Imaji Wakatobi Yang Tak Melulu Bahari (bag.2)

Imaji Wakatobi Yang Tak Melulu Bahari (bag.2)

Sebelumnya

Saya beralih makin ke utara, Pulau Kaledupa lebih berbukit dan subur. Tanaman dan pohon tinggi mudah dijumpai. Rasanya tak seperti di dataran rendah. Mungkin ini yang menjadikan Kaledupa sebagai pusat peradaban Wakatobi di masa lalu saat bernama Barata Kahedupa yang termasuk wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Tak heran pula hampir semua rumah-rumah di sini masih mengikuti tradisi dengan bentuk panggung.

Imaji Wakatobi Yang Tak Melulu Bahari (bag.1)

Imaji Wakatobi Yang Tak Melulu Bahari (bag.1)

Terdamparnya seekor ikan paus dengan perut penuh sampah plastik menjadi sorotan. Kesadaran lingkungan hanya sebagian dari tantangan besar yang perlu segera diretas pionir wisata selam di Indonesia ini dalam upaya bangkit. Terlalu lama Wakatobi menyandarkan pada laut membuat daratannya seolah tak terjamah sementara beragam pesona di atasnya menunggu tuk dilirik. Label destinasi wisata prioritas yang disematkan pada awal 2018 bak dua mata sisi pisau. Perbaikan atau keterlenaan.
Sejenak Tilik Pembuatan Mie Lethek

Sejenak Tilik Pembuatan Mie Lethek

Pernah tutup karena kalah bersaing dengan mie instan, pembuatan mie lethek yang masih tradisional ini kembali bangkit. Digemari tokoh kondang macam SBY dan Obama, serta didukung naiknya tren makanan organik dan faktor sejarah, pabrik bahan kuliner khas Yogyakarta itu mencoba mereguk kembali kejayaan. Proses produksi yang masih konvensional menjadi salah satu tantangan walau itu justru menarik bagi sejumlah kalangan.
Taman Tino Sidin, Mengenang Sang Maestro (Guru) Lukis.

Taman Tino Sidin, Mengenang Sang Maestro (Guru) Lukis.

“Ya, bagus”, seru lelaki bertopi baret itu kepada beberapa anak yang sedang melukis. ”Jangan takut. Teruskan saja”, lanjutnya. Kalimat ini tak asing bagi mereka yang mengalami masa kecil di era 1970-1990an. Tayangan televisi berdurasi setengah jam tersebut seolah menjadi tontonan wajib anak-anak di masa itu. Saat itulah seminggu sekali anak-anak duduk manis ndomblong di depan layar kaca.

Festival Pegon, Berlebaran Di Atas Gerobak Sapi

Festival Pegon, Berlebaran Di Atas Gerobak Sapi

Jam 7 pagi Desa Sumberrejo masih tampak seperti biasa. Namun tak lama kemudian kemeriahan mulai menyelimuti desa kecil di Kecamatan Ambulu, Jember, Jawa Timur tersebut. Keriuhan berasal dari depan balai desa, tepatnya puluhan pegon atau gerobak bertenaga sapi yang datang dari beberapa desa sekitar untuk berpartisipasi dalam acara Festival Pegon.

The Agony of Bekonang (Nyawa Meregang Bekonang)

The Agony of Bekonang (Nyawa Meregang Bekonang)

It’s a common sight to find drums and firewood pile in front of a house. Those are mark of home industries of alcohol ran by the house owner. Bekonang, a small village in Mojolaban district, Sukoharjo regency, Central Java, Indonesia, is an old legend for generations to liquor lovers especially in Central Java and beyond thanks to its ciu (local liquor). It is a bold statement from the residents of Bekonang, one of them is Mujiman, 68, an alcohol producer titled Ngudi Rejeki.

Mengetuk Pintu Laweyan

Mengetuk Pintu Laweyan

Laweyan adalah batik. Konotasi itu telah terbangun sejak lama. Apalagi selepas daerah yang berada di tepi Kota Solo itu resmi bertajuk Kampoeng Wisata Batik pada 2004. Namun seorang teman asal Solo, Halim Santoso meyakinkan saya bahwa Laweyan lebih dari sekedar batik. Sebuah bujukan tersamar. Ditemani Halim, saya pun menjajal membuktikan lisannya itu. Di luar perkiraan. Alih-alih banyak orang atau kendaraan berseliweran, kampung ini lengang untuk ukuran tempat wisata padahal saat itu hari minggu.