Notice: Trying to get property of non-object in /var/www/vhosts/alfianwidi.com/httpdocs/wp-content/plugins/jetpack/modules/carousel/jetpack-carousel.php on line 400

Sejumput Kisah Negeri Daun Emas (bag. 2)

Sebelumnya: Sejumput Kisah Negeri Daun Emas (bag. 1)

Kahar Muzakir mungkin adalah sosok yang paling mafhum perkara tembakau Jember. Saya sempat bersua sesaat di pabrik cerutu miliknya di Jubung. Ia masih tampak gesit untuk ukuran usia 80 tahun. Suara berat dan gaya bicaranya menyiratkan pengalaman dan pengaruhnya yang besar.


Notice: Trying to get property of non-object in /var/www/vhosts/alfianwidi.com/httpdocs/wp-content/plugins/jetpack/modules/carousel/jetpack-carousel.php on line 400

Sejumput Kisah Negeri Daun Emas (bag. 1)

Siang itu angin semilir membelai lembut wajah kala saya melintas aspal antara Kalisat dan Mayang. Roda dua melaju lambat dan helm sengaja dilepas demi khusyuk menghirup semerbak wangi yang mengudara. Harum itu berasal dari daun tembakau yang dijemur di banyak halaman rumah. “Mungkin di Jember dulu lapangan dibuat bukan untuk bermain bola tapi menjemur tembakau ya. Haha,”


Notice: Trying to get property of non-object in /var/www/vhosts/alfianwidi.com/httpdocs/wp-content/plugins/jetpack/modules/carousel/jetpack-carousel.php on line 400

Lawatan Ke Bumi Pandhalungan (bag. 2)

 Sebelumnya di bagian 1

Suatu malam saya menyambangi salah satu hajatan seni di Desa Tanjungrejo. Pertunjukan ludruk tengah berlangsung namun tak seperti ludruk khas Jawa Timur umumnya.  Beberapa yang mencolok yaitu dendang dimainkan memakai dua jenis alat musik gamelan Jawa dan thong-thong ala Madura. Keduanya menelurkan musik yang lebih rancak. Belum lagi penggunaan dua bahasa Jawa dan Madura. Tiba-tiba saya menapak tilas kenangan saat pertama kali melawat ke kabupaten tapal kuda ini beberapa tahun silam. Kala itu saya pikir kota tembakau ini sama seperti daerah lain di Jawa Timur yang didominasi suku Jawa. Maka saya begitu terperangah saat bersua begitu banyak orang Madura di Jember.


Notice: Trying to get property of non-object in /var/www/vhosts/alfianwidi.com/httpdocs/wp-content/plugins/jetpack/modules/carousel/jetpack-carousel.php on line 400

Lawatan Ke Bumi Pandhalungan (bag. 1)

Saya tengah berkelebat di daerah Sumuran sambil mencuplik kenangan setahun silam. Kala itu di lokasi yang sama bau wangi memenuhi relung hidung dan memaksa saya melambatkan laju roda dua demi menikmatinya lebih lama. Semerbak tersebut berhulu dari deretan gudang pengeringan daun tembakau yang berjajar di sepanjang jalan. Tak sulit menemukan bangunan besar memanjang yang terbuat dari bambu dan kayu itu di pinggiran Jember. Nampak pula iringan truk dan mobil bak terbuka hilir mudik keluar masuk area gudang pengeringan. Hingar.

Selayang Pandang Pangandaran

Tahun 2006 mengubah banyak hal bagi warga Pangandaran. Bencana gempa yang disusul gelombang tsunami menihilkan apa yang telah dimiliki dan dibangun. Namun hidup terus berlanjut. Pangandaran telah lama tersohor sebagai daerah tujuan wisata dan masih demikian. Itu semua berkat beberapa hal yang tetap tak berubah, pantai dan laut. Dua hal ini masih menjadi sektor utama penggerak ekonomi bagi sebagian besar masyarakatnya.

Because Sumedang Is Just More Than Tahu (Karena Sumedang Lebih Dari Sekedar Tahu)

It’s early in the morning when Nurhuda and I ride our motorbike from Bandung to avoid the morning commute. Thank God the lucky is on us. An hour later we reached our destination in Gunung Puyuh region, Southern Sumedang. It’s a unique house. Instead of a flat land, the wooden house actually built on the slope of a hill. Our host also a friend, Ismi Rinjani Adriani greeted us with hot tea, tahu Sumedang and lontong. The owner of Rumah Baca Imajinasi library gave us some spot options to explored. Huda and I agreed two of them and soon our bag are on our back.

The Splendid of Lombok (Seronok Lombok)

I did what everybody else did, take around in Lombok island after hiking Mount Rinjani. Bali’s close neighbour but main competitor at the same time, offer to it’s visitors a complete set of wonders. Sea to summit. Although only a day but I am grateful given a chance to visit some of the spot, Senggigi beach, Gunungsari traditional market, Batu Bolong temple, Sade traditional village, Tanjung Aan and Selong Belanak beach. Personally I prefer Lombok since its relatively not as busy as the island of God, Bali. It’s cultural acculturation also more pronounced while Bali dominated by Hindu. Hopefully I can go there again someday. What a splendid of Lombok.