Menyesap Harmoni Negeri Sawai

Noldy tampak bersemangat. Tikungan tajam pun dilahapnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia seolah hafal letak lubang atau longsor. Hutan semakin rimbun ketika akhirnya ia mengurangi kecepatan. Ia mencondongkan badannya ke depan dengan mimik wajah serius. Jarak pandang kini hanya beberapa meter saja akibat sergapan kabut. Satu jam yang lalu hanya ada pemandangan tanah tak bertuan yang ditumbuhi ilalang dan diselingi rumah penduduk. Namun jalan aspal yang semula lurus dan datar perlahan mulai berkelok dan naik turun. Kini hanya ada bukit dan lembah dengan vegetasi hutan tropis. Sesekali tebing yang besar dan kokoh bak lengan seorang atlet binaraga membuat kami terkesima. Penasaran dengan perubahan lanskap yang dramatis ini, saya pun melihat GPS di telepon pintar dan tersadar kami sedang membelah Pulau Seram. Amahai sebagai titik awal berada di selatan sedangkan tujuan kami ada di pantai utara. Tak lama kemudian kami melewati sebuah gerbang pintu masuk bertuliskan ‘Selamat Datang di Taman Nasional Manusela’.

“Berapa lama lagi nyong?”, saya bertanya pada Noldy yang masih cukup serius. Tak ingin kehilangan fokus, tangan kirinya yang memegang setir hanya memberi isyarat dua jari. Perjalanan kali ini lumayan panjang. Tiga jam penerbangan dari Jakarta ke Ambon, satu setengah jam di dalam mobil dari Bandara Pattimura ke Pelabuhan Tulehu, lalu yang baru saja dilalui, dua jam menyebrang dengan kapal cepat dari Pulau Ambon ke Pulau Seram, tepatnya di Pelabuhan Amahai di Masohi. Dan semua itu belum cukup karena saya dan teman-teman masih berada di dalam mobil untuk beberapa waktu ke depan. Perlahan kabut mulai tersibak. Saya yang duduk di depan bisa melihat jelas perubahan raut muka Noldy yang mulai rileks. Ia pun mulai banyak bercerita. Darinya saya tahu kawasan hutan Manusela ini populer sebagai tempat birdwatching. Salah satu yang menjadi idola adalah Cacatua moluccensis atau yang memiliki nama lokal kakaktua maluku. Spesies ini banyak mendiami hutan primer dan sekunder Maluku sisi selatan seperti Seram, Ambon, Haruku dan Saparua. Yang juga terkenal dari tempat ini adalah Gunung Binaiya dengan ketinggian 3055 mdpl. Gunung ini sering didatangi para pendaki dari berbagai daerah di Indonesia terutama di musim kering.

Kami tiba di sebuah pertigaan dan mobil berbelok ke kiri. Walau beraspal tapi jalannya tak sebagus tadi. Di sebelah kanan laut mulai tampak. Matahari hampir merapat ke horizon. Mobil menanjak sebuah bukit kecil. Tak disangka dibalik bukit itu ada sebuah perkampungan padat di tepi laut. Ini rupanya Desa Sawai, tujuan terakhir kami. Secara administratif Desa Sawai terletak di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Propinsi Maluku. Atap sebuah masjid terlihat menonjol di tengah kumpulan rumah. Masjid yang sedang mengumandangkan azan itu sepertinya adalah satu-satunya tempat ibadah disini. Sementara di ujung sana pendaran matahari tenggelam melukis langit dengan warna lembayung. Ah, cantiknya. Mobil mulai melewati pemukiman. Hanya ada satu jalan utama yang lebarnya tak lebih dari dua meter. Biasa disebut jalan desa. Hari mulai temaram tapi masih banyak warga beraktifitas di luar. Banyak anak juga masih bermain di pinggir jalan. Sebagian besar rumah terlihat gelap. Hanya beberapa saja yang penerangannya sudah menyala. Anak-anak itu menyapa kami ramah. Yang dewasa juga tak mau kalah walau hanya dengan sekedar melempar senyum. Awal yang baik. Setidaknya saya tahu bahwa pendatang diterima dengan baik disini. Akhirnya kami sampai di Lisar Bahari.

Kru Cantika Express melempar tali jangkar ketika bersandar di Pelabuhan Amahai.
Gerbang masuk Taman Nasional Manusela.
Gardu pandang Taman Nasional Manusela.
Kabut menyergap ketika melintas di dalam area taman nasional

“Di Negeri Sawai ini belum ada listrik negara. Adanya listrik dari genset desa”, jelas Bang Dino yang membantu kami membawa barang ke penginapan. Nama aslinya Ilhamudin. Pria 38 tahun ini semacam kepala pelayan di Lisar Bahari. Listrik negara yang dimaksud ialah jaringan listrik dari PLN. Warga setempat masih mengandalkan genset umum milik desa yang dihidupkan hanya dari jam setengah tujuh malam sampai jam satu dini hari. Sayangnya genset umum sedang bermasalah sore itu. Hanya warga yang cukup mampu saja yang bisa memiliki genset sendiri. Praktis hanya remang cahaya bulan yang menerangi aktifitas warga. Untung Lisar Bahari memiliki genset sendiri. Suasana ini sejenak mengingatkan kembali ke masa kecil ketika saya sering berkunjung ke rumah kakek yang waktu itu juga masih belum terjamah listrik. Betapa tentramnya. Saya pikir di sisi lain belum hadirnya listrik justru ada efek positifnya karena warga akan lebih banyak beraktifitas dan berinteraksi meskipun itu di malam hari. Sesuatu yang langka terlihat di masyarakat perkotaan yang lebih senang bercumbu dengan gawai.

Lisar Bahari sendiri terletak hampir di ujung desa. Semua bahan bangunannya berasal dari kayu dan dibangun di atas laut dangkal. Posisinya yang menghadap ke laut memungkinkan para tamu untuk menikmati pemandangan senja yang menawan, seperti yang terjadi sekarang. Pemiliknya sekaligus atasan Bang Dino adalah seorang warga asli Sawai, Muhammad Ali Letahiit, 60 tahun, yang biasa dipanggil Pak Ali. Entah kenapa rasa penasaran akan perkampungan ini mengalahkan rasa lelah. Saya sempatkan sebentar untuk baronda (bermain) ke perkampungan dengan hanya diterangi cahaya senter dan remang rembulan. Tiba-tiba Bang Dino menyusul dari belakang. Ia hendak membeli sesuatu ke toko salah satu warga. Saat kami berjalan kaki pria yang sudah berputra tiga ini bercerita banyak tentang Lisar Bahari. Pak Ali adalah generasi kedua setelah melanjutkan usaha penginapan dari sang paman, Kembe Letahiit yang membangunnya di tahun 1985. Lisar Bahari, dan Sawai tentunya, justru pertama kali dikenal dan dipopulerkan oleh orang luar negeri. Saat itu tak lama setelah Lisar Bahari dibangun, sekumpulan warga asing dari berbagai negara dengan beragam multi disiplin mengadakan ekspedisi sains dan memasuki Laut Seram. Mereka telah beberapa minggu menjelajah Indonesia menggunakan kapal dan baru saja menyinggahi Papua lalu buang sauh di Pulau Seram. Mereka tinggal di Lisar Bahari karena itulah satu-satunya penginapan yang tersedia di Sawai saat itu.

Banyak di antara ilmuwan asing itu terpesona dengan keindahan alam disini, bahkan beberapa di antaranya memilih tinggal lebih lama baik karena alasan pribadi maupun untuk riset. Saat ini makin banyak tamu yang datang. Pak Ali pun memperluas bangunan penginapannya. Salah satunya yaitu tempat tinggal saya sekarang yang baru dibangun awal tahun 2014 lalu. Bang Dino ini rupanya cukup fasih berbahasa inggris. Saya tahu ketika ia berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Bahasa Indonesianya juga lebih lugas dan mudah dimengerti jika dibandingkan warga lokal lainnya. Wajar karena tanggung jawab yang diembannya di penginapan membuatnya sering berinteraksi dengan tamu yang beragam latar belakang. Sayangnya ia tak mau mengungkapkan sudah berapa lama ia mengabdi di Lisar Bahari. “Yang penting beta (saya) senang disini. Ya di Lisar Bahari, ya di Sawai. Bisa bertemu dengan orang-orang dari seluruh Indonesia dan dari seluruh dunia, seperti ose (kamu) ini ”, ia tersenyum sambil berpisah jalan.

Satu-satunya lapangan disamping satu-satunya tempat ibadah umum yang multi fungsi untuk berbagai acara masal.
Bermain bola adalah cara terbaik menghabiskan waktu tiap sore.
Dwi, Rizki, Harun.

Saat kembali ke penginapan saya jumpai banyak warga dan anak-anak yang masih memilih berada di luar rumah di gelap malam sambil menunggu listrik menyala. Saya tak melihat seorang pun berkutat dengan gawai. Semuanya saling berinteraksi satu sama lain. Dalam hati saya masih dibuat heran tak mengira ada kehidupan yang ramai dibalik perbukitan dengan hutan lebat. Walau gelap desa ini tampak hidup. Tak disangka beberapa orang warga menyapa. Walau remang tapi saya bisa melihat ekspresi wajah-wajah yang tersenyum itu. Harus diakui, berbagai pemberitaan media yang memberi cap negatif pada orang-orang Indonesia bagian timur sedikit banyak ikut mempengaruhi pikiran saya. Tapi berbagai keramahan yang terlihat seharian ini perlahan tapi pasti menghapus stigma buruk dalam kepala. Syukurlah bahwa sebenarnya Indonesia tak seburuk yang diberitakan. Namun ada hal yang terasa agak aneh. Dari tadi tak terlihat adanya kapal nelayan, jala, atau berbagai peralatan untuk menangkap ikan dalam jumlah besar. Bau amis ikan khas daerah pantai pun sama sekali tak tercium. Ah, entahlah. Menuntaskan penasaran di saat perut lapar sepertinya bukan pilihan yang tepat. Biarlah sejuta rasa ingin tahu tentang Sawai saya simpan dulu malam ini. Pilihan terbaik sekarang adalah memberi hak perut untuk kenyang

Jam delapan pagi namun matahari sudah terasa menyengat. Satu per satu kami menaiki longboat, perahu kecil panjang yang digerakkan dengan motor. Warga Sawai biasa menggunakannya untuk beraktifitas sehari-hari termasuk berkunjung ke desa tetangga. Satu longboat kami isi dengan tujuh orang termasuk pengemudinya. Namun menurut Pak Abu pengemudi kami hari ini, warga Sawai sudah terbiasa menggunakan longboat sampai dua puluh orang. Wah, ngeri-ngeri sedap membayangkannya. Setelah satu jam perahu melaju laut yang luas perlahan menyempit. Airnya perlahan berubah payau lalu tawar. Ternyata kami sudah masuk ke aliran Sungai Salawai. Di pinggir sungai banyak tanaman paku, bakau dan pohon sagu. Sesekali tampak tempat pengolahan sagu.

Suasana penginapan Lisar Bahari.
Pak Abu, pengemudi perahu hari itu.
Susur Salawai.

Kami berhenti di sebuah tempat pengolahan sagu yang terletak di bawah sebuah jembatan. Disitu kami bertemu dengan Cano Mukadar, 69 tahun, seorang pengolah sagu yang tinggal di Sawai. Pak Kadar begitu ia biasa dipanggil, sedang memotong pohon sagu. Peluhnya memantulkan sinar matahari yang makin panas. Hanya celana pendek dan sebuah topi yang menempel di badannya. Terlihat jelas postur badannya yang biasa saja tapi terlihat kokoh. Otot lengannya menunjukkan betapa ia sudah terbiasa dengan aktifitas fisik. Sambil tetap bekerja ia melayani obrolan kami. Suaranya yang lembut dan ramah bertolak belakang dengan pekerjaannya. Ia bercerita proses pembuatan tepung sagu. Setelah pohon sagu ditebang dan dikuliti lalu dipotong menjadi bagian yang lebih kecil. Potongan tersebut kemudian dihancurkan menggunakan roda bergigi yang digerakkan dengan mesin. Serbuk sagu yang dihaluskan lalu dipindah ke sebuah bak penampung dan disiram air hangat. Setelah itu campuran tersebut diperas dan menghasilkan cairan ampas agak kental berwarna putih yang dialirkan ke bak penampungan lain yang posisinya lebih rendah. Setelah beberapa lama didiamkan endapan berwarna putih akan turun ke bawah sedangkan airnya dibuang. Endapan putih inilah tepung sagu yang siap dijual. Selain sebagai penghasil sagu, Pak Kadar juga masih mencari nafkah sebagai buruh bangunan di Sawai atau kadang sampai ke Masohi.

Pak Kadar sendirinya sebenarnya adalah orang Bugis yang berasal dari Palopo, Sulawesi Selatan. Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu angin takdir meniupnya hingga ke Ambon sebagai buruh bangunan. Bertahan kurang dari lima tahun di Ambon kemudian ia pindah ke Sawai sebagai pengolah sagu. Melihat dari gurat wajahnya saya tahu pria ini sudah mengalami kerasnya hidup begitu lama. Namun di Sawai ia menemukan kebahagiaan. Penghasilan tak seberapa tapi selalu saja ada dan kehidupan mengalir lembut bak aliran Salawai ini adalah penambat hatinya di Negeri Sawai. Begitu kurang lebih kesimpulan cerita hidup Pak Kadar.

“Sedang kurang beruntung. Tidak ada buaya hari ini”, tutur Pak Abu ketika kapal mulai meninggalkan Sungai Selawai kembali ke laut. Degg…Bagaimana bisa ia mengatakan kami tidak beruntung karena tidak ada buaya? Rupaya Sungai Selawai menjadi habitat buaya air payau. Para pengolah sagu di tepian sungai sering menjadikan buaya sebagai tontonan tersendiri. “Tenang. Belum pernah ada yang digigit”, ujar Pak Abu berusaha menenangkan. Tetap saja saya merasa agak resah. Untung ia mengatakannya setelah kami sudah meninggalkan sungai. Laut sedang tenang. Tak banyak goyangan di atas kapal kecil ini. Saya bisa menikmati pemandangan dengan nyaman. Dari sini nampak jelas lanskap bentangan dinding batu karst yang menjulang tinggi berpadu dengan warna hijau vegetasi yang rimbun. Dinding-dinding karbonat itu langsung mencumbu laut. Sejauh mata memandang tak ditemui pasir putih. Hanya sebagian kecil berupa tanah miring yang dibawahnya pasti sudah dibangun pemukiman. Sawai adalah salah satunya. Perkampungan-perkampungan itu tampak begitu kecil dan terpisah satu sama lain, menyesuaikan dengan lokasi lanskap tanah yang dipisahkan oleh dinding batu. Mungkin itu sebabnya warga lokal menyebut kata desa dengan negeri, karena mereka terpisah satu dengan yang lain seolah membentuk negeri sendiri. Saya melihat beberapa struktur kayu di tengah laut, tambak udang. Pak Abu menunjuk ke arah timur. Di balik deretan bukit yang ditunjuknya ada lebih banyak tambak udang. Saya penasaran. Siapa gerangan empunya tambak-tambak itu?

Di laut lepas yang dangkal saya dan teman-teman menceburkan diri untuk snorkling di beberapa titik. Ikannya tidak banyak, baik dalam jumlah maupun variasi. Terumbu karangnya juga. Walau relatif tak sebagus di Lombok, tempat saya terakhir kali melakukan snorkling, tapi saya tetap terpukau akan lautnya yang masih sangat jernih dan bersih. Pak Abu berkata disini ikannya sedikit. Karena itu di Sawai tidak ada yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka menangkap ikan hanya untuk konsumsi sehari-hari, bukan untuk dijual ke pasar. Wajar jika kondisi lautnya masih sangat terjaga. Oh, pantas saja. Terjawab sudah rasa penasaran saya semalam.

Kami melanjutkan tur ke Pantai Air Belanda. Konon cerita dulu pasukan Belanda membangun markas disini. Mungkin dari sinilah pantai ini mendapatkan namanya. Walaupun terik panas tetapi airnya cenderung agak dingin dan rasanya tawar. Itu terjadi hanya di bagian pantai yang tepat berada di pertemuan sebuah aliran sungai kecil. Sungai ini sendiri berasal dari rimbunan hutan yang berada tepat di belakang pantai. Bisa jadi hal yang sama menjadi penyebab suhu di Sawai terasai dingin di malam hari. Hal yang sama tidak terjadi di pantai pada umumnya. Perjalanan berlanjut ke Pantai Ora. Ini dia spot yang belakangan mulai naik daun. Beberapa sudut terlihat familiar karena mulai sering saya lihat di media cetak dan internet. Hanya ada satu penginapan disini, Ora Beach Eco Resort. Lokasinya jauh dari perkampungan. Secara administratif masih masuk Desa Sawai walaupun sepertinya lebih dekat dengan Saleman, desa tetangga. Pak Abu menuturkan resor ini dimiliki oleh seorang anggota DPRD Ambon. Sayang ia tidak mengetahui siapa nama orang tersebut. Airnya sangat jernih berwarna hijau kebiruan. Dari atas dermaga saya dengan mudahnya melihat beraneka karang dan ikan di bawah sana. Tiba-tiba seorang petugas resor berteriak dari kejauhan agar kami tidak snorkling di bagian pantai yang dangkal karena khawatir menginjak karang. Kami mulai tak tahan dengan teriknya panas. Maka sebentar saja kami ber-snorkling disitu apalagi setelah melihat banyak bulu babi yang bersembunyi di balik terumbu karang. Akhirnya jam makan siang tiba. Pak Abu membawa kami ke sebuah pulau kecil untuk mengisi perut.

Cano Mukadar sedang memeras campuran serbuk sagu dan air.
Lanskap laut, tebing karst dan vegetasi hijau seperti inilah yang mengelilingi Sawai dan sekitarnya.

 

Kurangnya edukasi dan kesadaran sebagian pengunjung atau warga lokal meninggalkan coretan yang disayangkan.

 

Salah satu pemandangan bawah air di perairan Sawai.

 

Ora

Warga setempat biasa menyebutnya Pulau Raja. Dulu tempat ini menjadi lokasi favorit bagi keluarga kerajaan untuk berekreasi. Dari sinilah pulau ini mendapatkan namanya. Sekarang pulau ini menjadi lokasi konservasi tanaman bakau. Selain itu pulau ini juga menjadi habitat bagi fauna kelelawar. Karena itu pulau ini juga mendapat julukan Pulau Marsegu, yang dalam bahasa setempat berarti kelelawar. Untuk pertama kalinya saya melihat pantai berpasir disini. Pemandangan yang cukup menyegarkan mata. Saya berkenalan dengan salah seorang warga Sawai yang kebetulan sedang berada di Pulau Raja, Budi Prayitno, 58 tahun. Sepertinya ia bukan asli Maluku jika meihat dari namanya. Benar saja. Pak Budi, begitu saya memanggilnya adalah kelahiran Jember. Ayahnya orang Jawa Timur tulen yang berprofesi sebagai prajurit TNI. Ketika bertugas di Ambon, ayahnya menikah dengan gadis setempat. Masa kecilnya banyak dihabiskan di Jawa. Namun karena sering berkunjung ke tanah kelahiran sang ibu, Pak Budi mulai akrab dengan kehidupan di bumi Maluku. Bahkan ia terpikat dengan seorang gadis lokal, Patma Romasoreng yang rupanya berasal dari Sawai.

Setelah menikah pria paruh baya ini meninggalkan tanah kelahirannya. Kini tiga puluh tahun lebih sudah ia menjadi bagian dari Sawai dan dikaruniai enam orang anak. “Beta bahagia disini. Lebih bahagia daripada di Jawa”, begitu ucapnya singkat yang membuat saya tambah penasaran dengan Sawai. Saya berusaha menahan geli mendengar kata-katanya yang berdialek campuran Jawa-Ambon itu. Terdengar lucu. Sayang obrolan kami tak berlangsung lama karena ia harus kembali. “Kalau ronda-ronda (jalan-jalan) ke kampung ose mampir ke beta punya rumah ya, toko yang paling dekat dengan Lisar. Nanti beta kasih cerita tentang Sawai sambil icip-icip dodol durian buatan sendiri”. Wah, sungguh undangan yang menarik apalagi dengan iming-imingnya. Sebagai pecinta durian saya tak boleh melewatkannya. Jika kesampaian sepertinya akan menjadi obrolan yang cukup lama.

Matahari mulai condong ke barat. Masih ada beberapa tempat yang akan dikunjungi. Namun sebuah insiden terjadi, seorang teman terkena bulu babi. Kami pun kembali lebih cepat. Sementara teman yang terkena bulu babi beristirahat di penginapan, saya dan teman-temanyang lain memutuskan untuk melakukan treking ke sebuah tebing tak jauh dari Sawai. Warga sekitar menyebut tempat ini Tebing Hatukaitiit. Satu jam menanjak jalan sempit berbatu dan akhirnya kami sampai di puncak tebing. Aduhai, indahnya imaji disini. Dari tempat ini saya bisa melihat Desa Sawai di sisi kanan dan lautan luas di depan. Itu dia Laut Seram Beberapa pulau kecil dan tambak udang juga tampak. Sayup-sayup terdengar suara kapal motor dan anak-anak sedang bermain di laut dangkal di bawah sana. Ada sebuah harmoni terangkai disini. Jika membawa tenda dan perbekalan mungkin saya akan memilih untuk tinggal lebih lama. Beberapa saat kemudian matahari mulai condong ke ufuk barat. Alih-alih menyaksikan fenomena surya tenggelam dari atas sini, kami memilih untuk menyambut malam di Sawai. Kondisi trek dan peralatan kami kurang mendukung untuk menuruni tebing ini ketika gelap.

Setibanya di bawah kami bergegas menuju sebuah bukit kecil di sisi timur. Perlombaan dengan senja sedang berlangsung. Untung kami tiba tepat saatnya. Masih ada waktu bagi saya untuk menyiapkan kamera. Tak lama kemudian langit ujung barat menguning. Atap-atap rumah dan kubah masjid menjadi ornamen tersendiri. Asap kabut tipis yang keluar dari hutan di belakang membuat suasana menjadi semakin syahdu. Perlahan sang surya ditelan lautan. Sesaat kemudian pendaran lembayung melukis cakrawala. Warna biru pekat di atas berpadu dengan oranye di bawah menjadi tontonan penutup. Amboi, manise! Warga Sawai patut bersyukur karena mereka bisa sering menyaksikan pertunjukan alam yang menawan ini.

Pulau Raja
Pemandangan dari atas Tebing Hatukaitiit.

 

Pemandan sore dilihat dari sebuah bukit kecil di sebelah timur Sawai.

 

Esok harinya kami kembali melaut. Selain snorkling ada beberapa obyek yang kami kunjungi seperti gua bawah air Apilima dan Pulau Lusa Olat. Yang disebut terakhir adalah tempat singgah penyu dan obyek rekreasi warga lokal. Seperti hari itu ketika saya bertemu dengan warga Masihulan, tetangga sebelah timur Sawai yang sedang berlatih untuk acara perpisahan mahasiswa KKN dari Universitas Kristen Maluku Indonesia. Sore harinya setelah kembali ke penginapan saya berencana memenuhi undangan Pak Budi. Inilah kesempatan saya untuk mengetahui lebih banyak tentang Sawai. Tak lama berjalan kaki saya melihat Pak Budi berada di teras sebuah rumah yang sekilas tampak sama dengan rumah lainnya yang beratapkan seng. Hanya toko kelontong di bagian depan yang membedakannya dengan rumah di sekitar. Sepertinya Pak Budi sedang sibuk menghitung cengkeh dari warga yang lain. “Silahkan masuk. Sebentar ya beta layani pelanggan dulu”. Tapi saya lebih memilih untuk tetap di luar dan memperhatikan apa yang sedang dilakukannya.

Rupanya Pak Budi sedang mengumpulkan cengkeh basah dari warga yang lain. Tak lama kemudian ia mengajak masuk ke dalam rumah dan mengeluarkan sebuah toples. “Bagaimana, enak tidak?” tanyanya ketika saya masih mengunyah dodol durian yang ia keluarkan dari toplesnya tadi. Tidak terlalu manis, tapi rasa duriannya sangat terasa. “Ah sayang sekali. Nyong datang ke Sawai seng (tidak) tepat waktu. Musim durian su (sudah) selesai. Katong (kita) disini bisa buat pesta durian sampai mabok. Seng dapat apa-apa kecuali baunya saja tho. Hahaha…” seru Pak Budi masih dengan logat campurannya itu. Musim durian baru saja berakhir sebulan yang lalu. Banyak warga Sawai yang bercocok tanam buah durian. Ketika panen tiba, durian melimpah dan harganya sangat murah. Jika membeli langsung di Sawai harganya hanya lima ribu rupiah saja per buah. Sangat bertolak belakang dengan berbagai kebutuhan lain yang harganya lumayan mahal. Durian menjadi topik pembuka obrolan ringan kami.

Suasana pagi ketika warga mulai beraktifitas.
Vitamin mata di Pulau Lusa Olat
Warga lokal sedang berekreasi di Pulau Lusa Olat.

 

Secangkir teh dan dodol durian tersaji di meja. Sambil mengobrol Pak Budi sesekali melayani pelanggan tokonya. Ada dua jenis komoditas utama di Sawai yang dihuni sekitar 300 kepala keluarga ini, tambak udang dan cengkeh. Mayoritas warga Sawai bekerja di tambak udang. Dulu tambak udang ini dimiliki oleh grup Jayanti, salah satu unit usaha yang dipunyai oleh keluarga penguasa orde baru. Kini sudah berpindah tangan ke sebuah perusahaan BUMN. Pak Budi tak tahu sudah berapa lama tambak udang ini hadir di Sawai. Yang jelas usianya hampir sama dengan Sawai dan desa-desa di sekitarnya. Penghasilan yang didapat juga lumayan. Saat ini seorang lulusan SMA bisa mendapat empat juta rupiah per bulan, lima juta bahkan jika ditambah lembur. Tak heran banyak generasi muda Sawai yang tergiur mengikuti jejak orang tua mereka. Sedikit saja yang meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Perusahaan tambak udang juga yang selama ini menanggung urusan listrik desa. Pak Budi bertutur bahwa genset desa adalah pemberian perusahaan. Tak terhitung berapa kali perusahaan mengganti genset desa karena rusak. Mereka juga lah yang menanggung ongkos solarnya yang mencapai enam puluh juta rupiah tiap bulan. “Pokoknya kalau ada apa-apa, katong tinggal telepon dorang (dia)”. Agak aneh rasanya. Di satu sisi saya melihat ini sebagai salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap tempat tinggal pekerjanya. Tapi di sisi lain bisa jadi warga Sawai telah terbuai oleh zona nyaman yang diberikan oleh perusahaan.

Pak Budi sendiri juga pernah bekerja di tambak udang. Sekitar tahun 90-an ia memilih berhenti dan fokus mengurus cengkeh. Ya, tanaman yang berbau khas ini adalah nafas kedua di Sawai. Warga menanam cengkeh di belakang desa jadi satu dengan area hutan. Namun lahan utamanya ada di sebuah bukit di sisi timur tak jauh dari Sawai. Mereka menyebut tempat itu Gunung Mas. Saat ini musim panen baru saja tiba. Tak heran beberapa warga sudah mulai menjemur cengkeh di depan rumah. Puncak panen akan terjadi di bulan Agustus nanti. Saat itu desa ini menjadi lautan cengkeh. Halaman, jalan, lapangan dan semua tempat lapang berubah fungsi menjadi tempat menjemur cengkeh. Desa kecil ini sontak menjadi ramai akan pedagang yang datang dari berbagai daerah di Maluku dengan membawa truk atau mobil bak terbuka. Ramai di darat, ramai juga di laut. Setiap hari selalu ada kapal yang bersandar ke Sawai. Kebanyakan adalah pedagang yang berasal dari Makassar dan Surabaya. Cengkeh itu dijual dengan harga enam ribu rupiah untuk satu cupa (kaleng susu), atau seratus ribu rupiah per kilogram. Banyak orang kaya mendadak saat itu. Tiap musim panen usai setidaknya ada lima warga yang mendaftar naik haji atau umroh, tutur Pak Budi. Sayang tak banyak warga Sawai yang bisa mengelola keuangannya dengan baik. Uang hasil panen dengan cepat menguap. Itulah alasan Pak Budi memilih untuk meninggalkan pekerjaan di tambak udang dan memilih fokus mengurus cengkeh. Uang dari cengkeh ia investasikan menjadi usaha lain yaitu toko kelontong.

Penasaran dengan ucapannya saat bertemu di Pulau Raja, saya pun menanyakan apa maksudnya dengan lebih bahagia daripada di Jawa. “Ose rasa sendiri tho. Disini tenang dan damai. Seng banyak masalah. Mengalir saja seperti air. Di jawa ada saja yang bikin pusing”, ujarnya. Kalaupun ada ribut-ribut mungkin hanya ketika pemilihan kepala desa. Pak Budi menjelaskan, banyaknya pernikahan sesama warga Sawai adalah salah satu faktor utama terciptanya kerukunan antar warga. Sehingga jika ada masalah akan lebih mudah diselesaikan secara kekeluargaan. Lokasi Sawai yang terpencil secara tidak langsung juga menjadi semacam penyaring dari berbagai efek negatif kehidupan modern yang banyak melanda kota besar.

Budi Prayitno, salah satu warga Sawai yang mencari nafkah sebagai pengepul cengkeh.

 

Satu cupa
Di puncak musim panen cengkeh nanti jalan di Sawai seperti ini akan berubah menjadi tempat menjemur cengkeh.

 

Pemilik Lisar Bahari, Pak Ali ternyata memiliki pengaruh positif, lanjut Pak Budi. Ia mengaku banyak mengetahui tentangnya karena yang bersangkutan sering datang ke toko dan berbincang. Sejauh ini Lisar Bahari banyak memberi dampak positif bagi warga sekitar terutama dalam hal ekonomi. Berbagai kebutuhan penginapan banyak dicukupi dari dalam desa sendiri. Yang menarik, pria pemilik penangkaran burung yang bekerja sama dengan pihak taman nasional ini memilih untuk menyebarkan pemenuhan logisitik dari beberapa warung lokal. Dengan tidak bersumber dari satu tempat saja Pak Ali telah menciptakan pemerataan ekonomi di Sawai. “Kalau dorang mau, dorang bisa saja belanja semua barang disini karena beta punya warung paling dekat dengan penginapan, tho. Tapi dorang seng lakukan”, tutur Pak Budi. Selain itu walau tidak sering terjadi tapi ketika ada masalah yang tidak bisa diselesaikan sendiri oleh warga Sawai, Pak Ali tak segan ikut turun tangan. Ini berkaitan dengan relasinya yang luas berkat tamu penginapannya yang beragam latar belakang. Seperti yang terjadi di tahun 1999 ketika kerusuhan Ambon meletus. Pak Budi bercerita bahwa saat itu Pak Ali menghubungi ‘seseorang’ di Ambon dan besoknya satu truk polisi datang untuk berjaga-jaga walaupun untungnya di Sawai tidak ikut tersulut kerusuhan.

Malam semakin larut. Obrolan kami berakhir ketika Pak Budi menerima tamu seorang tukang pijat yang dipanggil oleh sang tuan rumah. Perut saya juga sudah tak bisa diajak berkompromi. Esok hari kami sudah meninggalkan Sawai ketika matahari belum lama keluar dari peraduan. Untuk terakhir kalinya saya merekam imaji lanskap Sawai dengan manusianya yang ramah itu, di dalam kamera dan ingatan saya. Perlahan roda empat menyusuri jalan desa yang sempit itu dan terasa semakin sempit ketika makin banyak cengkeh yang dijemur. Berbagai hal sekilas tampak seperti kekurangan bagi perspektif orang perkotaan seperti saya, keterpencilan, listrik yang tidak memadai, dan mimpi-mimpi yang tak setinggi langit. Tapi pada akhirnya saya bisa melihat sisi lain yang berkemilau. Bersama alam dan lingkungan, sisi itu membentuk sebuah harmoni. Dan sekali lagi perjalanan panjang nan berliku akan kami lalui. Tapi semua itu terasa sepadan karena saya telah membawa oleh-oleh yang sangat berharga, sebuah cara pandang yang baru.

***

Artikel ini telah dipublikasikan di majalah National Geographic Traveler Indonesia vol 7 no 8 (Agustus 2015)

6 Comment

  1. Mantaaapppp!

    Tulisannya detail banget, deskriptif dan kaya informasi. Foto-fotonya juga memikat, dimuat di NatGeo Traveler juga. Saluut Mas 🙂

    1. aansmile says: Reply

      masih banyak info yg blm termut sebenarnya. tapi demi kejar setoran ya gimana lagi. ho2…

  2. Evi says: Reply

    Ngiri membaca dan memandang fotonya yang indah. Aku sdh me,baca yg versi cetak juga 🙂

    1. aansmile says: Reply

      ngiri juga sama mbak evi yang udah kemenong2. ho2…

  3. Esti says: Reply

    Boleh tau kontak untuk menginap di Lisar Bahari?

    1. Halo Esti,
      Wah maaf sayangnya saya kehilangan kontak disana karena HP sempet eror

What's on your mind