Lawatan Ke Bumi Pandhalungan (bag. 2)

 Sebelumnya di bagian 1

Suatu malam saya menyambangi salah satu hajatan seni di Desa Tanjungrejo. Pertunjukan ludruk tengah berlangsung namun tak seperti ludruk khas Jawa Timur umumnya.  Beberapa yang mencolok yaitu dendang dimainkan memakai dua jenis alat musik gamelan Jawa dan thong-thong ala Madura. Keduanya menelurkan musik yang lebih rancak. Belum lagi penggunaan dua bahasa Jawa dan Madura. Tiba-tiba saya menapak tilas kenangan saat pertama kali melawat ke kabupaten tapal kuda ini beberapa tahun silam. Kala itu saya pikir kota tembakau ini sama seperti daerah lain di Jawa Timur yang didominasi suku Jawa. Maka saya begitu terperangah saat bersua begitu banyak orang Madura di Jember.

Lawatan Ke Bumi Pandhalungan (bag. 1)

Lawatan Ke Bumi Pandhalungan (bag. 1)

Saya tengah berkelebat di daerah Sumuran sambil mencuplik kenangan setahun silam. Kala itu di lokasi yang sama bau wangi memenuhi relung hidung dan memaksa saya melambatkan laju roda dua demi menikmatinya lebih lama. Semerbak tersebut berhulu dari deretan gudang pengeringan daun tembakau yang berjajar di sepanjang jalan. Tak sulit menemukan bangunan besar memanjang yang terbuat dari bambu dan kayu itu di pinggiran Jember. Nampak pula iringan truk dan mobil bak terbuka hilir mudik keluar masuk area gudang pengeringan. Hingar.

Demi Jalan Sunyi Si Istimewa

Demi Jalan Sunyi Si Istimewa

Tengah siang baru saja lewat saat Citra Dewi Kasyanti tengah memakaikan sepatu pada sang buah hati, Rizki Charlie. Itu bukan sepatu biasa melainkan sepatu yang dirancang khusus untuk menopang kaki. Rizki baru saja mengalami hari yang melelahkan sedari pagi. Selama beberapa jam bocah 5 tahun tersebut harus menjalani beberapa terapi untuk melatih kemampuan fisiknya. Kebetulan hari ini ia mendapatkan sesi Terapi Okupasi. Rizki adalah salah satu pasien Griya Bunda Novy, sebuah klinik fisioterapi bagi anak berkebutuhan khusus yang berada di Yogyakarta.

The Down Syndrome Diary (Jalan Panjang Si Istimewa)

The Down Syndrome Diary (Jalan Panjang Si Istimewa)

The genetic disorder found by Dr. John Langdon Down in 1866 for moms is like a knocked out hit. This thunderstorm in the sunny day happened to an Indonesian Triana Puji Astuti, or Nana, as she gave birth to Naura Elvira Putri in November 2013. The heartbreaking news stroke her just a week later as the doctor said her second daughter carrying Down Syndrome. There are several conditions leads to a high risk of the abnormality one of which is women who in labor at early or later age. Nana had the event by the age of 42. Indonesia alone in 2010 according to Ministry of Social Affairs had around 7 million disabled people and 300,000 of them is living with Down Syndrome.

The Agony of Bekonang (Nyawa Meregang Bekonang)

The Agony of Bekonang (Nyawa Meregang Bekonang)

It’s a common sight to find drums and firewood pile in front of a house. Those are mark of home industries of alcohol ran by the house owner. Bekonang, a small village in Mojolaban district, Sukoharjo regency, Central Java, Indonesia, is an old legend for generations to liquor lovers especially in Central Java and beyond thanks to its ciu (local liquor). It is a bold statement from the residents of Bekonang, one of them is Mujiman, 68, an alcohol producer titled Ngudi Rejeki.

Bandung Street Fighter (Pejuang Jalanan Bandung)

Bandung Street Fighter (Pejuang Jalanan Bandung)

Bandung, the West Java capital is a communal area and popular destination at a  time. It has hectic street just like other big cities. Almost no time for calmness. Hard, dusty and noisy. It is a melting pot which leads to high risk of conflict. Yet it offers living for those who made a try, the strong who dear to face the risk of working on the street. Messy weather and the ruthlessness of street are classic problem that always set to say hello at the most unexpected times. Street is no place for the faint-hearted. Here are some of the Bandung street fighters