Titian Nusa Wakatobi

Titian Nusa Wakatobi

Kapal adalah wajah Wakatobi. Sebagai moda utama, kehidupan di kepulauan itu sangat tergantung dengan kapal. Kini wisata dan arus informasi menuntut perubahan.

Cerita Rutin

Azan subuh belum lama berkumandang kala suara motor dan derap langkah menghias pagi yang gelap. Sumber- sumber bunyi itu hendak menuju tempat yang sama, dermaga kecil di ujung jalan. Di sana calon penumpang menyemut bercampur dengan pengantar dan pedagang. Seperti biasa, kapal akan berangkat jam enam. Namun pagi itu ada yang beda. Mereka terlihat resah.

Lima menit sebelum jadwal keberangkatan kapal yang ditunggu tak nampak. Biasanya kapal yang akan beroperasi telah bersandar sejak malam sebelumnya. Ternyata pada dini hari sang bahtera kayu berangkat mengantar satu keluarga yang salah satu anggotanya hendak melahirkan ke rumah sakit di pulau seberang. Tak ada kejelasan, orang-orang makin cemas menunggu.

Drama pagi itu semakin tegang saat sebuah berita menyebar, kapal tidak akan kembali. Spontan gerutuan terlontar dari bibir-bibir yang gelisah. Beberapa memilih langsung pulang sementara banyak yang masih bertahan dengan harapan. Asa menipis setelah pemilik kapal lain yang juga tengah buang sauh enggan menghidupkan mesin dengan bermacam dalih. Mentari mulai menyembul dari ujung timur, menghadirkan langit yang merona nan syahdu. Namun bagi para penumpang pagi kali itu adalah kelabu.

Suasana pagi di Dermaga Palahidu, Binongko saat kru menyiapkan kapal
Pagi masih cukup gelap saat calon penumpang dan pedagang meramaikan suasana di Dermaga Waha, Tomia.
Wajah kuyu warga yang gagal menyebrang ke Wangi-Wangi di Dermaga Ambeua, Kaledupa.
Kapal Bahari Jaya baru saja menarik sauh meninggalkan Dermaga Waha, Tomia.

Keajaiban datang tiga puluh menit kemudian. Samar terdengar suara kapal. Makin lama makin terdengar jelas. Semua orang mengalihkan perhatian ke sumber suara dengan penasaran. Sebuah kapal speed merapat ke dermaga, mengembalikan lagi asa yang menguap. Belum sempat kru kapal menambatkan tali, beberapa penumpang berebut naik. Klimaks drama pagi itu tengah berlangsung.

Saling dorong tak terelakkan sampai membuat nahkoda kapal harus berteriak. Seseorang bahkan nyaris terjatuh ke air andai tak ada yang sigap menarik. Tak butuh lima menit kapal kecil itu penuh sampai atap yang harusnya bukan untuk penumpang. Namun tetap saja ada calon penumpang yang tak terangkut karena kapasitas kapal speed hanya setengah dari kapal kayu yang harusnya berangkat.

Tak lama berselang mesin kapal kecil yang kelebihan muatan itu meraung, perlahan meninggalkan wajah-wajah kuyu yang tak kebagian tempat. Satu per satu mulai meninggalkan dermaga dengan langkah gontai. Mungkin mereka akan mencoba lagi esok hari, sambil berdoa jangan sampai ada lagi orang melahirkan atau apapun yang sampai harus menyewa satu kapal. Pelabuhan kembali sepi, menyisakan beberapa kapal yang tengah parkir dan nyanyian debur ombak.

Begitulah sekelumit suasana awal hari di Pelabuhan Ambeua, satu di antara dermaga-dermaga yang tersebar di seantero kabupaten kepulauan tersebut. Wakatobi merupakan singkatan dari nama empat pulau utama, Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Ambeua sendiri terletak di Pulau Kaledupa. Drama pagi itu adalah cermin betapa vitalnya peran kapal kayu bagi aktifitas penduduk setempat. Moda tersebut ibarat urat nadi penghubung satu pulau dengan yang lain termasuk daerah di luar.

Kapal yang berangkat menuju Wangi-Wangi umumnya berangkat jam 6 pagi sehingga para penumpang masih sempat menikmati momen matahari terbit.
Karena hari masih terlalu pagi di atas kapal menuju Wangi-Wangi.
Berbekal peralatan sederhana, para nahkoda kapal mengarungi perairan Wakatobi tiap hari.
Cepat atau lambat kapal salah satunya tergantung pada tuas ini.
Penderita klaustrofobia dijamin tak betah di ruang bagi penumpang.
Beberapa bawaan para penumpang.
Aktifitas terbaik menghabiskan waktu di atas kapal yang minim hiburan.
Kambing pun turut menjadi penumpang

Baca juga : Imaji Wakatobi Yang Tak Melulu Bahari

Urat Nadi Ekonomi

Jarak antar pulau utama terdekat di Wakatobi relatif sama dan dapat ditempuh sekitar dua jam memakai kapal kayu. Rute terjauh dari Wangi-Wangi ke Binongko membutuhkan waktu sekitar enam jam. Walau ada kapal speed yang lebih cepat, kapal kayu tetap primadona karena tarifnya murah, armadanya lebih banyak, menjangkau semua pulau utama dan beroperasi tiap hari. Ukurannya yang lebih buncit juga memungkinkan untuk memuat lebih banyak.

Kerap angkutannya adalah komoditas dagang yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Barang-barang berukuran besar seperti mesin cuci, kulkas, dan motor juga sering menjadi muatannya bahkan mobil sekalipun. Tersedia pula rute kapal kayu relasi Bau-Bau ke semua pulau utama Wakatobi walau tidak beroperasi tiap hari. Dari kota pelabuhan inilah sebagian besar logistik Wakatobi dipenuhi. Durasi tempuh antara keduanya berkisar 10 jam.

Dito Wande Wakatobi meninggalkan Dermaga Jabal, Wangi-Wangi menuju Tomia.
Meskipun lamban namun kapal kayu tetaplah idola karena daya tampungnya yang besar dan harga lebih murah.
Sumber tenaga sang bahtera
Menatap cakrawala
Saat laut tenang bahkan tak ada angin sama sekali membuat sejumlah penumpang berada di luar untuk menyejukkan diri.
Meninggalkan cakrawala.
Momen ‘seru’ itu.
Saat tiba dan tukang ojek menunggu rezeki dengan setia.

Kapal kayu adalah penyangga utama roda ekonomi. Keberadaannya merupakan keniscayaan bagi wilayah kepulauan seperti Wakatobi. Bahtera-bahtera ini sendiri bukan dimiliki oleh pemerintah melainkan perseorangan. Akibatnya kapal bisa saja tidak beroperasi karena faktor non teknis seperti perisitiwa di Ambeua.

Kepemilikan individu juga memungkinkan munculnya beberapa dermaga dalam satu pulau. Tiap kapal memiliki tempat sandar masing-masing dan bisa saja berubah. Ini membuat calon penumpang harus senantiasa mencari tahu dermaga asal dan tujuan setiap kapal, terkadang sampai menjelang waktu keberangkatan. Bahkan bisa saja pelabuhan destinasi berganti tiba-tiba di tengah perjalanan dan membuat repot penumpang. Situasi ini mungkin biasa bagi penduduk setempat namun tantangan tersendiri bagi pendatang.

Baca juga : Binongko, Penghasil Parang Setangguh Karang

Berwarna

Hal lain yang membuat penyebrangan di Wakatobi begitu ‘berwarna’ adalah naik ke kapal di atas laut. Ini terjadi jika penumpang berangkat atau turun di tengah rute kapal. Meski sudah ada dermaga namun entah kenapa kapal tidak menepi. Sebagai gantinya penumpang harus menggunakan jasa ojek laut, yaitu perahu kecil yang mengantar dari dermaga ke kapal di tengah laut atau sebaliknya.

Setibanya di kapal, perahu tersebut akan menempel dan mengikatkan dirinya ke kapal kayu lalu penumpang naik atau turun di antara keduanya. Berpindah di atas dua benda yang selalu bergerak adalah keseruan tersendiri kalau tak mau dibilang sebuah kengerian. Ini biasanya terjadi jika penumpang naik atau turun bukan di tujuan terakhir atau laut surut.

Di dalam kapal tidak ada kursi melainkan papan tidur, entah sejak kapan dimulai dan apa alasannya. Konstruksi ini sebenarnya menjadi keuntungan tersendiri lantaran resiko terkena mabuk lebih kecil dalam posisi merebahkan badan. Berhadapan langsung dengan Laut Banda dan Flores yang luas membuat perairan Wakatobi cukup rawan berombak tinggi terutama saat Musim Angin Timur pada bulan April sampai Agustus.

Kapal Manusela Permai yang baru saja mengarungi laut 12 jam dari Bau-Bau menuju Binongko.
Tulang punggung distribusi logistik Wakatobi.
Moda pengangkut moda.
Bawaan berukuran besar pun tak luput terangkut.
Dermaga Palahidu di Binongko ramai oleh warga yang menunggu sanak famili atau logistik kebutuhannya.
Kapal yang baru saja sandar dan menurunkan muatan adalah arena bermain bagi anak-anak.
Doa Tak Akan Cukup

Para nahkoda biasanya memiliki alternatif rute untuk menghindari gelombang tinggi. Tapi ada kalanya jalur lain juga tak bisa dilewati. Pilihan yang paling aman adalah menepi ke sekitar daratan terdekat dan menunggu cuaca kembali tenang meskipun artinya bisa saja sangat lama. Tak heran ada yang menyarankan untuk selalu membawa cukup bekal makanan saat menyebrang.

Laut antara Pulau Kaledupa dan Tomia biasanya yang paling berpotensi gelombang tinggi. Namun antara Tomia dan Binongko adalah wilayah yang paling besar ombaknya. Warga lokal menyebutnya Tadu Sampalu yang berarti Tanjung Asam. Menurut para awak kapal di situ merupakan pertemuan arus yang tak jarang menghasilkan gelombang tinggi. Dalam kondisi paling ganas laut sampai berubah terasa asam, begitu cerita mulut dari mulut.

Kondisi alam bukanlah hal yang perlu dicemaskan berlebihan karena di luar kendali manusia. Hal lain yang sepatutnya perlu perhatian lebih adalah urusan peralatan keselamatan sebagai langkah antisipasi sekaligus memperkecil resiko. Pelampung adalah contoh sederhana. Di beberapa kapal tidak terlihat adanya rompi apung tersebut. Jika ada penempatannya tak jarang di lokasi yang sulit terjangkau dan awak kapal sering tidak memberi informasi seolah-olah semua penumpang sudah tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi sesuatu. Karena ketika hal buruk terjadi, rapalan doa jauh dari kata cukup.

La Samiun yang telah mengarungi laut hampir seluruh hidupnya.
Kapal yang rusak biasanya teronggok dibiarkan begitu saja di sekitar dermaga.
Penambat-penambat di dermaga pencegah kapal terbawa ombak
Tak ada penambat buatan, pohon pun jadi.
Bengkel kapal di Onemay, Tomia.
Menunggu yang hendak dijemput di Dermaga Bante, Binongko.
Seperti halnya manusia, senja pun menjadi penanda bagi kapal untuk berisitirahat.
Berbenah atau Punah

Beruntung hingga saat ini belum pernah terjadi kecelakaan, setidaknya itu yang dituturkan para awak kapal. Namun pernah terjadi mesin mati di tengah laut walau tak sampai menimbulkan peristiwa fatal. Ketenangan dan pengalaman menjadi kunci bagi para awak kapal menangani masalah. Maklum saja, hampir semua kru kapal menjalani profesinya sejak masih remaja bahkan dari umur belasan. Hempasan gelombang telah menempa mereka sejak usia dini.

Salah satu dari mereka adalah La Samiun. Ia pertama kali menjadi awak kapal ketika usianya belum genap dua puluh tahun. Dimulai dari membersihkan kapal hingga akhirnya ia menjadi nahkoda hampir dua dekade berikutnya. Kini pria 60 tahun itu berada di puncak karir sebagai pemilik kapal. Meskipun telah menjadi pengusaha, tak jarang Samiun menahkodai kapalnya sendiri yang sering buang sauh di Pelabuhan Bante, Binongko.

Kapal kayu bukan hanya jembatan penghubung melainkan wajah Wakatobi itu sendiri. Sebuah konsekuensi logis bagi wilayah yang didominasi laut. Ini menjadi zona nyaman bagi moda tersebut karena mereka akan selalu dibutuhkan. Namun dunia tengah dalam kencangnya arus perubahan. Akses informasi yang membanjir dan geliat dunia pariwisata terus mengundang orang luar untuk datang. Apalagi Wakatobi telah ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Prioritas berkat kekayaan lautnya.

Harusnya ini bisa menjadi cambuk pemacu karena selalu ada ruang untuk perbaikan. Pemerintah, pemilik kapal maupun penumpang masing-masing memiliki peran. Hanya ada dua pilihan, bergerak lalu melaju kencang atau diam dan hanyut oleh arus perubahan.

Indonesian-based photographer and story teller

What's on your mind