Lawatan Ke Bumi Pandhalungan (bag. 1)

Lawatan Ke Bumi Pandhalungan (bag. 1)

Saya tengah berkelebat di daerah Sumuran sambil mencuplik kenangan setahun silam. Kala itu di lokasi yang sama bau wangi memenuhi relung hidung dan memaksa saya melambatkan laju roda dua demi menikmatinya lebih lama. Semerbak tersebut berhulu dari deretan gudang pengeringan daun tembakau yang berjajar di sepanjang jalan. Tak sulit menemukan bangunan besar memanjang yang terbuat dari bambu dan kayu itu di pinggiran Jember. Nampak pula iringan truk dan mobil bak terbuka hilir mudik keluar masuk area gudang pengeringan. Hingar.

Eduwisata Kopi dan Kakao Di CCSTP Puslitkoka

Eduwisata Kopi dan Kakao Di CCSTP Puslitkoka

Area perkebunan karet yang rimbun langsung menyapa. Tak lama deretan rapi pohon mahoni di sepanjang jalan tak luput menyambut. Seketika udara sejuk merasuk mengusir hawa panas khas daerah dataran rendah. Tempat ini berada sekitar 20 kilometer barat daya dari pusat kota dapat digapai setelah berkendara selama kurang lebih empat puluh lima menit. Berada di tengah alam pedesaan, destinasi ini menarik bagi pengunjung yang sekedar ingin merasakan udara segar atau dengan tujuan lebih serius sesuai namanya. Coffee and Cacao Science Techno Park (CCSTP), lebih dikenal dengan instansi penaungnya Puslitkoka alias Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, menjadi daftar tujuan rekreasi baru di wilayah Kabupaten Jember tepatnya Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji.

Gula Dan Kenangannya Yang Tak Lagi Manis

Gula Dan Kenangannya Yang Tak Lagi Manis

Sangat mudah menemukannya. Terbaring di tepi akses utama antara kota Solo dan Yogyakarta tepatnya Jalan Raya Yogya-Solo Km 25, Klaten, setiap orang yang berkendara antar dua kota tersebut pasti melewati. Banyak yang menyebutnya museum gula Gondang karena berada satu komplek dengan Pabrik Gula Gondang Baru yang dulu bernama Gondang Winangoen. Suiker fabriek yang dibangun tahun 1860 ini sendiri masih berproduksi walau terengah-engah.

Mengecap Perjuangan Senyap Sang Republik

Mengecap Perjuangan Senyap Sang Republik

Bisa dimaklumi jika nama Roebiono Kertopati terdengar asing sebagai pelaku sejarah perjuangan nasional. Gaungnya tenggelam oleh riuh nama tokoh-tokoh kondang yang sosoknya abadi dalam buku sejarah maupun nama jalan seperti Soekarno, Hatta, Soedirman, Gatot Subroto dan lain-lain. Bahkan jika dibanding seperti Tan Malaka, Aidit, Muso, Kartosuwiryo yang masih terdengar lebih familiar terlepas dari percikan kontroversi kalau tak mau dibilang antagonis.

The Down Syndrome Diary (Jalan Panjang Si Istimewa)

The Down Syndrome Diary (Jalan Panjang Si Istimewa)

The genetic disorder found by Dr. John Langdon Down in 1866 for moms is like a knocked out hit. This thunderstorm in the sunny day happened to an Indonesian Triana Puji Astuti, or Nana, as she gave birth to Naura Elvira Putri in November 2013. The heartbreaking news stroke her just a week later as the doctor said her second daughter carrying Down Syndrome. There are several conditions leads to a high risk of the abnormality one of which is women who in labor at early or later age. Nana had the event by the age of 42. Indonesia alone in 2010 according to Ministry of Social Affairs had around 7 million disabled people and 300,000 of them is living with Down Syndrome.

Membaca (di) Bandung

Membaca (di) Bandung

Sang Ilahi menurunkan wahyu pertama, dalam agama Islam, berupa perintah untuk membaca. Sebuah tengara nyata bahwa literasi adalah laku maha penting bagi manusia untuk membangun peradaban. Sayangnya Indonesia masih tertinggal dalam perkara ini. Dan diyakini rendahnya minat baca menjadi salah satu faktor utama penyebab si negara beribu pulau tertinggal oleh kereta kemajuan global. Sudah banyak angka menyajikan ironi. Salah satunya data yang dirilis oleh PBB pada tahun 2015 melalui UNESCO mengungkap bahwa presentase minat baca Indonesia di kisaran 0.01 persen, terendah di antara para tetangga ASEAN.

The Agony of Bekonang (Nyawa Meregang Bekonang)

The Agony of Bekonang (Nyawa Meregang Bekonang)

It’s a common sight to find drums and firewood pile in front of a house. Those are mark of home industries of alcohol ran by the house owner. Bekonang, a small village in Mojolaban district, Sukoharjo regency, Central Java, Indonesia, is an old legend for generations to liquor lovers especially in Central Java and beyond thanks to its ciu (local liquor). It is a bold statement from the residents of Bekonang, one of them is Mujiman, 68, an alcohol producer titled Ngudi Rejeki.