Binaraga Jebor, Ketika Pekerja Pabrik Genteng Menjadi Pesohor

Binaraga Jebor, Ketika Pekerja Pabrik Genteng Menjadi Pesohor

Sebuah lomba di Jatiwangi membuat para pekerja pabrik genteng unjuk otot dan disoraki laksana pesohor. Absurd namun kreatif. Di balik fungsi hiburan, ada hal lain yang sedang dibangun, kebanggaan dan identitas kebudayaan tanah. Perkara penting di tengah merosotnya nasib Jatiwangi sebagai penghasil genteng tanah liat yang sejarahnya bermula sejak awal abad 20.

***

Lepas magrib sekitar 70 orang laki-laki berkumpul di bagian dalam pabrik dan mulai melepaskan baju ,menyisakan celana pendek yang dibebat kain. Dengan menggunakan baby oil, pria-pria berotot itu membasahi sekujur tubuh dengan tangan masih-masing atau dibantu yang lain. Sementara itu di luar pabrik, massa telah berkerumun tak sabar melihat ‘aksi’ mereka. Tepat jam 7 malam pembawa acara mulai memanggil dan keluar sepuluh orang berbaris di atas panggung secara bergiliran.

Satu per satu pria bertelanjang dada tersebut mengangkat setumpuk genteng yang telah disediakan dengan bermacam gaya untuk memamerkan otot. Alih-alih mengundang decak kagum, tubuh-tubuh mengkilat itu justru memancing tawa riuh penonton karena acap menunjukkan pose dan ekspresi lucu. Wajar saja, mereka bukanlah atlet binaraga profesional melainkan pekerja jebor alias pabrik genteng di kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Kontes binaraga jebor yang bertajuk Jatiwangi Cup ini dihelat dalam rangka menyambut 17 Agustus dan telah memasuki penyelenggaran ke 5.

Baca juga: Kreskros: Antara Plastik, Desain & Tas Kekinian

Kontes binaraga jebor ini muncul dengan latar belakang Jatiwangi sebagai sentra penghasil genteng. “Jatiwangi mulai membuat genteng pada 1905 lalu berjaya pada 80-90an. Saat itu Jatiwangi dan sekitarnya adalah hamparan jebor dengan jumlah sekitar 1000 pabrik”, tutur Ila Syukrilah Syarif tokoh lokal yang juga menjadi koordinator lomba. “Sayang. Awal tahun 2000 industri genteng Jatiwangi menyusut hingga sekarang tak lebih dari 200 pabrik”.

Beberapa faktor penyebab yaitu persaingan dengan jenis atap baru yang bisa diproduksi lebih masal, perubahan lahan yang mengurangi sumber bahan baku tanah, tata kelola industri genteng yang kurang baik, migrasi warga Jatiwangi ke kota-kota besar dan berjamurnya industri lain yang lebih modern. Kondisi ini membuat gelisah sejumlah warga setempat dan berinisiatif membuat pergerakan melalui kegiatan seni berbasis masyarakat dan budaya tanah. Mereka menamakan dirinya Jatiwangi Art Factory.

Baca juga: Sejenak Tilik Pembuatan Mie Lethek

JAF mengadakan berbagai kegiatan seni berbasis masyarakat dan tanah sebagai potensi sekaligus wajah Jatiwangi. Lomba binaraga jebor salah satunya.  Bermacam aktifitas tersebut selain untuk hiburan juga bertujuan memaknai tanah bukan hanya sebagai komoditas ekonomi namun sebuah kebanggaan dan identitas. Ujung tombak semua itu tentu saja para pekerja pabrik genteng yang diharapkan memiliki kebangaan atas profesi mereka. “Genteng bukan hanya sumber penghasilan namun bagian dari membangun peradaban. Tanpa genteng, rumah, sekolah, kantor, rumah sakit dan bangunan lainnya tidak akan berfungsi semestinya. Kesadaran itu yang ingin diharapkan muncul di para pekerja jebor”, jelas Arief Yudi pendiri Jatiwang Art Factory.

Menjelang jam 12 malam, Iip Patulloh terus menebar senyum setelah dinobatkan sebagai juara pertama. Ia berhak atas hadiah uang tunai 2 juta rupiah. Cahaya panggung dan lampu kilat kamera tak henti menyinarinya sembari terus meladeni ucapan selamat dan wawancara awak media. Malam itu Iip bak artis kondang untuk sejenak. Esok ia akan kembali mengangkat genteng, bukan untuk pamer otot melainkan menyambung hidup sembari mungkin berharap jebor tempatnya mencari nafkah tak ikut surut.

Indonesian-based photographer and story teller
1 comment
  1. AANN!!! AKU TAK KUAT. AKU MAU LIHAT INI TAHUN DEPAAAN!!! AJAK AKU. This is civilization at its best. Mereka tahu apa profesi mereka dan berbangga hati. Haru dan ketawa-ketawa gue nontonnya. Kenapa itu ada yang gigit genteeengg????

What's on your mind