Eduwisata Kopi dan Kakao Di CCSTP Puslitkoka

Area perkebunan karet yang rimbun langsung menyapa. Tak lama deretan rapi pohon mahoni di sepanjang jalan tak luput menyambut. Seketika udara sejuk merasuk mengusir hawa panas khas daerah dataran rendah. Tempat ini berada sekitar 20 kilometer barat daya dari pusat kota dapat digapai setelah berkendara selama kurang lebih empat puluh lima menit. Berada di tengah alam pedesaan, destinasi ini menarik bagi pengunjung yang sekedar ingin merasakan udara segar atau dengan tujuan lebih serius sesuai namanya. Coffee and Cacao Science Techno Park (CCSTP), lebih dikenal dengan instansi penaungnya Puslitkoka alias Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, menjadi daftar tujuan rekreasi baru di wilayah Kabupaten Jember tepatnya Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji.

Lawas tapi gres. Hadi Priyono, salah satu petugas di bagian informasi menyebutkan obyek agrowisata ini sebenarnya terbuka untuk umum sejak lama. Namun baru belakangan ini dipoles ulang dengan tema eduwisata dan diresmikan pada Mei 2016 oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir. Dengan konsep yang lebih matang diharapkan keberadaan taman sains ini dapat terpromosikan lebih baik pada publik. Bukan hanya rekreasi namun juga wadah edukasi mengenai komoditas pertanian khususnya kopi dan kakao. Wajar mengingat selama puluhan tahun agrikultur menjadi denyut utama perekenomian Jember. Puslitkoka sendiri berdiri sejak 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation yang dibentuk oleh Belanda sebagai sarana pengembangan komoditas kopi dan kakao.

Rindang nan sejuk menyapa di sepanjang jalan menuju CCSTP Puslitkoka.
Suasana di sekitar tugu CCSTP sekaligus titik awal tur.
Tur dimulai dengan berkeliling ke kebun percontohan.

Tidak ada biaya masuk ke tempat ini kecuali parkir. Namun dengan sepuluh ribu rupiah pengunjung dapat mengikuti tur mengelilingi sebagian dari total sekitar 300 hektar area milik Puslitkoka menggunakan mobil yang telah dimodifikasi khusus sebagai kendaraan tur dan ditemani oleh pemandu. Kebun percontohan tanaman kopi adalah area pertama yang dimasuki. Berbagai varian single origin biji kopi dari hampir seluruh nusantara ditanam disini mulai dari Gayo, Merapi, Toraja, Bajawa dan lainnya, jelas Fajar Sulaeman, salah seorang teknisi sekaligus pemandu. Salah satu rekayasa yang jamak digunakan pada kopi dan kakao yaitu teknik sambung samping dan sambung pucuk. Secara umum yaitu lebih dari satu tanaman yang disambung menjadi satu pohon sehingga memberi keuntungan jumlah akar yang lebih banyak. Rekayasa lain yang dipergunakan  yakni dalam hal genetika, pengairan, pupuk dan pembasmian hama. Berbagai rekayasa ini diharapkan mampu menghasilkan tanaman yang lebih tahan hama dan cuaca.

Kebun kakao adalah tujuan berikutnya. Teknik sambung juga digunakan pada tanaman penghasil coklat tersebut. Kopi dan kakao berbagi banyak kesamaan dalam hal sifat-sifat umum serta termasuk komoditas kelas menengah. Itu salah satu sebab keduanya dikembangkan oleh satu lembaga penelitian. Bicara tentang sifat umum, dua komoditas ini sama-sama membutuhkan cukup banyak sinar matahari kala masih muda namun sebaliknya ketika dewasa. Karena itu dihadirkan tanaman penaung untuk mengurangi intensitas paparan sinar matahari. Para peneliti di Puslitkoka memilih lamtoro sebagai naungan karena memiliki ketinggian dan kerindangan yang pas serta memiliki potensi yang kecil menimbulkan masalah pada tanaman di sekitarnya. Pohon kelapa juga bisa dipakai sebagai naungan dan banyak dipakai oleh petani.

Pengunjung mencoba buah kakao.
Pemandu sedang menunjukkan mesin grader kepada pengunjung.
Biji kopi dijemur untuk mengurangi kadar kafein atau dikenal dengan istilah dekaf (decaffeine)
Pengunjung memperhatikan sejumlah peralatan yang digunakan untuk pemrosesan kopi.

Usai berkeliling kebun selanjutnya pengunjung bertandang ke fasilitas pabrik pengolahan. Disini pengunjung dapat menyaksikan dengan dekat berbagai proses pasca panen seperti penjemuran, pengolahan biji, fermentasi, pembuatan kopi dan coklat siap saji serta pembuatan mesin pengolah. Ya, Puslitkoka memiliki bengkel perakitan mesin pengolahan dimana selain dipakai sendiri juga dijual ke umum. Demikian halnya dengan benih kopi dan kakao hasil pengembangan para peneliti Puslitkoka.

Sejumlah mesin pengolahan biji diletakkan di luar gedung. Salah satunya yaitu grader yang berfungsi untuk melakukan sortasi biji berdasar ukurannya. Komponen utama mesin ini berupa tiga buah saringan dengan besar lubang yang berbeda, makin ke bawah makin kecil. Kakao contohnya, dari atas ke bawah 14, 8, dan 6 mm. Sebuah motor lalu akan mengayak saringan tersebut sehingga biji-biji yang dituang akan jatuh ke bawah jika besarnya kurang dari ukuran lubang saringan kemudian masing-masing akan terkumpul melalui saluran sesuai ukuran masing-masing. Paling besar dianggap yang terbaik tentunya.

Di bengkel inilah Puslitkoka merakit berbagai peralatan untuk pengolahan kopi dan kakao.
Coklat siap makan hasil olahan Puslitkoka menunggu untuk dimasukkan dalam bungkus dan dijual.
Pengunjung dapat menikmati hasil akhir pengolahan kopi dan kakao di kafetaria CCSTP.
Salah satu produk kakao yaitu sabun mandi juga dijual di kafetaria.

Sementara itu di dalam bangunan berlangsung proses pengolahan yang tidak membutuhkan peralatan berat. Salah satu contoh yaitu proses pada biji kakao kering yang telah difermentasi lalu disangrai dan digiling. Hasilnya adalah bungkil kakao yang diolah menjadi bubuk coklat sebagai bahan dasar makanan serta minuman. Ada juga lemak kakao yang dikombinasikan dengan bahan lain menjadi coklat siap makan dan berbagai produk kecantikan. Biji kopi juga mengalami beberapa proses pengolahan menuju bubuk siap seduh seperti bubuk kopi murni, dekaf maupun kopi ginseng. Sebagai penerapan konsep zero waste tak jauh dari bangunan utama terdapat sebuah reaktor gas yang mengolah limbah hasil pengolahan agar bisa dimanfaatkan kembali.

Penutup yang sempurna. Di penghujung tur pengunjung dapat menikmati langsung hasil akhir perjalanan dua komoditas tersebut berupa aneka produk kopi dan coklat yang dijual di kafetaria. Ada yang berupa makanan, minuman, bubuk dan bahkan sabun mandi. Di sebelah bangunan kafetaria juga terdapat tempat penginapan yang dapat disewa oleh pengunjung yang ingin meluangkan waktu liburan lebih lama. Berbagai fasilitas yang disediakan di CCSTP ini merupakan bentuk usaha Puslitkoka untuk membuktikan dirinya ditujukan bagi banyak kalangan. Bukan hanya untuk berekreasi dan belajar namun juga bagi masyarakat yang ingin berbisnis kopi atau kakao.

9 Comment

  1. Gara says: Reply

    Betapa pemerintah kolonial agaknya sudah mempersiapkan wilayah-wilayah di Pulau Jawa sebagai perkebunan untuk beberapa komoditas tertentu ya. Teh di daerah Priangan, sementara itu di Karesidenan Besuki ini ada kopi dan coklat, di beberapa daerah disiapkan sebagai perkebunan tebu. Keren bisa bertahan sampai saat ini, hehe. Cuma saya agak jarang melihat produk-produk cokelat dari Puslitkoka ini di supermarket-supermarket, apa memang orientasinya untuk ekspor, Mas?

    1. untuk produk akhir hanya dijual di kafetaria setempat karena sekedar pelengkap eduwisata sepertinya.
      btw salam kenal

      1. Gara says: Reply

        Ah, demikian. Iya, salam kenal! Saya izin berkeliling dan baca-baca ya, hehe.

        1. Monggo.

  2. Asyik juga kalau bisa melihat proses pembuatan dari awal sampai akhir.
    Saya dulu sering makan Kakao kalo sudah masak. Rasanya manis 😀

    1. halo, salam kenal.
      nah silahkan berkunjung kesitu kalau begitu.

  3. wah mas Alfian, aku blm pernah nih kesana. Bgus buat referensi dan tantangan untuk menuliskan sudut pandang yg lain yah^^ Aku penasaran buah kakao, lalu kok ada produk coklat juga ya, sama atau beda. Nah, ini akunya yg terlalu miss informasi, ahaha.. O iya, kucari yg tentang jember-pandhalungan, lah kok page not found yah~

    1. Halo mbak Prita,
      terima kasih telah berkunjung. Produk coklat kan asalnya dari biji kakao mbak.
      btw untuk artikel jember pandhalungan sempat ditarik dulu. sekarang udah dipublish lagi.

  4. wAH iNImantabbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbb.

What's on your mind