Because Sumedang Is Just More Than Tahu (Karena Sumedang Lebih Dari Sekedar Tahu)

It’s early in the morning when Nurhuda and I ride our motorbike from Bandung to avoid the morning commute. Thank God the lucky is on us. An hour later we reached our destination in Gunung Puyuh region, Southern Sumedang. It’s a unique house. Instead of a flat land, the wooden house actually built on the slope of a hill. Our host also a friend, Ismi Rinjani Adriani greeted us with hot tea, tahu Sumedang and lontong. The owner of Rumah Baca Imajinasi library gave us some spot options to explored. Huda and I agreed two of them and soon our bag are on our back.

Memotret Pemandangan (tips)

Seorang teman pernah mengatai saya sebagai penipu. Itu karena dia merasa kecewa ketika berkunjung ke sebuah pantai yang menurutnya pemandangannya jelek. Sedangkan di tempat yang sama, saya dapat menghasilkan foto yang menurutnya bagus, dan foto itulah yang membuatnya ingin berkunjung ke pantai tersebut. Pernah merasakan hal yang sama? Kenapa bisa demikian? Kemungkinan besar karena teman saya tersebut berkunjung di waktu yang salah, ketika musim hujan dimana langit lebih sering tak berwarna cerah. Lalu apa hubungannya dengan memotret pemandangan? Sangat berhubungan sekali. Mari kita mulai dari dasar.

Terlepas dari sebuah karya seni yang sangat subyektif, fotografi tetap memiliki standar umum agar bisa dikatakan bagus. Setidaknya ada 3 hal yang membuat sebuah foto dikatakan menarik. Lighting (pencahayaan), komposisi, dan momen. Foto pemandangan sangat bergantung pada hal yang pertama. Betapa terlalu sering kita melihat foto Gunung Bromo dan selalu bagus. Karena selain pada dasarnya Bromo memang sudah indah dari sananya, (hampir) semua orang memotret Bromo di pagi hari. Saat itulah cahaya matahari menyingkap semua keindahan gunung tersebut. Tapi adakah yang pernah memotretnya di sore hari, atau di musim hujan mungkin?

Itu sebabnya fotografer senior Arbain Rambey pernah mengatakan, foto pemandangan itu selalu tentang lighting, lighting dan lighting. Walau demikian anda tetap bisa mengkombinasikannya dengan permainan komposisi dan momen agar foto lebih menarik dan terlihat berbeda. Saya akan menunjukkan bahkan dari tempat memotret yang sama pun foto pemandangan yang lebih menarik bisa dikreasikan hanya dengan sedikit usaha dan kesabaran. Beberapa waktu yang lalu saya datang ke Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, ketika matahari terbit. Disitu saya mengambil posisi di sebuah jalan kecil di sebelah barat candi, berhadapan langsung dengan arah matahari terbit. Mudah diduga saya ingin mengambil siluet dari Candi Plaosan.

Foto pertama dibawah ini adalah foto wajib. Di kalangan fotografer profesional, ini disebut safe shot, yaitu foto pertama yang pasti diambil ketika datang di sebuah lokasi pemotretan. Sebuah foto yang tidak membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkannya. Bagi saya foto ini sudah bagus. Elemen utama yaitu cahaya dan bentuk siluet candi berhasil ditangkap dengan baik. Apalagi saya mendapatkan bonus berupa bulatan kuning matahari yang tepat muncul dari balik garis horizon. Penampakan seperti ini biasa disebut dengan ‘kuning telor’. Sekali lagi, karena saya datang di waktu yang tepat. Kini saatnya untuk membuat foto lebih menarik lagi dengan mengkombinasikannya dengan elemen lain.

IMG_6627_editWM
Foto pertama

Di foto kedua saya coba mengkreasikannya dengan momen. Kebetulan candi Plaosan masih sarat dengan suasana pedesaan. Petani berangkat ke sawah atau anak-anak bersepeda ke sekolah sering melintas dan bisa menjadi obyek yang menarik untuk dikombinasikan dengan siluet candi Plaosan. Dengan sedikit kesabaran, sebuah foto yang menarik bisa dihasilkan. Satu hal yang kurang hanyalah obyek anak naik sepeda terlihat agak blur karena rana kamera membuka sedikit lambat. Jangan lupa juga untuk mencoba berbagai posisi agar hasil terbaik bisa didapatkan.

IMG_6679_editWM
Foto kedua

Terakhir, di foto ketiga saya mencoba bermain dengan komposisi. Dalam hal ini, saya mencoba menambahkan obyek lain yaitu daun ketela yang memiliki bentuk yang cukup unik. Dengan beberapa kali eksperimen mengubah sudut kamera dan mengganti obyek tambahan, foto yang menarik bisa dihasilkan. Dapat juga bermain dengan framing, yaitu menggunakan obyek tambahan seolah sebagai bingkai bagi obyek utama.

Selamat mencoba.

IMG_6718_editWM
Foto ketiga

The Splendid of Lombok (Seronok Lombok)

I did what everybody else did, take around in Lombok island after hiking Mount Rinjani. Bali’s close neighbour but main competitor at the same time, offer to it’s visitors a complete set of wonders. Sea to summit. Although only a day but I am grateful given a chance to visit some of the spot, Senggigi beach, Gunungsari traditional market, Batu Bolong temple, Sade traditional village, Tanjung Aan and Selong Belanak beach. Personally I prefer Lombok since its relatively not as busy as the island of God, Bali. It’s cultural acculturation also more pronounced while Bali dominated by Hindu. Hopefully I can go there again someday. What a splendid of Lombok.

Stupefied in Rinjani (Terlena Di Rinjani)

It’s so crowded. Understandably it’s a long holiday. It didn’t take for long to me to feel the effect. It’s a little bit uncomfortable for being unable to fully control my walking speed. Too many people in front. Instead of chasing our porters, Hasan and Udin, I have even more left behind. Their speed is no match for me whereas they only wear flip-flop with a pair of twenty kilos basket in their shoulder for each person. Mean while Sari, Sisil, Fanani, Ferhat had their selfie time behind and Apoy already up in front. Fortunately, I was fascinated by the beautiful scenery along the way. Rinjani is so pretty. An exotic view outspread along the hiking trail from Sembalun. A vast grassland stretched decorated with a few numbers of stand alone tree. I wish they can talk maybe those trees will mourn lonely. The nature also shows it’s carving art in form of fractures, faults, cliffs, water stream, and sort of vertical holes which makes it more astonishing. At the top end there the crown lies with all its glory, the peak of 3726 ASL of Rinjani. Sometimes we spent so much time when taking a break just to realize how majestic it is. We’re mesmerized.

Ijen, A Hardwork Story (Sebuah Kisah Tentang Kerja Keras)

It’s still dark and flickering stars was crystal clear. Meawhile the wind blew the pungent smell occassionally. So many people gathered in the serene night. Their voices sounded boisterous. From up here they’re enjoying the wonders blue fire. Only the brave can see it close in the bottom of the crater thanks to the rocky slippery pathway and dense sulfur smoke. Through it all is an adventure for visitors. Yet it’s a daily routine for these man, the miners who make a living by way of traditional sulfur mining at the crater of Mount Ijen.

Greeting The Green Of Bandung-Jakarta (Menyapa Hijaunya Bandung-Jakarta)

Cipaganti, Cititrans, X-trans, Baraya and name it all that shuttle car. So many of them, but still I prefer to travel by train from Jakarta to Bandung vice versa. I just used shuttle car once. Although I wanted to be faster and practical but there are times when I feel more excited during the trip than arrived at the destination.