Gula Dan Kenangannya Yang Tak Lagi Manis

Sangat mudah menemukannya. Terbaring di tepi akses utama antara kota Solo dan Yogyakarta tepatnya Jalan Raya Yogya-Solo Km 25, Klaten, setiap orang yang berkendara antar dua kota tersebut pasti melewati. Banyak yang menyebutnya museum gula Gondang karena berada satu komplek dengan Pabrik Gula Gondang Baru yang dulu bernama Gondang Winangoen. Suiker fabriek yang dibangun tahun 1860 ini sendiri masih berproduksi walau terengah-engah. Museum Gula Jawa Tengah, label formalnya, diresmikan pada 11 September 1982 oleh Gubernur Jawa Tengah kala itu Soeparjo Roestam. Melihat dari fasad dan gaya kolonial yang khas, sepertinya bangunan museum ini dulunya merupakan bagian kantor administrasi pabrik. Menurut sebuah laporan, dua khitah menjadi alasan dibangunnya museum ini. Secara jangka pendek ia didirikan untuk menyongsong kongres gula sedunia ke 19 di Jakarta pada tahun 1986 dimana PG Gondang Baru dan museum itu sendiri menjadi obyek kunjungan. Sedangkan jangka panjang sebagai tempat penelitian gula merangkap obyek wisata.

Sepi adalah kesan pertama yang hadir, atau kesepian lebih tepatnya. Sebuah kondisi jamak pada umumnya museum di Indonesia. Setelah membayar tiket masuk lima ribu rupiah tak salah jika sebelum masuk ke dalam pengunjung menikmati halaman museum yang juga diisi koleksi. Sejumlah peralatan berukuran besar yang dulu terlibat dalam proses produksi PG Gondang Baru menjadi pajangan luar. Pecinta dunia kereta api perhatiannya dengan mudah tertuju pada empat buah loko uap dan diesel penarik lori pengangkut tebu. Salah satunya bernama ‘Simbah’ yang menurut plat di badannya dibuat tahun 1927 oleh pabrik lokomotif asal Jerman Orenstein & Koppel. Ada juga gerobak sapi dan peralatan penghancur tebu manual maupun mesin yang menemani para loko sepuh ini.

Museum Gula
Tampak muka Museum Gula

 

Museum Gula
Draisine si becak di atas rel.
Museum Gula
Diorama pabrik gula yang tampak usang
Museum Gula
Salah satu koleksi loko uap yang berada tepat di depan museum.
Museum Gula
Teras depan museum

Memasuki teras museum Draisine langsung menyambut, sebuah alat transportasi berbasis rel yang dulu dimanfaatkan untuk mengecek ladang tebu dan kondisi rel itu sendiri. Moda yang sekilas mirip becak ini diciptakan seorang insinyur Jerman bernama Baron Karl Christian Ludwig Drais Von Sauerbronn pada 1817. Baru tahun 1890 Gondang Winangun memanfaatkan becak rel ini sampai sekitar tahun 1980an. Gelap nan sengap walau di siang hari. Itulah kondisi ruang utama museum dengan pencahayaan kurang. Sebuah peta besar besar Jawa Tengah terpajang di dinding langsung menyita pandangan. Disitu terdapat 51 titik berupa lampu kecil yang mewakili lokasi pabrik gula di propinsi tersebut  dengan tombol berlabel nama pabrik gula. Sayang, semua itu tidak berfungsi sehingga tak jelas titik-titik tersebut mewakili pabrik yang mana. Dari jumlah tersebut saat ini tinggal delapan suiker fabriek yang masih beroperasi termasuk Gondang Baru.

Sejumlah koleksi terpajang rapi nyaris tak tersentuh dalam lemari kaca. Mulai dari berbagai peralatan tangan yang digunakan untuk bercocok tanam tebu seperti cangkul, sabit, garpu dan kawan-kawan. Ada juga gilingan conto, alat penghancur batang tebu yang digerakkan oleh hewan. Hadir pula sampel rendemen beberapa varian tebu dan hama serta penyakit. Sayang pengunjung tidak akan mendapat pengetahuan lebih karena tidak ada informasi yang jelas kecuali label nama. Di ruangan selanjutnya menyimpan beberapa alat yang dipakai dalam proses perpindahan tebu dari luar ke dalam pabrik seperti timbangan dan peralatan yang sepertinya banyak dipakai di laboratorium. Sekali lagi, hanya label nama tanpa keterangan.

Museum Gula
Foto PG Gondang Winangoen di awal abad 20.
Museum Gula
Ruang utama museum yang kondisi sebenarnya lebuh gelap
Museum Gula
Gilingan Conto, peremuk tebu yang menggunakan tenaga hewan.
Museum Gula
Berbagai peralatan tangan untuk bercocok tanam tebu.
Museum Gula
Rendemen tebu
Museum Gula
Foto dokumentasi selamatan PG Gondang Baru tahun 1984

Di ruang sisi barat terdapat maket pabrik Gondang Baru dengan sudut-sudut dinding terhias foto-foto seputar kegiatan produksi gula. Salah satunya menggambarkan prosesi selamatan sebelum musim giling di tahun 1980an. Beberapa pabrik gula aktif di Jawa Tengah masih mempertahankan tradisi ini termasuk menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Secara keseluruhan bisa dibilang koleksi dalam museum tidak sesuai harapan. Hanya semata menggambarkan kondisi masa lalu sejumlah pabrik gula di Jawa Tengah namun gagal menghadirkan makna penting karena tidak diimbangi cerita atau informasi memadai. Alat peraga interaktif yang seharusnya bisa diakses oleh pengunjung pun tak mampu memenuhi fungsinya. Satu-satunya hiburan menarik bisa jadi yaitu tur singkat menggunakan kereta uap mengelilingi pabrik yang hanya tersedia pada hari Minggu atau hari libur. Sepuluh ribu rupiah adalah nominal yang harus dikeluarkan pengunjung untuk dapat menikmati tur tersebut.

Bicara soal kereta lori, di sisi belakang museum terdapat emplasemen lori yang cukup luas. Setidaknya terdapat sepuluh jalur rel yang berujung tepat di samping pabrik gula tempat para tebu menjalani awal proses produksi. Lori-lori pengangkut tebu terparkir rapi di emplasemen itu. Sungguh mereka mengingatkan akan masa lalu ketika menumpang lori yang hilir mudik di area perkebunan dan mencuri tebu adalah rutinitas menyenangkan bagi anak kecil. Namun kini lori itu hanyalah onggokan besi. Yang tersisa hanya dua buah loko tua dan beberapa gerbong penumpang untuk tur wisata. Usia uzur dan efesiensi menjadi biang utama.

Museum Gula
Sampel tanaman pengganggu
Museum Gula
Peralatan listrik dan penerangan.
Museum Gula
Timbangan tebu
Museum Gula
Koleksi peralatan administrasi lawas
Museum Gula
Sejumlah majalah dan buletin berdebu milik perpustakaan museum.

Akses strategis harusnya memberi keuntungan tersendiri. Namun nyatanya museum ini gagal menyita minat publik. Ia kalah dengan sejumlah obyek pelancongan kekinian. Semakin sembilu mengingat ia adalah satu-satunya museum gula di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, tulis wikipedia. Indoensia pernah dinobatkan sebagai penghasil gula terbaik di dunia pada awal abad 20. Namun rekaman sejarah manisnya gula nusantara tersebut terabaikan seiring dengan rapuhnya industri gula itu sendiri yang kini lebih banyak mengimpor dari luar. Museum Gula Jawa Tengah adalah klise museum di Indonesia. Wajar jika publik dalam negeri begitu iri dengan museum di luar yang bukan hanya terawat namun senantiasa menghadirkan konten-konten terbaik. Dan meninggalkan Museum Gula adalah saat untuk tersadar ia adalah saksi bisu tentang gula dan kenangannya yang tak lagi terasa manis.

Museum Gula
Bangkai salah satu loko uap yang teronggok begitu saja
Museum Gula
Rangkaian kereta wisata diparkir di sebelah pabrik
Museum Gula
Remise, bengkel sekaligus garasi loko
Museum Gula
Rangkaian lori pengangkut tebu yang terlantar.

16 Comment

  1. Saya jadi khawatir, jika tiba-tiba museum ini benar-benar menjadi museum: diam, tak terawat, tak ada yang peduli.

    1. Memang sudah sangat dekat dengan deskripsi yang kamu sebut sih.

  2. wah, jadi indonesia pnh menjadi negara penghasil gula terbaik y. iya mas. sayang banget, lokasinya strategis di lewati banyak wisatawan yg mau ke solo maupun ke jogja, tapi tak menyita minat publik. bahkan jika mendekati ramadhan, akan ada pesta rakyat di gelar di sini, ada bianglalanya.

    btw, rumahku dekat dari sini. kenapa dirimu ke Jogja g jadi jawil aku? -__-

    1. Ya, walaupun statusnya masih Hindia Belanda waktu itu.
      Kemarin padat merayap jadwalnya. Nanti akhir oktober ada rencana ke Jogja lagi. Semoga bisa.

  3. Kini sisa sejarahnya saja..

    1. Sejarah yang tak semanis aslinya. terima kasih telah berkunjung. salam kenal

  4. Dari dulu mau mampir kesitu… tapi gak pernah kesampaian…bagus baget gambar2nya mas…

    1. terima kasih udah mampir. buruan mampir mas Adhi. sebelum museumnya ilang beneran :p

  5. Satu-satunya museum gula di Asia Tenggara?
    Mungkin sepi gara-gara orang pada ga tau kalau tempat ini merupakan museum ya mas

    Baca tulisan ini jadi keinget buku Pram soal kekerasan pengusaha tebu pada petaninya.
    miris sih, tapi mau gimana lagi

    1. Apalah arti lokasi strategis jika tak punya daya tarik yang mumpuni. Sudah begitu wawasan orang Indonesia ttg museum masih kuno secara umum.
      btw terima kasih telah berkunjung.

  6. rumah saya dulu disini mas, kompleks pabril gula klaten :), sangat tidak asing bagi saya hehe

    1. ooh, pantes

  7. Cirebon banyak pabrik gula, tapi ga ada satu pun yg bisa masukin, An. Museumnya juga gak ada. Kok ya prihatin gitu lihat pabrik-pabrik gula yang sekarat gini….huhuhu…padahal manusia di bumi populasi tambah banyak, pada suka gula. Masa iya pabrik gula tutup kalo permintaannya banyak.

    1. Yang setauku problem utamanya memang dari industri gula nasional itu sendiri yang amburadul disamping faktor2 lain. Konversi lahan juga jadi tantangan. Sebenarnya banyak pabrik gula baru cuma rata2 di luar Jawa tapi itupun tetap belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Makanya banyak gula impor masuk.

  8. Noe says: Reply

    Kasihan museumnya. Mungkin perlu banyak yang menuliskan tentang ini agar nampak dipermukaan kepada mereka yang bertanggung jawab. Ovrl, tulisannya keren mas…

    1. Hai, terima kasih atas kunjungannya. salam kenal.
      btw masalah museum emang dari dulu seperti itu2 aja. klasik

What's on your mind