Train Station, Yogyakarta. Easy to guess the six-year-old boy fled alone to the emplacement yard. Living in the neighborhood around a train workshop and a rail company worker father, were a perfect combination that made him fall in love with that snakey iron.