Kelana Rasa Tanah Lombok (Bag. 3)

Cerita sebelumnya

Hari ketiga atau terakhir di Lombok dalam rangka Eskpedisi Warisan Kuliner Nusantara. Berbeda dibanding dua hari sebelumnya, kali ini saya dan Dina yang masih ditemani oleh Mas Osh dan Pak Kadek akan lebih banyak di dalam rumah. Tim ekspedisi akan melihat secara langsung proses memasak masakan rumahan khas Pulau Lombok di kediaman Ibu Hernawati di daerah Pejeruk Bangket, Mataram. Namun sebelumnya kami pergi ke Pasar Kebon Roek untuk membeli bahan dan bumbu yang diperlukan.

Kelana Rasa Tanah Lombok (Bag. 2)

Cerita sebelumnya

Saya dan Dina meninggalkan hotel jam delapan pagi dengan masih ditemani oleh Mas Osh dan Pak Kadek. Kali ini kami mendapat dua tambahan teman, Teguh Nugroho Dewo atau biasa dipanggil Mas Teguh dan Herma Suhaini atau biasa dipanggil Mbak Ema. Keduanya bekerja di Badan Promosi Pariwisata NTB. Sasaran pertama hari ini adalah Restoran Taliwang Haji Moerad yang terletak di daerah Pajang, Kota Mataram. Mudah diduga restoran yang sangat populer di kalangan wisatawan ini menyajikan menu andalan ayam taliwang.

Kelana Rasa Tanah Lombok (Bag. 1)

Cerita sebelumnya

Setelah lebih dari enam jam dalam perjalanan udara dari Jayapura dengan melewati dua bagian waktu sekaligus, akhirnya saya dan Dina menapakkan kaki di Pulau Lombok. Ini adalah kunjungan kedua saya pulau ini dalam setahun. Terakhir kemari adalah untuk menuntaskan salah satu bucket list, mendaki Rinjani. Pulau ini sebenarnya juga memiliki kekayaan kuliner yang tinggi. Namun entah kenapa masih sedikit masakan tradisionalnya yang terangkat ke permukaan. Selama empat hari ke depan, saya dan Dina akan membuktikan bahwa kuliner Lombok itu bukan hanya Ayam Taliwang. Kami juga ditemani oleh dua warga lokal, Mas Osh dan Pak Kadek yang juga merangkap sebagai sopir.

Target pertama adalah Depot Kelebet yang terletak di Jl. HOS Cokroaminoto, Mataram. Tepatnya di belakang kantor gubernur NTB. Rumah makan yang dimiliki oleh Bu Hj. Wasiah ini menyajikan menu andalan berupa bebalung, atau biasa disebut sop tulang. Bahan utamanya adalah daging tulang iga sapi dengan racikan bumbu seperti cabe rawit, bawang putih, bawang merah, lengkuas, jahe, kunyit dan asam jawa. Bukan hanya kuahnya, dagingnya juga sangat kaya rasa. Pedas, asam, gurih dan rasa khas rempah lainnya. Selain itu dagingnya sangat empuk bahkan tulangnya juga masih nikmat untuk sekedar dikulum dan dihisap. Rahasianya adalah proses memasaknya yang panjang. Ibu Wasiah bercerita bahwa bahwa tulang iga sudah mulai direbus sejak malam hari sebelum disajikan keesokan harinya. Penggunaan kayu bakar untuk memasak juga berperan penting untuk memastikan kematangan yang merata.

Satu porsi bebalung
Salah seorang karyawan Depot Kelebet menyiapkan daging iga.
Dapur Depot Kelebet
Suasana Depot Kelebet

Kunjungan berikutnya yaitu Rumah Makan Nasi Balap Puyung Inaq Esun yang terletak di Dusun Lingkung Daye, Puyung, Lombok Tengah. Jika tidak ditemani warga lokal mungkin kami berdua akan kesulitan menemukan tempat ini karena lokasinya tidak berada persis di pinggir jalan raya melainkan masuk sekitar seratus meter melalui jalan kecil di daerah pemukiman. Selain itu secara fisik terlihat seperti rumah tempat tinggal pada umumnya. Bagi yang pertama datang pasti tidak akan menyangka bahwa rumah ini ternyata adalah sebuah rumah makan. Sesuai namanya, rumah makan ini menyajikan nasi balap puyung atau biasa disebut nasi puyung sebagai menu utamanya. Satu porsi terdiri dari nasi putih, suwir ayam pedas, suwir ayam kering, kacang antap (kedelai) goreng dan sambal. Bisa juga ditambahkan telor asin. Nasi balap puyung ini sangat cocok bagi pecinta pedas karena rasa pedasnya sangat terasa. Sambalnya cukup unik karena selain terbuat dari garam, terasi, bawang putih, cabai kering dan tomat juga menggunakan ubi sehingga bertekstur cukup kental. Rasa pedas bukan hanya disumbangkan oleh sambal, tapi suwir ayamnya juga sudah pedas. Suwir ayam keringnya digoreng dua kali dengan bahan-bahan yang sama dengan sambalnya kecuali ubi.

Kami mendapatkan rekomendasi terpercaya bahwa Inaq Esun adalah rumah makan pertama yang menjual nasi puyung. Inaq Esun yang berati Ibu Esun adalah pendiri pertamanya. Saat ini sudah diwariskan kepada generasi kedua yaitu Ibu Hj. Saripah, anak ke empat. Dari beliau kami mendapatkan sebuah cerita tentang asal-usul nama kuliner ini. Dulu putra ketiga Ibu Esun memiliki hobi balap motor. Sang ibu sering membuat acara syukuran ketika putranya memenangkan perlombaan dengan membuat racikan nasi yang disajikan kepada para tetangga dan saudara dekat. Racikan nasi inilah yang kemudian diberi nama nasi balap puyung, sesuai dengan kegemaran sang putra dan nama desa tempat mereka tinggal.

Satu porsi Nasi Balap Puyung
Membersihkan ayam
Dapur Rumah Makan Nasi Balap Puyung Inaq Esun.
Suasana Rumah Makan Inaq Esun ketika masih sepi.
Membungkus pesanan nasi puyung.

 

Perjalanan berlanjut ke daerah Lombok Timur. Kami berhenti di Rumah Makan Sederhana Rarang Inaq Dellah. Rumah makan yang dikelola oleh Ibu Siti Aminah ini menyajikan nasi rarang sebagai menu utama. Disebut demikian karena lokasinya berada di Jalan Raya Rarang.  Satu porsi nasi rarang terdiri atas nasi putih, ayam rarang yaitu ayam bumbu pedas, paha ayam, sate jeroan ayam, dan sop bayam. Rasa pedasnya berasal dari campuran bumbu seperti cabe rawit, cabe besar kering, kemiri, bawang putih dan terasi. Sedangkan sop bayamnya hanya terdiri dimasak dengan bumbu garam. Rasa bayamnya sangat terasa pada kuahnya sehingga mirip seperti kaldu bayam. Walau tidak sepedas nasi puyung, pecinta makanan pedas perlu singgah di tempat ini untuk menuntaskan kecintaan mereka.

Satu porsi nasi rarang
Memasak ayam dengan bumbu pedas
Sate jeroan ayam yang belum dimasak.

 

Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara hari pertama di Lombok berakhir di Warung Kelor di daerah Pancor, Lombok Timur. Kami bertemu dengan Ibu Rukiah yang bertanggung jawab memasak disini. Menu utama rumah makan milik Bapak Halimi ini yaitu nasi kelor yang terdiri dari nasi putih, sambal, sayur kelor dan kelak rajang. Sayur kelornya terdiri dari daun kelor dan terong buah. Sedangkan kelak rajang yaitu ikan kuah kuning dengan bumbu yang dirajang. Yang biasa dipakai yaitu ikan semulu. Ikan jenis lain juga bisa dipakai tergantung musim. Selain itu kelak rajang juga terbuat dari labu jipan dengan kuah yang sangat kental berwarna kuning pekat dan rasa pedasnya sangat terasa. Seperti percampuran antara sop yang ringan dan segar dengan kare yang kental dan berminyak. Bumbu yang dipakai yaitu cabe hijau besar, kunyit, kemiri, dan bawang putih. Rasa rempah kunyit sangat terasa di awal disusul oleh rasa pedas yang baru muncul di belakang. Untuk sambalnya bercita rasa pedas asam dan terbuat dari cabe merah, tomat dan terasi. Nasi kelor juga bisa dinikmati dengan menu tambahan lain seperti bakwan jagung, udang, oseng-oseng dan lain sebagainya.

Satu porsi nasi kelor
Ibu Rukiyah dan berbagai menu makanan di Warung Kelor.
Suasana Warung Kelor

 

Hari pertama selesai. Saatnya kami kembali ke hotel untuk menyiapkan energi. Masih banyak kuliner Lombok yang harus dicoba esok.

Cerita selanjutnya

Nyongkolan, Time To Have Some Fun (Saatnya Bergembira)

Suddenly the bus ran slowly. What’s going on out there? Through the window I saw a parade with pretty loud music. While people lined up at the side of the road watching the parade. Even some riders were willing to step aside to watch. Phone and camera were everywhere. From their faces I’m sure it’s a joyful moment. While the  passengers could only watch it enthusiastically from inside the bus. Shortly the bus stopped. Then the driver let the passengers to come out to join the show. Thank God he knew what we want. “Fifteen minutes, okey”, he shouted when we jump out the bus.

The Splendid of Lombok (Seronok Lombok)

I did what everybody else did, take around in Lombok island after hiking Mount Rinjani. Bali’s close neighbour but main competitor at the same time, offer to it’s visitors a complete set of wonders. Sea to summit. Although only a day but I am grateful given a chance to visit some of the spot, Senggigi beach, Gunungsari traditional market, Batu Bolong temple, Sade traditional village, Tanjung Aan and Selong Belanak beach. Personally I prefer Lombok since its relatively not as busy as the island of God, Bali. It’s cultural acculturation also more pronounced while Bali dominated by Hindu. Hopefully I can go there again someday. What a splendid of Lombok.

Stupefied in Rinjani (Terlena Di Rinjani)

It’s so crowded. Understandably it’s a long holiday. It didn’t take for long to me to feel the effect. It’s a little bit uncomfortable for being unable to fully control my walking speed. Too many people in front. Instead of chasing our porters, Hasan and Udin, I have even more left behind. Their speed is no match for me whereas they only wear flip-flop with a pair of twenty kilos basket in their shoulder for each person. Mean while Sari, Sisil, Fanani, Ferhat had their selfie time behind and Apoy already up in front. Fortunately, I was fascinated by the beautiful scenery along the way. Rinjani is so pretty. An exotic view outspread along the hiking trail from Sembalun. A vast grassland stretched decorated with a few numbers of stand alone tree. I wish they can talk maybe those trees will mourn lonely. The nature also shows it’s carving art in form of fractures, faults, cliffs, water stream, and sort of vertical holes which makes it more astonishing. At the top end there the crown lies with all its glory, the peak of 3726 ASL of Rinjani. Sometimes we spent so much time when taking a break just to realize how majestic it is. We’re mesmerized.