Mengetuk Pintu Laweyan

Mengetuk Pintu Laweyan

Laweyan adalah batik. Konotasi itu telah terbangun sejak lama. Apalagi selepas daerah yang berada di tepi Kota Solo itu resmi bertajuk Kampoeng Wisata Batik pada 2004. Namun seorang teman asal Solo, Halim Santoso meyakinkan saya bahwa Laweyan lebih dari sekedar batik. Sebuah bujukan tersamar. Ditemani Halim, saya pun menjajal membuktikan lisannya itu. Di luar perkiraan. Alih-alih banyak orang atau kendaraan berseliweran, kampung ini lengang untuk ukuran tempat wisata padahal saat itu hari minggu.

Kelom Lentik Nan Menarik

Kelom Lentik Nan Menarik

Tangannya tampak terampil meliuk-liukkan canting di atas alas kaki berbahan kayu. Ardian, pemuda lokal Tasikmalaya itu sedang melukis pola di atas kelom, alas kaki berbahan kayu, kerajinan andalan kota asalnya tersebut. Sedangkan di sudut ruangan yang lain beberapa temannya sedang mengerjakan tanggung jawabnya masing-masing. Ada yang memotong alas kelom sementara yang lain menggambar pola menggunakan semprotan. Tak lama beberapa pasang alas kaki kayu ini telah berubah menjadi cantik dan siap menjalan proses berikutnya.

Selayang Pandang Pangandaran

Selayang Pandang Pangandaran

Tahun 2006 mengubah banyak hal bagi warga Pangandaran. Bencana gempa yang disusul gelombang tsunami menihilkan apa yang telah dimiliki dan dibangun. Namun hidup terus berlanjut. Pangandaran telah lama tersohor sebagai daerah tujuan wisata dan masih demikian. Itu semua berkat beberapa hal yang tetap tak berubah, pantai dan laut. Dua hal ini masih menjadi sektor utama penggerak ekonomi bagi sebagian besar masyarakatnya.

The Daredevil’s Diary (Secuplik Kisah Penunggang Maut)

The Daredevil’s Diary (Secuplik Kisah Penunggang Maut)

The roar was deafening. The smell of gasoline filled the air. Some of the spectators cover their ears and noses, while looking downward. Meanwhile Eko Purwanto, Jumari and Maulana Putut Kuncoro prepare themselves at the bottom of the barrel. Eko and Ari were set with their RX King. The motors has amputated mufflers and no brakes. Both starting at the center base, they ride the bikes circling a barrel-shaped wooden cylinder with size 6.5 meters of height and 5 meters of diameter. Slowly they ascend closer to rim and swiftly grab the saweran (stage tips) waved by the crowd.

Sapu Upcycle, From Trash To Cash (Dari Limbah Menjadi Berkah)

Sapu Upcycle, From Trash To Cash (Dari Limbah Menjadi Berkah)

The joglo (javanese traditional house) seems to be nothing special at glance, just an ordinary house. Yet there’s something inside. Looks messy but sightly thanks for an artistic touch. The most interesting is the activity takes place. The house which located on the outskirt of Salatiga City is a workshop place for upcycling waste into products with a environmental, functional and aesthetical value. And above all, economical. Not plastic, bottle, glasses, paper nor some other material which commonly used for recycling, it’s inner tube waste.

Bekakak, A (More Than) Tradition Far Beyond The Time. (Terus Lestari Tak Sekedar Tradisi)

Bekakak, A (More Than) Tradition Far Beyond The Time. (Terus Lestari Tak Sekedar Tradisi)

Once upon a time in Ambarketawang, Gamping, Sleman around 1755 Ki Wirosuto and his wife which were a royal servant at Yogyakarta Palace and also limestone miner died in an accident while working in the mine. The tragedy sadly took place for several times further. In the past many locals took a living as miners since the area was a landscape of limestone (gamping). The king Sri Sultan Hamengkubuwono I, who resided in Ambarketawang while waiting the completion of his palace, soon ordered to peform a ritual to avoid the grief continues.  A procession called Saparan Bekakak held annually every Sapar month in javanese calendar or also called Safar in islamic calendar.

Meretas Konflik Melalui Seni di Biennale Jogja

Meretas Konflik Melalui Seni di Biennale Jogja

“Mengingatkan saja, sih. Orang yang merestuinya jadi capres adalah orang yang sama yang dulu memutuskan duet dengan yang kalian sebut penjahat hak asasi manusia”

Begitu rangkaian kata yang tertulis di sebuah lukisan besar karya Arwin Hidayat yang terpajang di salah satu ruang pamer. Lukisan itu menggambarkan sosok pria memegang bunga yang dengan mudah ditebak adalah perwujudan presiden Indonesia saat ini. Masih di ruang yang sama, beberapa orang nampak khusyuk membaca buku yang berisi kumpulan ekspresi media sosial sang empunya tulisan pada lukisan tadi, Puthut EA, yang terkenal sebagai orang penting dibalik situs mojok.co.