Masjid Kampus UGM, Sebuah Hikayat dan Ruang Bagi Perbaikan.

Bernama asli Masjid Jamaah Shalahuddin, namun ia lebih dikenal dengan Masjid Kampus (Maskam) UGM, merujuk pada lokasinya yang berada di tengah-tengah kompleks Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia dibangun dalam rangka memperingati ulang tahun ke 50 institusi pendidikan tinggi tersebut yang jatuh pada tahun 1999. Tempat ibadah ini sendiri mulai dibangun pada 21 Mei 1998, tepat ketika Presiden Soeharto turun dari jabatannya setelah mendapatkan tekanan hebat dari dalam negeri atas krisis yang melanda Indonesia.

Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)
Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)

Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)

Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)

Rektor UGM periode 1998-2002 Prof. Dr. Ichlasul Amal. M.A sekaligus ketua pembangunan Masjid Kampus pernah bercerita bahwa kepastian pendirian Jamaah Shalahuddin sempat dalam ketidakpastian sehubungan dengan kondisi politik yang sedang memanas saat itu. Tanggal 20 Mei 1998, demo memuncak ketika massa menguasi gedung DPR. Malam harinya ia mendapat kabar bahwa Presiden Soeharto akan lengser esok hari. Maka pada 21 Mei ia bersama tim pembangunan masjid serta beberapa tokoh UGM berkumpul sejak pagi dan menonton siaran langsung televisi dari Jakarta untuk memastikan berita itu. Rencana awal presiden yang telah berkuasa lebih dari 3 dekade tersebut akan membacakan pengunduran dirinya siang hari namun ternyata maju sampai jam 8 pagi. Sebuah firasat yang baik dan itu menjadi kenyataan. Seisi ruangan pun bersorak gembira dan mengucap syukur. Kebahagiaan tersebut berujung pada sebuah keputusan mudah, hari itu juga Jamaah Shalahuddin mulai dibangun.

Membangun masjid yang megah tentu membawa tantangan tersendiri. Salah satunya yaitu UGM sempat dikritik karena pembangunan masjid yang megah dianggap pemborosan di tengah kondisi ekonomi bangsa yang sedang tak sehat. Pembangunan itu sendiri akhirnya menelan biaya 9,5 milyar rupiah berkat pemakaian material terbaik dari dalam dan luar negeri. Namun UGM tetap kokoh dengan pendirian karena menilai Jamaah Shalahuddin kelak bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dan syiar agama melainkan juga salah satu simbol universitas negeri tertua di Indonesia tersebut. Label prestisius seperti itu tak bisa diurus setengah-tengah, begitu yakin mereka. Dan akhirnya 4 Desember 1999 tempat ibadah umat islam tersebut digunakan untuk pertama kalinya.

Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)

Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)

Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)

Cerita lain yang ikut mengiringi yakni seringnya muncul peristiwa di luar nalar terkait lokasi masjid yang sebelumnya merupakan kompleks pemakaman tionghoa. Saat proses konstruksi beberapa kali para pekerja mengalami kesurupan dan ‘berpindah’ tempat saat istirahat. Ada pula tentangan dari sejumlah pihak yang tak setuju dengan pemindaham makam lebih karena alasan takhayul. Namun pihak pembangunan masjid tetap bergeming dan justru merasa itulah waktu yang tepat untuk melawan takhayul dengan membuat sebuah tempat ibadah.

Secara arsitektur fasad Masjid Kampus UGM merupakan perpaduan gaya Jawa, Arab, Tionghoa dan India. Kubah atau kepala masjid yang berbentuk limasan berundah meniru rumah adat Joglo khas Jawa  sedangkan Arab memberi pengaruh melalui lengkung bangunan utama terutama di sisi pinggir. Sementara pemilihan warna pada bangunan dan ornamen berupa merah serta merah muda yang berseling warna emas terinspirasi dari arsitektur Tionghoa. India juga memberi pengaruh melalui konsep halaman masjid yang mengadopsi bangunan Taj Mahal berupa kolam, air mancur dan penanaman berbagai pohon.  Jamaah Shalahuddin memang memiliki begitu banyak sudut fotojenik.

Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)
Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)

Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)

Masjid dua lantai ini mampu menampung 10.000 jamaah dan sering dijadikan tempat berlangsungnya berbagai kegiatan seperti diskusi, pendidikan hingga pernikahan. Megah, suasana asri dan berada di lokasi yang strategis menjadi daya tarik utama Masjid Kampus UGM. Segala kelebihan itu adalah modal berharga untuk menciptakan sebuah tempat ibadah sekaligus ruang publik yang ideal. Namun dibalik semua itu selalu ada ruang bagi perbaikan. UGM mungkin perlu mencontoh sesama masjid yang berada di lingkungan civitas akademika dalam hal ini Masjid Salman ITB, Bandung.

Selama ini Jamaah Shalahuddin hanya ramai di saat-saat tertentu dan variasi kegiatan yang cenderung kurang berkembang. Bandingkan dengan Salman yang dikelola oleh yayasan sendiri sebagai sehingga mampu mandiri dan menghasilkan kegiatan yang lebih bervariasi serta menjangkau lebih banyak khalayak. Keberadaan Kantin Salman adalah contoh utama masjid ini hidup dan menghidupi. Teladan lainnya pada 2016 lalu kala Salman menjadi masjid pertama di Indonesia yang memproduksi film layar lebar dan menembus bioskop nasional. Film berjudul Iqro’ tersebut adalah contoh nyata keberhasilan sebuah masjid dalam membina kadernya untuk bergerak di bermacam bidang dengan tujuan utama syiar agama. Karena memang masjid yang baik adalah yang hidup dan menghidupi atas nama ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)

Masjid Kampus UGM (College Mosque of Gadjah Mada University)

6 Comment

  1. saya pernah sholat disini, tempat yang sangat khitmad untuk beribadah. masjidnya juga luas dan megah

    1. Halo, salam kenal. Terima kasih telah berkunjung.
      Yang paling saya sukai dari masjid ini selain asri juga ceramah dan bacaan solat imamnya.

      1. bisa buat istirahat juga hehee… saya pernah istirahat disini juga

        1. istirahat adalah fungsi utama setelah solat. he2..

  2. Aku belum pernah naik menaranya. Sepertinya indah menjelang sholat magrib motret dari atas sini

    1. Harus dateng. Bisa liat sunrise dan sunset.

What's on your mind