Binongko, Penghasil Parang Setangguh Karang

Binongko, Penghasil Parang Setangguh Karang

Tak seperti tetangga lain sesama Wakatobi, Pulau Binongko terbilang sepi pengunjung. Dominasi lanskap karang membuat kehidupan di sana keras. Posisinya paling ujung tenggara juga membuat pelancong berpikir dua kali untuk beranjangsana. Namun di sanalah lahir parang-parang setangguh karang yang telah beredar ke berbagai penjuru secara tradisi sejak berabad-abad silam. Bilah-bilah tajam Binongko itu memberi bukti bahwa Wakatobi tak sekedar bahari.

Imaji Wakatobi Yang Tak Melulu Bahari (bag.2)

Imaji Wakatobi Yang Tak Melulu Bahari (bag.2)

Sebelumnya

Saya beralih makin ke utara, Pulau Kaledupa lebih berbukit dan subur. Tanaman dan pohon tinggi mudah dijumpai. Rasanya tak seperti di dataran rendah. Mungkin ini yang menjadikan Kaledupa sebagai pusat peradaban Wakatobi di masa lalu saat bernama Barata Kahedupa yang termasuk wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Tak heran pula hampir semua rumah-rumah di sini masih mengikuti tradisi dengan bentuk panggung.

Imaji Wakatobi Yang Tak Melulu Bahari (bag.1)

Imaji Wakatobi Yang Tak Melulu Bahari (bag.1)

Terdamparnya seekor ikan paus dengan perut penuh sampah plastik menjadi sorotan. Kesadaran lingkungan hanya sebagian dari tantangan besar yang perlu segera diretas pionir wisata selam di Indonesia ini dalam upaya bangkit. Terlalu lama Wakatobi menyandarkan pada laut membuat daratannya seolah tak terjamah sementara beragam pesona di atasnya menunggu tuk dilirik. Label destinasi wisata prioritas yang disematkan pada awal 2018 bak dua mata sisi pisau. Perbaikan atau keterlenaan.

Tedong, When Diginity and Livelihood Work Together (Sebuah Mutualisme Antara Kemuliaan dan Penghidupan)

By truck, that morning Frederik took twenty kilometers away from Makale bring three tedongs. One of them is tedong bonga or albino (striped) buffalo. He expects a fortunes of the ongoing bull market in Bolu Traditional Market, Rantepao, North Toraja. Frederik was not alone. Dozens buffalo sellers gathered in the same place, the biggest buffalo market in Indonesia.

Toraja, Life For A Luxurious Death (Hidup Untuk Mewahnya Kematian)

Night was about leaving us. Our car finally took us to final stop for that day. It was very hard for me leaving my seat because I was very exhausted due to our long journey. It was a non-stop trip which spent 4 hours air travel from Jakarta to Makassar, 10 hours Makassar-Rantepao journey via bus, then 45 minutes via car from Rantepao to Nanggala.The last spirit left emerged from lights that was shining from the building of which structures has obsessed my mind all day long. Before long, we officially hopped on in the location where I could enjoy the beauty of Tongkonan, traditional house of Toraja, completed with two sharp and pointed ends. Its beauty was totally successful in spoiling my eyes. My tiredness suddenly disappeared and turned into a blow of spirit which led me to get so excited and curious on things I would get on the next day.