Lawatan Ke Bumi Pandhalungan (bag. 1)

Saya tengah berkelebat di daerah Sumuran sambil mencuplik kenangan setahun silam. Kala itu di lokasi yang sama bau wangi memenuhi relung hidung dan memaksa saya melambatkan laju roda dua demi menikmatinya lebih lama. Semerbak tersebut berhulu dari deretan gudang pengeringan daun tembakau yang berjajar di sepanjang jalan. Tak sulit menemukan bangunan besar memanjang yang terbuat dari bambu dan kayu itu di pinggiran Jember. Nampak pula iringan truk dan mobil bak terbuka hilir mudik keluar masuk area gudang pengeringan. Hingar.

Lawatan kali ini berbeda. Jangankan keramaian, bau sedap itu pun bahkan sama sekali tak terendus. Musim hujan berkepanjangan tak ramah bagi tembakau. Kini komoditas lain mengisi hamparan tanah seperti padi, jagung, timun, kol dan kawan-kawan. Namun tak berarti tembakau sepenuhnya surut. Di Jenggawah yang baru saja saya lewati memberi bukti. Di situ terdapat gudang-gudang penyimpanan tembakau. Selain tempat penyimpanan, depo-depo tersebut juga berperan sebagai tempat penyortiran. Sore itu ratusan pekerja wanita baru saja menghambur keluar saat jam kerja usai, membuat jalan yang semula lengang sontak macet untuk sesaat. Bukti sah tembakau tetap memacu denyut ekonomi walau bukan sedang musimnya.

Komoditas ditanam silih berganti bahkan mala menghampiri seperti pada 2015 saat Gunung Raung erupsi. Namun tembakau tetap di hati. Besuki Na Oogst adalah sebutan bagi tembakau Jember yang melegenda itu. Besuki merujuk pada kumpulan empat kabupaten di ujung timur Pulau Jawa yaitu Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi dan Jember yang dulu tergabung dalam satu wilayah administrasi pemerintahan karesidenan Besuki. Selama sekian dekade tembakau menjadi andalan ekonomi kota kecil ini. Dari 2,5 juta jiwa penduduk 10.000 diantaranya adalah petani tembakau. Tahun 2013 lalu Jember berhasil mengekspor sekitar 282 ribu ton tembakau dengan nilai devisa 1,9 triliun rupiah. Wajar jika komoditas ini dijuluki daun emas. Bahkan Jember menggelari dirinya kota tembakau.

Walau sekarang sunyi namun gudang-gudang pengeringan ini adalah kiblat kehidupan kala musim panen tembakau tiba.
Deretan sepeda milik para karyawan gudang penyimpanan tembakau terparkir di tepi jalan.
Jam 4 sore dan jalanan yang sepi sontak hiruk pikuk oleh karyawan yang pulang.
Kabut pagi menyelimuti persawahan di Dukuh Dempok. Kali ini tebu mengisi tanah namun tembakau pasti kembali.
Ghofur dan Mulyadi memupuk padi sore itu. 2015 lalu di tempat yang sama keduanya meratapi nasib karena letusan Gunung Raung membinasakan tembakau mereka.

Tapi aneh. Sulit menemukan simbol visual sebagai tengara label tersebut bahkan di pusat kotanya sekalipun, kecuali lambang resmi pemerintah daerahnya. Maka saya melarikan diri ke Museum Tembakau yang menyatu dengan kantor UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang & Lembaga Tembakau di Jl.Kalimantan. Sepi adalah deskripsi yang tepat ketika saya berkunjung. Dari buku tamu saya tahu dalam seminggu terakhir pengunjungnya tak lebih dari sepuluh orang. Ruangannya kecil dan koleksinya tak banyak, bisa jadi salah satu faktor sebab. Jam buka resmi yang hanya sebentar, hari kerja jam 9 sampai 11, diduga ikut berperan meski pihak museum mengklaim mereka tetap bisa melayani pengunjung yang datang sampai jam 4 sore.

Beberapa sampel tembakau rajang yang tersimpan dalam toples di salah satu sudut ruangan menjadi incaran saya. Saya rindu harum itu. Beberapa peralatan yang lazim digunakan dalam pertanian tembakau dan pembuatan rokok serta cerutu tak luput hadir. Puluhan foto dokumentasi masa lalu juga terpampang di dinding. Sayang tanpa keterangan apapun. Saya kesulitan menggali sejarah tembakau Jember melalui koleksi museum. Petunjuk yang dicari justru saya dapat dari content video yang diputar melalui sebuah televisi besar di sudut ruangan.

Salah satu video menukil satu nama yang dianggap paling bertanggung jawab. Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD), sebuah perusahaan perkebunan Belanda yang merintis usaha agrikultur pada tahun 1859. Pendirinya : trio George Birnie, Matthiasen, dan Van Gennep. Jejak LMOD pun diikuti oleh sejumlah perusahaan lain. Sejak saat itu Jember bersilih dari dominasi lanskap hutan dan rawa menjadi wilayah afdeling (administrasi). Menurut pemrakarsa museum sekaligus pimpinan UPT, Desak Nyoman Siksiawati, Museum Tembakau atau yang bernama resmi Tobacco Information Center (TIC) ini dibangun dengan tujuan utama sebagai sarana edukasi dan wisata bagi masyarakat. Harapannya publik mendapatkan informasi yang utuh dan seimbang tentang tembakau.

Di salah satu pojok ruangan saya mendapati lemari kaca yang menampilkan beberapa produk diversifikasi tembakau seperti parfum, pestisida dan minyak atsiri. Menurut staf yang sedang bertugas produk-produk tersebut masih sedikit yang telah masuk ke pasar. Sementara dari video yang diputar hasil olahan selain rokok dan cerutu juga masih dalam tahap riset. Di sisi lain si daun emas masih terus mendapat pukulan dari berbagai arah berkat dua produk utamanya tersebut.

Data museum menyebut pada 2013 pendapatan negara dari cukai tembakau senilai Rp 108 triliun. Perbandingannya di tahun yang sama sektor migas meraup Rp 267 triliun namun dengan ongkos produksi yang besarnya berkali lipat. Melihat fakta ini mustahil rasanya Jember berpaling dari si daun emas walau kontroversi setia mengiringi. Di akhir video narator menyampaikan pesan, harusnya pemerintah lebih menaruh perhatian terhadap riset tembakau terutama pada diversifikasinya. Jika ini terlaksana niscaya suara sumbang tentang tembakau dapat diredam tanpa harus berdampak besar pada perekonomian. Sebuah jalan panjang nan berliku menanti di depan.

Sampel daun tembakau utuh dan rajangan di Museum Tembakau.
Sejumlah karyawan BIN tengah membuat cerutu dan dikemas menjadi atraksi daya tarik oleh perusahaan mereka bekerja.
Kehandalan tangan adalah segalanya dalam pembuatan cerutu termasuk urusan memotong.

Jember tak memiliki pabrik rokok, setidaknya skala menengah ke atas. Wajar karena Besuki Na Oogst lebih cocok sebagai bahan baku cerutu. Saya bertandang ke salah satu pabrik cerutu milik perusahaan Boss Image Nusantara di daerah Jubung sekitar lima belas menit berkendara arah barat pusat kota. BIN sendiri baru berdiri pada 2012 dan ialah anak perusahaan Tarutama Nusantara yang bergerak di bidang perdagangan tembakau.

Kebetulan saya bertemu langsung dengan direkturnya Imam Wahid Wahyudi. Ia mempersilahkan saya melihat langsung proses pembuatan cerutu di ruangan khusus yang bisa menampung sekitar empat puluh karyawan. Sebenarnya ini bukan ruangan produksi utama melainkan hanya dipakai jika ada kunjungan tamu. Kebetulan baru saja satu rombongan mahasiswa dari Surabaya dan media lokal datang berkunjung. Pria 40 tahun itu lugas bertutur tentang pembuatan cerutu. Tak seperti rokok, cerutu seutuhnya terbuat dari tembakau. Ada tiga komponen: filler (isi), binder (pengikat), dan wrapper (pembungkus). Termahal ada di binder karena fungsinya menuntut daun yang kuat namun elastis. Awalnya lembaran isi digulung lalu diikat sehingga menjadi cerutu setengah jadi lalu dimasukkan dalam mesin press agar padat dan bentuknya rapi sebelum akhirnya dibungkus.

Proses panjang masih menanti. Mulai dari pengeringan selama beberapa minggu hingga tahap final pengepakan menjadi produk siap jual. Total menjangkau sekitar dua bulan. Imam tiba-tiba menyodorkan sebatang pada saya. “Salah satu yang terbaik”, ia meminta saya mencium cerutu tersebut. Aduhai. Wangi, manis dan aroma cappuchino bertaut. Saya bukan “ahli hisap” tapi haqqul yaqin cerutu ini tak sulit mengenyam pujian dari penikmatnya. Per kotak isi 10 batang tujuh ratus ribu rupiah. Pantas saja harga cerutu mahal. Belum lagi melihat proses pembuatannya yang lama dan nyaris semuanya handmade.

Imam menyingkap dalih kesediaan BIN membuka diri. Pertama, sebagai media promosi bagi BIN. Tak dipungkiri perusahaan yang berbentuk CV ini masih relatif hijau dibanding kompetitor. Di Jember sendiri setidaknya ada empat pabrik cerutu. Yang tertua bahkan sudah hadir sejak masa kemerdekaan. Ikhtiar yang baru berjalan sekitar setahun ini adalah bentuk promosi untuk menaikkan citra perusahaan dan produknya. Kedua, dalam lingkup luas sebagai gatra kontribusi wisata daerah. Secara umum prestis Jember memang masih samar terdengar. Bahkan dalam lingkup nasional mungkin hanya dua nama yang akan terasosiasi dengan kabupaten ini, Jember Fashion Carnaval atau JFC dan Pantai Tanjung Papuma. Berlandas keresahan tersebut, Imam melanjutkan, sekitar setahun lalu sejumlah pihak yang merasa memiliki potensi daya tarik membentuk suatu jejaring bernama Destinasi Wisata Jember atau DWJ. BIN salah satunya. Di dalam lingkaran tersebut para anggotanya yang berjumlah sekitar 20 destinasi akan saling mempromosikan.

Mobil tur menunggu di monumen CCSTP Puslitkoka.
Sepuluh ribu rupiah dan pengunjung dapat bergabung tur keliling CCSTP menggunakan mobil khusus yang telah dimodifikasi.
Pengunjung CCSTP mencicip buah kakao. Selain biji, daging buah kakao juga bisa dinikmati namun perlu usaha khusus karena sangat lengket pada bijinya.

 

Pengunjung melewati pabrik pengolahan kopi. Semua peralatan Puslitkoka diproduksi sendiri oleh fasilitas bengkel yang dimiliki instansi tersebut.

 

Rekomendasi Imam di akhir perjumpaan mengantarkan saya ke satu destinasi yang juga berlatar belakang komoditas pertanian. Coffee and Cacao Science Techno Park (CCSTP), dikelola oleh lembaga swasta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao yang berada di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji. Warga sekitar mengenalnya  sebagai Puslitkoka. Area perkebunan karet yang rimbun langsung menyapa ketika saya berkunjung. Tak lama deretan rapi pohon mahoni di sepanjang jalan tak luput menyambut. Seketika udara sejuk merasuk mengusir hawa panas khas dataran rendah. Tempat ini dapat digapai dengan berkendara selama sekitar empat puluh lima menit dari pusat kota. Berada di tengah alam pedesaan, destinasi ini menarik bagi pengunjung yang sekedar ingin merasakan udara segar atau dengan tujuan lebih serius sesuai namanya. Puslitkoka sendiri berdiri sejak 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation yang dibentuk oleh Belanda sebagai sarana pengembangan kopi dan kakao.

Tiada tiket masuk namun dengan sepuluh ribu rupiah saya bisa mengikuti tur keliling. Saya duduk di kursi depan sebuah mobil yang telah dimodifikasi khusus sebagai kendaraan tur. Mobil berjalan pelan setelah seluruh kursi terisi. Kebun percontohan menjadi obyek pertama. Pemandu saat itu Fajar Sulaeman menjelaskan Puslitkoka memiliki semua varian benih dua komoditas tersebut dari seluruh Indonesia dan dikembangkan disini. Beberapa sukses menjadi vaietas super yang memiliki sejumlah keunggulan. Varietas inilah yang kemudian dijual ke umum. Puslitkoka sendiri adalah destinasi lama yang dikonsep ulang sebagai eduwisata dengan label CCSTP dan baru diresmikan Mei 2016 lalu, tukas Fajar.

Satu jam berkeliling, mobil berhenti di pabrik dan tur kini berganti jalan kaki. Kami menyaksikan beberapa proses pasca panen hingga menjadi produk akhir siap santap. Di sini juga terdapat bengkel perakitan mesin pengolah dimana selain dipakai sendiri juga dijual ke luar. Salah satu yang menarik yaitu adanya  instalasi reaktor gas. Menurut Fajar ini adalah bentuk penerapan konsep zero waste di Puslitkoka yang memungkinkan limbah dapat termanfaatkan kembali nyaris seratus persen.

Penutup yang sempurna. Di ujung tur kami bisa mencicip langsung produk akhir kopi dan kakao yang dijual di kantin. Sementara di samping kantin terdapat bangunan guest house yang dapat digunakan pengunjung yang ingin bermalam. Konsep eduwisata ini cukup menarik bagi saya karena pengunjung tak sekedar berekreasi namun juga belajar. Dan sudah sepatutnya Jember yang mengandalkan agrikultur memiliki wahana seperti CCSTP ini.

selanjutnya di bagian 2

13 Comment

  1. Gara says: Reply

    Dan tulisan ini bagaikan melting pot yang menggambarkan semua hal tentang Jember. Harapannya, masalahnya, ironinya, dan paradoksnya. Keren banget Mas, baca ini kudu pelan-pelan banget supaya bisa menyerap semua makna kata dan saya merasa tidak rugi menghabiskan beberapa belas menit untuk membaca, sebab banyak manfaat dan simpati yang bisa saya rasa dari sini. Juga ikut merasakan bagaimana keresahan Jember dalam menentang arus waktu. Fotonya pun keren-keren… bikin terperangah.
    Saya jadi kenal Jember secara lebih dalam, tidak lagi memandangnya sebagai sekadar sebuah kesatuan geografis semata. Ia adalah kawasan yang terlalu kaya. Mudah-mudahan benih-benih yang muncul dan dituangkan dalam tulisan ini bisa makin berkontribusi dalam kemakmuran bagi warga Jember, agar tak merasa terpencil lagi sebagai sebuah daerah di Jawa, negeri termakmur sedunia, hehe.

    1. Dan saya pun butuh semenit buat baca komennya yang panjang. Ha2..terima kasih. Itu artinya Gara benar2 membaca dengan khidmat.
      Mari berkunjung dan berdoa agar Jember terus bergairah untuk berbenah.

  2. Rasanya, ingin sekali berkomentar sepanjang Mas Gara, tapi, mungkin sejatinya lebih baik jika bertemu langsung dan menyampaikan lontaran diskusi tentang bumi Pandhalungan dengan Mas Aan. Tapi saya tahu karena adanya keterbatasan waktu, dan lewat tulisan ini Mas Aan menjabarkan hasil jelajahnya sekilas (tapi cermat) tentang Jember.

    Jujur, saya seperti terbantu membuka satu per satu pintu di otak dan memori untuk menerima wawasan dan informasi baru dari tulisan ini. Saya cukup sering melintasi Jember, tapi jarang singgah untuk menyelaminya. Hanya tergoda dengan keindahan Papuma, Watu Ulo, atau Payangan saja. Selebihnya, nol pengetahuan saya tentang Jember. Karenanya, saya harus berterima kasih dan sumringah karena sudah menanti kabar tulisan ini ketika Mas Aan mengabarkan akan dolan ke Jember beberapa hari. Setidaknya, saya bisa belajar bagaimana bisa memaksimalkan panca indra untuk menuliskannya dalam sebuah artikel, melaporkan pengamatan mendalam tentang suatu tempat.

    Saya sepakat dengan pernyataan Mas Gara bahwa Jember sepertinya terlalu kaya, dengan segala budaya, bentang alam, dan beragam stigma-stigma yang melekat padanya. Saya jadi terusik, bagaimana andainya jika Pandhalungan ini memisahkan diri dari Provinsi Jawa Timur, menciptakan provinsi dengan namanya sendiri, Pandhalungan? Karena sepertinya karakternya begitu berbeda dengan karakter Jawa biasanya, seperti Blambangannya Banyuwangi, atau Mataramannya di sisi barat Jawa Timur? Hehe.

    Ah, jadi panjang sekali hahaha.

    1. dowone rek. haha2…
      FYI, dari obrolan dgn bbrp warga setempat, pandhalungan sebenarnya merujuk pada semua kabupaten yg didominasi madura-jawa. mulai dari pasuruan, probolinggo, bondowoso, situbondo, banyuwangi, jember, lumajang. tapi teman2 di jember berinisiatif menggunakannya sbg branding. ya karena itu tadi, mereka masih belum punya identitas secara budaya.
      pertanyaannya, bagaimana dengan daerah2 pandhalungan selain jember itu tadi? apakah mereka bernasib sama atau ada hal yang lain?

      1. Hmmm, berarti daerah-daerah yang disebut Tapal Kuda itu ya? Berarti rumit sekali ya, hnmm

        1. Hmmm, berarti daerah-daerah yang disebut Tapal Kuda itu ya? Berarti rumit sekali ya, maksud saya, ketika otonomi daerah digulirkan untuk mengejar ketertinggalan.

          1. Harapan adanya otonomi daerah sebenranya memang agar daerah bisa mengelola dirinya sendiri. Tapi sepertinya masih jauh dari itu. Otda justru dimanfaatkan untuk perebutan kekuasaan. Liat aja macam politik dinasti, pemerkaran daerah, dll. Muncul raja2 kecil di daerah.

        2. Ya. Tidak sesederhana yang terlihat memang. Tapi justru itu yang jadi tantangannya

          1. Iya sih, politik dan kekuasaan. Prihatin, kesal, jadi satu.

  3. Fevtri says: Reply

    Malam Pak Alfian. Saya dapat informasi dr teman ttg link ini. Bagus dan bikin saya ingin diskusi ttg Jember. Apa ada nomor kontak Pak,?

    1. Silahkan hubungi saya lewat email terlebih dahulu ya, aansmile27@gmail.com. nanti no hp yg bisa dihubungi saya sertakan disitu

  4. Tahun 2016 kemarin saya main ke Temanggung, sama kayak di sana. Petani Tembakau harus rela kebingungan menjemur tembakau agar cepatkering di musim penghujan

    1. Terima kasih telah berkunjung.
      Yang saya tahu kalau di Jember pengeringannya indoor di dalam gudang pengeringan trus didalamnya diasap. Musim hujannya menimbulkan masalah lebih pada saat sebelum panennya.

What's on your mind