Mengetuk Pintu Laweyan

Laweyan adalah batik. Konotasi itu telah terbangun sejak lama. Apalagi selepas daerah yang berada di tepi Kota Solo itu resmi bertajuk Kampoeng Wisata Batik pada 2004. Namun seorang teman asal Solo, Halim Santoso meyakinkan saya bahwa Laweyan lebih dari sekedar batik. Sebuah bujukan tersamar. Ditemani Halim, saya pun menjajal membuktikan lisannya itu. Di luar perkiraan. Alih-alih banyak orang atau kendaraan berseliweran, kampung ini lengang untuk ukuran tempat wisata padahal saat itu hari minggu. Praktis keramaian hanya ada di Jalan Radjiman, sebuah jalan besar yang berada di muka Laweyan. Itu pun lebih karena fungsinya sebagai akses penghubung Solo dengan daerah luar. Semacam kesepian terbungkus keriuhan.

Destinasi pertama, Langgar Merdeka, sebuah bangunan bergelar cagar budaya sejak 1997 lalu. Fisiknya mencolok, warna hijau terang dengan arsitektur unik, dan berada persis di pinggir Jalan Rajiman membuatnya selaku ikon tak resmi Laweyan. Sepertinya konstruksi ini dulu tidak dirancang sebagai tempat ibadah karena wujudnya tak lazim. Zulkifar, takmir langgar menemui kami lengkap dengan seragam kokonya. Pria 56 tahun itu bertutur langgar ini dibangun tahun 1877 untuk memenuhi gaya hidup yang sedang menjangkit kala itu, candu. Ya, Langgar Merdeka dulu adalah sebuah rumah candu. Pemiliknya seorang Tionghoa bernama Khao Tin Ho yang lalu dibeli oleh seorang juragan batik bernama Haji Imam Mashadi pada 1939. Sang saudagar mengubahnya menjadi tempat ibadah umat islam pada 1942 dan kelar tiga tahun setelahnya. Merdeka menjadi nama yang tersemat dalam rangka semangat perjuangan.

1_MG_2999_editWM
Bermula sebagai rumah candu lalu bertransformasi menjadi tempat ibadah, beginilah nampak depan Langgar Merdeka di sisi muka Laweyan.
2_MG_2915_editWM
Menurut pengurusnya, kondisi di dalam Langgar Merdeka yang didominasi konstruksi kayu belum pernah diubah sejak dibangun menjadi tempat ibadah.
3_DSC08519_editWM
Zulkifar, takmir Langgar Merdeka.

Nama Merdeka sempat beralih menjadi Al-Ichlas saat Belanda yang datang lagi ke Indonesia melalui Agresi Militer II melarang pemakaian kata-kata beraroma nasionalis. Nama awal akhirnya kembali diperoleh pasca Belanda meninggalkan Indonesia. Setelah diwakafkan pada 2007, bangunan dua lantai ini dikelola oleh masyarakat lokal melalui Yayasan Langgar Merdeka Kampoeng Batik Laweyan. Pak Zul, begitu biasa ia disapa, melanjutkan fakta bahwa bangunan ini memiliki dua lantai memberi manfaat tersendiri. Lantai satu disewakan pada pelaku ekonomi yang uangnya dimanfaatkan untuk mengelola langgar tersebut. Tempat ibadah sendiri berada di lantai dua. Yayasan juga mendapat sokongan dana dari donatur yang hampir semuanya adalah pengusaha batik Laweyan. Langgar Merdeka adalah bukti sahih bahwa batik menjadi nyawa Laweyan.

Melanjutkan blusukan, kampung ini menyapa kami dingin melalui tembok-tembok tinggi yang membentang sepanjang jalan kecil penghubung antara Jalan Rajiman dengan Laweyan sisi dalam. Beberapa akses lain juga demikian. Para rumah disini seolah dibangun bak benteng dimana penghuninya berusaha meminimalisir hubungan dengan luar. Kehidupan baru mulai terasa ketika memasuki area tengah. Di Jalan Sidoluhur saya melihat barisan papan tengara gerai batik. Hanya sesekali terlihat bis atau kendaraan besar yang lazim dipakai wisatawan. Orang-orang yang berlalu lalang sepertinya didominasi oleh warga sekitar. Disini fasad-fasad sarang para juragan batik mulai terkuak. Ternyata di balik tabir itu terbaring rumah-rumah tua nan elok dengan gaya arsitektur Jawa kolonial. Menyadari bahwa Laweyan dihuni banyak orang kaya maka itu bukan keanehan.

Cerita mendalam saya dapat dari seorang tokoh pengusaha batik setempat sekaligus dosen arsitektur di sebuah universitas di Solo, Alpha Febela. Pria paruh baya itu juga menjabat sebagai Forum Pengembangan Batik Laweyan (FPKBL).  Mengutip dari sejarawan lama R.T Mlayadipuro, secara rentang waktu sejarah kampung ini bisa dibagi menjadi dua, masa abad 15 dan 19. Asal-usul Laweyan sendiri tak diketahui pasti walau diyakini Laweyan sudah ada sejak sebelum era Pajang, kerajaan islam kedua di Jawa setelah Demak. Pangkal munculnya usaha batik juga tak jelas. Namun dipercaya kampung ini memang telah lama hidup dari usaha sandang. Dari situlah kampung ini mendapat namanya. Lawe yang berarti kain atau benang. Babad Laweyan menggema kala seorang tokoh bernama Ki Ageng Henis mendiami wilayah itu pada 1546. Ia tersohor sebagai adipati Pajang dengan rajanya saat itu Jaka Tingkir.

4_DSC08534_editWM
Jalan Rajiman yang selalu ramai membungkus Laweyan yang lengang.
5_DSC08842_editWM
Bentangan dinding tinggi menyapa pengunjung sejak awal.
7_MG_2970_editWM
Bangunan tua yang dulu difungsikan sebagai Museum Samanhudi.

Dua versi mengemuka tentang pasal kehadiran Henis. Yang pertama ia diberi sebidang tanah perdikan (otonom) yang kini menjadi Laweyan oleh Demak atas pengabdiannya. Dari versi ini bisa disimpulkan bahwa Henis hidup di dua era kerajaan islam, Demak dan Pajang. Versi kedua, Henis diutus oleh Raja Pajang untuk menyebarkan islam ke wilayah tersebut. Saat itu Ki Ageng Beluk seorang pendeta hindu menjadi tokoh sentral di Laweyan. Selanjutnya berkat akhlak mulia dan kesabaran Ki Ageng Henis, sang pendeta akhirnya memeluk islam dan diikuti oleh penduduk setempat. Ki Beluk pun menghibahkan sebuah pura kepada Henis yang lalu diubah menjadi masjid yang kini adalah Masjid Laweyan, tertua kedua setelah Masjid Raya Kudus. Henis sendiri dimakamkan di samping tempat sholat itu. Masjid dan makam tersebut secara administratif berada di Kelurahan Pajang, Sukoharjo, tepat di depan Sungai Laweyan atau juga disebut Sungai Jenes. Dari Ki Ageng Henis inilah lahir para keturunan penguasa Jawa. Putranya adalah Ki Ageng Pemanahan yang selanjutnya menghasilkan Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati pendiri Mataram, kerajaan islam ketiga di Jawa. Dari sini kelak muncul Keraton Kartasura, Surakarta, Mangkunegara dan Ngayogyakarta.

Di abad 20 Laweyan terdeteksi radar sejarah berkat seorang tokoh lokal bergelar pahlawan nasional Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 1905. Perkumpulan itu ia bentuk sebagai wujud perlindungan bagi para saudagar Laweyan yang saat itu tertekan oleh pengusaha batik Tionghoa yang dibantu oleh Belanda. Seiring waktu SDI berubah menjadi partai politik bernama Sarekat Islam (SI) yang diketuai oleh pahlawan nasional yang lain, HOS Cokroaminoto. Ada beberapa jejak pengusaha batik bernama lain Wiryo Wikoro itu yang masih tersisa. Makamnya terletak di Desa Banaran, desa tetangga yang termasuk wilayah Kabupaten Sukoharjo. Lalu ada sebuah rumah terletak tak jauh dari Masjid Laweyan yang dijuluki Rumah Soekarno. Kediaman itu adalah hadiah dari sang proklamator yang diberikan pada ahli waris Samanhudi pada 1962 sebagai imbal jasanya.

Jejak lain dari sang pahlawan nasional yaitu sejumlah koleksi Museum Samanhudi yang ditampung di kantor Kelurahan Sondakan, utara Laweyan. Museumnya didirikan pada 2008 oleh Yayasan Warna-Warni di sebuah gedung tua yang masih berdekatan dengan Masjid Laweyan. Sayang adanya sengketa memaksa museum itu tak berumur panjang. Pada 2012 sebagian koleksi dipindah ke kantor kelurahan itu dan sebagian lagi berada di sebuah hotel di Kota Solo.

8_MG_2961_editWM
Sayang, tak ada yang bisa ditemui saat dua kali berkunjung ke Rumah Soekarno.
9_DSC08877_editWM
Di sinilah sang pendiri Sarekat Dagang Islam beristirahat untuk selamanya.
10_DSC08823_editWM
Foto lawas koleksi Museum Samanhudi menunjukkan para perajin batik Laweyan di era awal abad 19.
11_DSC08821_editWM
Samanhudi muda berada di baris paling belakang paling tengah.
12_DSC08794_editWM
Samanhudi dengan kedua istrinya dan para kolega serta kerabat.

Rangkaian kata dari Pak Alpha beralih ke batik. Ia bertutur bahwa tak jarang muncul kesan tak sedap dari orang luar tentang Laweyan. Bukan tentang batik melainkan sikap para saudagarnya yang terkenal dengan istilah jawa mriyayi, sikap percaya diri atau merasa tinggi secara berlebihan karena memiliki kelebihan. Penyandangnya disebut priyayi. Alih-alih menyebut Solo, para priyayi ini dengan lugas akan menjawab Laweyan ketika bertemu pertanyaan tentang asal atau tempat tinggal. Beberapa kali perihal ini masih terjadi sampai sekarang. Padahal masih banyak orang yang belum tahu dimana lokasi Laweyan. Sebuah kepercayaan diri yang tinggi.

Sejarah menjawab fenomena itu. Di masa lalu orang-orang Laweyan tidak pernah menganggap bagian dari Mataram maupun Surakarta karena mereka merasa jauh lebih dulu menoktahkan riwayat dibanding keduanya. Lokasi Keraton Surakarta yang tak begitu jauh menjadi berkah sekaligus masalah. Batik yang menjadi tren gaya hidup di lingkungan bangsawan Surakarta turut mengangkat perekonomian Laweyan sebagai pemasok batik. Fesyen jawa tersebut mencapai puncak jayanya sekitar abad 17 sampai 19, era yang sama dengan hadirnya rumah-rumah megah para juragan. Hubungan manis itu rupanya menyisakan perang dingin walau tak sampai terjadi konflik serius. Surakarta tak menyukai Laweyan yang bergaya bebas. Sebaliknya Laweyan mencemooh Surakarta yang birokratik dan penuh aturan. Cukup banyak bumbu penyedap perselisihan keduanya.

Pertama, Laweyan membuat pola batiknya sendiri yang menyebabkan Surakarta merasa tersaingi. Kedua, Laweyan memungkinkan siapa saja bisa memiliki batik. Hal yang sama tak terjadi di lingkungan keraton yang hanya membolehkan batik dipakai kalangan tertentu. Ketiga, priyayi kaya Laweyan mampu menunjukkan eksistensinya walaupun bukan bagian dari golongan ningrat. Membangun rumah megah nan indah adalah cara termudah. Keempat, sebuah fenomena sosial hadir di tengah Laweyan masa itu yakni mayoritas juragan batik adalah perempuan yang disebut mbok mase. Ya, motor utama ekonomi Laweyan adalah kaum feminis sementara bersamaan itu jenis kelamin yang sama dipandang sebelah mata di Surakarta yang feodal. Banyaknya poligami yang dilakukan para penguasa keraton seakan-akan menjadi justifikasi dominasi pria atas wanita. Sayang kini tinggal sedikit saja mbok mase yang tersisa. Berbagai fenomena sosial dan ekonomi itu seolah menjadi perlawanan terselubung Laweyan terhadap penguasa keraton.

13_DSC08885_editWM
Disinilah dulu lokasi Bandar Kabanaran yang memiliki arti penting dalam distribusi batik ke seantero Jawa.
14__MG_2929_editWM
Sungai Laweyan alias Sungai Jenes menjadi salah satu dalih utama berkibarnya usaha sandang dan batik Laweyan.
15_DSC08907_editWM
Seorang karyawan usaha pembuatan batik melintas di tengah gang sempit yang menjadi akses penghubung di dalam Laweyan.
16_DSC09038_editWM
Bangunan di Laweyan umumnya memiliki dua lantai di sisi belakang yang berfungsi sebagai tempat pembuatan batik.
17_DSC08939_editWM
Laweyan dan Kotagede memiliki kesamaan dalam hal warisan lorong-lorong waktunya.

Kami melanjutkan jelajah ke beberapa situs di Laweyan seperti makam Haji Samanhudi dan sebuah jembatan kecil di atas Sungai Laweyan yang dulu merupakan Bandar Kabanaran, semacam pelabuhan sungai tempat bongkar muat barang dan penumpang. Sebagai salah satu anak sungai Bengawan Solo, ia memungkinkan warga Laweyan terhubung dengan banyak daerah luar. Sayang Bandar Kabanaran kini tak lagi berbekas. Sungai Laweyan sendiri yang menyuplai air berlimpah juga menjadi salah satu alasan majunya usaha batik di kampung ini. Jaringan bisnis yang tersebar di seantero Jawa ikut menambah kondangnya batik Laweyan. Jejak bersejarah lainnya yaitu Masjid Laweyan dan Pasareyan Ageng (makam) Ki Ageng Henis. Di situ kami bertemu dengan juru kunci makam, Yanto, 71 tahun. Ia mengisahkan hal yang kurang lebih sama dengan Pak Alpha tentang pendiri masjid ini. Masjid Laweyan terlihat modern jika dibandingkan waktu pendiriannya. Ketika hal ini saya lontarkan ke Pak Yanto, ia membenarkan bahwa bangunan ibadah ini memang pernah direnovasi besar-besaran. Namun ia lupa kapan tahun persisnya.  Tak ada dokumentasi sama sekali tentang bentuk asli. Namun saya yakin awalnya bukan seperti sekarang. Agak disayangkan proses renovasi mengubah wujud aslinya jika memang pikiran saya benar.

Tambatan langkah kami berikutnya yaitu Ndalem Djimatan, sebuah rumah lawas di ujung salah satu gang sempit. Untuk memasuki halamannya saya harus merundukkan badan melalui pintu kecil yang menempel di pintu gerbang utamanya. Sistem sub-pintu ini banyak sekali ditemui di Laweyan dan  sangat menarik perhatian saya. Bentuk, pola dan warna yang bermacam membuatnya unik nan fotojenik. Para generasi milenial pasti sangat senang memajangnya di rangka kotak instagram. Seorang warga lokal Muhammad Tunahar, 45 tahun, yang bekerja di Lembaga Penjamin Mutu UNIBA (Universitas Islam Batik Indonesia) menjamu kami. Ndalem Jimatan saat ini dikelola oleh UNIBA sebagai tempat pertemuan dengan tujuan pendidikan dan sosial. Pak Anhar begitu ia biasa disapa, bercerita bahwa rumah kuno ini dimiliki oleh keluarga Priyomarsono, seorang juragan batik yang lain. Dulu kediaman ini menjadi semacam rumah dinas bagi Ki Ageng Henis dan para penerusnya yang mengurus Masjid Laweyan. Dari sinilah sebutan bangunan ini berasal. Ndalem berarti rumah sedang djimatan berasal dari kata jimat yang bermakna sakti, merujuk pada para tokoh ulama pemimpin masjid yang identik dengan ilmu agama dan pengaruh sosial yang tinggi. Versi lain merujuk penggalan sebuah nama, Mas Ngabehi Djimat Kartohastono, penghuni rumah setelah Ki Ageng Henis.

18_DSC08599_editWM
Yanto, juru kunci Pasareyan Ageng bercerita di depan pusara Ki Ageng Henis.
19_DSC08560_editWM
Gerbang masuk ke Pasareyan Ageng Ki Ageng Henis yang ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1997.
21__MG_2985_editWM
Masjid Laweyan dengan bentuk yang cukup modern untuk ukuran masjid yang dibangun pada abad ke 15.
22__MG_2923_editWM
Seperti halnya bangunan Jawa lainnya, Masjid Laweyan tak luput dari hadirnya teras nan besar di sisi depan.
23__MG_2930_editWM
Ndalem Djimatan yang dipercaya dulu dikelilingi oleh 7 sumur dan beberapa arca sebagai penanda bukan rumah sembarangan.
24_DSC08638_editWM
Bagian sentong Ndalem Djimatan digunakan sebagai kantor dan tempat menyimpan satu set gamelan.

Pada 1950 Djimatan dibangun ulang dengan wajah indisch namun rohnya tetap Jawa. Ini dibuktikan dengan adanya struktur khas rumah Jawa, teras yang luas, gandok, kerobongan, sentong dan ndalem yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Tiba-tiba saya teringat tentang sistem pintu kecil-besar dan mencoba mencari tahu. Pak Anhar menghela nafas sambil menerawang sebelum memberi penjelasan. Saya sudah bersiap bahwa jawabannya akan lumayan panjang. Ia balik bertanya kepada saya apakah sudah mengetahui tentang sifat mriyayi orang Laweyan. Jika sudah maka ia bisa mempersingkat karena tak perlu menjelaskan dari awal.

Sehubungan dengan sifat mriyayi, para pedagang ini membangun tata cara penghormatan pada diri mereka melalui cara sederhana namun lugas. Jika tamu yang berkunjung adalah orang biasa maka si tamu hanya bisa masuk melalui pintu kecil. Menunduknya badan saat melewati pintu kecil merupakan kulonuwun (permisi) sekaligus simbol penghomatan kepada tuan rumah. Sebaliknya, pintu besar baru akan dibuka jika tamunya adalah orang penting. Pak Anhar juga menyingkap cerita dibalik deretan dinding tinggi yang melingkupi Laweyan.  Tabir-tabir itu dulu dibuat dengan tujuan melindungi hal-hal penting seputar usaha batik seperti pola dan teknik pembatikan dari intipan para pesaing yang kebanyakan adalah warga sekampung sendiri. Itu sebabnya orang Laweyan cukup individualistis untuk ukuran masa lampau. Dinding dan pintu adalah kolaborasi sempurna tentang keengganan untuk membuka diri. Bagi saya ini hal yang kontradiktif namun beriringan. Di satu sisi para priyayi ingin pamer eksistensi namun tak ingin bisnisnya diintip orang lain.

Sebuah rumah elok lainnya kami sambangi yaitu Ndalem Tjokrosumartan yang berada persis di tepi Jalan Rajiman. Bangunan besar ini dulu berfungsi sebagai sentra usaha batik. Kini beralih fungsi menjadi gedung pernikahan. Tak banyak info didapatkan karena saat itu sedang berlangsung pesta pernikahan. Seorang karyawan setempat hanya memberitahu bahwa dulu rumah bergaya art nouvo ini pernah dipakai untuk rapat persiapan kemerdekaan Indonesia. Ia juga menunjuk sebuah dinding tempat bergantungnya beberapa foto pengusaha batik Tjokrosumarto dengan para tokoh nasional termasuk sang proklamator Soekarno. Sebuah identitas visual sekaligus legitimasi prestis di hadapan para tamu.

25_DSC08759_editWM
Melalui pintu seperti inilah terkuak rumah-rumah elok para juragan batik yang tersembunyi di balik tabir tinggi.
26_DSC08898_editWM
Sudut-sudut Laweyan yang penuh suasana daur masa.
27_DSC08840_editWM
Ndalem Tjokrosumartan adalah bangunan terbesar di Laweyan yang kini disewakan sebagai tempat berlangsungnya bermacam acara.
28_DSC08654_editWM
Bungker sempit menjadi peninggalan bersejarah Laweyan.
29_DSC08661_editWM
Di dalam bungker tersebut dulu terdapat terowongan penghubung dengan rumah yang lain.

Saya dan Halim kembali ke sisi dalam bertandang ke sebuah rumah tua yang lain. Sama-sama sepuh namun kediaman ini terlihat lebih lugu. Pemiliknya bernama Muryadi yang saat itu sedang tidak berada di rumah. Oleh anggota keluarganya kami diizinkan masuk ke dalam rumah yang memiliki peninggalan bersejarah yang tersembunyi, sebuah bungker. Saya menyempatkan masuk ke dalam lubang seukuran 1×1 meter itu. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan kecil yang bisa diisi oleh tiga orang. Salah seorang anggota keluarga menceritakan dulunya bunker ini adalah terowongan bawah tanah yang terhubung dengan rumah yang lain. Fungsinya sebagai jalur pengantar barang sekaligus tempat penyimpanan harta. Sekitar tahun 1965 untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan seiring pemberontakan PKI sebagian besar terowongan ditutup hingga menyisakan bungker saja. Bahkan ada yang menutup total hingga tak berbekas. Rumah ini bisa jadi satu-satunya yang masih mengizinkan orang luar untuk masuk melihat jejak sejarah yang berada tepat di area sentral tempat tinggal. Oase di tengah ke-mriyayi-an Laweyan, mungkin.

Blusukan sepanjang koridor kecil Laweyan ini ibarat mendaur masa. Aura yang mirip saya dapatkan ketika menyusuri Kotagede di Yogyakarta. Keduanya sama-sama masih mempertahankan lorong waktunya. Logis mengingat Kotagede sebagai ibukota pertama Mataram Islam memang didirikan oleh Sutawijaya cucu pengampu Laweyan. Yang membedakan mungkin hanya komoditas yang dihasilkan, Kotagede dengan kerajinan perak, Laweyan dengan batik. Bicara tentang batik entah kenapa saya enggan masuk ke salah satu toko batik yang berderet itu. Sudut pandang yang klise dan cari aman kemungkinan besar akan saya dapat mengingat kebanyakan dikelola oleh para sesepuh. Mengetahui hal itu, Halim mengajak saya ke sebuah rumah kecil di ujung gang yang sekaligus berfungsi sebagai workshop dan showroom batik. Pandono, 40 tahun, adalah pemilik sekaligus perajin batiknya sendiri. Melihat umur sepertinya ia termasuk generasi baru. Dua generasi di atasnya juga pedagang batik. Pria kurus ini sedang menggambar motif dengan corak nyeleneh. Gradasi, pola tak baku, benturan warna, garis abstrak adalah ciri khasnya. Bagi saya ia lebih mirip pelukis. Sebagai penganut gaya kontemporer yang cenderung melabrak pakem, saya berharap mendapatkan sesuatu yang beda darinya.

31_DSC08947_editWM
Pola batik kontemporer karya Pandono.
32_DSC08947_editWM
Pandono menunjukkan ‘lukisan’ batiknya yang melabrak pakem, sebagai bentuk dobrakan sekaligus agar tidak mudah dijiplak.

“Laweyan itu sedang lesu mas”, Pandono lugas membuka obrolan. Laweyan butuh dobrakan untuk melawan nadir. Itu kenapa ia memilih aliran new wave dalam berkarya dengan harapan batik menjadi lebih segar. Baginya batik Laweyan belum pernah benar-benar bangkit dari mati suri yang terjadi di era 1980an. Jika dirunut ke belakang, kegetiran itu sudah dimulai berbarengan dengan pudarnya batik nasional di 1960an. Ada beberapa penyebab. Mulai dari banyaknya generasi muda Laweyan yang meninggalkan usaha batik karena memilih karir lain terutama sebagai PNS, pencabutan subsidi kain mori untuk keperluan membatik, kecurangan yang dilakukan oleh beberapa pengurus GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia), dan mulai menjamurnya printing alias batik sablon. Yang disebut terakhir secara teknis tidak bisa disebut batik karena tidak melalui proses pembuatan pola menggunakan malam alias lilin seperti pada batik tulis atau cap. Lebih pantas disebut kain bermotif batik. Murah dan proses produksi singkat menjadi faktor utama menjamurnya batik printing ini. Ada juga masalah klasik yang telah terpendam sejak lama dan berpotensi menjadi bom waktu, minimnya perajin batik asli Laweyan. Sejak silam Laweyan memang selalu mengandalkan pembatik asal Klaten dan Sragen. Kampung ini hanya dikibarkan oleh para saudagarnya namun seolah lupa bahwa pondasi batik berada di perajinnya. Apa yang terjadi jika dua daerah tersebut tak lagi bisa memasok pembatik. Merasa resah, Pandono mengaku sering berbagi ilmu membatik kepada para pemuda Laweyan yang berminat. Ia juga menyindir patron lama Laweyan bahwa bisnis batik itu harus berupa komoditas borongan yang dibeli dalam partai besar, bukan pembeli perseorangan yang mengambil skala kecil. Titel kampung wisata menuntut sebaliknya, sementara paradigma lawas tersebut terlanjur mengkristal.

Diskusi bersama Pandono khatam dan saya mulai tercerahkan. Ada yang tak selaras disini. Lorong waktu kembali kami lalui. Konstruksi tua yang berderet rapi dengan fitur pintu-pintu ‘penghormatan’ kembali mengisi sudut mata. Saya ingin mengetahui lagi sisi lain Laweyan. Kali ini Alberto Fatah Yasin menjadi hulu cerita di sebuah rumah tua yang ia manfaatkan menjadi sebuah kafe. Bangunan tua bergaya jawa kolonial itu dulu dimiliki oleh seorang pedagang batik bernama Atmowikoro. Seperti inilah standar rumah juragan batik Laweyan, klaim Mas Berto begitu ia biasa dipanggil. Akbar, ubin lantai yang lentik, tiang besar penuh ukiran, lengkap dengan plavon dan lantai atas di sisi belakang sebagai tempat menjemur batik. Pokoknya yang membuat orang lain merasa kagum sekaligus iri.

33__MG_2906_editWM
Rumah Atmowikoro yang tanpa dinding depan, sebuah kelangkaan di Laweyan yang menutup diri.
34__MG_2910_editWM
Ruang tengah Rumah Atmowikoro yang juga difungsikan sebagai kafe.
35_DSC08475_editWM
Salah satu standar rumah juragan batik Laweyan.

Nyentrik dan cenderung blak-blakan mencerminkan profesinya di dunia hiburan. Walau para pendahulunya berkecimpung di dunia batik tapi panggilan hati menuntunnya ke jalan lain. Prolog obrolan kami tanpa basa-basi, ia mengungkap orang Laweyan itu kaya, jumawa, bebas, namun di sisi lain, kaku. Ia mencontohkan  pernah suatu saat didatangi sejumlah warga yang tak setuju ia melantakkan tabir depan rumah kala pertama kali memanfaatkannya sebagai tempat umum. Bagi mereka Laweyan itu identik dengan ketertutupan. Ibarat bertamu pun juga harus kulonuwun sambil merunduk. Sementara fungsi rumah sebagai kafe meminta keterbukaan. Aneh jika mengingat Laweyan di masa lalu justru melancarkan perang dingin dengan gaya hidup keraton yang birokratik nan feodal, serunya.

Wisata batik saat ini masih tak ideal baginya. Sebuah cerita Mas Berto ungkap bahwa mayoritas gerai-gerai batik di sini baru dibuka sekitar awal tahun 2000 bersamaan dengan Laweyan mendapat embel-embel kampung wisata batik. Gelar itu menuntut Laweyan membuka diri terhadap orang luar. Namun yang terjadi Laweyan seolah canggung dengan itu. Kampung ini masih tepaut kuat dengan sinonim batik adalah bisnis porsi besar. Minimnya workshop batik bagi pengunjung adalah salah satu contoh. Itu sebabnya para toko itu seolah masih setengah hati dengan sistem retil.

Sebuah pertanyaan retoris ia lontarkan. Apakah mungkin Laweyan bisa ramai sedangkan yang digaungkan batik melulu. Sementara hanya pengunjung tertentu saja yang akan datang demi berburu batik yang harganya tak bisa dibilang murah itu. Itu dalih utama kenapa ia kurang sejalan dengan label wisata batik yang membuat hanya tergarapnya satu aspek saja. Padahal harta karun Laweyan sesungguhnya lebih dari itu. Sejarah dan arsitektur masih belum tersentuh dengan baik. Ia yakin jika keduanya dengan batik digarap maksimal tentu Laweyan akan jauh lebih berkibar. Pria 40 tahun ini bahkan bermimpi di masa depan, memanfaatkan teknologi, para turis berjalan kaki menjelajah Laweyan memakai kacamata virtual reality lengkap dengan earphone yang menyajikan pemandangan Laweyan di masa lalu beserta informasi suara. Sebuah angan yang terdengar muluk walau sebenarnya visioner.

Pemikiran itu wajar mengingat bidang profesinya. Namun bagi saya itu cukup masuk akal. Sruputan teh terakhir yang disajikan Mas Berto melenggang di tenggorokan saat saya resmi mengamini bujukan tersirat Halim. Hanya saja kini Laweyan sedang mengawali era transisi. Ada nilai-nilai lama yang di beberapa bagian berbenturan dengan arus perubahan. Kami meninggalkan Rumah Atmowikoro dan kembali menyusur jalanan yang diapit barisan dinding tinggi dan pintu-pintu yang dingin itu. Perubahan tengah mengetuk pintu Laweyan namun ia belum sepenuhnya terbuka. Mungkin suatu saat nanti. Karena perubahan adalah pasti.

pintu 7_editWM
pintu 6_editWM

pintu 1_editWM

pintu 2_editWM

pintu 8_editWM

15 Comment

  1. Mas Aan bikin dada saya berdegub dengan foto-foto kerennya. Jadi kangen banget Laweyan. Habis kenangan saya jalan-jalan di sini manis banget mas 🙂

    1. Ciyeeh…apa itu mbak? Ketemu jodoh jangan2.

  2. Keren banget foto-foto pintunya.. 😀 sukaak

    1. Halo, terima kasih telah berkunjung.
      Salam kenal

  3. Narasi ceritanya lengkap, dipercantik dengan foto-foto ciamiknya..keren..as always

  4. elva says: Reply

    Mas Aan tulisan dan fotonya bagus banget. Terimakasih banyak sudah turut mengungkap sejarah Laweyan dan mengangkat kota Solo, kampung halamanku

    1. Sama2, terima kasih telah menikmati karya2 saya.
      Kampung halaman Elva sungguh memiliki potensi luar biasa.

  5. Molly says: Reply

    Langsung fokus ke foto pintu-pintunya. Kece banget, mas! Seru yah bisa mampir ke workshop batik begini. Dan aku suka corak tegel di rumah sang juragan batik, khas banget :).

    1. Iya, kemarin waktu kesana emg langsung kesengsem sama pintu2nya. btw makasih udah berkunjung.
      Salam kenal

  6. bentar bentar, kok itu ada fotonya mas Nasir ya..kenal sama dia mas? secara laweyan kampungnya terletak di belakang kantor saya 🙂

  7. Mas Nasir itu yang mana ya? soalnya kemarin itu dua kali explore, yang pertama banyak yg ikut. jadi ga bisa kenal banyak orang

  8. Mas, tulisannya ‘gemuk’ banget. Saya pernah menulis Laweyan tapi sangat dangkal. Mesti banyak menggali nih. *merinding*

    1. Untung saya cowok, jadi ga ngaruh dikatain gemuk. ha2…
      terima kasih sudah berkunjung

  9. ulu says: Reply

    Pengen ke Laweyan belum jadi aja. Tahun ini target saya ke Lasem dulu, abis itu Laweyan. Mestinya bisa masuk NGT nih tulisannya, an. Saya baru ngeuh watak Laweyan yg tertutup. Nanti saya ke Laweyan, mesti ditemani Halim ya. Hehehe.

    1. Habis Lasem sekalian Rembang juga kalo bisa. Iya, Laweyan emang paradoks.

What's on your mind