Merawat Gambut

Merawat Gambut Sumatra

Merawat gambut adalah menjaga masa depan. Gambut yang lestari dapat memperlambat perubahan iklim dan bermacam bencana alam lain. Sumatra Merang Peatland Project (SMPP) adalah salah satu inisiatif merawat gambut di Indonesia. Agar generasi sekarang dapat menjawab pertanyaan yang kelak diajukan oleh generasi masa depan, dimanakah posisi kita sekarang, perusak atau penjaga?

Lahan gambut memang tak sepopuler hutan hujan tropis yang lebat, eksotis, serta memiliki flora fauna yang sangat beragam. Namun tetap saja gambut memiliki peran krusial. Gambut sendiri adalah tanah organik yang terbentuk dari vegetasi yang telah terurai dan terendam air selama ratusan tahun. Sekitar 3-5% permukaan bumi merupakan lahan gambut. Ia ada di seluruh dunia. Mulai dari dataran tinggi hingga ke pesisir, dari kawasan tropis hingga permafrost di kutub. Hampir 70% lahan gambut berada di wilayah tropis di mana Indonesia, Kongo dan Peru adalah tiga negara dengan lahan gambut terluas.

Lalu apa saja peran penting lahan gambut? Mulai dari pencegah kekeringan sekaligus banjir, gambut juga menjadi habitat bagi bermacam flora dan fauna. Tingginya variasi makhluk hidup yang tinggal di suatu wilayah menunjukkan tingkat kesehatan kawasan tersebut. Fungsi penting lainnya sebagai penambat (sequester) gas karbon.

Pemandangan dari tasa salah satu sudut hutan gambut Merang.
Bekas kawasan hutan gambut Merang yang terbakar hebat pada 2015.
Menerobos memasuki area inti hutan gambut.

Baca juga: Melepas Rindu di Merbabu via Suwanting-Selo

Selain itu gambut menjadi rumah bagi 30% gas karbon di seluruh dunia meskipun hanya menutupi wilayah yang kecil. Diperkirakan angka tersebut dua kali lebih besar dari hutan di seluruh dunia dan empat kali yang ada di atmosfer. Gambut di wilayah tropis sendiri menyimpan karbon paling banyak. Di sinilah gambut mulai menyita perhatian sesungguhnya.

Lapisan ibun abadi alias permafrost di kutub terus mencair, menyebabkan gambut mengering serta melepaskan gas karbon paling berbahaya, metan (methane). Di antara karbon yang lain, metan memiliki kemampuan mengikat panas (kalor) paling tinggi sehingga dapat meningkatkan suhu atmosfer dalam waktu cepat. Sementara itu gambut di tropis juga terus terkikis untuk lahan pertanian dan perkebunan skala besar. Di Malaysia, Pulau Sumatra dan Kalimantan, lahan gambut hilang separuh hanya dalam kurun 1990-2010, dari 77% menjadi 36%.

Ketika gambut terbakar maka sejumlah besar gas karbon terlepas ke udara. Inilah yang berdampak pada perubahan iklim dan kesehatan masyarakat. Kebakaran hebat yang melanda lahan gambut di Indonesia pada September-Oktober 2015 diperkirakan telah melepaskan sekitar 11 juta ton karbon dioksida. Jika terus terjadi, ilmuwan memperkirakan tak sampai seabad lagi rata-rata suhu permukaan bumi naik hingga 4 derajat celsius.

Tanaman kantong semar tumbuh di dasar hutan gambut.
Melintasi Sungai Lalan di tengah hutan gambut.
Membuat sekat kanal dengan alat berat.
Tampak dari atas pembuatan sekat kanal.
Membuat sekat kecil dari kayu dan dedaunan pada kanal air.
Mengukur ketinggian air bawah permukaan sebagai salah satu indikator lahan gambut yang sehat.
Winantoso (25), salah satu petugas penjaga lahan gambut.
Perlengkapan harian petugas penjaga kawasan gambut.

Baca juga: Binaraga Jebor, Ketika Pekerja Pabrik Genteng Menjadi Pesohor

Bermacam insiatif konservasi telah dilakukan. Di Indonesia salah satunya yaitu restorasi lahan gambut di Kabupaten Musi Banyuasin, Propinsi Sumatra Selatan, tepatnya di kawasan yang disebut Merang. Proyek restorasi lahan gambut ini bernama Sumatra Merang Peatland Project (SMPP) dan menaungi hutan gambut seluas 22000 hektar.

Kawasan ini menjadi salah satu yang dilalap api pada kebakaran besar tahun 2015 dan hanya 6000 hektar yang terselamatkan. Kini sebagian dari luas yang terbakar sudah dalam tahap pemulihan. Bermacam program dilakukan, salah satu yang utama yaitu pembuatan sekat kanal dan dam. Sekat dan dam ini berfungsi untuk menjaga lahan gambut tetap basah sehingga menekan resiko kebakaran saat musim kering. Kegiatan preventif lainnya adalah patroli rutin untuk mendeteksi sekaligus mencegah munculnya titik api terutama saat kemarau. Sementara itu tahapan pelestarian berupa persemaian yang dilakukan dengan cara mengambil bibit-bibit tanaman dari dalam hutan lalu dibiakkan sebelum akhirnya ditanam lagi ke dalam hutan.

Bekas cakar Beruang Madu pada batang pohon Punak.
Petugas survei melintasi kanal air.
Bibit Uya-Uya yang diambil dari dalam kawasan hutan inti.
Menyemaikan benih sebelum ditanam kembali ke dalam hutan.
Peralatan pemadam kebakaran lahan gambut milik PT. Global Alam Lestari

Baca juga: Kreskros: Antara Plastik, Desain & Tas Kekinian

SMPP sendiri dikerjakan sejak 2017 oleh dua pihak yaitu Forest Carbon yang berbasis di Jakarta dan Singapura serta PT. Global Alam Lestari. Sementara pembiayaan proyek ini senilai 5,1 juta euro atau sekitar 86 milyar rupiah. Uang sebesar itu digelontorkan dengan beberapa harapan seperti mengurangi 3,4 juta ton gas CO2 pada 2021 dan mengembalikan lagi habitat beberapa fauna asli seperti Harimau Sumatra, Badak Sumatra, Beruang Madu dan Burung Rangkong. Keterlibatan masyarakat setempat terutama perempuan juga dicanangkan karena merekalah sesungguhnya penjaga dan pengambil manfaat hutan gambut Merang.

Pada akhirnya, perubahan iklim itu nyata. Setiap orang berperan mengurangi laju kerusakan lingkungan. Karena planet biru kecil ini adalah rumah bersama bagi 7,8 milyar manusia dan lebih banyak lagi spesies yang lain. Dan sesungguhnya generasi saat ini sedang meminjamnya dari generasi yang akan datang. Dan kelak mereka akan mempertanyakan, dimanakah posisi kita sekarang, perusak atau penjaga?

Foto-foto dalam artikel ini merupakan hasil penugasan dari Sumatra Merang Peatland Project (SMPP) di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan pada Februari 2020.

Indonesian-based photographer and story teller

What's on your mind