Tugas Utama Pendidik

 

Saat saya menulis ini, 23 Oktober 2019, lini masa media sosial dipenuhi dengan kehebohan seorang Nadiem Makarim, didapuk menjadi Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan. Berbagai meme dan guyonan berseliweran. Namun tak sedikit pula yang cukup serius dengan melontarkan pertanyaan atau meramalkan inovasi macam apa yang akan dibawa si pendiri Gojek ke ranah pendidikan di Indonesia yang seperti benang ruwet. Wajar mengingat usia Nadiem masih 35 tahun sekaligus latar belakangnya di bidang aplikasi digital yang sarat dengan inovasi dengan kebaruan. Harapan tinggi membumbung.

Tulisan ini tidak berhubungan langsung dengan Nadiem menjadi menteri namun relevan dengan konteks pendidikan. Ketika membicarakan pendidikan maka satu hal yang langsung terbayang adalah guru alias pendidik atau pengajar. Bagi saya mereka memang ujung tombak pendidikan terlebih setelah saya merasakan berada di posisi mereka. Tiga tahun terakhir saya mulai sering menjadi pengisi materi baik itu berupa sesi berbagi (sharing session) atau lokakarya (workshop). Bidangnya tentu saja fotografi, foto cerita khususnya.

Pengalaman ini ditambah dengan diskusi dengan sesama pegiat pendidikan, mengantarkan saya pada sebuah pemahaman baru tentang apa tugas utama seorang guru di masa kini. Dulu fungsi pokok seorang guru adalah memberi tahu. Guru adalah yang serba paham dan berkewajiban menyodorkan informasi pada anak didiknya. Ini menjadi tidak relevan lagi sekarang seiring makin melimpahnya akses informasi. Seorang murid lebih tahu banyak hal daripada gurunya hanya karena tiap hari memegang HP pintar sementara gurunya yang tua itu gaptek. Kenapa tidak? Itu bisa saja terjadi.

Dalam kelas publiknya pertengahan 2019 lalu, Shahidul Alam, seorang jurnalis foto senior sekaligus aktivis pendidikan fotografi di Bangladesh memberi jawaban yang lugas; menumbuhkan penasaran atau rasa ingin tahu. Dalam Bahasa Inggris ia menyebutnya curiousity. Parameter sekilasnya, bukan seberapa banyak murid bisa menjawab pertanyaan atau mengetahui sesuatu tapi berapa banyak pertanyaan yang ia lontarkan. Terlihat sederhana namun sulit dan juga sebaliknya. Pertanyaannya, bagaimana implementasinya?

Berdasarkan pengalaman mengisi kelas dan berkaca pada masa kecil saya yang menjadi produk Orba yang dimatikan nalar dan daya kritisnya secara terstruktur, masif dan sistematis, caranya bisa jadi sangat sederhana. Pertama, sering melontarkan pertanyaan pada murid atau peserta kelas. Ah, itu sepertinya sudah umum dilakukan oleh guru sejak dulu. Benar, tapi bukan itu masalahnya. Jenis pertanyaan seperti apa yang mestinya diajukan. Di sekolah yang sering dilontarkan adalah jenis pertanyaan tertutup, yaitu pertanyaan yang jawabannya sudah disediakan. Contoh, kamu suka sate atau soto?

Sekilas sederhana tapi ‘berbahaya’ karena sangat berpotensi memunculkan informasi yang tidak tepat sebab jawabannya sudah diarahkan. Ini mendorong pada cara berpikir yang salah. Saya teringat beberapa tahun lalu ada seorang menteri dicap tidak nasionalis hanya karena sebuah pertanyaan apakah yang bersangkutan lebih suka ayam bakar atau ayam KFC. Ia menjawab yang kedua.

Pertanyaan terbuka lebih tepat; apa makanan yang anda sukai. Secara mudah kita bisa bayangkan mana pertanyaan yang lebih merangsang untuk berpikir. Ini yang membuat saya kini tak lagi menggemari pertanyaan pilihan ganda. Alih-alih melatih otak, justru mengajarkan klenik dengan menghitung kancing baju, suara tokek atau hal-hal tak masuk akal lainnya.

Yang kedua, lebih sederhana namun justru sangat penting yaitu respon guru terhadap jawaban si murid. Di sekolah dulu para guru saya selalu berkata “Salah” ketika muridnya tidak bisa memberikan jawaban tepat.  Yang terjadi si murid seketika akan berhenti berpikir sambil menunggu jawaban benar, yang pada akhirnya muncul dari si guru itu sendiri.

Ada satu pengecualian. Seorang guru SMP saya selalu mengatakan “Hampir” ketika muridnya memberi jawaban. Saya tak pernah tahu betapa mujarabnya kata ini hingga bertahun-tahun kemudian melihat tayangan stand up Pandji Pragiwaksono. “Hampir” membuat peserta didik terus berpikir karena otaknya tersugesti bahwa jawabannya sedikit lagi benar. Jika bisa mempraktekkan dua hal ini secara rutin, kelas akan menjadi ajang diskusi yang seru alih-alih kegiatan belajar-mengajar yang kaku nan membosankan.

Terlihat sepele tapi jika bisa dilakukan secara rutin dan kolektif (Oke, lupakan semua guru bisa melakukannya tapi minimal satu atau dua guru di tiap sekolah) saya yakin perbedaan signifikan dapat tercipta. Ini bisa dilakukan oleh siapapun termasuk anda. Saya telah mempraktekannya dan melihat sendiri hasilnya. Tak perlu menjadi guru sekolah untuk melakukannya karena pada dasarnya tiap kita adalah murid sekaligus guru. Kita adalah pendidik bagi anak-anak, adik-adik, keponakan-keponakan atau siapapun yang lebih tidak paham dibanding kita.

Pada akhirnya nasib pendidikan bangsa ini tidak bisa digantungkan pada seorang Nadiem Makarim atau para guru di sekolah. Saya melihat apa yang telah tertulis ini bisa menjadi peluang sekaligus langkah kecil untuk memulai perbedaan. Masalahnya kita sering menginginkan munculnya perbedaan namun enggan beranjak dari zona nyaman. Mengutip kembali perkataan Shahidul Alam; Want a change? Be the change.

Indonesian-based photographer and story teller

What's on your mind