Asa Seabad Kereta Api Indonesia

Aroma campur baur itu mengudara, menusuk relung hidung. Keringat manusia beradu dengan asap rokok, sampah pesing dan bau tak sedap lainnya. Kala itu saya adalah salah satu penumpang di gerbong ekonomi kereta Gaya Baru Malam Selatan menuju ibukota. Saya sendiri duduk berhimpitan di lantai bordes dekat toilet yang juga dipakai untuk duduk penumpang. Selama lebih dari 15 jam saya harus bertahan sejak berangkat dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta bersama penumpang, hewan ternak, pedagang, pengamen dan tentu saja pencopet. Maka nikmat tak terkira kala akhirnya kereta sampai di tujuan akhir dengan selamat. Begitulah kira-kira salah satu cuplikan kenangan 15 tahun silam saat saya pertama kali naik kereta tanpa orang tua atau keluarga.

Pengalaman tak nyaman itu nyatanya tak menyurutkan niat untuk bepergian menggunakan si ular besi. Ada kenikmatan tersendiri bepergian dengan kereta. Sedap dalam tiap aroma besinya, getar dalam gemuruh lajunya. Bahkan saya telah bertekad akan selalu naik kereta kemanapun selama ada kereta menuju tujuan tersebut. Tumbuh dan besar di lingkungan kereta memberi pengaruh besar. Ayah bekerja di perusahaan kereta api yang saat itu masih bernama Perusahaan Jawatan Kereta Api atau PJKA. Keluarga kami bahkan tinggal di depan bengkel kereta Balai Yasa Yogyakarta. Hampir setiap hari selama lebih dari dua puluh tahun saya mendengar dan melihat lokomotif hilr mudik.

IMG_5465_edit_resize
Suatu senja di Lempuyangan.
IMG_4547_edit_resize
Hiburan keluarga.
IMG_8647_edit_resize
Sebelum diberangkatkan.

Saat kecil ayah juga sering mengajak saya ke stasiun, dipo dan tentu saja bengkel kereta depan rumah. Ketika naik kereta tak jarang ia juga membawa saya ke kabin masinis, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan penumpang lain. Konsekuensi lain menjadi anak seorang pegawai kereta adalah fasilitas bepergian menggunakan si ular besi dengan gratis. Itu sebabnya saya sering bepergian dengan kereta dan percaya atau tidak, 90% jalur kereta di Jawa yang dilalui kereta penumpang telah saya lewati saat umur belum sampai 20 tahun. Dari ayah pula saya mengetahui banyak hal di belakang layar tentang dunia perkeretaapian.

Pengalaman tersebut membuat saya merasakan benar transformasi moda transportasi rel ini.  Dari jaman jahiliah sampai masa kini yang penuh prestasi. Jumlah penumpang dan laba yang terus meningkat siginfikan serta banjir penghargaan bagi PT.KAI. Ini yang saya lihat dari berita. Tapi yang menjadi afirmasi tersendiri atas puja-puji ini adalah pengalaman langsung. Bagaimana kini saya sering melihat wajah-wajah muda menjadi motor perubahan. Mulai dari kepala stasiun, teknisi, sampai mereka yang duduk di balik kabin.  “Gajinya lumayan, mas. Bangga juga kerja di sini”, begitu ucap salah seorang masinis muda yang mengobrol dengan saya di Stasiun Kutoarjo.

Alfian WS_08562865886_Menyiapkan Armada Baru_edit_resize
Melatih armada baru di Balai Yasa Yogyakarta
DSC09539_edit_resize
Membumi di lantai Gambir.
IMG_7879_edit_resize
Melongok dari Merak Ekspres.

Bandingkan dengan era dua dekade silam. Dari berita maupun dari ayah langsung, saya lebh banyak mendengar cerita pilu. Mulai dari kecelakaan, kerugian perusahaan sampai manajemen SDM  yang buruk di kalangan internal. Jangankan generasi sekarang, bahkan ayah sendiri yang sudah pensiun masih bisa merasa bangga menjadi bagian perjalanan PT.KAI. Beliau merujuk pada almarhum Darman Prasetyo, Agus Suroto dan Sofyan Hadi yang disebut pahlawan setelah ketiganya mengorbankan nyawa demi menyelamatkan penumpang saat KRL Serpong-Jakarta yang mereka jalankan menabrak truk bahan bakar pada 2013 lalu. Puncaknya mereka diabadikan sebagai nama fasilitas kerja PT.KAI dan keluarga yang ditinggalkan mendapat kesempatan bekerja di perusahaan yang sama.

Namun masih banyak ruang bagi perbaikan karena jaman terus berubah. Yang paling kentara tentu perluasan wilayah operasional. Peningkatan kualitas dan kuantitas jaringan rel adalah kebutuhan pokok. Di negara maju, kereta adalah tulang punggung angkutan darat. Kelebihan utama dalam memindahkan orang dan barang secara masal jelas tak bisa ditandingi moda lain. Ditambah lagi dengan keunggulan dalam urusan keselamatan, keamanan, dan ketepatan waktu.

Sayangnya di Indonesia itu belum terwujud. Hanya Pulau Jawa dan Sumatra yang memiliki jalur rel, itupun di Sumatra tidak tersambung satu dengan yang lain. Jaringan rel ke pelabuhan juga bernasib tak jelas. Padahal itu berperan penting sebagai jalur distribusi logistik. Untungnya walau terlambat pemerintah pusat sudah mulai bergerak seiring dengan rancangan pembuatan jalur rel di Pulau Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Pemerataan pembangunan tak bisa ditawar lagi. Sila ke 5 Pancasila mutlak segera ditegakkan.

IMG_5791_edit_resize
Peristirahatan terakhir di Stasiun Purwakarta.
IMG_5130_edit_resize
Sisa masa jahiliah di Stasiun Bogor – Manggarai.
IMG_0241_edit_resize
Bangunan tua Stasiun Siantar nan elok.

PT.KAI juga diharapkan tidak menjadi kacang yang lupa pada kulit. Di masa lalu kereta adalah andalan utama masyarakat kelas bawah karena tiketnya terjangkau dan bisa dibeli kapan saja. Namun kebijakan memperbanyak kereta kelas menengah ke atas dan mengurangi kelas ekonomi membuat kelas bawah lebih sulit menjangkau transportasi rel.

Pelayanan kereta jarak pendek sebagai transportasi komuter juga dirasa belum merata. Praktis hanya Jabodetabek yang memiliki sistem kereta komuter terintegrasi. Padahal wilayah komunal padat lainnya juga membutuhkan kehadiran pelayanan kereta. Salah satu contoh sekaligus yang paling mendesak adalah wilayah Surabaya dan sekitarnya. Sebagai kota terbesar kedua, tidak adanya sistem kereta komuter adalah ironis. Padahal di Surabaya terdapat cukup banyak jaringan rel sehingga memungkinkan dibuat loop seperti kereta komuter Jabodetabek.

Alfian WS_08562865886_Perjuangan Setiap Hari_edit_resize
Rutinitas harian di KRL Jabodetabek.
IMG_5221_edit_resize
Bumi Geulis, yang tak lagi beroperasi, parkir di Stasiun Sukabumi.
IMG_8582_edit_resize
Agar sedap dipandang di Dipo Kereta Yogyakarta.

Yang perlu dibenahi lainnya adalah keramah-tamahan khususnya petugas keamanan. Saya sering mendapati kejadian dan pernah juga terlibat. “Hei, kamu! Ngapain disini?! Penumpang itu di ruang tunggu disana, bukan disini!!”, seorang Petugas Keamanan Dalam (PKD) mendatangi saya sambil membentak dan tangan menunjuk-nunjuk. Saat itu saya sedang berjalan-jalan di peron tengah Stasiun Lempuyangan sambil menunggu kereta. Terlepas benar atau salah, saya merasa perlu mendapat respon yang lebih sopan apalagi itu teguran pertama.

Mengatur penumpang dengan latar belakang bervariasi bukan perkara mudah terutama dalam jumlah banyak. Apalagi karakter orang Indonesia yang masih buruk dalam urusan kedisiplinan. Namun menjadi tegas bukan berarti harus keras apalagi menjurus kasar. PT.KAI perlu mendidik semua petugasnya terutama yang bersentuhan langsung dengan penumpang agar lebih humanis. Lebih dari itu, bukan hanya tegas tapi juga cerdas. Saya pernah menjadi saksi salah satu contohnya.

Aktifitas logistik di Stasiun Surabaya Gubeng.
Antri naik di Stasiun Banjar.
IMG_7909_edit_resize
Berdesakan di Rangkas Jaya.

Saat itu kereta Bogowoto yang sedang saya naiki berhenti cukup lama di sebuah stasiun kecil. Di gerbong sebelah terjadi adu mulut antara seorang penumpang dengan kondektur yang didampingi seorang Polsuska. Penumpang laki-laki tersebut merokok di dalam toilet dan diketahui petugas yang lalu memintanya turun dari kereta karena telah melanggar peraturan. Walaupun menjadi tontonan banyak orang namun si penumpang bengal masih saja menolak dan bahkan marah-marah. Si kondektur nampak tenang menghadapi lawannya yang secara fisik juga lebih besar. Padahal petugas Polsuska nampak geram dan seperti tak tahan untuk menyentuh si penumpang nakal. Namun reaksi si kondektur sungguh tak terduga.

Ia meminta seorang rekan mengambil pengeras suara lalu berbicara kepada kepada seisi gerbong. “Bapak-ibu sekalian. Mohon maaf karena perjalanan ini terhambat. Namun bukan karena kami melainkan karena ulah seorang penumpang yang telah melanggar peraturan. Bapak ibu bisa lihat dengan jelas peraturan dan sanksinya di tiket dan dinding kereta. Barangsiapa merokok di dalam kereta maka harus diturunkan pada pemberhentian berikutnya. Dan seperti yang kita lihat bersama, bapak ini melanggar aturan dan menolak diturunkan. Karena itu perjalanan tidak akan diberangkatkan sampai beliau turun dari kereta. Semua kini tergantung dari bapak yang merokok ini. Dan mari kita semua membantu beliau untuk mengambil keputusan yang benar. Terima kasih”.

Seketika satu per satu penumpang mulai meneriaki si pelanggar disiplin. Ia tak kuasa melawan cemoohan seluruh gerbong. Masih dengan marah-marah, akhirnya ia turun dari kereta dikawal Polsuska dan beberapa polisi telah menunggunya di pintu stasiun. Perjalanan berlanjut dan saya pun kembali ke kursi. Kereta terlambat hampir satu jam tapi saya tidak merasa gusar karena mendapat ‘tontonan’ gratis. Si pelanggar disiplin mendapat perhatian besar namun bagi saya si kondektur adalah aktor utamanya. Ia baru saja mempertontonkan kemenangan otak atas otot. Atas tindakan cerdasnya, bagi saya si kondektur layak diberi apresiasi dari perusahaan. Semoga PT.KAI makin banyak menghasilkan karyawan seperti ini.

Usai cek rutin di Stasiun Cipendeuy.
Menunggu melintas di Stasiun Kroya.
IMG_8684_edit_resize
Menatap dari dalam Matarmaja.

Satu lagi harapan. Harus ada operator kereta api lain sehingga konsumen memiliki lebih banyak pilihan. Hadirnya pesaing sekaligus menjadi cambuk bagi PT.KAI untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan agar selalu kompetitif. Ide ini sebenarnya juga disasarkan kepada pemerintah selaku pemilik PT.KAI sekaligus regulator perkeretaapian di Indonesia.

Saya optimis dunia perkeretaapian di Indonesia akan cerah di masa depan. Walau agak terlambat, namun banyak pihak mulai sadar peran penting kereta sebagai salah satu tulang punggung utama perekonomian. Di usia seabad negeri ini pada tahun 2045, terbayang semua pulau besar di Indonesia telah memiliki jaringan rel. Jika diberi umur panjang maka saat itu saya sudah cukup tua.Tapi sepertinya hasrat untuk berpelesir ke penjuru negeri tak menyurut. Mengajak cucu naik kereta dari Sorong ke Merauke, atau dari Makassar ke Manado. Ah, seru rasanya.

Terbayang juga PT.KAI kelak mendunia dengan dipercaya sebagai operator kereta api di luar negeri. Naik kereta di negeri orang namun logo PT.KAI terpampang di lokomotif dan gerbongnya. Bangga. Semoga PT.KAI terus bertransformasi tiada henti demi prestasi. Doa saya bagi PT.KAI, seperti doa yang tersemat pada nama anak saya Langit Bumi, agar tangannya menjangkau setinggi langit namun hati tetap serendah bumi.

IMG_8622_edit_resize
Reparasi di Dipo Kereta Yogyakarta.
Alfian WS_08562865886_Masa Depan Cerah Kereta Api_edit_resize
Pagi yang cerah kala Prambanan Ekspres meninggalkan Stasiun Yogyakarta.

37 Comment

  1. Foto-fotonya apik dan masing-masing “berbicara”. Semoga kereta api di Indonesia makin menjadi lebih baik. Amin.

    1. Amin, like & share

  2. Setuju mas, saya juga berharap dengan meningkatnya pelayanan, tidak serta merta menghilangkan kesederhanaan dengan kereta api. Setiap bulan saya selalu jadi penumpang setia KA Progo dan Bengawan, dan jika saya bandingkan dengan satu atau dekade lalu, perubahannya telah terasa manis. Senada denganmu, saya juga berharap kelak jaringan rel bisa terbangun di wilayah luar Jawa 🙂

    Terima kasih atas tulisannya, menginspirasi.

    1. Sama2 mas.
      Brarti mas Aryanto anggota PJKA ya?

      1. Bukan, mas. Saya cuma warga sipil biasa, tapi setiap bulan selalu wara-wiri naik kereta api. Sejak kecil sudah kepincut sama kereta, jadi sampai sekarang ke manapun, kapan pun kalau ada waktu senggang, saya pasti naik kereta hehehe.

        1. Brarti masih rutin minimal sebulan sekali kan

          1. Masih kok mas, dan akan tetap rutin 😀
            Setiap bulan sy pasti mudik ke Bdg dan Jogja

          2. Maksudnya PJKA itu pulang jumat kembali ahad.
            Bdg dan Jogjanya dimana? Saya domisili bandung dan jogja juga

          3. Oalah, Pulang Jumat Kembali Ahad wkwkwkwk. Waduh, saya salah paham mas. hehehe

            Sy kerja di Jkt di Kalideres, jd editor sebuah website. Aslinya orang Bandung, rumah saya di Sudirman atau lebih tepatnya dekat stasiun Ciroyom, pasar Andir.

            Kalau Jogja, dulu sy kuliah di Jogja. Sekarang, walaupun sudah lulus masih rutin sebulan sekali pulang ke rumah bu kost di Babarsari mas 🙂

          4. Nanti awal oktober ada rencana ke jogja.Ditunggu mas.
            Btw kuliah dimana dulu?

          5. Aku kuliah di Atma Jogja mas, ambil jurnalistik. Lulus november tahun lalu dan skrg kerja di Jkt 🙂

            Ok mas. Aku sih tgl 13 okt (jumat malam) brgkt Jogja naik Progo, minggunya balik naik Bengawan hehehehe.

          6. Wah, kl ada waktu, sy kepengen ngbrol sama mas hehehehe.
            Sy kagum sama foto-foto dan tulisanmu mas 🙂

  3. Inayah says: Reply

    semua fotonya bikin terharu, kereeeen.

    kisah berjam2 kucel di kereta yang panas itu aku juga ngalami. pernah dapat tiket ‘tanpa tempat duduk’ yang mengharuskan aku berdiri atau ngglosor Pekalongan-Jakarta.

    jadi pengen teriak kenceng alhamdulillaaah kalau ngerasain nyamannya minimal sebulan sekali pulang pakai kereta.

    stasiun sekarang juga nyaman, ngga kayak dulu yang gelap dan terkesan rawan

    1. Secara umum kereta api sekarang udah banyak perbaikan. Arahnya udah bener cuma geraknya masih jalan, harusnya bisa lari.

  4. Juara om tulisannya.
    Saya juga berharap banget di daerah timur sana akan ada kereta api seperti di Pulau Jawa

    1. Terima kasih telah berkunjung.
      Iya nih, kebayang di Papua keretanya nglewati pegunungan Sudirman. pasti keren pemandangannya.

  5. Manteppp
    Seperti katamu mas, mengabadikan momen dengan kamera, lalu menghasilkan gambar yang bercerita itu sulit. Fotomu apik-apik hahahhahaah

    Aku malah berdoa agar ada kereta langsung Jogja – Semarang; Jogja – Lasem/Rembang, dan lainnya.

    1. Rembang jalurnya mati sayangnya. Sekarang kota di Jawa yang paling strategis buat naik kereta di Jawa itu Solo. Mau kemana aja bisa cuma sekali naik.

  6. Gara says: Reply

    Kereta api juga jadi transportasi favorit saya, hehe. Cuma bedanya, saya untuk sekitar dua puluh tahun pertama belum pernah pakai kereta api, maklum kampung halaman ada di luar Jawa. Jadi saya belum pernah merasakan PT KAI di zaman “jahiliyah” dulu, hehe. Semoga harapan-harapan dalam tulisan ini tercapai semua, demi kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia. Apalagi kalau di seluruh Indonesia ada kereta api, wah bakal seru banget. Amin.

    1. Amiiiinnn (yang kenceng).
      emang asalnya dari mana?

      1. Gara says: Reply

        Saya dari Mataram, Lombok 😁

        1. Wah, jadi kangen nasi balap inaq esun

          1. Gara says:

            Memang maknyuss, Mas.

  7. Kereta api banyak banget kemajuannya dibanding dulu tahun 2010 kebawah, great job PT.KAI

    1. great job yet still has a lot of work to do

  8. Ratna says: Reply

    Aku kok lebih fokus pada foto-fotonya yaaah? Terutama yang terakhir. Dari mana nge-shootnya tuuu

    1. itu ngambilnya dari tempat parkir Abu Bakar Ali di lantai paling atas, deket malioboro kok

  9. Keren yaa cara ngusir yang merokok di kereta. Aku suka naik kereta, lebih nyaman.

    1. Yang keren2 begini langka nih. ha2..

  10. Yudi says: Reply

    Seumur2. Naik kereta ya pas di jakarta dulu. Dr gambir sampai ke pasar turi.. lalu, teringat cerita almh mama, kalau aceh, dahulu pernah punya kereta api..

    1. Hai, terima kasih sudah berkunjung. salam kenal ya.
      Iya Aceh dulu punya kereta juga tapi lebar keretanya lebih kecil. Yang di Jawa itu lebar relnya 1067cm

  11. Irham says: Reply

    Kereta api indonesia skrg lebih keren dan lebih nyaman walaupun pake ekonomi. Dulu pernah ngerasain pas ekonomi masih bebas duduknya, waduuuuuuhhh

    1. Tapi kadang suka kangen masa2 jahiliyah sih. lebih menantang. ha2…

  12. Tulisan oke, foto kece. Juara blog post nya. Berbicara ttg kereta, tentu banyak harapan yg kita gantungkan dan sudah seharusnya kita juga mengapresiasi kerja keras PT. KAI. Btw aku masih sangat excited nih menunggu terealisasinya jalur rel kereta di daerah saya (kalimantan).

    1. Semoga cepat terlaksana dan semoga diberi panjang umur ya. btw kalimantannya dimana?

  13. awuuuuuh keceeeeeeh

    btw, aku belum pernah naik KAI mas, hehehe
    ini pun tulisan pertama tentang KAI yang aku baca full. hahaha
    kalau baca di koran dan lihat di tv sih tentu pernah, tapi gak baca full. tahu juga tentang rame2nya KAI yang sudah mulai berbenah

    tapi inshaa Allah, dalam waktu dekat aku akan berpergian ke tangerang, naik kereta api
    hihihiiii
    doakan selamat ya maaas

    1. Hai, terima kasih sudah berkunjung dan salam kenal.
      Pengalaman pertama pasti deg-degan. Enjoy ya

Leave a Reply to Nasirullah Sitam Cancel reply