negeri tembakau

Sejumput Kisah Negeri Daun Emas (bag. 1)

Siang itu angin semilir membelai lembut wajah kala saya melintas aspal antara Kalisat dan Mayang. Roda dua melaju lambat dan helm sengaja dilepas demi khusyuk menghirup semerbak wangi yang mengudara. Harum itu berasal dari daun tembakau yang dijemur di banyak halaman rumah. “Mungkin di Jember dulu lapangan dibuat bukan untuk bermain bola tapi menjemur tembakau ya. Haha,”

Lawatan Ke Bumi Pandhalungan (bag. 2)

 Sebelumnya di bagian 1

Suatu malam saya menyambangi salah satu hajatan seni di Desa Tanjungrejo. Pertunjukan ludruk tengah berlangsung namun tak seperti ludruk khas Jawa Timur umumnya.  Beberapa yang mencolok yaitu dendang dimainkan memakai dua jenis alat musik gamelan Jawa dan thong-thong ala Madura. Keduanya menelurkan musik yang lebih rancak. Belum lagi penggunaan dua bahasa Jawa dan Madura. Tiba-tiba saya menapak tilas kenangan saat pertama kali melawat ke kabupaten tapal kuda ini beberapa tahun silam. Kala itu saya pikir kota tembakau ini sama seperti daerah lain di Jawa Timur yang didominasi suku Jawa. Maka saya begitu terperangah saat bersua begitu banyak orang Madura di Jember.

Lawatan Ke Bumi Pandhalungan (bag. 1)

Saya tengah berkelebat di daerah Sumuran sambil mencuplik kenangan setahun silam. Kala itu di lokasi yang sama bau wangi memenuhi relung hidung dan memaksa saya melambatkan laju roda dua demi menikmatinya lebih lama. Semerbak tersebut berhulu dari deretan gudang pengeringan daun tembakau yang berjajar di sepanjang jalan. Tak sulit menemukan bangunan besar memanjang yang terbuat dari bambu dan kayu itu di pinggiran Jember. Nampak pula iringan truk dan mobil bak terbuka hilir mudik keluar masuk area gudang pengeringan. Hingar.

Selayang Pandang Pangandaran

Tahun 2006 mengubah banyak hal bagi warga Pangandaran. Bencana gempa yang disusul gelombang tsunami menihilkan apa yang telah dimiliki dan dibangun. Namun hidup terus berlanjut. Pangandaran telah lama tersohor sebagai daerah tujuan wisata dan masih demikian. Itu semua berkat beberapa hal yang tetap tak berubah, pantai dan laut. Dua hal ini masih menjadi sektor utama penggerak ekonomi bagi sebagian besar masyarakatnya.

Because Sumedang Is Just More Than Tahu (Karena Sumedang Lebih Dari Sekedar Tahu)

It’s early in the morning when Nurhuda and I ride our motorbike from Bandung to avoid the morning commute. Thank God the lucky is on us. An hour later we reached our destination in Gunung Puyuh region, Southern Sumedang. It’s a unique house. Instead of a flat land, the wooden house actually built on the slope of a hill. Our host also a friend, Ismi Rinjani Adriani greeted us with hot tea, tahu Sumedang and lontong. The owner of Rumah Baca Imajinasi library gave us some spot options to explored. Huda and I agreed two of them and soon our bag are on our back.

Memotret Pemandangan (tips)

Seorang teman pernah mengatai saya sebagai penipu. Itu karena dia merasa kecewa ketika berkunjung ke sebuah pantai yang menurutnya pemandangannya jelek. Sedangkan di tempat yang sama, saya dapat menghasilkan foto yang menurutnya bagus, dan foto itulah yang membuatnya ingin berkunjung ke pantai tersebut. Pernah merasakan hal yang sama? Kenapa bisa demikian? Kemungkinan besar karena teman saya tersebut berkunjung di waktu yang salah, ketika musim hujan dimana langit lebih sering tak berwarna cerah. Lalu apa hubungannya dengan memotret pemandangan? Sangat berhubungan sekali. Mari kita mulai dari dasar.

Terlepas dari sebuah karya seni yang sangat subyektif, fotografi tetap memiliki standar umum agar bisa dikatakan bagus. Setidaknya ada 3 hal yang membuat sebuah foto dikatakan menarik. Lighting (pencahayaan), komposisi, dan momen. Foto pemandangan sangat bergantung pada hal yang pertama. Betapa terlalu sering kita melihat foto Gunung Bromo dan selalu bagus. Karena selain pada dasarnya Bromo memang sudah indah dari sananya, (hampir) semua orang memotret Bromo di pagi hari. Saat itulah cahaya matahari menyingkap semua keindahan gunung tersebut. Tapi adakah yang pernah memotretnya di sore hari, atau di musim hujan mungkin?

Itu sebabnya fotografer senior Arbain Rambey pernah mengatakan, foto pemandangan itu selalu tentang lighting, lighting dan lighting. Walau demikian anda tetap bisa mengkombinasikannya dengan permainan komposisi dan momen agar foto lebih menarik dan terlihat berbeda. Saya akan menunjukkan bahkan dari tempat memotret yang sama pun foto pemandangan yang lebih menarik bisa dikreasikan hanya dengan sedikit usaha dan kesabaran. Beberapa waktu yang lalu saya datang ke Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, ketika matahari terbit. Disitu saya mengambil posisi di sebuah jalan kecil di sebelah barat candi, berhadapan langsung dengan arah matahari terbit. Mudah diduga saya ingin mengambil siluet dari Candi Plaosan.

Foto pertama dibawah ini adalah foto wajib. Di kalangan fotografer profesional, ini disebut safe shot, yaitu foto pertama yang pasti diambil ketika datang di sebuah lokasi pemotretan. Sebuah foto yang tidak membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkannya. Bagi saya foto ini sudah bagus. Elemen utama yaitu cahaya dan bentuk siluet candi berhasil ditangkap dengan baik. Apalagi saya mendapatkan bonus berupa bulatan kuning matahari yang tepat muncul dari balik garis horizon. Penampakan seperti ini biasa disebut dengan ‘kuning telor’. Sekali lagi, karena saya datang di waktu yang tepat. Kini saatnya untuk membuat foto lebih menarik lagi dengan mengkombinasikannya dengan elemen lain.

IMG_6627_editWM
Foto pertama

Di foto kedua saya coba mengkreasikannya dengan momen. Kebetulan candi Plaosan masih sarat dengan suasana pedesaan. Petani berangkat ke sawah atau anak-anak bersepeda ke sekolah sering melintas dan bisa menjadi obyek yang menarik untuk dikombinasikan dengan siluet candi Plaosan. Dengan sedikit kesabaran, sebuah foto yang menarik bisa dihasilkan. Satu hal yang kurang hanyalah obyek anak naik sepeda terlihat agak blur karena rana kamera membuka sedikit lambat. Jangan lupa juga untuk mencoba berbagai posisi agar hasil terbaik bisa didapatkan.

IMG_6679_editWM
Foto kedua

Terakhir, di foto ketiga saya mencoba bermain dengan komposisi. Dalam hal ini, saya mencoba menambahkan obyek lain yaitu daun ketela yang memiliki bentuk yang cukup unik. Dengan beberapa kali eksperimen mengubah sudut kamera dan mengganti obyek tambahan, foto yang menarik bisa dihasilkan. Dapat juga bermain dengan framing, yaitu menggunakan obyek tambahan seolah sebagai bingkai bagi obyek utama.

Selamat mencoba.

IMG_6718_editWM
Foto ketiga