Manusia Ramadhan

Ramadhan datang, umat senang.  Jalanan riuh, masjid pun penuh. Untuk ke sekian kalinya bulan nan suci itu datang berkunjung. Tak salah memang jika ia disebut bulan penuh berkah.  Manusia menyambutnya dengan suka cita. Lapar dan dahaga justru menjadi hikmah. Perut kosong maka darah mengalir deras ke kepala, membuat pemiliknya berpikir lebih leluasa. Rasa lapar juga ajang bagi manusia melatih empati atas sesamanya yang kekurangan.

Membaca (di) Bandung

Sang Ilahi menurunkan wahyu pertama, dalam agama Islam, berupa perintah untuk membaca. Sebuah tengara nyata bahwa literasi adalah laku maha penting bagi manusia untuk membangun peradaban. Sayangnya Indonesia masih tertinggal dalam perkara ini. Dan diyakini rendahnya minat baca menjadi salah satu faktor utama penyebab si negara beribu pulau tertinggal oleh kereta kemajuan global. Sudah banyak angka menyajikan ironi. Salah satunya data yang dirilis oleh PBB pada tahun 2015 melalui UNESCO mengungkap bahwa presentase minat baca Indonesia di kisaran 0.01 persen, terendah di antara para tetangga ASEAN.

Bandung Street Fighter (Pejuang Jalanan Bandung)

Bandung, the West Java capital is a communal area and popular destination at a  time. It has hectic street just like other big cities. Almost no time for calmness. Hard, dusty and noisy. It is a melting pot which leads to high risk of conflict. Yet it offers living for those who made a try, the strong who dear to face the risk of working on the street. Messy weather and the ruthlessness of street are classic problem that always set to say hello at the most unexpected times. Street is no place for the faint-hearted. Here are some of the Bandung street fighters

Kelom Lentik Nan Menarik

Tangannya tampak terampil meliuk-liukkan canting di atas alas kaki berbahan kayu. Ardian, pemuda lokal Tasikmalaya itu sedang melukis pola di atas kelom, alas kaki berbahan kayu, kerajinan andalan kota asalnya tersebut. Sedangkan di sudut ruangan yang lain beberapa temannya sedang mengerjakan tanggung jawabnya masing-masing. Ada yang memotong alas kelom sementara yang lain menggambar pola menggunakan semprotan. Tak lama beberapa pasang alas kaki kayu ini telah berubah menjadi cantik dan siap menjalan proses berikutnya.

Selayang Pandang Pangandaran

Tahun 2006 mengubah banyak hal bagi warga Pangandaran. Bencana gempa yang disusul gelombang tsunami menihilkan apa yang telah dimiliki dan dibangun. Namun hidup terus berlanjut. Pangandaran telah lama tersohor sebagai daerah tujuan wisata dan masih demikian. Itu semua berkat beberapa hal yang tetap tak berubah, pantai dan laut. Dua hal ini masih menjadi sektor utama penggerak ekonomi bagi sebagian besar masyarakatnya.

The Forgotten Bumi Geulis (Bumi Geulis yang Terlupakan)

10 pass 5 minutes, the snakey iron started to leaving Bogor station. Bumi geulis ,that it was given a name. Not as popular as other trains such as Argo or even with it’s brother, Jakarta-Bogor commuter trains. Understandably, it’s operation area are not so kind of busy. The train was first inagurated in December 2008 by the Minister of Transportation at that time, Jusman Syafii Djamal, serving Sukabumi-Bogor route in return, which is taken within 2 hours.