When The Bajingan Raise A Joy (Ketika Bajingan Melecut Kegembiraan)

The road was jammed by the parade. They were in big number and moved slowly. The narrow road became more narrow. Yet somehow many riders were willing to step aside joined with the locals and enjoy the parade especially the kids who looked so excited. “Bajingan..!! Bajingan..!!”, some shouted. Instead anger, the abuse word was in the air in happy mood. Bajingan in Indonesia refers to bastard, jerk, asshole, etc. Even some of the photographers found them self into the ditch for the sake of good angle. What a blessed bajingan.

Menyesap Harmoni Negeri Sawai

Menyesap Harmoni Negeri Sawai

Noldy tampak bersemangat. Tikungan tajam pun dilahapnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia seolah hafal letak lubang atau longsor. Hutan semakin rimbun ketika akhirnya ia mengurangi kecepatan. Ia mencondongkan badannya ke depan dengan mimik wajah serius. Jarak pandang kini hanya beberapa meter saja akibat sergapan kabut. Satu jam yang lalu hanya ada pemandangan tanah tak bertuan yang ditumbuhi ilalang dan diselingi rumah penduduk.

Membaca Bumi Bersama Mata Bumi

“Makanya kalau mau beli tanah jangan ambil sisi luar tapi sisi dalam. Karena perlahan sisi luar akan hilang tergerus tekanan aliran air. Sebaliknya di sisi dalam justru akan terbangun endapan tanah karena tekanan airnya lemah”

Satu jam berlalu setelah truk sewaan dari TNI AU membawa kami berangkat dari Museum Geologi, Bandung, rombongan berhenti di sebuah tanah lapang yang oleh warga lokal disebut sebagai Candi. Lokasi ini terletak di Jalan Nengewer, Desa Dampit, Cicalengka, Kabupaten Bandung. Kami hanya singgah disini sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir di T.B (Taman Buru) Hutan Masigit Kareumbi. Hamparan sawah miring yang dibelah oleh sebuah sungai dengan sebuah gunung kecil menjadi latar belakangnya menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar dan kami tentunya. Dengan pengeras suara Titi Bachtiar yang akrab dipanggil Pak Bachtiar memanggil rombongan ke tempat ia berdiri di pinggir tanah lapang itu. Setelah semuanya berkumpul Pak Bachtiar bercerita tentang beberapa hal seputar fenomena alam yang terhampar di depan kami. Kalimat di awal tulisan ini adalah salah satu bagian pembuka ketika ia bercerita tentang Sungai Citarik bertipe meander yang membelah permadani hijau di depan sana. Meander adalah badan sungai yang berbelok-belok dengan arah belokan mencapai setengah lingkaran. Sebagai orang awam informasi ini tentu berharga bagi saya.

IMG_0606_editWM.jpg
Mengawali perjalanan dengan berkumpul di Museum Geologi, Bandung.
IMG_0621_editWM.jpg
Pemandangan sawah di Desa Dampit.
IMG_0627_editWM.jpg
Pak Bachtiar menerangkan tentang sungai.

Masih seputar air, begitu banyak sungai yang membelah wilayah Jawa Barat. Fakta tersebut mengantarkan pada cerita berikutnya yang dituturkan oleh pria berkacamata itu. Sungai-sungai itu bagi sebagian besar kerajaan di tanah sunda di masa lalu bukan hanya menjadi sumber kehidupan tapi juga benteng alami yang melindungi wilayah kekuasaan dari serangan musuh. Oleh karena itu para penguasa sunda memerintahkan rakyatnya melakukan nyusuk, yang secara umum diartikan sebagai bermacam kegiatan memelihara sungai. Sayangnya hanya tinggal sedikit saja warga di Jawa Barat dan Banten yang masih melestarikan budaya ini.

Begitu banyak informasi terlontar dari dosen geografi di Universitas Pendidikan Indonesia itu. Sebelum kami melanjutkan perjalanan, Pak Bachtiar mengakhiri sesi dengan bertanya pada kami dimanakah lokasi di sekitar Bandung yang menjadi dasar danau purba di masa lalu. Saya sudah tahu bahwa daerah Bandung dan sekitarnya dulunya adalah sebuah kaldera atau danau vulkanis raksasa. Tak heran jika bentuk daerah Bandung seperti mangkok dan para ilmuwan menyebutnya Cekungan Bandung. Tapi dasar kaldera, tak satupun di antara rombongan yang mengacungkan tangan. Pak Bachtiar pun menuntaskan penasaran kami. Nagreg, daerah yang terkenal setiap lebaran itu adalah dasar terdalam danau purba Bandung. Di dasar danau air akan langsung masuk ke dalam tanah tanpa bisa ditahan oleh apapun. Itu sebabnya warga Nagreg saat ini cukup sering mengalami defisit air tanah.

IMG_0642_editWM.jpg
Akses jalan menuju Kareumbi.
IMG_0668_editWM.jpg
Suasana camping ground dan rumah pohon di Kareumbi.
IMG_0678_editWM.jpg
Pak Bachtiar dan Bu Inan berbagi ilmu di depan peserta lain.

Itulah cuplikan awal yang saya alami ketika melakukan jelajah geotrek bersama komunitas Mata Bumi. Komunitas ini berdiri pada bulan Juli 2010 dan sudah 22 kali melakukan perjalanan.  Gunung Anak Krakatau, Pantai Sawarna dan Dataran Tinggi Dieng adalah beberapa tempat dengan kekayaan fenomena alam yang pernah menjadi obyek geotrek. Sesuai namanya, Mata Bumi berfokus melakukan edukasi seputar kebumian dengan mengadakan perjalanan jelajah ke tempat-tempat yang kaya dengan fenomena alam. Itu yang membuat saya tertarik mencoba bergabung dengan geotrek Mata Bumi. Tentu jauh lebih menarik ketika menikmati pemandangan alam dan mendapatkan pengetahuan tentang obyek yang dikunjungi langsung dari orang yang berkompeten. Beragam informasi ini berperan penting dalam membangun kecintaan pada alam serta menanamkan kesadaran akan pelestarian lingkungan.

Saat ini Mata Bumi dikoordinir oleh Rony Noviansyah dan dibantu oleh rekan-rekannya di jejaring Fakultas Pendidikan Geografi UPI.  Pak Bachtiar sendiri menjadi penasehat komunitas ini sekaligus interpreter tetap dalam banyak kegiatan geotrek. Interpreter adalah istilah bagi nara sumber di Mata Bumi. Pembimbing dan interpreter lain yang juga sering mengisi adalah Budi Bramantyo, dosen geologi ITB. Geotrek kali ini diikuti sekitar empat puluh peserta dengan beragam latar belakang dan daerah asal. Kebanyakan dari sekitar Bandung, sesuai dengan home base komunitas ini. Tapi ada juga yang dari Jakarta. Bahkan ada pasangan ibu dan anak yang berasal dari Padang. Ada juga rombongan keluarga lengkap dengan anak-anaknya yang masih balita. Sepertinya Mata Bumi memang mendesain kegiatannya bukan hanya sebagai ajang belajar tapi juga ramah untuk berbagai usia.

IMG_0821_editWM.jpg
Peserta melakukan geotrek.
IMG_0731_editWM.jpg
Pak Djuandi menerangkan tanaman kecombrang (Zengiberase sp).
IMG_0727_editWM.jpg
Biji harendong bulu atau Clidemia hirta.

Kami melanjutkan perjalanan selama setengah jam melewati jalan yang sempit dan berlubang akses menuju Hutan Kareumbi. Disana kami disambut oleh Darmanto, Wakil Direktur Lapangan T.B Kareumbi. Selain perkenalan ia juga menyampaikan informasi seputar tempat yang menjadi kantor sekaligus rumahnya setiap hari. Mulai dari status Kareumbi sebagai taman buru yang memungkinkan orang untuk berburu hewan secara resmi dengan persyaratan tertentu hingga tempat persembunyian Kartosuwiryo, pemimpin pemberontakan DI TII yang berada di di zona hutan dalam. Rimba yang berada di wilayah tiga kabupaten Garut, Sumedang dan Bandung ini di bawah tanggung jawab Wanadri dan BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam). Menurut Darmanto, salah satu program andalan Wanadri dalam rangka mengelola hutan seluas 12420 hektar ini yaitu ekowisata. Program ini memungkinkan pengunjung umum untuk berwisata dan bermalam di camping ground atau rumah pohon, seperti yang kami lakukan sekarang. Wali pohon juga menjadi andalan yang lain. Dalam program ini seseorang dapat menanam pohon dengan membayar nominal lima puluh ribu rupiah per pohon yang digaransi selama tiga tahun. Selama waktu tersebut pihak pengelola Kareumbi bertanggung jawab dalam kelangsungan hidup pohon tersebut.

Walaupun memiliki interpreter resmi namun dalam kegiatan geotrek Mata Bumi semua orang bisa menjadi nara sumber. Itu terjadi dalam kegiatan kali ini ketika salah seorang peserta bernama Wa Ode Hamsinah Bolu atau yang akrab dipanggil Bu Inan berbicara di depan rombongan untuk berbagi ilmu yang dimilikinya sebagai pegawai Kementrian Kehutanan. Salah satu informasi yang menarik adalah adanya salah arah yang terjadi dalam program penghijauan. Adanya pohon pinus yang tumbuh di Indonesia adalah salah satu contoh. Tanaman ini berasal dari daerah subtropis dan di masa lalu seolah dipaksakan untuk tumbuh di Indonesia. Akibatnya penghargaan pada vegetasi lokal berkurang. Selain itu daun pinus banyak mengandung zat lilin. Alih-alih baik bagi tanah, daun pinus yang jatuh justru membuat tanah di sekitarnya menjadi kurang subur.

IMG_0754_editWM.jpg
Pak Djuandi menunjukkan tanaman kareumbi yang masih berusia kurang dari satu tahun.
IMG_0758_editWM.jpg
Bertemu talas raksasa.
IMG_0766_editWM.jpg
Pak Djuandi menunjukkan buku referensi tentang keanekaragaman hayati di Pulau Jawa.

Hal mirip juga terjadi di rehabilitasi kawasan bencana. Seharusnya tanaman yang ditanam untuk mengembalikan kondisi tanah adalah flora endemik atau tanaman asli daerah tersebut. Namun karena hanya demi mengejar keprakitisan semata justru tanaman lain yang digunakan untuk penghijauan. Misalnya terjadi di kawasan bekas bencana letusan Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta dan sekitarnya. Akasia yang bukan tanaman asli daerah sekitar Merapi ditanam untuk rehabilitasi tanah. Akasia memang dapat tumbuh dengan cepat di daerah kritis sehubungan dengan sifatnya sebagai tanaman perintis. Namun efek sampingnya dalam waktu relatif singkat tanaman ini mengekspansi lahan yang cukup luas. Akibatnya tanaman lain termasuk tanaman endemik tidak dapat tumbuh dengan baik. Berkat penuturan Bu Inan tersebut saya menjadi paham bahwa ternyata tidak semua tanaman bisa dimanfaatkan bahkan untuk tujuan yang baik sekalipun. Karena tiap tanaman memiliki sifat dan karakteristik tersendiri.

Lepas ashar kami dukumpulkan lagi di tengah-tengah camping ground. Kali ini oleh Djuandi Gandhi yang akrab disebut Pak Djuandi, yang sehari-hari berkarya di Herbarium Laboratium Biologi ITB. Pria paruh baya ini mengajak kami tur berjalan kaki mengikuti jalan setapak masuk lebih dalam ke area hutan sambil menerangkan berbagai jenis tumbuhan yang ditemui sepanjang perjalanan. Dari Rony saya tahu inilah untuk pertama kalinya Mata Bumi menggandeng nara sumber di luar ilmu geografi dan geologi dengan pertimbangan ilmu biologi juga masih merupakan bagian besar dari ilmu kebumian. Bagaimana pun juga jenis tanaman yang tumbuh di suatu wilayah pasti dipengaruhi oleh faktor geologi daerah tersebut. Jika geologi dan geografi membahas isi bumi maka biologi mempelajari kulitnya, begitu kata Pak Djuandi mengawali sesinya.

IMG_0776_editWM.jpg
Suasana acara api unggun di malam hari.
IMG_0794_editWM.jpg
Salah seorang peserta geotrek menunjukkan keahlian sketching.

Baru beberapa langkah ahli biologi itu meminta kami berhenti sementara ia memetik biji-bijian kecil berbulu yang berwarna hitam keunguan dari sebuah tanaman yang tingginya sekitar satu meter lantas memakannya. Saya dan sebagian rombongan merasa familiar dengan biji-bijian itu namun belum pernah memakannya. Beberapa di antara kami ikut mencicipi dan ternyata rasanya manis agak sepat. Pak Djuandi menyebutkan sebuah nama latin, Clidemia hirta. Kami hanya saling pandang lalu membuang muka ke arah nara sumber berharap ia segera menuntaskan penasaran. Ia menyebut sebuah nama lalu sebagian dari kami mulai menganggukkan kepala. Harendong bulu, begitulah sebutan lokal tanaman ini di tanah Sunda. Tanaman ini banyak tumbuh di daerah tropis termasuk di Amerika Selatan, Asia dan Afrika. Kandungan gula dan dapat langsung dimakan adalah dua faktor kenapa biji tanaman ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi mereka yang sering menjelajah ke dalam hutan. Rasa manis sepat ini muncul karena kandungan asam tanin dalam biji harendong. Berkat asam ini juga harendong juga bisa dimanfaatkan sebagai penghilang rasa pahit. Anehnya biji tanaman yang juga populer dengan istilah black berry dalam bahasa Inggris ini justru beracun bagi sebagian hewan.

Begitu banyak informasi seputar dunia tanaman sepanjang dua jam kami berjalan kaki. Selain harendong yang sudah diceritakan di awal, ada juga contoh menarik tanaman yang diremehkan karena banyak tumbuh liar di tepi jalan namun sebenarnya memiliki manfaat sebagai obat sakit kepala. Tanaman tersebut yaitu Sida rhombifolia atau sebutan lokalnya sadagori. Pak Djuandi mengakhiri sesinya dengan menunjukkan sebuah tanaman yang menjadi muasal nama hutan ini, Homalanthus populneus alias kareumbi. Tanaman ini juga memiliki sebutan lain sesuai dengan daerah tumbuhnya seperti ludahi di Bangka, jarak pati di Jawa Tengah atau simahuri di Ambon. Pohon kareumbi dulu banyak tumbuh di kawasan ini dan daunnya memiliki khasiat utama untuk mengobati luka luar, begitu terang Pak Djuandi.

IMG_0816_editWM.jpg
Pengenalan navigasi dasar oleh rekan-rekan Fakultas Pendidikan Geografi, UPI.
IMG_0844_editWM.jpg
Memberi makan rusa di penangkaran.

Malam harinya kami mengisi waktu istirahat dengan acara api unggun dan permainan sederhana. Esok harinya kegiatan diawali dengan pelatihan dasar orientasi peta menggunakan kompas. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan keahlian navigasi dasar yang sangat penting bagi mereka yang banyak beraktifitas di alam bebas. Rangkaian terakhir kegiatan geotrek kali ini diisi dengan kunjungan ke penangkaran rusa yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat berkemah. Sebelumnya tak lupa kami memunguti sampah yang berada di lokasi berkemah sebagai bentuk aplikasi edukasi ilmu kebumian yang paling dasar. Di tempat penangkaran kami menjumpai belasan ekor rusa yang ditangkarkan sebelum dilepas ke habitat aslinya. Satu jam berada disini akhirnya kami kembali ke lokasi parkir truk yang akan membawa kami kembali ke Bandung. Saya sangat menikmati akhir pekan kali ini bersama Mata Bumi. Beberapa rekan lainnya terutama yang membawa anak-anaknya bahkan sudah menanyakan kapan kegiatan seperti ini diadakan lagi. Bukan hanya jalan-jalan menikmati alam, tapi adanya unsur edukasi yang membuat perjalanan ini lebih menarik dan membedakan dengan open trip lainnya. Dengan adanya informasi dan edukasi kebumian yang diberikan langsung di alam bebas mampu membuat manusia lebih mencintai dan melindungi bumi, satu-satunya planet yang menjadi fitrah sebagai tempat tinggal manusia. Jelas ini bukan jalan-jalan biasa, setidaknya bagi saya.

Setumbu, Lukisan Pagi Borobudur

Sebagai candi Budha terbesar di dunia sekaligus bergelar World Heritage yang diberikan UNESCO, menjadikan candi Borobudur sebagai salah satu tujuan utama wisata di Indonesia. Mengunjungi candi yang dibangun pada abad ke 8 ini sanggup memberikan nuansa tersendiri. Selain bangunannya yang besar, hiasan 1460 relief pahatan dan 504 patung Budha turut menghadirkan rasa takjub bagi siapa saja yang berkunjung.

Borobudur juga bisa dinikmati tanpa harus mengunjunginya, dari sudut yang lain tepatnya. Candi megah nan raksasa ini dapat dinikmati dari kejauhan melalui sebuah bukit yang terletak sekitar lima kilometer sebelah barat dari candi, tepatnya di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bukit ini terkenal dengan sebutan Punthuk Setumbu, atau cukup disebut Setumbu saja. Dari sini Borobudur yang begitu besar itu justru terlihat sangat kecil di antara rimbunan pohon dengan latar belakang Gunung Merbabu.

IMG_9023_editWM
Diawali dengan matahari terbit dari balik Merbabu
IMG_8994_editWM
Kecilnya Borobudur yang megah itu.

Saat paling tepat untuk menikmati Borobudur dari Setumbu adalah ketika fajar. Momen pembuka adalah saat matahari terbit di balik Gunung Merbabu. Dan momen utamanya yaitu siluet Borobudur diantara rimbunan pohon terbalut embun pagi dan bermandikan cahaya kuning keemasan. Jika beruntung, pengunjung dapat menyaksikan berkas garis cahaya atau yang dikenal dengan sebutan ROL, ray of light, yang menembus melalui awan. Bak lukisan alam, pemandangan ini sungguh cerminan keindahan luar biasa mahakarya Sang Pencipta.

IMG_9037_editWM
Lukisan pagi Borobudur

Memang, lukisan alam ini tak berlangsung lama, tak lebih dari satu jam setelah matahari terbit. Namun bukan berarti kenikmatan berakhir. Pengunjung tetap bisa memanjakan mata sepulang dari Setumbu. Di sepanjang jalan tersuguhkan pemandangan sawah hijau yang terhampar luas beserta rimbunan pohon. Di bagian tertentu, bahkan dengan candi Borobudur sebagai latar belakangnya. Jika beruntung, bisa ditemui sejumlah petani yang sedang menggarap sawah atau obyek-obyek lain khas pedesaan. Pemandangan ini tentu saja menarik untuk diabadikan dengan kamera.

IMG_9158_editWM
Petani sibuk dengan musim panen.
IMG_9253_editWM
Borobudur membawa berkah kesuburan bagi sekitarnya.

Untuk bisa menikmati momen indah ini memang butuh usaha ekstra. Pengunjung harus berada di Setumbu sekitar jam 4.30. Bagi yang berangkat dari Kota Yogyakarta, pengunjung harus berangkat paling lambat jam 3.30 dinihari. Ambil rute menuju Borobudur melalui Jalan Magelang. Sesampainya di Taman Wisata Borobudur, ada pertigaan ambil ke kiri. Setelah melewati gerbang hotel Manohara (sekedar info, Manohara adalah satu-satunya hotel yang terletak di dalam kompleks Borobudur), kurang lebih 200 meter pengunjung akan menemui perempatan, ambil ke kanan. Ikuti jalan ini kira-kira tiga kilometer sampai bertemu pertigaan yang di sebelah kirinya terdapat sebuah masjid. Berhenti dan parkirlah kendaraan di halaman masjid tersebut. Selanjutnya pengunjung harus berjalan kaki mendaki bukit melalui jalan setapak yang berada tepat di seberang masjid selama kira-kira 10 sampai 15 menit, tergantung kecepatan kaki. Beberapa waktu yang lalu jalan setapak ini masih berupa tanah dengan kondisi penerangan yang minim. Tapi seiring semakin ramainya tempat ini, infrastruktur jalan sudah cukup baik dengan dibangun tangga semen dan pagar pembatas. Lampu penerangannya juga cukup memadai. Namun demikian ada baiknya pengunjung tetap membawa senter untuk penerangan maksimal di tengah kondisi yang gelap. Selain itu bagi mereka yang baru akan pertama kali ke Punthuk Setumbu, disarankan untuk survei dulu sebelumnya di waktu siang minimal sehari sebelumnya agar saat pergi untuk melihat matahari terbit tidak banyak membuang waktu untuk mencari jalan, mengingat momen istimewa ini tidak berlangsung lama.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Visit Jawa Tengah 2015 (#BlogJateng2015) yang diselenggarakan oleh  @BlogJateng2015 dan @VisitJawaTengah, dengan tema “Cinta (Wisata) Jawa Tengah”.

Banner Lomba Utama.jpg

A Learning From Toys At Under The Stairs ( Belajar Melalui Mainan di Museum Kolong Tangga )

It’s not easy to find the place despite located in center of the city. Lack of information and phisically attached to the Yogyakarta’s Cultural Center (Taman Budaya Yogyakarta / TBY) building which has longer history cause it less known obviously. Museum Anak Kolong Tangga (‘The Under The Stairs’ museum) as the name implies, it is situated under the stairs of an auditorium. Relatively small, more like a warehouse than a museum. Not a good start. But a turning point in sight. The front face is like a waving hand. It invites anyone to come closer. Colorful paintings distingushes it among the white wall. Like a kid who don’t want to give up easily to attract the attention of the adults around him just to let them know he is there.

Do You Have A Name? So We Do (Kami Juga Punya Nama)

Hello, sir. Welcome to Malioboro. We’re happy to see you. If you dont mind, where do you come from? Ah, that’s not important. We have no business with that after all. Thank you for coming, sir. You make the economic wheel spinning, at least for people along this legendary road. Our wheel too, literally. That if our masters are good at persuading or just get a luck. That’s why we happy if you take a ride on us. Otherwise our quiescent is our master’s gloom.