Manisnya Gula Semut Itu Bernama Semedo

Semedo, Kisah Manis Gula Semut

Semedo, desa kecil yang tengah riuh dalam suasananya yang sejuk nan adem ayem. Biangnya, roda ekonomi yang berputar kencang berkat gula kristal merah alias gula semut. Padahal lima tahun lalu para penyadap nira di Semedo menjual hasil sadapan pohon kelapa itu dengan harga hampir dua kali lebih rendah. Perubahan itu datang dari seorang pemuda lokal yang saat itu bahkan belum bisa membuktikan apa-apa.

Awal hari masih berselimut kabut. Suara tongeret dan titik air berjatuhan memenuhi ruang pendengaran. Di tengah rimbunan hijau sesekali angin menyelinap. Syahdu betul pagi itu. Di tengah sunyi yang khusyuk sesekali terdengar suara manusia dari sisi atas. Bunyi itu saling bersahutan, menandakan sumbernya lebih dari satu. Mereka adalah warga lokal yang tengah menyadap nira pohon kelapa.

Sakrun turun meniti satu per satu rongga buatan di batang pohon. Walaupun sudah terbiasa, licin akibat hujan semalam memaksanya lebih berhati-hati. Di pinggangnya terikat dua ember kecil berisi air sadapan kemarin. Warnanya putih kusam dan mengeluarkan bau manis. Begitulah rutinitas awal hari bagi Sakrun dan sekitar seratus warga yang berprofesi sebagai petani kelapa di Desa Semedo, Kecamatan Pakuncen, Banyumas.

“Sehari biasanya dapat 20 sampai 25 liter. Tapi kalau sedang musim hujan tak sebanyak itu”, kata Sakrun sembari meniti jalan setapak menuju kediamannya tak jauh dari kebun kelapa yang baru saja ia panjat. Di tangannya tertenteng jerigen berisi nira yang ia sadap dari beberapa pohon kelapa. Sesampai di rumah ia langsung menuju dapur di sisi samping. Dapurnya terlihat rapi dan bersih dengan alas keramik putih, sebuah kondisi yang jamak ditemui di Semedo. Pemandangan ini adalah anomali bagi dapur yang biasanya kumuh dan berantakan.

 

Dengan lincah Sakrun naik dan turun pohon kelapa meski licin akibat hujan semalam.

Pada pohon kelapa dan ceruk-ceruk ini para penyadap nira menyandarkan hidupnya.
Dalam sehari tak kurang 20 pohon kelapa dipanjat oleh Sakrun. Ember kosong selalu dibawa untuk nira yang disadap beberapa hari sebelumnya
Normalnya dalam sehari para penyadap nira bisa mendapat sekitar 20 liter.
Potret Sakrun, salah satu dari warga Semedo yang menggantungkan nasib dari sadapan nira kelapa

Tak lama setelah menyiapkan wajan, kayu bakar dinyalakan dan air nira dalam jirigen dituang ke wajan. Sekitar lima belas menit kemudian nira mulai mengental dan mulai diaduk. “Harus diaduk terus lumayan lama sampai benar-benar kental dan kering”, tukas Sakrun. Pria 52 tahun itu menjelaskan banyak hal baru yang harus dibiasakan dalam rutinitas pekerjaannya yang telah dijalani sejak tiga dekade lalu itu. “Sudah sekitar lima tahun ini saya melakukan proses yang lebih ketat. Sebelum ini pengolahannya ya seadanya saja. Tapi demi penghasilan yang lebih baik, ya tidak apa-apa belajar lagi”. Kebiasaan baru ini termasuk menghilangkan pengawet dan bahan kimia sebagai pembasmi hama.

Warga Semedo yang berprofesi sebagai petani kelapa termasuk Sakrun belum terlalu lama menjalani awal yang baru. Sebelumnya mereka menyadap nira dan menjual hasil pengolahannya sebagai gula merah cetak konvensional yang saat ini seharga Rp 10.000 per kilo. Kini mereka menjual gula merah sebagai bahan baku pembuatan gula kristal merah yang meskipun prosesnya lebih lama dan rumit namun bernilai lebih tinggi yaitu Rp 17.000. Perubahan itu datang dari seorang pemuda lokal bernama Ahmad Sobirin yang dengan gigih meyakinkan warga di desanya bahwa nira kelapa bisa bernilai lebih jika diolah dengan lebih baik, dalam hal ini sebagai gula kristal merah atau yang juga disebut sebagai gula semut.

“Bahan bakunya sama hanya beda bentuk dan butuh kualitas yang lebih baik termasuk harus steril dalam urusan kebersihan,” kata Sobirin. Standar tinggi pengolaahan gula semut ini ternyata berefek samping positif pada kebersihan dapur warga. “Dapur harus bersih. Kalau perlu lebih bersih daripada ruang tamunya supaya sesuai standar kualitas. Jika terpenuhi bisa dijual Rp 17.000 ke pengepul lalu pabrik kami membeli dari pengepul Rp 18.000. Kami sendiri menjual hasil akhir ke pengekspor senilai Rp 20.000 per kilo”, lanjutnya. 90% gula kristal dari Semedo ini diekspor. Pasar luar menggemari gula kristal karena organik, higienis dan rendah kadar gula. Keunggulan lainnya yaitu kadar air minim sekitar 2 persen sehingga awet hingga setahun lebih.

Nira harus selalu diaduk lama supaya tak menggumpal sekaligus menekan kadar air serendah mungkin.
Dengan proses baru yang lebih ketat, diharapkan gula merah di level petani menyentuh kadar air rendah sampai 10%.
Gula dari warga lalu dikeringkan lagi di pabrik menggunakan oven sehingga diperoleh kadar air sampai 2%.

Pabrik gula kristal milik Sobirin sebenarnya hanyalah bangunan kecil berukuran sekitar 8 x 6 meter bercampur dengan pemukiman. Tak ada jendela kecuali celah kecil sebagai ventilasi dan tempat masuk cahaya. Di celah tersebut dan pintu dipasang jaring-jaring kawat guna mencegah lalat masuk. Ruangan kecil itu berisi bermacam peralatan seperti oven pengering, alat pengayak dan alat sortir. Semua proses di dalamnya diawaki delapan pekerja wanita dan tiga pekerja lelaki. Semuanya warga Semedo. Di sinilah gula-gula dari petani diolah menjadi gula kristal yang sangat halus. Dengan kata lain, bangunan kecil ini adalah jantung perekonomian Semedo yang baru.

“Bersyukur sekali bisa sampai sejauh ini. Dulu yang paling sulit adalah mengubah pola pikir masyarakat,” Sobirin menceritakan kisahnya. Kala itu selain harus menghadapi para warga senior yang berpola pikir lama, ia sendiri belum memiliki pekerjaan tetap sehingga belum bisa memberi bukti. ”Saya sendiri belum sukses bagaimana mau meyakinkan orang lain.”

Untungnya pengusaha yang mengajak saya berusaha gula kristal ini sabar dan terus memberi kepercayaan. Selain membimbing dia juga memiliki jaringan ke pasar luar negeri terutama Amerika dan Eropa” lanjut pria 31 tahun tersebut. Karena sudah memiliki pasar itu pula yang membuat Sobirin yakin dengan perjuangannya. Saat ini usaha pembuatan gula kristal milik Sobirin yang bernama CV Karya Muda Jaya itu mampu memproduksi maksimal 1 ton per hari.

Hampir dua tahun waktu yang diperlukan untuk meraih kepercayaan warga Semedo. Awalnya hanya segelintir warga yang sudi bergabung. Bukti nyata yang konsisten akhirnya menyeret lebih banyak petani kelapa di Semedo menjadi penyuplai bahan baku gula kristal bagi pria alumni UGM tersebut. Geliat Sobirin ternyata terendus oleh Pemda Banyumas. Pada tahun 2015 Dinas Pemuda & Olaharaga setempat mendaftarkannya ke sebuah kompetisi nasional bagi enterpreneur muda yang diadakan oleh salah satu perusahaan multinasional. Setelah hanya masuk 200 besar, tahun berikutnya di ajang yang sama Sobirin menggapai tahap 4 besar.

Demi menjaga standar mutu, semua pekerja dalam pabrik harus bermacam penutup anggota badan seperti masker, sarung tangan dan penutup kepala.
Setelah dioven dan diayak, serbuk gula merah disortir secara manual.
Proses sortir bertujuan untuk menghilangkan butiran gula yang gosong saat pengeringan atau yang tak memenuhi standar lainnya.
Hasil akhir berupa gula kristal yang digemari pasar luar karena organik dan rendah kadar glukosa namun tetap manis.

Mengetahui apa yang dilakukan Sobirin juga berdampak pada warga desanya, si perusahaan multinasional tersebut menginginkan sepak terbang Sobirin berdampak lebih luas. Pertengahan 2018 ia ditawari memegang program pemberdayaan masyarakat bidang kewirausahaan di Semedo.

Bertajuk Kampung Berseri, program tersebut tak lagi menyasar Sobirin sebagai pengusaha individu tapi juga para petani kelapa di Semedo. Sadar bahwa mereka adalah hulu sekaligus mitra utama usaha gula kristalnya, Sobirin tak berpikir dua kali mengiyakan ajakan itu. Apalagi desanya itu terlanjur dikenal sebagai penghasil gula semut di Banyumas dan Jawa Tengah. Merk dagang Semedo Manise yang dilabelkan turut pula memberi andil.

Saat ini Sobirin membina sekitar 6 kelompok petani kelapa yang beranggotakan 400 orang yang tersebar di beberapa desa. Setengahnya merupakan penyumbang langsung bahan baku ke pabriknya. Jumlah itu termasuk sekitar 100 orang petani di Semedo yang tergabung atas nama Kelompok Manggar Jaya yang ia bentuk. Tawaran Kampung Berseri itu memberi tanggung jawab yang lebih besar. Sobirin ditargetkan bisa membina 700 petani kelapa. Salah satu bentuk bantuan dalam program tersebut yaitu pemberian alat bantu pengolahan nira pada petani.

“Saya senang karena bantuan yang dikucurkan tak hanya berkelanjutan namun juga berdampak luas pada masyarakat. Karena sesungguhnya ini mata rantai, saya sejahtera karena petani dan sebaliknya,” ungkap Sobirin. Tantangan berikutnya selain membina petani juga meningkatkan kualitas produk gula kristal. “Pasar luar baku mutunya sangat ketat. Kurang sedikit pasti dikembalikan. Sekarang saya sedang mengejar sertifikasi organik, perbaikan standar produksi dan sertifikasi koser (halal bagi penganut Yahudi). Saya juga punya ide Semedo menjadi desa wisata dengan perkebunan dan pengolahan kelapa sebagai daya tarik utama”, pungkasnya.

Jauh dari hiruk pikuk kota, desa kecil Semedo di sisi utara Banyumas ini berhawa sejuk dan adem ayem, cocok bagi pencari ketenangan atau menikmati hari tua. Namun dalam senyap Semedo tengah riuh dengan gelora perputaran roda ekonomi berkat kelapa dan gula kristalnya. Seorang pemuda lokal yang gigih dengan inovasi, warga desa yang mau menerima perubahan dan tentu saja potensi sumber daya alam lokal yang bernilai tambah, ketiganya saling terikat dan menjadi modal ideal bagi Semedo untuk menggeliat sekaligus sejalan dengan harapan pemerintah saat ini yaitu membangun Indonesia dari desa.

Semedo Manise yang telah menjadi ‘pemanis’ bagi warga Semedo.

Indonesian-based photographer and story teller
3 comments
  1. kirain kisah kasih di sekolah hahahaa

    1. oh, tenang. itu pasti ada. banyak.

  2. Ini sama dengan brown sugarkah? Bentuk fisik dan warnanya kok mirip…

What's on your mind