Manusia Ramadhan

Ramadhan datang, umat senang.  Jalanan riuh, masjid pun penuh. Untuk ke sekian kalinya bulan nan suci itu datang berkunjung. Tak salah memang jika ia disebut bulan penuh berkah.  Manusia menyambutnya dengan suka cita. Lapar dan dahaga justru menjadi hikmah. Perut kosong maka darah mengalir deras ke kepala, membuat pemiliknya berpikir lebih leluasa. Rasa lapar juga ajang bagi manusia melatih empati atas sesamanya yang kekurangan.

Lantunan Quran pun menggema dimana-mana, masjid, sekolah, kantor, bahkan di jalanan sekalipun. Dan yang terpenting, umat Muhammad mendekat dengan tiang ibadah utama, solat. Yang jarang melakukan menjadi akrab dengannya. Yang biasa menjalankan wajib kini rutin dengan yang sunnah. Semua terlaksana atas nama ganjaran berlipat dari Sang Kuasa.

Ramadhan datang, rezeki kencang. Yang lama dan yang baru, penjual makanan dan minuman berjamuran menyesaki ruas-ruas jalan, melayani umat Muhammad berburu menu berbuka. Bukan hanya makanan, mereka yang bergelut di dunia wisata juga bekerja keras menyiapkan segalanya demi liburan panjang pasca puasa.

Aspek sosial tak luput dari berkah Ramadhan Ia menghadirkan kebersamaan  bagi manusia. Pengajian ditunaikan, buka bersama digelarkan, taraweh berjamaah dilaksanakan. Teman lama bersua, silaturahmi dengan yang baru pun tercipta. Ramadhan mengingatkan kembali hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang tak bisa lepas dari sesamanya. Maka manusia Ramadhan wajib bersyukur karena masih dipertemukan lagi dengannya. Ia menguatkan kembali hablu minallah (hubungan dengan Tuhan) dan hablu minannaas (hubungan sosial). Terima kasih Ramadhan.

Jamaah Masjid Istiqlal, Jakarta melaksanakan sholat Taraweh berjamaah. Masjid megah nan ikonik ini adalah target utama pengunjung untuk beribadah maupun sekedar berwisata.

 

(2) Pembuat rengginang sedang menata jemuran rengginang di Cikoneng, Kabupaten Bandung. Selama bulan puasa permintaan makanan tradisional berbahan ketan itu melonjak hingga tiga kali lipat.

 

Jamaah menunggu waktu berbuka dengan mendengarkan ceramah agama di Masjid An-Nur Mlangi, Yogyakarta. Masjid tersebut merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Yogyakarta karena sejarah dan gata arsitekturnya.

 

Warga berburu aneka makanan untuk berbuka di sepanjang Jalan Jogokariyan, Yogyakarta. Lokasi tersebut menjadi salah satu dari sekian banyak titik pasar dadakan selama bulan puasa di Yogyakarta.

 

Seorang pengunjung Masjid Kauman, Yogyakarta sedang mengisi waktu sore hari dengan membaca Quran. Para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah selama bulan Ramadhan.

 

Tumpukan piring menu nasi gulai ayam sebagai menu buka bersama di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Setiap harinya takmir masjid tersebut menyediakan 2500 porsi takjil bagi pengunjung.

 

Seorang karyawan bengkel Yoga Art di Yogyakarta sedang mengerjakan mobil hias atau biasa disebut odong-odong lampu. Permintaan mobil hias meningkat tajam dari pelaku wisata dalam dan luar negeri sebagai sarana mengais rezeki di musim liburan setelah Ramadhan.

 

Anak-anak belajar membaca Quran di serambi Masjid Jami Sulthoni, Plosokuning, Yogyakarta. Masjid tersebut merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Yogyakarta karena sejarah dan gata arsitekturnya.

 

Pengunjung tengah menikmati berbuka bersama di halaman Masjid Kampus UGM, Yogyakarta. Tempat ibadah ini populer di kalangan warga Yogyakarta terutama anak muda karena gaya arsiteturnya yang unik dan berada di wilayah kampus.

4 Comment

  1. nasinyaaa buanyaak bangeet tuh, hahaa

    1. Haha…iya.Harus dateng langsung biar bisa merasakan riuhnya.

  2. aku menikmati liat tiap jepretan matamu.

    1. terima kasih telah berkunjung, salam kenal ya

What's on your mind