Taman Tino Sidin, Mengenang Sang Maestro (Guru) Lukis.

“Ya, bagus”, seru lelaki bertopi baret itu kepada beberapa anak yang sedang melukis. ”Jangan takut. Teruskan saja”, lanjutnya. Kalimat ini tak asing bagi mereka yang mengalami masa kecil di era 1970-1990an. Tayangan televisi berdurasi setengah jam tersebut seolah menjadi tontonan wajib anak-anak di masa itu. Saat itulah seminggu sekali anak-anak duduk manis ndomblong di depan layar kaca.

Membaca (di) Bandung

Sang Ilahi menurunkan wahyu pertama, dalam agama Islam, berupa perintah untuk membaca. Sebuah tengara nyata bahwa literasi adalah laku maha penting bagi manusia untuk membangun peradaban. Sayangnya Indonesia masih tertinggal dalam perkara ini. Dan diyakini rendahnya minat baca menjadi salah satu faktor utama penyebab si negara beribu pulau tertinggal oleh kereta kemajuan global. Sudah banyak angka menyajikan ironi. Salah satunya data yang dirilis oleh PBB pada tahun 2015 melalui UNESCO mengungkap bahwa presentase minat baca Indonesia di kisaran 0.01 persen, terendah di antara para tetangga ASEAN.

Educating Indonesia By Visual (Cerdas Melalui Visual)

Boring. That’s most likely firts look of Indonesian schoolbook. Almost no significant improvement even compared to a few decades ago. Now let’s take a look at the imported one. It may has the same content but definetely also has a profound difference, colorful and full of pictures. This visual graphics is a very important feature to help kids easily understand the subject matter. So fun yet feast the mind. Even it’s still interesting for the adult. This could be one of the causes of  lack quality of education in Indonesia.

Membaca Bumi Bersama Mata Bumi

“Makanya kalau mau beli tanah jangan ambil sisi luar tapi sisi dalam. Karena perlahan sisi luar akan hilang tergerus tekanan aliran air. Sebaliknya di sisi dalam justru akan terbangun endapan tanah karena tekanan airnya lemah”

Satu jam berlalu setelah truk sewaan dari TNI AU membawa kami berangkat dari Museum Geologi, Bandung, rombongan berhenti di sebuah tanah lapang yang oleh warga lokal disebut sebagai Candi. Lokasi ini terletak di Jalan Nengewer, Desa Dampit, Cicalengka, Kabupaten Bandung. Kami hanya singgah disini sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir di T.B (Taman Buru) Hutan Masigit Kareumbi. Hamparan sawah miring yang dibelah oleh sebuah sungai dengan sebuah gunung kecil menjadi latar belakangnya menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar dan kami tentunya. Dengan pengeras suara Titi Bachtiar yang akrab dipanggil Pak Bachtiar memanggil rombongan ke tempat ia berdiri di pinggir tanah lapang itu. Setelah semuanya berkumpul Pak Bachtiar bercerita tentang beberapa hal seputar fenomena alam yang terhampar di depan kami. Kalimat di awal tulisan ini adalah salah satu bagian pembuka ketika ia bercerita tentang Sungai Citarik bertipe meander yang membelah permadani hijau di depan sana. Meander adalah badan sungai yang berbelok-belok dengan arah belokan mencapai setengah lingkaran. Sebagai orang awam informasi ini tentu berharga bagi saya.

IMG_0606_editWM.jpg
Mengawali perjalanan dengan berkumpul di Museum Geologi, Bandung.
IMG_0621_editWM.jpg
Pemandangan sawah di Desa Dampit.
IMG_0627_editWM.jpg
Pak Bachtiar menerangkan tentang sungai.

Masih seputar air, begitu banyak sungai yang membelah wilayah Jawa Barat. Fakta tersebut mengantarkan pada cerita berikutnya yang dituturkan oleh pria berkacamata itu. Sungai-sungai itu bagi sebagian besar kerajaan di tanah sunda di masa lalu bukan hanya menjadi sumber kehidupan tapi juga benteng alami yang melindungi wilayah kekuasaan dari serangan musuh. Oleh karena itu para penguasa sunda memerintahkan rakyatnya melakukan nyusuk, yang secara umum diartikan sebagai bermacam kegiatan memelihara sungai. Sayangnya hanya tinggal sedikit saja warga di Jawa Barat dan Banten yang masih melestarikan budaya ini.

Begitu banyak informasi terlontar dari dosen geografi di Universitas Pendidikan Indonesia itu. Sebelum kami melanjutkan perjalanan, Pak Bachtiar mengakhiri sesi dengan bertanya pada kami dimanakah lokasi di sekitar Bandung yang menjadi dasar danau purba di masa lalu. Saya sudah tahu bahwa daerah Bandung dan sekitarnya dulunya adalah sebuah kaldera atau danau vulkanis raksasa. Tak heran jika bentuk daerah Bandung seperti mangkok dan para ilmuwan menyebutnya Cekungan Bandung. Tapi dasar kaldera, tak satupun di antara rombongan yang mengacungkan tangan. Pak Bachtiar pun menuntaskan penasaran kami. Nagreg, daerah yang terkenal setiap lebaran itu adalah dasar terdalam danau purba Bandung. Di dasar danau air akan langsung masuk ke dalam tanah tanpa bisa ditahan oleh apapun. Itu sebabnya warga Nagreg saat ini cukup sering mengalami defisit air tanah.

IMG_0642_editWM.jpg
Akses jalan menuju Kareumbi.
IMG_0668_editWM.jpg
Suasana camping ground dan rumah pohon di Kareumbi.
IMG_0678_editWM.jpg
Pak Bachtiar dan Bu Inan berbagi ilmu di depan peserta lain.

Itulah cuplikan awal yang saya alami ketika melakukan jelajah geotrek bersama komunitas Mata Bumi. Komunitas ini berdiri pada bulan Juli 2010 dan sudah 22 kali melakukan perjalanan.  Gunung Anak Krakatau, Pantai Sawarna dan Dataran Tinggi Dieng adalah beberapa tempat dengan kekayaan fenomena alam yang pernah menjadi obyek geotrek. Sesuai namanya, Mata Bumi berfokus melakukan edukasi seputar kebumian dengan mengadakan perjalanan jelajah ke tempat-tempat yang kaya dengan fenomena alam. Itu yang membuat saya tertarik mencoba bergabung dengan geotrek Mata Bumi. Tentu jauh lebih menarik ketika menikmati pemandangan alam dan mendapatkan pengetahuan tentang obyek yang dikunjungi langsung dari orang yang berkompeten. Beragam informasi ini berperan penting dalam membangun kecintaan pada alam serta menanamkan kesadaran akan pelestarian lingkungan.

Saat ini Mata Bumi dikoordinir oleh Rony Noviansyah dan dibantu oleh rekan-rekannya di jejaring Fakultas Pendidikan Geografi UPI.  Pak Bachtiar sendiri menjadi penasehat komunitas ini sekaligus interpreter tetap dalam banyak kegiatan geotrek. Interpreter adalah istilah bagi nara sumber di Mata Bumi. Pembimbing dan interpreter lain yang juga sering mengisi adalah Budi Bramantyo, dosen geologi ITB. Geotrek kali ini diikuti sekitar empat puluh peserta dengan beragam latar belakang dan daerah asal. Kebanyakan dari sekitar Bandung, sesuai dengan home base komunitas ini. Tapi ada juga yang dari Jakarta. Bahkan ada pasangan ibu dan anak yang berasal dari Padang. Ada juga rombongan keluarga lengkap dengan anak-anaknya yang masih balita. Sepertinya Mata Bumi memang mendesain kegiatannya bukan hanya sebagai ajang belajar tapi juga ramah untuk berbagai usia.

IMG_0821_editWM.jpg
Peserta melakukan geotrek.
IMG_0731_editWM.jpg
Pak Djuandi menerangkan tanaman kecombrang (Zengiberase sp).
IMG_0727_editWM.jpg
Biji harendong bulu atau Clidemia hirta.

Kami melanjutkan perjalanan selama setengah jam melewati jalan yang sempit dan berlubang akses menuju Hutan Kareumbi. Disana kami disambut oleh Darmanto, Wakil Direktur Lapangan T.B Kareumbi. Selain perkenalan ia juga menyampaikan informasi seputar tempat yang menjadi kantor sekaligus rumahnya setiap hari. Mulai dari status Kareumbi sebagai taman buru yang memungkinkan orang untuk berburu hewan secara resmi dengan persyaratan tertentu hingga tempat persembunyian Kartosuwiryo, pemimpin pemberontakan DI TII yang berada di di zona hutan dalam. Rimba yang berada di wilayah tiga kabupaten Garut, Sumedang dan Bandung ini di bawah tanggung jawab Wanadri dan BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam). Menurut Darmanto, salah satu program andalan Wanadri dalam rangka mengelola hutan seluas 12420 hektar ini yaitu ekowisata. Program ini memungkinkan pengunjung umum untuk berwisata dan bermalam di camping ground atau rumah pohon, seperti yang kami lakukan sekarang. Wali pohon juga menjadi andalan yang lain. Dalam program ini seseorang dapat menanam pohon dengan membayar nominal lima puluh ribu rupiah per pohon yang digaransi selama tiga tahun. Selama waktu tersebut pihak pengelola Kareumbi bertanggung jawab dalam kelangsungan hidup pohon tersebut.

Walaupun memiliki interpreter resmi namun dalam kegiatan geotrek Mata Bumi semua orang bisa menjadi nara sumber. Itu terjadi dalam kegiatan kali ini ketika salah seorang peserta bernama Wa Ode Hamsinah Bolu atau yang akrab dipanggil Bu Inan berbicara di depan rombongan untuk berbagi ilmu yang dimilikinya sebagai pegawai Kementrian Kehutanan. Salah satu informasi yang menarik adalah adanya salah arah yang terjadi dalam program penghijauan. Adanya pohon pinus yang tumbuh di Indonesia adalah salah satu contoh. Tanaman ini berasal dari daerah subtropis dan di masa lalu seolah dipaksakan untuk tumbuh di Indonesia. Akibatnya penghargaan pada vegetasi lokal berkurang. Selain itu daun pinus banyak mengandung zat lilin. Alih-alih baik bagi tanah, daun pinus yang jatuh justru membuat tanah di sekitarnya menjadi kurang subur.

IMG_0754_editWM.jpg
Pak Djuandi menunjukkan tanaman kareumbi yang masih berusia kurang dari satu tahun.
IMG_0758_editWM.jpg
Bertemu talas raksasa.
IMG_0766_editWM.jpg
Pak Djuandi menunjukkan buku referensi tentang keanekaragaman hayati di Pulau Jawa.

Hal mirip juga terjadi di rehabilitasi kawasan bencana. Seharusnya tanaman yang ditanam untuk mengembalikan kondisi tanah adalah flora endemik atau tanaman asli daerah tersebut. Namun karena hanya demi mengejar keprakitisan semata justru tanaman lain yang digunakan untuk penghijauan. Misalnya terjadi di kawasan bekas bencana letusan Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta dan sekitarnya. Akasia yang bukan tanaman asli daerah sekitar Merapi ditanam untuk rehabilitasi tanah. Akasia memang dapat tumbuh dengan cepat di daerah kritis sehubungan dengan sifatnya sebagai tanaman perintis. Namun efek sampingnya dalam waktu relatif singkat tanaman ini mengekspansi lahan yang cukup luas. Akibatnya tanaman lain termasuk tanaman endemik tidak dapat tumbuh dengan baik. Berkat penuturan Bu Inan tersebut saya menjadi paham bahwa ternyata tidak semua tanaman bisa dimanfaatkan bahkan untuk tujuan yang baik sekalipun. Karena tiap tanaman memiliki sifat dan karakteristik tersendiri.

Lepas ashar kami dukumpulkan lagi di tengah-tengah camping ground. Kali ini oleh Djuandi Gandhi yang akrab disebut Pak Djuandi, yang sehari-hari berkarya di Herbarium Laboratium Biologi ITB. Pria paruh baya ini mengajak kami tur berjalan kaki mengikuti jalan setapak masuk lebih dalam ke area hutan sambil menerangkan berbagai jenis tumbuhan yang ditemui sepanjang perjalanan. Dari Rony saya tahu inilah untuk pertama kalinya Mata Bumi menggandeng nara sumber di luar ilmu geografi dan geologi dengan pertimbangan ilmu biologi juga masih merupakan bagian besar dari ilmu kebumian. Bagaimana pun juga jenis tanaman yang tumbuh di suatu wilayah pasti dipengaruhi oleh faktor geologi daerah tersebut. Jika geologi dan geografi membahas isi bumi maka biologi mempelajari kulitnya, begitu kata Pak Djuandi mengawali sesinya.

IMG_0776_editWM.jpg
Suasana acara api unggun di malam hari.
IMG_0794_editWM.jpg
Salah seorang peserta geotrek menunjukkan keahlian sketching.

Baru beberapa langkah ahli biologi itu meminta kami berhenti sementara ia memetik biji-bijian kecil berbulu yang berwarna hitam keunguan dari sebuah tanaman yang tingginya sekitar satu meter lantas memakannya. Saya dan sebagian rombongan merasa familiar dengan biji-bijian itu namun belum pernah memakannya. Beberapa di antara kami ikut mencicipi dan ternyata rasanya manis agak sepat. Pak Djuandi menyebutkan sebuah nama latin, Clidemia hirta. Kami hanya saling pandang lalu membuang muka ke arah nara sumber berharap ia segera menuntaskan penasaran. Ia menyebut sebuah nama lalu sebagian dari kami mulai menganggukkan kepala. Harendong bulu, begitulah sebutan lokal tanaman ini di tanah Sunda. Tanaman ini banyak tumbuh di daerah tropis termasuk di Amerika Selatan, Asia dan Afrika. Kandungan gula dan dapat langsung dimakan adalah dua faktor kenapa biji tanaman ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi mereka yang sering menjelajah ke dalam hutan. Rasa manis sepat ini muncul karena kandungan asam tanin dalam biji harendong. Berkat asam ini juga harendong juga bisa dimanfaatkan sebagai penghilang rasa pahit. Anehnya biji tanaman yang juga populer dengan istilah black berry dalam bahasa Inggris ini justru beracun bagi sebagian hewan.

Begitu banyak informasi seputar dunia tanaman sepanjang dua jam kami berjalan kaki. Selain harendong yang sudah diceritakan di awal, ada juga contoh menarik tanaman yang diremehkan karena banyak tumbuh liar di tepi jalan namun sebenarnya memiliki manfaat sebagai obat sakit kepala. Tanaman tersebut yaitu Sida rhombifolia atau sebutan lokalnya sadagori. Pak Djuandi mengakhiri sesinya dengan menunjukkan sebuah tanaman yang menjadi muasal nama hutan ini, Homalanthus populneus alias kareumbi. Tanaman ini juga memiliki sebutan lain sesuai dengan daerah tumbuhnya seperti ludahi di Bangka, jarak pati di Jawa Tengah atau simahuri di Ambon. Pohon kareumbi dulu banyak tumbuh di kawasan ini dan daunnya memiliki khasiat utama untuk mengobati luka luar, begitu terang Pak Djuandi.

IMG_0816_editWM.jpg
Pengenalan navigasi dasar oleh rekan-rekan Fakultas Pendidikan Geografi, UPI.
IMG_0844_editWM.jpg
Memberi makan rusa di penangkaran.

Malam harinya kami mengisi waktu istirahat dengan acara api unggun dan permainan sederhana. Esok harinya kegiatan diawali dengan pelatihan dasar orientasi peta menggunakan kompas. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan keahlian navigasi dasar yang sangat penting bagi mereka yang banyak beraktifitas di alam bebas. Rangkaian terakhir kegiatan geotrek kali ini diisi dengan kunjungan ke penangkaran rusa yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat berkemah. Sebelumnya tak lupa kami memunguti sampah yang berada di lokasi berkemah sebagai bentuk aplikasi edukasi ilmu kebumian yang paling dasar. Di tempat penangkaran kami menjumpai belasan ekor rusa yang ditangkarkan sebelum dilepas ke habitat aslinya. Satu jam berada disini akhirnya kami kembali ke lokasi parkir truk yang akan membawa kami kembali ke Bandung. Saya sangat menikmati akhir pekan kali ini bersama Mata Bumi. Beberapa rekan lainnya terutama yang membawa anak-anaknya bahkan sudah menanyakan kapan kegiatan seperti ini diadakan lagi. Bukan hanya jalan-jalan menikmati alam, tapi adanya unsur edukasi yang membuat perjalanan ini lebih menarik dan membedakan dengan open trip lainnya. Dengan adanya informasi dan edukasi kebumian yang diberikan langsung di alam bebas mampu membuat manusia lebih mencintai dan melindungi bumi, satu-satunya planet yang menjadi fitrah sebagai tempat tinggal manusia. Jelas ini bukan jalan-jalan biasa, setidaknya bagi saya.

The Darkness That Gives A Light (Gelap Yang Menerangi)

It’s a hard rainy afternoon when Yudhi Hermawan aka Wawan, 22, and Aris Yohanes, 29, were grumbling. They changed the position of the modem for many times but still they had bad internet signal. Shortly two colleagues joined in, Mohammad Fakhry Rosa, 19, and Sapto Kridayanto, 30. Apparently they both disturbed by similar problems, bad signals on their smartphones. It’s understandable since they have a high needs on the internet for their activities. Meanwhile Aris get an another problem. The radio brodcasting software on his Mac Mini didn’t work properly. The afternoon got worse as the classic problem during the rainy season came up, the blackout.

Nowadays the young generation are so close with gadgets and internet and so with them. They also often to hang out and have a discussion, just as they did that time at Wawan’s house in Pondok Cabe, Tangerang. One different thing is the fact that Aris, Wawan, Fakhry and Sapto are people who live with visual impairments. However the condition did not seem to prevent them to keep update with the world. In fact they already took an advantage of technology in order to survive. Computer and smartphones are the obvious example. Thanks to the screen reader application which programmed to convert text to speech, these young man able to utilize almost any applications on their gadget especially to communicate and express their opinion. So activites such as chatting, browsing and status updating are commonplace.

IMG_9961_editWM.jpg
Aris demonstrated how he use the smartphone

 

IMG_9965_editWM.jpg
The group chat is very usefull to communicate

These young man have raised the level. From hobbyists, they use their IT skills to help others. In June 2012 they made a community named ITCFB, Information Technology Center For Blind. Recently headed by Aris and took Wawan’s private room as the basecamp. Today ITCFB facebook group has more than 2000 members from all over Indonesia. They also actively communicate in whatsapp group chat. They even have their own website on itcfb.org page and community based radio stations which broadcasted via streaming on the internet. Not just for communicate, they use all of this media to share useful information especially about IT for its members. As performed by Fakhry that time. The teenager which recently take his fourth semester in German Literature, Univeristy of Indonesia, was taping his speech about tips on how to identify the original iphone with the fake one and a review about some of screen reader applications for smartphone. Later the tape will processed by Aris and broadcasted over the radio.

ITCFB has already made its next step by making computer programs for blind. For examples Audio Valas, a software that allows the blind to know the online exchange rate. MASA (Makfufin Adzan Software Accessible), the computer program which in collaboration with the Raudlatul Makfufin Foundation, has two important features, prayer time reminder with azan (the call to pray) and Hijriah lunar calendar. They also created a computer game named Babyball. This simple game is played by pressing the navigation keys on the keyboard to catch the ball and helped with sound of baby’s laugh or cries to recognize wether the player succeed or otherwise. Other activities are touring to several cities which they called Tekno Keliling (Techno Tour). The tour is about basic IT training for the fellow blind. Several cities had ever visited were Malang, Yogyakarta, Cimahi and Temanggung. Thanks for the effort and creativity, ITCFB has gained some achievements like in August 2014 as they won the first and second winner in The 2014 Creativity Competition for Disability in Jakarta which organized by Laetitia Foundation.

IMG_9992_editWM.jpg
Fakhry is on the air

 

IMG_9975_editWM.jpg
The navigation keys is very essential to read the text

According to Aris, ITCFB currently being focused to create programs for smartphone considering this device has become an indispensable part of life. In hope that the they can give better support to the fellow blind in daily activities through the applications. Actually this community has created an android based application named ITC Fame that allows the blind able to find out the clock and power status of their smartphones. Unfortunately the apps is not available yet in Android Market. The problem are ITCFB have not registered as an official developer on Google and they dont have legal software to develop their apps. The software is Visual Basic For Android or well known as B4A. These are two basic requirements have to passed so they can upload their apps to the market and it does need a costs. Still based on Aris words, ITCFB biggest challenge overall actually is they still have limited option to move since they are only community based. The story will be different if they become an official organizations with a legal status.

It’s a big challenge and they need a big hands to overcome. Imagine what can be done with full supports when they can create so many useful things with their own resources. The sustainability of such as community is also crucial to demonstrate to the public that persons with disabilities especially the blind can do more also. And the most important, their work is useful for others. It will reduce negative impression pointed to them. Having a job is the obvious example. Recently the blind is so identical with limited profession such as being masseur. Even some of the blind use their condition by becoming beggars for the worse.

5.jpg
The launching of MASA(source : Rachma Safitri / ITCFB documentation)

 

IMG_3533_editWM.jpg
The special watch is one of a daily tool to keep survive

Good news come from some company which offers some of their vacancy for the blind. But the job positions are limited. Wawan and Sapto had undergone as a telemarketing in one of private bank in Jakarta. But that’s not enough. They do want more by objectively treated based on their capabilities as well as normal people. Aris, a programming expert and a teacher at Mimi Institute. Wawan, an IT enthusiast and soy milk entrepreneur as well. Fakhry who likes to write and master the German language at once. Sapto, the digital ads expert and snacks enterpreneur. There are many like them.

An interesting statement came from Sapto which quite represent a voice of the disability. Yes in some matters they still need a help especially in Indonesia which sadly still has unfriendly infrastructure. But in other hand they have a big hope to be honored fairly like the normal. Not be underestimated which is considered have a less contribution or overestimated, which is considered like a saint who would not do a bad things. As long as not suffer from insanity, disabilty is just like the normal who able to positively and negatively behave. The question now is, can the public answer this challenges?

***

Hujan turun deras sore itu ketika Yudhi Hermawan atau biasa dipanggil Wawan, 22 tahun, dan Aris Yohanes, 29 tahun, sedang menggerutu. Sudah beberapa kali mereka mengubah posisi modem. Tapi sinyal internet tak kunjung membaik. Tak berselang lama dua rekan mereka Fakhry Mohammad Rosa, 19 tahun, dan Sapto Kridayanto, 30 tahun datang. Rupanya mereka berdua sedang dirundung masalah serupa. Sinyal internet di HP mereka lelet. Wajar jika akhirnya mereka mengeluh karena itu menghambat kegiatan mereka yang banyak mengandalkan internet. Sementara itu Aris mendapatkan masalah yang lain. Program siaran radio yang tertanam dalam komputer Mac Mini nya bermasalah. Problem semakin lengkap ketika tak lama kemudian masalah klasik saat musim hujan muncul, listrik padam.

Gawai dan internet adalah dua hal sangat akrab dengan kehidupan remaja masa kini tak terkecuali anak-anak muda ini. Mereka sering berkumpul dan berdiskusi seperti yang sedang mereka lakukan sore itu di rumah Wawan di daerah Pondok Cabe, Tangerang. Satu hal yang membedakan adalah fakta bahwa Aris, Wawan, Fakhry dan Sapto adalah orang yang hidup dengan gangguan penglihatan atau tunanetra. Walau demikian itu seolah tak menghalangi mereka untuk mengikuti perkembangan zaman. Bahkan mereka memanfaatkan kemajuan teknologi agar tetap berdaya. Komputer dan telepon pintar adalah contoh termudah. Berkat aplikasi screen reader yang dapat mengubah tulisan menjadi suara, anak-anak muda ini mampu memanfaatkan hampir semua aplikasi yang tertanam di gawai mereka terutama untuk berkomunikasi atau menyampaikan pendapat. Maka aktifitas seperti chating, browsing dan update status adalah hal lumrah.

IMG_0946_editWM.jpg
The basecamp

 

IMG_0928_editWM.jpg
The prestige

Kini para anak muda ini telah menaikkan levelnya. Dari sekedar hobi kini mereka memanfaatkan keterampilan di bidang IT untuk membantu sesama. Pada Juni 2012 mereka membentuk sebuah komunitas bernama Information Technology Center For Blind atau disingkat ITCFB. Saat ini diketuai oleh Aris dan menjadikan kamar pribadi Wawan sebagai tempat berkumpul. Hingga sekarang grup facebook ITCFB memiliki sekitar 2000 anggota dari seluruh Indonesia. Selain itu mereka juga aktif berkomunikasi di group whatsapp. Bahkan mereka juga memiliki laman sendiri di itcfb.org dan radio komunitas yang disiarkan streaming di internet. Selain untuk berkomunikasi, semua wadah ini juga digunakan untuk berbagi informasi seputar dunia IT yang dianggap bermanfaat bagi para anggotanya. Seperti yang dilakukan Fakhry sore itu. Remaja yang sedang mengambil kuliah semester empat Sastra Jerman, Universitas Indonesia itu sedang merekam suaranya membacakan tips membedakan iphone yang asli dengan yang palsu dan ulasan beberapa aplikasi screen reader untuk HP. Selanjutnya rekaman tersebut diolah oleh Aris agar bisa disiarkan melalui radio komunitas.

Tak berhenti disitu. ITCFB melangkah semakin jauh dengan membuat beberapa program komputer khusus tunanetra. Contohnya Audio Valas, sebuah perangkat lunak yang memungkinkan para tunanetra mengetahui kurs mata uang secara online. Ada juga MASA (Makfufin Adzan Software Accessible). Program komputer yang bekerja sama dengan Yayasan Raudlatul Makfufin ini memiliki dua fitur penting yaitu pengingat waktu sholat dengan suara azan dan penanggalan kalender hijriyah. Tak melulu serius. Mereka juga membuat program permainan yang diberi nama Babyball. Game sederhana ini dimainkan dengan cara menggerakkan tombol navigasi pada keyboard komputer untuk menangkap bola. Jika berhasil maka si bayi akan tertawa dan sebaliknya akan menangis jika gagal. Selain itu aktifitas lain yang dilakukan adalah mengadakan tur ke beberapa kota yang mereka sebut Tekno Keliling. Acara tersebut merupakan pelatihan dasar seputar IT kepada sesama tunanetra. Beberapa kota yang pernah disinggahi yaitu Malang, Yogyakarta, Cimahi dan Temanggung. Berkat usaha dan kreatifitasnya tersebut, komunitas ini pernah meraih beberapa prestasi. Yang terakhir pada Agustus 2014 yang lalu mereka meraih juara pertama dan kedua kompetisi Kreatifitas Cipta Penyandang Disabilitas 2014 di Jakarta yang diselenggarakan oleh Yayasan Laetitia.

Menurut penuturan Aris, saat ini ITCFB sedang fokus untuk membuat program aplikasi yang bisa ditanam di telepon pintar mengingat gawai ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas kehidupan. Harapannya agar mereka dapat lebih membantu sesama tunanetra dalam beraktifitas sehari-hari melalui aplikasi telepon pintar tersebut. Sebenarnya komunitas ini telah membuat sebuah aplikasi berbasis android bernama ITC Fame yang memungkinkan penyandang tunanetra dapat mengetahui jam dan status daya HP pintar mereka. Sayangnya apps ini belum tersedia di Android Market. Penyebabnya adalah ITCFB belum terdaftar sebagai pengembang resmi di Google dan belum memiliki perangkat lunak yang legal untuk mengembangkan apps buatan sendiri. Perangkat lunak yang dimaksud adalah Visual Basic For Android atau biasa disebut B4A. Dua hal itu adalah syarat mutlak yang dibutuhkan agar sebuah aplikasi dapat diunggah ke Market dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Masih menurut Aris, secara keseluruhan tantangan terbesar ITCFB sebenarnya adalah mereka belum mampu bergerak secara maksimal karena masih berupa komunitas. Lain cerita jika ITCFB naik kelas menjadi organisasi resmi yang berbadan hukum.

4.jpg
Aris (left) gave a hand to one of the Techno Tour participant (source : Rachma Safitri / ITCFB documentation)

 

2.jpg
Wawan (left) with the Techno Tour participants (source : Rachma Safitri / ITCFB documentation)

 

3.jpg
Interviewed by media (source : Rachma Safitri / ITCFB documentation)

Cukup besar bantuan yang diperlukan untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut. Bayangkan apa saja yang bisa dilakukan ITCFB jika mendapat dukungan penuh ketika dengan usaha swadaya saja mereka sudah menghasilkan banyak hal yang bermanfaat. Keberlangsungan komunitas semacam ini juga krusial untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa penyandang disabilitas khususnya tunanetra juga mampu berdaya dan berkarya. Dan yang lebih penting, karya mereka memberi manfaat bagi orang lain. Hal ini dapat mereduksi pandangan sebelah mata yang banyak ditujukan kepada mereka. Pekerjaan adalah contoh paling nyata. Selama ini tunanetra identik dengan profesi yang sangat terbatas. Tukang pijat misalnya. Bahkan ada tunanetra yang memanfaatkan kondisinya dengan menjadi pengemis.

Angin segar berhembus ketika beberapa perusahaan membuka lapangan pekerjaan bagi penyandang tunanetra. Tapi posisi yang ditawarkan pun juga masih terbatas. Wawan dan Sapto sendiri pernah menjalani pekerjaan sebagai telemarketing di sebuah bank swasta. Tapi itu masih belum memuaskan. Mereka ingin berbuat lebih banyak dengan dinilai dan dihargai secara obyektif melalui kemampuan yang mereka miliki seperti halnya orang awas (sebutan oleh tunanetra kepada orang dengan penglihatan normal). Aris yang ahli pemrograman komputer dan mengajar di Mimi Institute. Wawan yang jago IT sekaligus memiliki usaha berjualan susu kedelai. Fakhry yang suka menulis sekaligus menguasai bahasa Jerman. Sapto yang ahli membuat iklan digital dan memiliki usaha berjualan makanan ringan. Dan masih banyak orang-orang seperti mereka berempat.

Ada satu pernyataan menarik terlontar dari Sapto yang cukup mewakili aspirasi para disabilitas. Harus diakui bahwa dalam beberapa hal mereka masih membutuhkan bantuan. Apalagi di Indonesia yang infrastrukturnya belum ramah. Namun terlepas dari itu, mereka ingin dinilai secara obyektif seperti halnya orang normal. Tidak underestimated, dianggap tidak bisa berbuat banyak atau overestimated, dianggap seperti orang suci yang tidak mungkin melakukan hal buruk. Selama tidak gila, disabilitas adalah sama dengan orang normal yang bisa berperilaku positif dan negatif. Pertanyaannya sekarang, mampukah masyarakat menjawab tantangan yang diajukan oleh Sapto tersebut?

A Learning From Toys At Under The Stairs ( Belajar Melalui Mainan di Museum Kolong Tangga )

It’s not easy to find the place despite located in center of the city. Lack of information and phisically attached to the Yogyakarta’s Cultural Center (Taman Budaya Yogyakarta / TBY) building which has longer history cause it less known obviously. Museum Anak Kolong Tangga (‘The Under The Stairs’ museum) as the name implies, it is situated under the stairs of an auditorium. Relatively small, more like a warehouse than a museum. Not a good start. But a turning point in sight. The front face is like a waving hand. It invites anyone to come closer. Colorful paintings distingushes it among the white wall. Like a kid who don’t want to give up easily to attract the attention of the adults around him just to let them know he is there.

FGIM, Kerja Bakti Mencerdaskan Negeri

“Hai adik-adikku di Sangihe

Perkenalkan nama kakak Andre. Kak Andre bekerja sebagai tukang poto di Jakarta, ibukota negeri kita Indonesia. Kak Andre suka moto pantai, gunung, sawah dan pemandangan indah lainnya. Sudah banyak tempat di Indonesia yang Kak Andre datangi dan tahukah adik-adik, negeri kita ini sangat indah lho. Kakak belum pernah datang ke Sangihe, dan ingin sekali berkunjung kesitu melihat pemandangan indah yang tiap hari adik-adik lihat disana. Kak Andre juga tak sabar bertemu kalian. Kak Andre punya banyak mainan dan poto-poto negeri kita yang indah ini untuk kalian.

Fuad Baradja : Karena Negeri Ini (Terus) Dibodohi Oleh Rokok

Bagi mereka yang tumbuh remaja di era 90an mungkin tak asing dengan tokoh satu ini, Fuad Baradja. Wajahnya cukup sering muncul di layar kaca, salah satu yang terkenal adalah drama komedi “Jin dan Jun”. Setelah sekian tahun menghilang, kiprahnya sebagai tokoh publik kembali muncul namun dengan kapasitas yang berbeda.