Festival Egrang, Membangun Indonesia Dari Pinggiran

Wawan tampak sedikit tegang. Ia sudah biasa bermain egrang tapi kali ini sama sekali berbeda. Ini adalah kedua kali ia menaiki tongkat bambu yang sangat tinggi, 2 meter tepatnya. Namun ditonton banyak orang adalah tantangan utamanya. Rasa tak nyaman memuncak ketika giliran kelompoknya berada di performance area. Ratusan mata memandang termasuk tiga orang juri. Walau sempat salah gerak, namun akhirnya bocah 12 tahun itu lega bisa menyelesaikan koreografi tanpa terjatuh. Menjadi satu-satunya anak yang memakai egrang paling tinggi menyimpan resiko tersendiri. Jika sampai terjatuh rasa sakit yang teramat sangat masih tak seberapa dengan malu yang harus ditanggung. Belum lagi ejekan dari teman sekolahnya di kemudian hari. Senyum lebar tersungging di bibir saat di garis akhir Wawan kembali menapak tanah.

Begitulah salah satu cuplikan kegiatan Festival Egrang yang berlangsung di Ledokombo, Jember, Jawa Timur. Acara tahunan ini digelar pada akhir September 2017 dan telah mencapai usia ke 8. Penggagasnya adalah Komunitas Tanoker yang didirikan oleh pasutri Suporahardjo dan Ciciek Farha, dua orang pegiat sosial dan pendidikan. Di hari-hari biasa wilayah ini jauh dari keriuhan bahkan bisa dibilang sepi. Namun hari itu desa kecil tersebut terlihat kontras dengan dengan hiasan bambu dan mural berwarna-warni serta tentu saja arak-arakan Festival Egrang yang sebagian besar pesertanya adalah anak-anak dan remaja. Kemeriahan ini juga mengundang perhatian media dan pengunjung dari luar Ledokombo. Warga negara asing bahkan terselip di antara kerumunan penonton.

Menjadi semakin ramai karena hari itu beberapa pejabat penting ikut datang. Sebut saja seperti Bupati Jember Faida dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise yang didapuk membuka acara. Kegiatan pawai dan lomba egrang sendiri berlangsung dari tengah siang sampai jam 5 sore. Sejumlah stan yang menjual makanan dan produk kreasi warga lokal juga turut meramaikan. Kegiatan di hari tersebut sesungguhnya merupakan penutup sekaligus puncak dari beberapa rangkaian acara pembuka seperti jambore anak, lomba menggambar, lomba inovasi produk, seminar dan lain-lain.

Tak seperti kegiatan sejenis, Festival Egrang memiliki latar belakang yang kurang menyenangkan. Ledokombo lama dikenal sebagai kantong buruh migran di Jember. Sementara Jember sendiri merupakan salah satu penyumbang utama Tenaga Kerja Indonesia di Jawa Timur. Daerah ini memang belum menawarakan banyak hal untuk digarap sehingga penduduknya marak hijrah termasuk menjadi TKI di luar negeri. Pilihan tersebut membawa konsekuensi sosial yaitu banyak anak yang kehilangan kasih sayang dari pengasuh utama yaitu orang tua terutama ibu. Kondisi ini menempatkan anak menjadi rentan terlibat dalam masalah sosial bahkan kriminal.

Situasi ini yang mengundang Suporahardjo dan Ciciek Farha turun tangan dengan membentuk Tanoker sebagai sarana edukasi bagi anak-anak Ledokombo yang didominasi anak buruh migran. Dalam bahasa Madura, suku yang banyak mendiami wilayah ini, tanoker berarti kepompong. Permainan tradisional dan musik termasuk egrang menjadi ujung tombak sebagai media penanaman karakter. Ditunjang dengan kondisi alam pedesaan yang masih asri, Tanoker berkembang menjadi kampung wisata. Selain menghasilkan pusaran ekonomi, langkah ini juga memberi kesempatan lebih luas bagi anak-anak Ledokombo untuk belajar melalui interaksi dengan orang luar. Perlahan tapi pasti perubahan mulai menjalar di Ledokombo. Bahkan anak-anak setempat turut menjadi bagian motor perubahan tersebut.

Hidup yang baik adalah yang seimbang dan egrang menjadi simbol Tanoker karena permainan sederhana ini membutuhkan keseimbangan. Dari Tarian Egrang yang diciptakan anak-anak Ledokombo ini muncul gagasan menggelar sebuah kegiatan massal yang menjadi lambang semangat perubahan. Tujuan utama lainnya yaitu menjadi ajang bagi anak-anak bahwa mereka bisa berbuat sesuatu jika diberi ketrampilan dan kepercayaan. Dari yang awalnya hanya anak-anak, kini perlahan warga senior terutama guru sekolah turut terlibat. Cerminan Festival Egrang sebagai virus perubahan mulai tergapai. Peran lainnya tentu saja sebagai ajang bersenang-senang sekaligus promosi wisata bagi Ledokombo.

Festival Egrang mungkin masih jauh dibanding Jember Fashion Carnaval, rekan sekompatriot Β yang telah mencapai level internasional. Namun warga Ledokombo boleh berbangga. Mereka tengah bergerak ke arah yang lebih baik. Satu yang paling penting yaitu mengubah paradigma yang terlanjur mengkristal terhadap anak buruh migran yang rentan terlibat konflik. Mereka bukan sumber masalah melainkan korban dari masalah. Tanoker melalui Festival Egrang berupaya untuk meluruskan pandangan tersebut.

Secara umum Festival Egrang adalah sarana penguatan masyarakat desa dalam partisipasi pembangunan melalui kegiatan seni dan edukasi sehingga berdampak pada sektor ekonomi lokal di Jember dan Ledokombo khususnya. Harapan besar membuncah agar Festival Egrang dan acara sejenis terus hadir dan berkembang selaras dengan misi pemerintah saat ini yaitu membangun Indonesia dari pinggiran.

 

14 Comment

  1. Pasti deg-dengan banget main egrang sambil diliatin juri dan penonton. πŸ™‚

    1. pastinya. banyak yang grogi

  2. Sampai sekarang aku nggak bisa pakai Egrang πŸ™‚
    Pernah coba naik tapi jatuh terus

    1. toss

  3. Terakhir liat orang main egrang (ternyata penulisannya begini ya, kirain selama ini enggrang) pas jalan ke alun-alun Yogyakarta. Foto-fotonya cetaaaar πŸ™‚ paling suka yang adik-adik muka cemongan itu hahaha

    1. ntah itu cemongan karena bedak atau baluran tepung buat menghindari panas

  4. Semangat yang luar biasa. Kegiatan positif seperti inilah yang dibutuhkan para anak-anak dewasa ini, bukan mainan elektronik ataupun gadget.

    1. gadget pun sebenarnya tetap bermanfaat asalkan digunakan secara seimbang

  5. Keren sekali ya. Festivalnya , begitu berwarna . Main Egrang harus bisa jaga kestabilan badan. Susah juga tuh. Waktu kecil pernah main

    1. Trus skrg gmn? masih bisa bermain kah?

  6. Dulu jaman kecil saya suka main egrang juga. Baca ini jadi kangen masa lampau. Gk tau deh sekarang masih bisa main egrang atau nggak.

    Kegiatannya terlihat kecil, hanya main egrang, tapi dampaknya dahsyat ya bagi anak-anak ini. Mereka jadi berani tampil. Kreatif memang Jember ini.

    1. Ini acara paling ramai di tempat tersebut, bahkan lebih ramai daripada momen idulfitri sekalipun

      1. oalah. mirip seperti pesta kebun di kabanjahe, sumatera utara. Acara pesta kebun itu sendiri lebih ramai daripada natal.

What's on your mind