Meretas Konflik Melalui Seni di Biennale Jogja

“Mengingatkan saja, sih. Orang yang merestuinya jadi capres adalah orang yang sama yang dulu memutuskan duet dengan yang kalian sebut penjahat hak asasi manusia”

Begitu rangkaian kata yang tertulis di sebuah lukisan besar karya Arwin Hidayat yang terpajang di salah satu ruang pamer. Lukisan itu menggambarkan sosok pria memegang bunga yang dengan mudah ditebak adalah perwujudan presiden Indonesia saat ini. Masih di ruang yang sama, beberapa orang nampak khusyuk membaca buku yang berisi kumpulan ekspresi media sosial sang empunya tulisan pada lukisan tadi, Puthut EA, yang terkenal sebagai orang penting dibalik situs mojok.co. Buku tersebut akan membuat pembacanya tersenyum kecil, tertawa, namun di saat lain sedih, miris, atau marah. Sesekali lembaran buku tersebut di selingi oleh karya Agan Harahap yang terkenal dengan foto olah digitalnya yang mengundang tawa.

Sementara di area lain komunitas Ketjilbergerak menyuguhkan seni instalasi yang mengkritisi semakin minimnya ruang publik di perkotaan. Komunitas ini memanfaatkan scaffolding atau perancah sebagai bagian dari karya mereka. Di salah satu perancah juga terpasang spanduk bertuliskan “Mohon doa restu di sini akan dibangun taman tiban”. Tulisan semacam ini dan perancah adalah dua hal yang umum dijumpai di lokasi pembangunan sebuah bangunan atau gedung. Namun mereka dengan cerdas menggunakan dua media ini untuk melawan balik kondisi perkotaan melalui sindiran.

Lukisan wajah beberapa tokoh seni Indonesia dan Nigeria.
Beberapa poster film Nigeria
Penampilan Senyawa di panggung pembukaan Biennale Jogja XIII.

Itulah sedikit cuplikan suasana acara seni Jogja Biennale XIII yang berlangsung di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Pagelaran internasional ini berlangsung dari tanggal 1 November sampai 10 Desember 2015 dan mengkolaborasikan seniman Indonesia dengan negara lain. Kali ini 11 seniman Nigeria berkesempatan untuk menunjukkan karya mereka bersama 23 seniman Indonesia. Nigeria dipilih karena memiliki kesamaan dengan Indonesia sebagai negara berkembang yang masih sering muncul konflik atau pertentangan baik horizontal maupun vertikal. Demi menghasilkan karya yang maksimal, beberapa seniman benua Afrika yang dikuratori oleh Judo Anogwih telah berada di Yogyakarta beberapa bulan sebelum pameran dimulai.

Dengan mengusung tema “Hacking Conflict”, Biennale Jogja mengajak para seniman kedua negara merespon dinamika sosial yang sedang berlangsung. Dalam hal ini yaitu menyuarakan aspirasi melalui seni sehingga menghasilkan keindahan sekaligus kritik atas fenomena sosial. Pemilik acara, Yayasan Biennale Yogyakarta percaya seni memiliki peran penting dalam mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap keadaan sosial dan politik karena gerakan seni  lebih dapat diterima. Seni memiliki kelebihan dalam membangun aksi atau karya yang tidak frontal namun bernilai artistik dan sarat pesan. Di sisi lain seni juga memiliki fitur untuk mampu memandang pertentangan bukan sebagai melulu hal negatif tapi sebagai sumber inspirasi bagi kreativitas.

Karya Anang Saptoto dan Arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) di Perumahan Sempu, Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.
Ruang pamer Paduan Suara Dialita
Pengunjung menikmati seni instalasi-video karya Anggun Priambodo berjudul “Voice of Equator”
Punkasila menampilkan musik tak biasa dengan media mesin kendaraan bermotor yang dimodifikasi di panggung pembukaan Biennale Jogja XIII.

Karena menjadikan konflik sosial sebagai bahan utamanya, Biennale Jogja berusaha memudahkan masyarakat untuk bisa menikmati karya-karya yang ditampilkan. Selain menggratiskan biaya masuk, beberapa rangkaian kegiatan Biennale Jogja juga diselenggarakan di beberapa tempat selain di JNM. Beberapa lokasi bahkan mengambil ruang kosong atau tanah tak terurus di tengah-tengah Kota Yogyakarta. Bermacam seminar, pelatihan dan pertunjukan seni juga diadakan untuk lebih mendekatkan seni pada masyarakat.

Salah satunya di acara pembukaan yang menampilkan pertunjukan seni yang nyeleneh. Ambil contoh grup musik duo Senyawa yang menampikan musik eksperimental. Bagaimana Wukir Suryadi, salah satu pendiri Senyawa menciptakan alat musik berbahan dasar bambu namun berfungsi seperti gitar eletrik dengan suara yang meraung-raung. Lalu ada paduan suara Dialita (Di Atas 50 Tahun) yang berisi ibu-ibu paruh baya menyanyikan sejumlah lagu patriotik yang kurang familiar namun sebenarnya sangat populer di masa lalu. Sebut saja “Asia Afrika Bersatu”, “Padi Untuk India” dan “Viva Ganefo”. Bukan hanya lagunya saja yang menarik perhatian tapi juga para anggota choir tersebut yang memiliki latar belakang sebagai penyintas di masa malapetaka politik tahun 1965. Sebuah musik yang bukan hanya enak untuk dinikmati namun juga sebagai pengingat bagi generasi sekarang agar tak melupakan masa lalu.

Pengunjung berinteraksi dengan karya Agung Leak, Ayu Arista Murti, dan Eko Nugroho.
“The Wealth of Nations” karya Victor Ehikhamenor.
Lukisan karya Arwin Hidayat
“Al-Ikhlas : The Purity/The Refining” karya Aderemi Adegbite.

Usaha Biennale Jogja untuk lebih melibatkan pengunjung juga dibuktikan dengan menghadirkan karya interaktif yang memungkinkan audiens untuk melakukan interaksi dua arah. Beberapa contoh yaitu karya milik Agung Leak, Ayu Arista Murti, dan Eko Nugroho. Ketiganya mengkreasikan seni instalasi yang justru menuntut pengunjung untuk melakukan kontak fisik dengan karya agar memunculkan beraneka suara. Ini adalah salah satu bentuk breaking the rules terhadap aturan yang umunya hadir di pameran seni yaitu larangan untuk menyentuh karya.

Tak sekedar menyindir atau mengkritik, sebagian karya dihadirkan pembuatnya untuk menunjukkan deskripsi aksi-solusi yang telah dilakukan dalam menghadapi problem yang terjadi di lingkungan sekitar. Simak apa yang dikerjakan Anak Wayang Indonesia (AWI) meretas konflik di kampung Mergangsan Kidul, Yogyakarta, tempat asal komunitas ini dengan sebuah karya berjudul “Kampung Semanak”. Bagaimana AWI menawarkan kegiatan artistik pada lingkungan sosial mereka yang saat itu dirasa kaku, individualistis, statis, dan suram menjadi kampung yang semanak alias bahagia. Ada juga Sanggar Senin RnB dan Komunitas Titik Lenyap dengan karya “Berguru Pada Batu” yang melawan eksploitasi alam dalam bentuk penambangan bukit batu di lingkungan mereka Desa Bedoyo, Ponjong, Gunungkidul. Alih-alih melakukan konfrontasi langsung seperti yang sedang ramai terjadi di kawasan lain dengan kemiripan problematika, mereka melakukan perlawanan melalui gerakan seni seperti menggambar bukit dengan mural raksasa, membuat “monumen harapan”, dan berbagai kegiatan lainnya yang justru mengambil lokasi di area bekas penambangan yang sudah tak produktif. Bahkan RnB & Titik Lenyap juga menginisiasi batik motif tambang yang perlahan menawarkan nafas ekonomi baru.

“I Learnt This” karya Amarachi Okafor.
“Taman Tiban” karya Ketjilbergerak.
“Buku dan Teks Lain” karya Dodo Hartoko berkolaborasi dengan Puthut EA, Arwin Hidayat, Agan Harahap dan Mojok.co.

Nigeria, bagaimana dengan seniman Afrika ini? Mari menyimak beberapa. Amarachi Okafor dengan media instalasi kanvas interaktifnya berjudul “I Learnt This” menawarkan “gangguan” bagi audiens. Berapa jam dalam sehari kamu memegang gadget? Apakah kamu lebih suka menjadi orang kulit putih? Apakah kamu bisa mempercayai orang walau ia telah membuat kesalahan? Dan masih banyak pertanyaan mengusik tertuang dalam media kanvas yang mengajak pengunjung melakukan refleksi. Sementara itu Victor Ehikhamenor dengan karya “The Wealth of Nations”, menampilkan instalasi drum minyak sebagai media utamanya. Pada tahun 1998 Indonesia dan Nigeria memulai babak baru dengan tersingkirnya pucuk rezim penguasa saat itu. Suharto lengser dan Presiden Sani Abacha meninggal akibat serangan jantung. Drum minyak adalah simbol komoditas sekaligus kekayaan alam utama yang ironisnya dianggap belum mampu menyejahterakan  penduduk kedua negara tersebut.

Biennale Jogja memiliki sejarah panjang dalam menghadirkan pagelaran seni sebagai media untuk menampilkan ekspresi jiwa secara apa adanya. Tak melulu yang sedap dipandang tapi kritis terhadap problematika manusia secara horisontal maupun vertikal. Masyarakat Yogyakarta bisa dikatakan beruntung karena sangat dimanjakan dengan begitu maraknya kegiatan seni budaya di kota ini.  Seni sebagai media olah jiwa dan rasa adalah pelajaran penting untuk membangun karakter manusia. Oleh karena itu seni harus mendapat porsi lebih dalam kehidupan sehari-hari terutama melalui pendidikan. Belajar olahraga bukan berarti untuk menjadi seorang atlet namun agar badan sehat. Demikian juga belajar seni bukan berarti untuk menjadi seorang seniman tapi agar jiwa dan rasanya sehat. Semoga dengan semakin ramainya kegiatan seni budaya bukan hanya bersifat hiburan tapi sekaligus mendidik kualitas mental manusia Yogyakarta khususnya dan Indonesia umumnya.

5 Comment

  1. Nice review mas.
    Cuma sayang saya telat ngertinya, pas udah abis acaranya baru ngerti..hehehehe.

    1. salam kenal mas yogi.
      lho acaranya masih berlangsung sampai 10 des kok

      1. Walah, iya deng.
        Kemaren kirain sampe 10 November, salah baca. 🙂

  2. Datang ke tempat ini seperti menggelitik pemikiran kritis tentang problematika sosial budaya yah. Semoga bisa terus konsisten acaranya 🙂

    Cheers,
    Dee – heydeerahma.com

    1. Betul. Sejauh ini masih konsisten dan semoga terus begitu.

What's on your mind