Binongko, Penghasil Parang Setangguh Karang

Binongko, Penghasil Parang Setangguh Karang

Binongko, pulau ujung Wakatobi, tempat lahir parang setangguh karang yang beredar ke segala penjuru sejak berabad lalu. Sebuah bukti Wakatobi tak sekedar bahari.

“Tang tang tang tang ….”. Suara logam bertumbukan bertaluan, menghingar-bingar di seluruh penjuru sebuah desa. Bising raungan gerinda dan hembusan pompa api menyelinap di antaranya. Sementara suara debur ombak dan angin laut menjadi latar sekaligus menjalinkan semuanya menjadi sebuah harmoni bunyi. Begitulah yang terdengar saban hari di pesisir barat Pulau Binongko, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sebuah ‘orkes’ yang telah berlangsung sejak beberapa abad silam.

Peluh memenuhi sekujur badan Arwadin. Bajunya kuyup. “Sedikit lagi”, katanya sambil mengelap keringat di wajah, “Sebentar lagi sudah jadi parang.” La Awa, begitu ia biasa dipanggil adalah salah satu pandai besi di Desa Sowa, Binongko. Ratusan warga pulau paling ujung Wakatobi itu menggantungkan nasib sebagai pembuat parang. Pondok pandai besi tersebar di seantero pulau terutama sisi barat namun pusatnya berada di Sowa. Desa kecil itu layaknya sebuah kompleks bengkel logam.

Rutinitas para pandai besi di Sowa, Binongko.
Pantang menyerah sebelum memerah dalam api.
Beberapa pembuat parang mempertahankan cara lama, menajamkan parang tanpa gerinda
Salah satu pondok kerja yang ditinggal awaknya rehat siang.

 

Baca juga : Imaji Wakatobi (bag. 1)

Warisan Tradisi

Ada sekitar 90 pondok kerja yang aktif di Sowa dengan ukuran sekitar 2,5 x 3 meter. Masing-masing pondok biasanya diisi 2 pekerja. Produk-produk yang dihasilkan adalah peralatan agrikultur namun parang yang menjadi unggulan. Parang Binongko dikenal tajam dan awet. Wujudnya khas dengan bentuk seperti segitiga di ujung, mirip dengan yang dipegang Pattimura di lembaran seribu rupiah edisi tahun 2000.

Nama sang pahlawan nasional dari Maluku itu memang disebut di salah satu kisah yang paling sering dituturkan tentang asal muasal tradisi pandai besi di Binongko. Beberapa bahkan menyebut Pattimura berasal dari pulau ini, terlepas hikayat itu benar atau tidak. “Seperti kebanyakan warga di sini, saya belajar menjadi pandai besi sejak remaja. Buyut, kakek dan ayah saya juga bekerja membuat parang. Selebihnya adalah cerita yang dituturkan secara turun-temurun,” jelas Arwadin.

Pekerjaan pandai besi adalah anomali dibandingkan umumnya mata pencarian warga Binongko dan Wakatobi yang menjadi pelaut. Apalagi pulau karang itu tak punya atau jauh dari tambang bijih besi. Namun di Binongko khususnya di Sowa profesi ini adalah tradisi sejak berabad-abad lalu. Bahkan Wakatobi sendiri di masa lalu bernama Kepulauan Tukang Besi. “Toekang Besi Einlanden”, begitu julukan yang diberikan Belanda saat berkunjung pada abad 17. Sumber lain menyebut “Toekang Besi” berasal dari nama Raja Telukabesi, salah satu tokoh yang diasingkan oleh VOC ke sini.

Kesulitanmendapat air tawar, banyak warga Binongko memanfaatkan wadah-wadah serupa kendi untuk menampung air hujan.
Tari Balumpa adalah salah satu tarian khas Binongko yang dipentaskan dengan iringan musik gambus.
Pantai One Melangka, permata yang mengundang penasaran berkat hamparan pasirnya sementara Binongko didominasi karang.
Kebutuhan logistik Binongko dipenuhi dari Bau-Bau menggunakan kapal kayu yang menempuh perjalanan sekitar 10 jam.
Sejarah Awal

Menurut buku Sejarah Peradaban Binongko Wakatobi Buton karya La Rabu Mbaru, ketrampilan membentuk logam warga Binongko didapat dari Raja Binongko ke empat, La Soro atau yang lebih dikenal sebagai Kapitan Waloindi. Tokoh yang berasal dari daerah yang disebut “Tanah Barat” itu berkuasa di Binongko pada abad 13 membawa sejumlah pengetahuan termasuk keahlian menempa besi.

Menurut Arwadin saat ini ia dan hampir semua pandai besi di Binongko mendapatkan bahan baku dari Surabaya, sebagain besar berupa bekas onderdil kendaraan roda empat seperti plat besi, cakram atau per. “Setelah dipotong sesuai ukuran lalu dipanaskan di tungku sampai warnanya merah. Selanjutnya ditempa sampai pipih”, jelas pria 53 tahun itu. Tahap berikutnya yaitu penyelesaian akhir dengan menggerinda permukaan sampai rapi. Dalam seminggu Arwadin dapat menghasilkan parang ukuran standar 40 sentimeter sebanyak sekitar 100 buah. “Sebenarnya tergantung pesanan. Tapi syukurlah sampai saat ini pesanan selalu ada”, jelasnya.

Roda Ekonomi

Bilah-bilah tajam itu dijual tanpa gagang dengan kisaran harga Rp 25.000 sampai Rp 30.000. Pembelinya adalah pemborong yang memasarkannya ke daerah-daerah timur seperti Maluku dan Papua. Aktifitas perkebunan kelapa dan sawit yang intensif di daerah tersebut melahirkan kebutuhan tinggi akan parang. Setelah dipasang gagang bilah-bilah tajam itu dijual seharga Rp 80.000 sampai Rp 100.000. “Sekali borong biasanya saya bawa sekitar 700 sampai 1000 parang. Jumlah itu selalu habis tak lebih dari 6 bulan,” ujar Mustafi, 40, salah satu warga setempat yang bekerja sebagai makelar.

Parang-parang yang menunggu dipasang pegangan.
Beberapa peralatan andalan para pandai besi Binongko.
Dari limbah onderdil mobil menjadi bilah-bilah tajam.
Tanaman pun tumbuh di atas batu. Batu bertanah bukan tanah berbatu, begitu sebut warga setempat.
betor Tossa yang menjadi urat nadi transportasi masal Binongko.
Susah sinyal membuat sebagian besar warga Binongko gemar menghabiskan waktu di luar demi kenikmatan bersosial media.

 

Baca Juga : Mengintip Dapur Mobil Hias Jogja

Minim Popularitas

“Parang-parang kami ini sudah beredar ke berbagai wilayah sejak ratusan tahun. Tapi sayangnya tak banyak yang tahu kalau bilah-bilah tajam itu berasal dari sini,“ keluh Arwadin. Tantangan itu berusaha dijawab oleh pemerintah daerah setempat. Pada pertengahan 2018 Pemda Wakatobi mendatangkan sejumlah desainer profesional melalui Badan Ekonomi Kreatif untuk berkolaborasi sekaligus memberi bantuan.

“Kami mencoba mengenalkan teknik-teknik pengikisan logam untuk membuat pola tulisan atau gambar pada parang. Harapannya pola tersebut menjadi semacam tanda pengenal atau merk. Lebih jauh lagi bisa menjadi ornamen estetis sehingga parang bukan lagi sebagai barang fungsi tapi koleksi.” ungkap Rengkuh Banyu, salah satu desainer asal Bandung yang datang ke Binongko. “Jika bisa diwujudkan maka akan memberi nilai ekonomi lebih,” lanjutnya. Arwadin dan beberapa rekan sejawatnya tampak antusias dengan hal baru ini dan langsung mempraktekannya. Babak baru parang Binongko baru saja bergulir.

Binongko, pulau terujung dari kepulauan Wakatobi ini memiliki alam yang keras. Lanskapnya didominasi batu karang nan tajam. Faktor alam dan posisi tersebut membuat Binongko paling sedikit menerima pelesiran pelancong dibanding 3 tetangga yang lain, Wangi-Wangi, Kaledupa, dan Tomia. Pariwisata kurang bisa diandalkan di sana meskipun Wakatobi adalah pionir wisata selam di Indonesia, bahkan gelar Destinasi Wisata Prioritas baru saja disandang kabupaten tersebut awal 2018. Namun parang-parang setangguh karang memberi secercah kehidupan sekaligus menyadarkan bahwa Wakatobi tak melulu bahari.

Pemandangan di Sowa yang menghadap langsung Laut Flores.
Seorang desainer menggambar pola di atas parang
Salah satu contoh eksperimen yang menjadikan parang Binongko seperti barang koleksi alih-alih penebang sawit.
Potret Arwadin alias La Awa, salah satu perajin parang senior di Sowa.

Tulisan ini juga ditayangkan dengan suntingan seperlunya di Destinasian Indonesia.

Indonesian-based photographer and story teller
29 comments
  1. Wakatobi selalu menawarkan keindahan yang tak jemu di pandang mata. Jadi pengen balik lagi ke sana.

    Dari Wangi-wangi ke Binongko berapa lama yaaa, mas?

    Saya belum sempat nih ke Binongko.

    http://Www.aulaandika.com

    1. Wangi-Wangi ke Binongko sekitar 6 jam

  2. Wow. Ga nyangka bahan bakunya limbah Mobil ya. Kadang hal seperti ini luput dari perhatian saya, menarik juga membacanya

    1. Penasaran dulu sebelum jaman ada kendaraan modern bahan bakunya apa ya? Kemarin kok lupa ga nanya. ha2..

      1. Curiga menambang bijih besi sendiri atau “import” biji besi dengan daerah lain

  3. Wah baru tau loh kalo Parang itu dihasilkan sama Binongko dan banyak beredar untuk penebang sawit. Orang yang ngga tau mengira bahwa parang itu bisa dibikin sama siapa aja, ngga ada daerah khasnya. 🙂

    1. Tapi parangnya yang khusus bentuknya kayak segitig lancip ya. Itu banyak beredar di Indonesia timur. kalau parang yang di Jawa sepertinya bukan dari Binongko

  4. Harganya cukup mahal ya… Mungkin sesuai ketajamannya kali ya…

    1. Memang standar harga parang biasanya berapa ya? Aku malah kurang tau

      1. Kalau di Kudus harga parang kisaran 30.000 – 50.000 an

  5. Kehidupan mereka rata2 sebagai pandai besi ya, mas? Disana kenapa daerah sulit air bersih?

    1. Yang banyak pandai besinya yang di pesisir barat. kalau daerah lain mungkin ada tapi ga sebanyak yg di barat. Sulit air karena kondisi lanskapnya. Itu pulau nyaris batu semua. hampir ga ada tanah

      1. Deuh, kekmana ejie yg butuh air minum banyak yak? Gabisa lepas dari bawa tumbler.

        1. kalo udah dimasak udah ga asin sih. tapi tetep aja ga sesegar air tawar

          1. Jadi rasa teh bergaram ya kak? 😀

  6. Parang itu kalau di sunda namanya bedog, unik juga ya kreatif dari onderdil bekas jadi parang untuk nebang sawit 🙂

    1. Halo Vita, terima kasih telah berkunjung. Iya, masing2 daerah punya senjata tajamnya yang khas. Cuma yang di Binongko ini dikenal gara2 lembaran seribu rupiah itu

  7. waaaah hasilnya kereeen ya bang

    1. kolaborasi adalah kunci

  8. Hi Kak Alfian,

    Fotonya bagus-bagus deh ^_^
    Berita soal parang ini yang terkadang aku luput deh, padahal banyak peninggalan budaya Indonesia yang menarik buat diketahui yah. Thanks for sharing yah Kak ^_^

    Cheers,
    Dee – http://heydeerahma.com

    1. Halo Dee,
      terima kasih telah berkunjung ya

  9. Menarik ya, jdnya cakep kl udah diksh gambar pola hehe.
    Bahan bakunya mayan jg ya ambilnya dr Surabaya :o.

    1. Nah itu yang aku masih penasaran kalau jaman dulu apa ambilnya dari surabaya juga?

  10. Aku baru tau soal model parang ini dibuat di Binongko. Ada teknik dan filosofisnya juga ternya.

    1. katanya sih dari dulu modelnya gitu terus ga pernah berubah

  11. Berarti mereka benar-benar pandai besi, ya? Mirip seperti buku cerita anak-anak itu lho..

    1. eh, belum pernah liat bukunya sih jadi ga tau. ha2…btw terima kasih telah berkunjung

  12. Ternyata dari sini ya parang Pattimura yang tersohor itu..selalu senang main ke blogmu, nambah ilmu mas..

    1. yoai, konon ceritanya sih begitu. terima kasih udah berkunjung yes

What's on your mind