Mengecap Perjuangan Senyap Sang Republik

Bisa dimaklumi jika nama Roebiono Kertopati terdengar asing sebagai pelaku sejarah perjuangan nasional. Gaungnya tenggelam oleh riuh nama tokoh-tokoh kondang yang sosoknya abadi dalam buku sejarah maupun nama jalan seperti Soekarno, Hatta, Soedirman, Gatot Subroto dan lain-lain. Bahkan jika dibanding seperti Tan Malaka, Aidit, Muso, Kartosuwiryo yang masih terdengar lebih familiar terlepas dari percikan kontroversi kalau tak mau dibilang antagonis. Bukan karena sumbangsihnya yang sepele, bukan pula karena ia dinafikkan oleh sejarah. Namun karena jalan pengabdian yang dipilih memang menuntut jalan sunyi. Roebiono yang seorang dokter adalah perintis sistem sandi yang dipakai oleh republik ini sejak masa proklamasi hingga sekarang yang berwujud sebuah organisasi pemerintah bernama Lembaga Sandi Negara. Beruntung instansi tersebut mengabadikan perjuangan sang pionir melalui Museum Sandi sehingga sosoknya masih bisa terendus radar sejarah walau samar.

Museum Sandi berada di pusat Kota Yogyakarta tepatnya Jalan Faridan M. Noto 21, Kotabaru. Ia menempati sebuah bangunan cagar budaya yang dulu pernah menjadi salah satu pusat aktifitas sebuah organisasi telik sandi masa perjuangan kemerdekaan bernama Dinas Kode. Museum ini diresmikan pada tahun 2008 oleh Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Kepala Lembaga Sandi Negara Mayjen TNI Nachrowi Ramli. Saat itu museum tersebut masih berbagi tempat dengan Museum Perjuangan. Baru pada 2014 berpindah ke lokasi baru yang sekarang. Buka setiap hari dari jam 9 sampai 15.30 kecuali Sabtu dan Minggu sampai jam 12 siang.

Museum Sandi, Yogyakarta
Tampak depan Museum Sandi, Yogyakarta.
Museum Sandi, Yogyakarta
Sebelum menikmati, pengunjung diminta untuk menuliskan data diri.
Museum Sandi, Yogyakarta
Diorama Amir Syarifudin (kiri) dan Roebiono Kertopati saat proses pemberian perintah pembentukan Dinas Kode.

Setelah mengisi daftar tamu di lobi, oya berkunjung kesini gratis, pengunjung diarahkan menuju Ruang Introduksi. Disitu diputar video singkat tentang peran Roebiono Kertopati yang mangkat pada 1984 lalu dan kontribusi bidang kriptografi yang ia perankan bagi perjuangan kemerdekaan. Cerita berhulu pada pindahnya status ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta pada Januari 1946. Saat itu para pemimpin republik merancang berbagai strategi untuk menjaga kedaulatan yang masih seumur jagung. Salah satunya melalui Menteri Pertahanan Amir Syarifudin yang menunjuk Roebiono untuk membuat sebuah sistem kriptografi dengan tujuan melindungi berbagai jalur informasi dan komunikasi. Saat itu Roebiono bertugas di Kementerian Pertahanan bagian B (Intelejen) sekaligus merangkap dokter pribadi Ir. Soekarno.

Maka pada April 1946 secara resmi dibentuklah Dinas Kode sebagai badan persandian Republik Indonesia pertama kali. Lembaga tersebut bertugas mengamankan informasi vital negara dan melakukan pemantauan berbagai berita dalam dan luar negeri yang diperlukan oleh Kementrian Pertahanan. Beberapa dalil mengemuka dibalik terpilihnya sang dokter untuk menjalankan amanat tersebut. Selain pernah bertugas sebagai tenaga medis di Palang Merah Internasional, Roebiono juga menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Jerman dan Prancis serta mampu menggunakan kedua tangan dengan sama baiknya. Kecerdasan dan relasi global inilah yang menjadi modal berharga bagi sang dokter untuk berkiprah bagi republik.

Museum Sandi, Yogyakarta
Saat Belanda menguasai Yogyakarta, para petugas Dinas Kode dituntut untuk bekerja lebih keras salah satunya dengan bergerilya.
Museum Sandi, Yogyakarta
Diorama situs Rumah Sandi di Desa Dekso, Kulonprogo.
Museum Sandi, Yogyakarta
Sepeda dan prasarana sederhana yang dipakai petugas Dinas Kode untuk mengemban tanggung jawab.

Peran Dinas Kode sangat terasa ketika Belanda melancarkan dua kali agresi militer yang mengancam keberlangsungan pemerintahan Indonesia. Bahkan pada kesempatan kedua saat menyerang Yogyakarta Belanda menangkap dan mengasingkan beberapa pucuk pimpinan termasuk duo proklamator. Meskipun demikian hubungan R.I dengan dengan dalam maupun luar negeri tetap terjaga bahkan pemerintahan darurat masih bisa dibentuk di Bukittinggi, Sumatra Barat. Dinas Kode juga berperan penting menyiarkan berita tentang Serangan Umum pada 1 Maret 1949 yang menandakan masih berdirinya Indonesia.

Mengikuti alur ruang pamer, tontonan berikutnya antara lain model patung tokoh Amir Syarifudin dan Roebiono Kertopati saat proses pemberian perintah pembentukan Dinas Kode, peta jaringan sandi, buku sandi, rangkaian cerita historikal persandian Indonesia dan diorama replika situs Rumah Sandi yang aslinya berada di Desa Dekso, Kabupaten Kulonprogo, DIY. Situs tersebut berupa rumah yang dulu pernah dipakai oleh Dinas Kode ketika terpaksa menepi saat Yogyakarta dikuasai Belanda melalui Agresi Militer II.

Bagian paling menarik di lantai 1 Museum Sandi berada di Ruang Merdeka dan Ruang Nusantara. Disini terdapat beberapa mesin kriptografi yang memiliki tautan dalam dunia persandian Indonesia baik asli maupun replika. Beberapa bahkan buatan dalam negeri seperti mesin sandi SRE-KG dan SN-101. Sebagian besar memang buatan luar seperti BC-543 (Swedia), AFSAM 7 (A.S), Kryha Standard (Ukraina), HC-520 (Swiss), Cipher 8 (Inggris) dan lain sebagainya. Barangkali yang paling populer karena sering terlihat dalam adegan film yaitu Telegraf dengan Sandi Morse nya buatan Amerika Serikat.

Museum Sandi, Yogyakarta
Dibuat oleh ilmuwan Ukraina Alexander Von Kryha pada 1924, mesin enkripsi ini banyak digunakan pada tahun 1930an sampai 1950an.
Museum Sandi, Yogyakarta
Selain populer berkat film, telegraf juga masih banyak digunakan sampai sekarang secara global.
Museum Sandi, Yogyakarta
Replika radio komunikasi The Wireless Set no 19 MK III yang digunakan pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra.
Museum Sandi, Yogyakarta
SR-64/A, diujicobakan pertama kali pada Konferensi Non Blok di Alger, Aljazair tahun 1965.
Museum Sandi, Yogyakarta
SN-101 merupakan salah satu mesin sandi buatan Indonesia.
Museum Sandi, Yogyakarta
Seragam peserta didik di Sekolah Sandi Negara.

Beringsut ke lantai 2, sesuai namanya di Ruang Tokoh terdapat foto, riwayat dan berbagai memorabilia dr. Roebiono dan beberapa sosok yang pernah menjabat pimpinan Lembaga Sandi Negara. Dinas Kode sendiri yang semula dibawah naungan Kementrian Pertahanan akhirnya menjadi Lemsaneg pada 1972. Selanjutnya di Ruang Edukasi dan Ruang Sandi Global, pengunjung dapat membaca sejarah awal dan perkembangan kriptografi dari masa Mesir Kuno 4000 tahun sebelum masehi hingga era modern sekarang dengan enkripsi digitalnya. Sejumlah cerita tentang spionase dan kriptografi semasa Perang Dunia yang jarang terdengar turut dimunculkan. Beberapa bahkan melibatkan mata-mata wanita yang memanfaatkan daya tarik fisik sebagai salah satu senjata.

Umumnya dalam sebuah museum alat peraga interaktif selalu menjadi bagian paling menyenangkan. Untuk itu sejumlah perangkat persandian sederhana dihadirkan dan dapat dicoba oleh pengunjung seperti Cardan Grille dipakai pada abad 16, Skytale Greek pada abad 4 sebelum masehi, dan Kode Geser Caesar pada tahun 50 sebelum masehi. Setidaknya peralatan tersebut dapat mengasah kecerdasan sekaligus memberi setitik keseruan, atau mungkin kecemasan, yang dialami oleh para petugas sandi di masa lalu.

Museum Sandi, Yogyakarta
Sejumlah memorabilia sang Bapak Persandian Indonesia.
Museum Sandi, Yogyakarta
Kamera Rollei dan kacamata sang dokter.
Museum Sandi, Yogyakarta
Kode Caesar yang bisa dicoba oleh pengunjung.
Museum Sandi, Yogyakarta
Segera hancurkan dokumen rahasia. Begitu bunyi pesan tersembunyi yang terdapat di alat peraga Cardan Grille ini.
Museum Sandi, Yogyakarta
CD-55 buatan Swiss yang juga pernah dipakai oleh Vatikan.

Berani untuk tak dikenal. Begitu sebuah tulisan yang terdapat di lobi depan Museum Sandi yang menukil dari lisan sang Bapak Persandian Indonesia kepada para anak buahnya. Jalur perjuangan yang mereka tempuh memang jauh dari gegap gempita sejarah. Dan nasib museum ini seolah tak jauh dari itu. Bahkan di hari libur pun keramaian pengunjungnya tak seberapa. Di tengah banjir informasi era sosial media gema museum ini seolah masih sayup terdengar. Cukup disayangkan mengingat ia menyimpan sejumlah potensi untuk mengundang perhatian. Mulai dari konten yang cederung memantik penasaran, lokasi yang strategis, kondisi yang terawat untuk sebuah museum di Indonesia dan bahkan tidak menarik bea bagi pengunjungnya. Jalan pengabdian seorang Roebiono Kertopati dan rekan-rekannya mungkin memang harus tersembunyi tapi tidak dengan sejarah dan cerita perjuangan mereka. Maka tulisan ini dibuat untuk itu. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang tak melupakan jasa-jasa para pejuangnya.

12 Comment

  1. aas says: Reply

    Wah, senang sekali baca tulisannya, mas. Informatif.

    Tingkat kunjungan ke museum memang masih memprihatinkan. Semoga dengan tulisan2 seperti ini makin banyak yang ‘tergoda’ untuk berkunjung ke museum.

    1. Iya semoga begitu. Terima kasih telah berkunjung.
      Salam kenal

  2. Ulasan yang detail dan informatif. Saya pernah komen di blognya Mas Halim Santoso tentang Museum Gula di Klaten, jadi kepengen bikin sekolah khusus jurusan permuseuman….

    1. Pernah diskusi dengan salah seorang yang pernah berurusan banyak dengan dunia permuseuman baik di dalam maupun luar negeri. Beliau bilang tantangan terbesar museum di Indonesia adalah konten yang kurang interaktif. Konten juga bukan sekedar barang koleksinya, namun juga gelaran acara atau kegiatan. Kalau barang koleksi adalah konten statis, maka kegiatan adalah konten dinamis. Jangankan konten dinamis, yang statis aja masih banyak yang terurus. Jadi wajar jika masyarakat Indonesia menaruh museum di peringkat terakhir dalam daftar tempat untuk menghabiskan waktu luang.

    2. Kebetulan Halim ke museum gula kemarin bareng aku. ha2…

    3. Tango says: Reply

      Sekolah Khusus Permuseuman, keren tuh. Nanti, boleh dong saya bergabung untuk mengajar

  3. lah. kamu ke sini ga jadi ketemu aku mas?

    wah, selalu suka dengan karya tulismu di blog mas. fotonya juga ciamik! teladan pokoknya. selalu suka dgn bahasanya
    aku sudah pernah ke sini, dulu tempatnya bukan di sini. dulu gabung sama museum perjuangan kalau g salah.

    1. Wah, ngapunten. Jadwalnya padat merayap kemarin. Nanti sekitar akhir oktober ada rencana mudik lagi. semoga bisa ya

  4. Jogja punya banyak museum ya, tapi sayang kalah kunjungan Ama Mall, next time kesini ah ajak anak2.

    1. Karena secara konten maupun promosinya kurang. Wajar kalau citra museum kurang bersinar. Sementara dari sisi masyarakatnya sendiri juga kurang sadar untuk bepergian ke museum alih2 tempat hedon untuk meluangkan waktu.
      Btw, salam kenal. Terima kasih telah berkunjung.

  5. Dan gw baru tau ada pahlawan roebiono kerto[ati hahaha #ampun

    1. Kalo status pahlawan nasional nya sih masih ga tau ya. Karena di museumnya tidak disebut jelas.
      Tapi setidaknya jadi tahu apa kontribusinya untuk Indonesia.

What's on your mind