Museum Multatuli, Dari Lebak Untuk Dunia

Rumah yang dibangun tahun 1923 tersebut terletak persis di muka Alun-Alun Rangkasbitung, Lebak, Banten. Pepohonan rindang di halaman depan membuat siapa pun betah duduk berlama-lama terutama kala panas siang menyengat. Bangunan kolonial sekaligus cagar budaya itu sesungguhnya adalah bekas tempat tinggal Wedana Rangkasbitung yang kini beralih fungsi menjadi Museum Multatuli.Walau sudah sepuh namun sentuhan ulang membuatnya terlihat anyar dan cantik, serasi dengan suasana sejuk di halamannya. Museum tersebut akhirnya dibuka untuk umum setelah diresmikan pada 11 Februari 2018 oleh Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan Nasional Hilmar Farid.

Multatuli (latin : aku telah banyak menderita) adalah nama samaran Edward Douwes Dekker yang menulis novel berjudul Max Havelaar. Douwes Dekker sendiri adalah seorang warga Belanda yang pernah menjabat sebagai Asisten Residen di Lebak pada tahun 1856. Di sinilah ia menyaksikan penderitaan warga lokal hasil penjajahan bangsanya sendiri maupun pejabat pribumi. Ia lantas melaporkan hal itu kepada beberapa atasan termasuk Gubernur Jendral Duymaer van Twist. Sayang, ia justru dipecat. Tak sampai setahun Dekker menjalankan tugasnya sebelum dipindah ke Ngawi, Jawa Timur dan akhirnya memilih balik ke Belanda.

Di negeri asalnya, apa yang Dekker lihat di Lebak walau singkat membuatnya semakin gelisah. Ia merasa perlu mengungkapkannya. Selain mengirim surat langsung kepada penguasa Belanda Raja Willem III, ia menulis Max Havelaar, narasi yang kelak bukan hanya menjadi roman sejarah namun gugatan sosial. Lambat tapi pasti, bola salju yang digelindingkan Dekker makin membesar. Max Havelaar menginspirasi sejumlah warga Belanda lainnya untuk menyuarakan protes. Mungkin yang paling terkenal yaitu Theodore Van Deventer dengan tulisannya “Een Eerschuld” (utang budi). Van Deventer menilai bangsanya berhutang pada rakyat jajahan yang berkorban demi kemakmuran Belanda.

tampak depan museum multatuli
Berada tepat di depan Alun-Alun Rangkasbitung, Museum Multatuli menawarkan suasana sejuk yang membuat betah.
Pendopo di bagian depan yang luas menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan.
Bergaya arsitektur unik, Perpustakaan Saidjah Adinda berada di samping Museum Multatuli dan sekilas justru lebih menarik perhatian.
Dua patung ini tidak dibuat seperti karya seni umumnya yang tak boleh disentuh, pengunjung bisa duduk dan berfoto bersama dua tokoh penting di dalam Multatuli.

Baca juga: Mengecap Perjuangan Senyap Sang Republik Di Museum Sandi

Bersama tulisan sejenis, “Een Eerschuld” menjadi awal kebijakan politik etis yang mulai dijalankan pada 1901 oleh Ratu Wilhelmina. Kebijakan tersebut pada intinya merupakan balas budi pada warga jajahan Hindia Belanda. Politik etis secara umum dibagi tiga bidang; pengairan, pendidikan dan pemerataan penduduk. Kebijakan ini menghasilkan golongan baru yang berpendidikan dalam masyarakat Hindia Belanda dan kelak membangkitkan semangat kemerdekaan. Secara singkat bisa dibilang Max Havelaar adalah pembuka mata tentang kekejaman penjajahan.

Kembali ke museum, dua patung karya Dolorosa Sinaga di halaman depan langsung mencuri perhatian pengunjung. Mereka adalah perwujudan sosok Douwes Dekker itu sendiri dan Saijah, salah satu tokoh dalam Max Havelaar. Untuk fasad bangunannya berbentuk T dengan pendopo di bagian depan yang sering dipakai sebagai tempat berkegiatan. Di sisi dalam desain interior yang modern dilengkapi dengan pencahayaan yang cantik memberi kesan perkawinan masa lalu dan kini. Yang paling menarik adalah pemakaian ilustrasi grafis dan multimedia sebagai kemasan pembungkus cerita sejarah. Selain memberi kesan kekinian juga menjadi daya tarik bagi generasi muda. Terlihat sekali Museum Multatuli ingin membuang jauh citra museum di Indonesia yang kuno, suram dan membosankan.

Di tempat publik ini terdapat tujuh ruang pamer yang masing-masing mewakili periode sejarah kolonialisme di Indonesia dan Lebak khususnya. Langsung menyapa di ruangan pertama sekaligus lobi, hiasan kaca wajah Douwes Dekker dan kutipannya yang terkenal itu, “Tugas Seorang Manusia Adalah Menjadi Manusia”, seolah mengingatkan hakikat kemanusiaan yang masih relevan hingga sekarang. Di ruang selanjutnya, video masa awal kedatangan bangsa Eropa di Nusantara menjadi sajian utama. Dilengkapi juga dengan miniatur salah satu kapal ekspedisi VOC yang pertama kali mendarat di nusantara pada abad 17.

Wajah Douwes Dekker dan kutipannya yang terkenal itu menyapa di lobi museum.
Miniatur kapal ekspedisi Belanda yang pertama kali mendarat di Nusantara menghiasi ruangan kedua.
Kopi mendapatkan tempat khusus di Museum Multatuli karena merupakan komoditas pertama yang banyak dibudidayakan dalam tanam paksa di Banten.
Pengunjung melihat-lihat salah satu ruangan yang dipenuhi suara penyair WS Rendra membacakan sajak-sajak “Demi Orang Rangkasbitung”
Pola-pola batik Banten turut menjadi koleksi pajangan di salah satu ruangan Museum Multatuli.
Ubin asli dari rumah Douwes Dekker dalam satu etalase dengan buku Max Havelaar versi Bahasa Be;anda dan Prancis.

Baca juga : Museum Gula Dan Kenangannya Yang Tak Lagi Manis

Ruangan ketiga banyak bertutur tentang era tanam paksa. Biji kopi dan alat pengolah tradisionalnya turut menjadi pajangan karena komoditas ini yang pertama kali menjadi fokus tanam paksa khususnya di Banten. Ruangan berikutnya memajang beberapa foto tokoh nasional seperti Soekarno dan Pramoedya Ananta Toer beserta tanggapan mereka terhadap Multatuli. Yang menarik di ruangan ini adalah surat Douwes Dekker kepada Raja Willem III tentang keadaan warga jajahannya di Hindia Belanda. Sebaris kalimat kutipan surat tersebut ditulis di samping lukisan sang penguasa Belanda; “Kepada Anda saya bertanya penuh keyakinan: Apakah Kerajaan Anda ingin membuat lebih dari tiga puluh juta rakyat di Hindia Timur ditindas dan dihisap atas nama Anda?”

Warna merah mendominasi di ruangan kelima. Di sini mengisahkan perlawanan rakyat Banten dan Indonesia melawan penjajahan Belanda. Lalu di ruang berikutnya menceritakan urutan peristiwa sejarah di Banten sejak masa purbakala. Replika prasasti batu yang dipajang melengkapi informasi histori tersebut. Lalu di ruangan terakhir, menyajikan representasi tokoh-tokoh yang terkoneksi dengan Lebak. Salah satunya yaitu audio suara penyair Rendra membacakan puisi “Demi Orang Rangkasbitung”.

Ada sejumlah koleksi yang sangat berharga karena merupakan artefak asli dan memiliki nilai sejarah yang penting. Berada di ruang keempat, ubin rumah dinas Douwes Dekker semasa bertugas di Lebak. Ubin tersebut sebelumnya berada di Belanda lalu diserahkan oleh perhimpunan Multatuli Genootschap kepada Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya pada tahun 2016. Ada juga surat Soekarno kepada sahabatnya, Samuel Koperberg yang menjabat sekretaris Java Instituut. Surat itu ditulis semasa sang proklamator menjalani masa pembuangan di Ende, NTT. Masih terdapat beberapa lagi seperti buku Max Havelaar yang diterbitkan dalam Bahasa Prancis pada tahun 1876

Walaupun bernama Multatuli, museum ini bukanlah tentang roman tersebut atau Douwes Dekker. Peran lebih jauh yang ingin disasar yaitu edukasi anti kolonialisme sehingga kejadian serupa tak terulang. Karena itu Museum Multatuli sesungguhnya bukan hanya milik Lebak, Banten atau bahkan Indonesia melainkan dunia terutama negara-negara yang sama-sama mengalami penjajahan. Peran itu membawa kesempatan untuk mengenalkan Lebak dan Banten ke mancanegara yang berujung pada promosi wisata.

Wajah tokoh revolusi Filipina Jose Rizal turut hadir karena Max Havelaar menjadi salah satu inspirasi perjuangannya.
Salinan surat Douwes Dekker kepada Raja Willem III yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi salah satu pajangan.
Ilustrasi grafis menggambarkan perjuangan rakyat Banten dan Indonesia melawan penindasan penjajah menghiasi dinding salah satu ruangan.
Ilustrasi visual periode sejarah di Lebak dan Banten mendominasi salah satu ruangan sisi dalam.

 

Menuju Museum Multatuli.
Walaupun dapat ditempuh dengan jalan darat, hadirnya KRL Commuter Line Jabodetabek sejak 2017 lalu membuat Rangkasbitung, ibukota Lebak menjadi lebih mudah dijangkau. Saat ini kereta komuter tersebut melayani beberapa kali perjalanan PP dari Jakarta tepatnya Stasiun Tanah Abang. Perjalananan menuju Stasiun Rangkasbitung menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam. Museum Multatuli sendiri hanya berjarak sekitar 1,3 km dari Stasiun Rangkasbitung yang dapat ditempuh sekitar 15 menit berjalan kaki. Alternatif lebih cepat bisa menggunakan ojek yang banyak mangkal di depan stasiun atau angkot dengan berjalan kaki dulu ke Jalan Tirtayasa. Selanjutnya pengunjung dapat masuk ke Museum Multatuli secara gratis.

Indonesian-based photographer and story teller
16 comments
  1. Menarik sekali mas reportasenya. Sangat pas dengan rencana saya yang akan singgah ke Rangkasbitung minggu depan.

    Semoga dengan dibukanya akses KRL ke Rangkasbitung, Museum ini jadi lebih ramai disinggahi orang yang ingin belajar sejarah 🙂

    1. Halo, terima kasih telah menikmati. Yes, masa lalu selalu aktual. Salam

  2. I really appreciate your stories. They bring me this confidence that Indonesia is a great nation with a great future, as long as the people can remember and learn from its history.. Keep up the very good work, Sir!

    1. ealah, nganggo email kantor og piye olehe komen. haha2..thank you sir

  3. Menurut saya suasana museum akan lebih terasa ketika tidak terlalu ramai, seperti foto-foto yang disajikan dalam tulisan ini, hehe. Sewaktu saya ke sana saat pembukaan, pengunjung terlalu ramai sampai-sampai tidak sempat menilik apa-apa. Baiklah, mungkin harus ke sana lagi, hehe. Rangkasbitung punya banyak memori hebat yang kesannya belum diekspos dengan baik, padahal menurut saya perubahan di dunia banyak yang bersumber dari kota kecil ini. Yang terbesar tentu Max Havelaar. Syukur juga sudah ada KRL jadi bisa bersering-sering berkunjung ke sana. Hehe…

    Terima kasih atas ulasannya, Mas.

    1. Betul mas. Sepi bisa lebih menikmati. Sayangnya dikau ga bisa ikut kmrn.Semoga ini jadi awal yang cerah buat Banten. Selama ini daerah tersebut banyak dikenal karena hal2 yang kurang menyenangkan.

      1. Mudah-mudahan lain waktu bisa gabung, ya. Iya, saya belum banyak juga mendengar soal Banten. Semoga kehadiran museum ini dapat membawa kontribusi positif.

  4. Apik tulisane pakde. Memang perlu Maltatuli Maltatuli baru di Indonesia. Kalau dulu yg kita lawan kolonialisme, kalau sekarang jelas kapitalisme. Kalau dulu ada buku berjudul Max Havelaar, kalau sekarang ada blog bernama alfianwidi.com. Hehehheu..

    1. pret banget kowe niq

  5. Bisa masuk list ini. Ngga jauh kan yah Rangkasbitung?

    Heem.. masuk museum gratis. Ongkos doangan berarti nih kesananya yah mas?

    1. transport sama ngemil ganteng aja sih paling yang keluar duit

      1. ngemil ganteng…. leh ugha 😀

  6. Semoga dengan adanya museum ini menjadi cambuk buat pejabat daerah di sana untuk lebih mensejahterakan rakyatnya ketimbang diri sendiri.

    1. haha…stigma daerah sana udah terlanjur merekat kuat ya

      1. Yup. Kekuatan dinasti disana terlalu kuat. Pejabatnya berasal dari keluarga yg itu-itu aja

        1. ngeri ya. kasihan warga di sana

What's on your mind