Selayang Pandang Pangandaran

Tahun 2006 mengubah banyak hal bagi warga Pangandaran. Bencana gempa yang disusul gelombang tsunami menihilkan apa yang telah dimiliki dan dibangun. Namun hidup terus berlanjut. Pangandaran telah lama tersohor sebagai daerah tujuan wisata dan masih demikian. Itu semua berkat beberapa hal yang tetap tak berubah, pantai dan laut. Dua hal ini masih menjadi sektor utama penggerak ekonomi bagi sebagian besar masyarakatnya. Berkunjung ke Pangandaran cukup mudah. Dari Jakarta dapat ditempuh melalui jalan darat selama delapan jam atau lima jam dari Bandung. Banyak bis umum AKAP yang sudah menyediakan rute menuju Pangandaran. Jika menggunakan kereta maka turun di Stasiun Banjar lalu dilanjutkan sekitar satu setengah jam menggunakan kendaraan bermotor. Usahakan sering merapat ke jendela jika menggunakan kereta api karena pemandangan indah akan sering menampakkan diri.

Pangandaran menjadi istimewa karena lokasinya yang berada di sebuah semenanjung. Akibatnya pemandangan epik matahari terbit dan tenggelam dapat dinikmati dalam satu area sekaligus. Sunrise di pantai timur dan sunset di pantai barat. Namun cara paling tepat untuk menikmati Pangandaran yang sesungguhnya adalah blusukan menggunakan sepeda. Beberapa aktifitas warga lokal dapat dilihat secara langsung. Kebanyakan memang bertema laut. Pagi hari adalah saat yang tepat untuk memulainya dengan menyaksikan matahari terbit dan aktifitas nelayan menangkap ikan menggunakan jaring yang telah disebar di laut sore sebelumnya. Para nelayan ini tinggal di deretan kampung tak jauh dari pantai. Kampung ini juga menjadi lokasi berlangsungnya proses pengolahan ikan secara tradisional. Para pelakunya adalah warga setempat yang berprofesi sebagai penjual ikan asin.

1.Pemandangan cantik menuju Pangandaran menggunakan kereta api.
Pemandangan cantik menuju Pangandaran menggunakan kereta api.
2.Bahkan ketika mendung Pangandaran masih menampilkan pemandangan cantik matahari terbit.
Bahkan ketika mendung Pangandaran masih menampilkan pemandangan cantik matahari terbit.
3.Nelayan menarik jaring dari laut.
Nelayan menarik jaring dari laut di pagi hari.
4.Bersepeda susur kampung dan melintasi sungai.
Bersepeda susur kampung dan melintasi sungai.
5.Ikan asin siap digarami dan dikeringkan.
Ikan asin siap digarami dan dikeringkan.

 

 

 

 

Menjauh dari pantai, aktifitas berbeda dapat ditemui dan menjadi daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah kegiatan pengolahan gula merah di Desa Tegal Jambe. Gula merah ini dihasilkan dari sadapan nira pohon kelapa yang banyak dijumpai di Pangandaran. Masih di desa yang sama, sebagian warga juga mencari nafkah dengan menjual atap nipah. Sebelumnya mereka harus mengambil daun nipah lalu merangkainya menjadi bentuk lembaran dan mengeringkannya. Proses pengeringan ini diperlukan untuk mengurangi kandungan air yang membuat berat. Selain itu daun nipah juga lebih kuat dalam kondisi kering. Pohon nipah sendiri juga cukup banyak ditemui karena sebagian wilayah Pangandaran berupa rawa dan hutan bakau.

Bicara tentang hutan bakau, masyarakat Pangandaran juga mulai sadar betapa pentingnya kawasan vegetasi payau tersebut. Bencana tsunami 2006 seolah mengingatkan fungsi krusial hutan bakau sebagai benteng ekosistem tepi laut. Hal itu setidaknya dibuktikan dengan hadirnya taman konservasi mangrove di Desa Sang Hyang Kalang sejak hampir dua tahun lalu yang dikelola oleh karang taruna setempat. Berlokasi di pertemuan Sungai Bengawan dan Samudra Hindia, kawasan bakau tersebut tidak hanya memiliki fungsi tempat wisata tapi juga wahana edukasi dan kontribusi terhadap lingkungan. Hal ini dimungkinkan dengan adanya program wali pohon yaitu penanaman bibit bakau dengan mendonasikan rupiah dalam nominal tertentu. Dalam program tersebut pengunjung dapat menanam langsung bibit bakau yang didonasikan. Aktifitas yang sederhana namun menarik karena memberikan pengalaman tersendiri sekaligus melatih rasa peduli lingkungan bagi wisatawan. Pengunjung dapat mencapai kawasan mangrove ini melalui jalan darat atau bisa menyebrang menggunakan perahu dari pelabuhan nelayan Nusawiru. Jika memiliki uang lebih maka Resort Shane Josa menawarkan sesuatu yang berbeda, mengarungi Sungai Bengawan menuju kawasan mangrove menggunakan kapal khusus yang telah dimodifikasi menyerupai restoran. Menyantap makan siang di ‘restoran’ sambil menyusur sungai tentu akan menjadi experience yang unik.

6.Membuat gula merah.
Membuat gula merah dari nira aren.
7.Membuat atap dari daun nipah.
Membuat atap dari daun nipah.
8.Kapal restoran milik Resto Shane Josa.
Susur sungai menggunakan kapal restoran milik Resto Shane Josa.
9.Dermaga merah di taman hutan bakau.
Dermaga merah di taman hutan bakau.
10.Pengunjung menanam langsung bibit bakau di pinggir sungai.
Pengunjung menanam langsung bibit bakau di pinggir sungai.

 

 

 

 

Selain aktifitas wisata yang cukup kalem, Pangandaran juga menyediakan kegiatan outdoor yang lebih menantang. Bagi yang menyukai surfing, Pantai Batukaras yang berjarak kurang lebih satu jam dari Pantai Pangandaran adalah spot terbaik. Pantai yang sekilas mirip versi mini Pantai Kuta Bali ini memiliki ombak kelas menengah dan bibir pantai yang landai serta bebas karang. Cocok bagi mereka yang masih baru dalam aktifitas menunggang ombak. Yang tak kalah seru dan bisa dinikmati oleh lebih banyak orang adalah river tubing atau body rafting. Green Canyon adalah kawasan yang paling terkenal sebagai perintis kegiatan susur sungai ini. Ramainya Green Canyon pun memantik peluang bagi eksplorasi aliran sungai lainnya untuk melakukan aktifitas sejenis.

Salah satu yang direkomendasikan adalah river tubing di Sungai Santirah di Desa Selasari yang baru saja resmi hadir pada Januari 2014. Untuk mencapainya memang dibutuhkan usaha ekstra karena lokasinya berada di daerah perbukitan. Akses jalan menuju destinasi ini berupa jalan aspal yang sempit, berkelok dan naik turun. Bis besar belum bisa menjangkau sehingga harus dijemput menggunakan kendaraan yang lebih kecil. Namun semua itu sepadan dengan apa yang ditawarkan. Panjang rute river tubing sepanjang 1,5 kilometer ini menghadirkan pemandangan Sungai Santirah yang sangat alami dengan melalui 5 air terjun dan 4 gua. Keheningan dalam gelapnya gua dan keseruan melalui derasnya air terjun menghadirkan pengalaman yang berbeda. Selain itu beberapa jeram yang cukup deras juga mampu memancing adrenalin. Santirah juga menawarkan sesuatu yang lebih menguji nyali. Di beberapa titik operator river tubing akan mempersilahkan pengunjung untuk melompat ke air dari tepi sungai dengan ketinggian sekitar sepuluh meter, dan tentu saja mereka mencontohkannya. Berbagai keseruan tersebut menjadikan waktu dua jam untuk melakukan rangkaian river tubing serasa begitu cepat. Santirah juga memiliki kelebihan jika dibandingkan aliran sungai lain termasuk Green Canyon. Karena lokasinya lebih tinggi dan masih termasuk kawasan hulu sungai menjadikan Santirah tidak terlalu terpengaruh oleh faktor cuaca.

Sebagai daerah wisata, banyak kafe atau hotel di Pangandaran  menghelat pertunjukan kesenian secara berkala dan bisa dinikmati oleh umum. Yang menarik adalah di satu saat akan ditemui kesenian seperti Kenthongan, lalu di waktu lain menjumpai pertunjukan seperti Kuda Lumping misalnya. Kenthongan adalah pertunjukan seni musik bernuansa Sunda memanfaatkan alat musik yang terbuat dari bambu dan kayu. Sedangkan Kuda Lumping adalah pertunjukan tari dan atraksi ketangkasan yang banyak ditemui di Jawa Tengah. Percampuran budaya ini sebenarnya bisa mudah dipahami karena lokasi Pangandaran yang berbatasan dengan Jawa Tengah. Akibatnya banyak orang yang berasal dari propinsi tetangga tersebut merantau untuk mencari nafkah lalu menetap di Pangandaran. Itu sebabnya bahasa Jawa terdengar tidak asing di kabupaten ini terutama di daerah pesisir pantai. Dari sinilah nama Pangandaran berasal. ‘Pangan’ berarti makanan dan ‘andar’ bermakna orang yang merantau. Maka secara harfiah Pangandaran berarti tempat bagi orang perantauan yang mencari nafkah.

11.Pantai Batukaras.
Pantai Batukaras.
12.Jus Honje yang terbuat dari kecombrang, salah satu minuman khas Pangandaran.
Jus Honje yang terbuat dari kecombrang, salah satu minuman khas Pangandaran.
13.River tubing di Sungai Santirah yang cantik.
River tubing di Sungai Santirah.
14.Kesenian Kenthongan.
Kesenian Kenthongan.
15.Kesenian Kuda Lumping.
Kesenian Kuda Lumping.
16.Beberapa menu seafood andalan Pangandaran.
Beberapa menu seafood andalan Pangandaran.

 

Usai menikmati berbagai aktifitas maka beristirahat sambil mengisi perut adalah pilihan yang tepat. Mudah ditebak seafood adalah kuliner khas Pangandaran. Salah satu sentra kuliner seafood berada di Pantai Timur. Bukan masalah besar ketika bumbu atau cara pengolahan makanan laut yang tidak banyak variasi karena yang terpenting sesungguhnya adalah kesegaran ikan yang dimasak dan Pangandaran memiliki itu. Hampir semua restoran disini mengambil ikan langsung dari pasar atau pelelangan ikan yang jaraknya berdekatan sehingga kesegarannya terjaga. Lidah bergoyang, perut kenyang, hati pun senang.

Secara formal Kabupaten Pangandaran sebenarnya masih sangat muda, baru saja berdiri pada 2012 sejak memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis. Namun secara kultural dan sosial, Pangandaran mungkin lebih tenar dibanding mantan induknya tersebut. Wajar karena kabupaten baru ini memiliki modal kuat sebagai daya pikat sekaligus penggerak ekonomi. Pemisahan diri ini adalah salah satu upaya agar Pangandaran bisa lebih memiliki keleluasaan dan kemandirian dalam mengolah sumber daya alam dan manusianya untuk meningkatkan kesejahteraan. Terlepas dari berbagai pekerjaan rumah yang masih banyak seperti infrastruktur dan edukasi lingkungan bagi warga lokal maupun pengunjung, Pangandaran telah membuktikan bahwa keterpurukan telah lama mereka tinggalkan.

Artikel ini dibuat atas kerja sama dengan Badan Promosi Wisata Jawa Barat.

#pesonaindonesia #wonderfulindonesia #explorewestjava

8 Comment

  1. Foto nya kece2 banget kak ….

    1. tapi belum sekece dan semelampau dirimu kakak…

  2. selalu suka caramu menarasikan dan mendeskripsikan kisah perjalanan..sampeyan pancen joss..hahahaha

    1. asal jangan sampe lupa buat suka wanita ya

  3. Vania says: Reply

    Wahh keren banget nih tempatnya kak .. 😀

    Kira – kira ada info ga min ke pangandaran dari jakarta ? hmm ..

    1. Halo Vania,
      dari Jkt banyak bis umum ke Pangandaran, brgkat dari Kp Rambutan

  4. Itu jusnya rasa apa ya mas? Penasaran kecombrang kan biasa untuk sambel ya?

    1. rasa campur2 yang aneh. Manis, sengau, asem. Yang ga biasa pasti langusng kapok.

What's on your mind