Membaca (di) Bandung

Sang Ilahi menurunkan wahyu pertama, dalam agama Islam, berupa perintah untuk membaca. Sebuah tengara nyata bahwa literasi adalah laku maha penting bagi manusia untuk membangun peradaban. Sayangnya Indonesia masih tertinggal dalam perkara ini. Dan diyakini rendahnya minat baca menjadi salah satu faktor utama penyebab si negara beribu pulau tertinggal oleh kereta kemajuan global. Sudah banyak angka menyajikan ironi. Salah satunya data yang dirilis oleh PBB pada tahun 2015 melalui UNESCO mengungkap bahwa presentase minat baca Indonesia di kisaran 0.01 persen, terendah di antara para tetangga ASEAN. Artinya hanya satu di antara 10.000 orang yang memiliki minat baca. Alih-alih buku atau media bacaan lain, sebagian (besar) penduduk Indonesia seolah lebih ‘senang’ tersandera waktu dan tenaganya oleh produk peradaban modern macam televisi dan gawai.

Di tengah kelabu tersebut, sejumlah orang di berbagai penjuru tanah air melaksanakan ikhtiar perlawanan dengan menghadirkan ruang baca di tengah masyarakat. Bandung salah satunya, kota yang mengkonotasikan dirinya dengan anak muda dan kreatifitas, dua perihal yang beririsan dengan dunia literasi. Hadirnya sejumlah ruang baca yang memiliki sentuhan personal ini rupanya juga mampu menjadi wisata alternatif bagi pengunjung dan warga Bandung sendiri yang mungkin jenuh dengan pilihan hiburan yang itu-itu saja. Paris van Java dan wisata literasi. Sebuah jalinan yang sepertinya cukup merdu. Karena hiburan juga bisa mencerdaskan. Mari kita simak.

***

1. KINERUKU

Ruang baca ini acap menjadi rujukan pertama bagi para penggiat literasi di Bandung karena satu alasan jelas, feels like home. Ya, fasad perpustakaan independen ini memang mengambil tempat sebuah rumah lawas peninggalan sang kakek pemilik. Kursi, meja, pajangan dan beraneka barang yang lazim diijumpai di rumah juga turut dihadirkan sebagai interior untuk memperkuat suasana rumahan. Sebuah kantin mini turut berpartisipasi agar pengunjung ikhlas berjam-jam membuang waktu. Ini sekaligus wujud perlawanan kepada stigma angker bahwa tempat membaca itu kaku. Karena jika ingin memasyarakatkan minat baca justru bisa dimulai dengan hal-hal kecil seperti menjadikan kegiatan membaca akrab dengan kebiasaan sehari-hari, ungkap duo pemilik Kineruku, Budi Warsito dan Ariani Darmawan. Pepohonan dan tanaman hijau membuat suasana rindang nan sejuk semakin membuat pengunjung tak bosan untuk menghabiskan waktu.

Berdiri pada bulan Maret 2003, ruang baca ini awalnya bernama Rumah Buku lalu berubah menjadi Kineruku. Perubahan ini didasari kesadaran bahwa referensi literasi bukan hanya bisa didapatkan dari buku namun juga dari tontonan. Kine, merujuk pada film dan ruku yang berasal dari singkatan rumah buku. Tagline “baca, dengar, tonton” menjadi pengejawantahan visi dan misi ruang baca ini. Untuk menunjang upayanya, Kineruku melengkapi dirinya dengan sekitar 4000 judul buku, 1000 CD musik dan 1000 judul film dengan sebagian besar bertema sastra, seni dan budaya. Dari sekian banyak koleksi tersebut Murakami menjadi penulis yang karyanya paling favorit. Budi Darma dan Seno Gumira Ajidarma menyusul di belakang. Sedangkan ‘Professor and the Madman’ karya Simon Winchester yang mengungkap kisah dibalik penyusunan Kamus Oxford dan ‘The Geography of Bliss’ buah tangan Eric Weiner bercerita tentang seorang petualang yang berkeliling dunia mencari definisi kebahagiaan dari tiap negara yang ia kunjungi, menjadi dua di antara beberapa judul buku yang direkomendasikan oleh Budi dan Ariani.

Selain menjadi ruang untuk membaca, Kineruku juga rutin menggelar berbagai kegiatan dalam rangka merayakan literasi seperti diskusi buku, workshop, pemutaran film dan penampilan seni. Aneka gelaran ini sering mengambil tempat di halaman belakang yang tak terlalu luas namun cukup asri.

DSC00184_editWM.jpg

DSC00198_editWM.jpg

DSC00199_editWM.jpg

DSC00195_editWM.jpg

Kineruku

Jl. Hegarmanah no 52, Bandung.

Waktu operasional          : Rabu s/d Senin, 10.00 – 20.00 (khusus Minggu 11.00 – 18.00)

Libur                                   : Selasa

***

 2. PITIMOSS

Bersama dengan Kineruku, Pitimoss yang berdiri pada September 2003 boleh dibilang sebagai pelopor ruang baca independen sekaligus rujukan pertama wahana literasi di Bandung. Yang membedakan mungkin lebih ke tema bacaan. Pitimoss memilih literasi hiburan ringan dengan fokus di komik dan novel. Wajar jika pelanggannya didominasi pelajar dan remaja. Nama perpustakaan ini sendiri berasal dari kata dalam bahasa Minang, daerah asal para pendiri (Yosrizal Sandra, Yusra Hamid, Andi Sinaga dan Yulio Fernaldo), ‘piti’ artinya uang dan ‘mos’ merujuk pada lima rupiah, nominal uang terkecil yang pernah dimiliki para pendirinya. Fun libaray adalah moto Pitimoss, sebuah harapan untuk menjadikannya sebagai ruang baca yang murah dan menyenangkan.

Dengan lebih dari 70.000 judul dan 8000 anggota aktif, salah satu pengelolanya, Yosrizal, mengklaim bahwa ruang bacanya ini adalah yang terlengkap di Bandung. Lokasinya yang berada di tengah kota dan suasana yang sejuk menjadikan pelanggan Pitimoss mampu bertahan lama menghabiskan waktu. Para pecinta komik juga menjadikan ruang baca ini seperti rumah kedua karena setengah koleksinya berupa komik. Judul yang paling sering dipinjam adalah ‘Hai Miko’ dan ‘One Piece’. Sedangkan Dewi Lestari dengan “Filosofi Kopi’ dan ‘Lukisan Hujan’ milik Sitta Karina menjadi yang terdepan di kategori novel.

_MG_3998_editWM.jpg

_MG_4022_editWM.jpg

_MG_4028_editWM.jpg

Pitimoss Fun Library

Jl. Banda no 12-S Bandung

Waktu operasional          : Setiap hari, 9.00 – 20.00

***

3. AIR FOTO

Sebuah ruang baca yang niscaya menjadi favorit bagi mereka yang akrab dengan nama-nama seperti Ansel Adams, David LaChapelle, Sebastiao Salgado, Julian Sihombing, Don Hasman, Arbain Rambey dan sejenisnya. Tempat ini sesungguhnya adalah kantor sebuah penyedia jasa fotografi bernama Air Foto Network merangkap konsultan agensi kreatif berlabel Ruang Kolaborasa, yang keduanya dimiliki oleh Galih Sedayu, salah seorang penggiat fotografi Bandung. Oleh sang empunya sisi depan kantor tersebut diatur sedemikian rupa menjadi ruang baca dengan menempatkan rak buku dan meja kursi. Hadirnya ruang baca ini adalah komitmen Galih dalam mewujudkan edukasi fotografi.

Air Foto sendiri didirikan oleh pria 40 tahun tersebut yang kini menjabat direktur program BCCF (Bandung Creative City Forum) pada 17 Agustus 2004. Nama Air Foto mengambil dari filosofi air yang terus mengalir dan mampu mengisi ruang yang kosong. Sebagian besar dari ratusan koleksi buku dan majalah yang dimiliki bertema fotografi dan terdapat juga beberapa judul seputar desain grafis baik dari dalam maupun luar negeri. Dari semuanya ada beberapa yang direkomendasikan oleh Galih karena memiliki cerita dan nilai tersendiri antara lain ‘Bandung 1955’ karya Paul Tedjasurya yang memuat foto-foto asli Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Kemudian ada buku World Press Photo yang menayangkan foto-foto berita terbaik setiap tahun dan buku langka ‘Samudra Air Mata’ terbitan Galeri Fotografi Jurnalistik Antara.

Dengan sekian banyak koleksi yang dimiliki, Galih mengklaim bahwa Air Foto sebagai pemilik referensi bacaan fotografi terlengkap di Bandung bahkan mungkin di Indonesia. Sayangnya materi literasi ini belum bisa dipinjam untuk dibawa pulang karena Air Foto belum memiliki sistem khusus layaknya perpustakaan namun mempersilahkan pengunjung umum untuk datang dan membaca di tempat.

_MG_3955_editWM.jpg

_MG_3914_editWM.jpg

_MG_3946_editWM.jpg

Air Foto Network

Kompleks Ruko Surapati Core, Jl. PHH Mustofa no 39 blok M no 32, Bandung

Waktu operasional          : Senin s/d Sabtu, 9.00 – 17.00

Libur                                   : Minggu

***

4. S.14

Apa yang terbersit ketika mendapati rak buku berdampingan langsung dengan dapur? A place where public place meet the private. Mungkin inilah gambaran yang tepat bagi ruang baca yang satu ini mengingat sang pemilik, pasangan Aminudin ‘Ucok’ Siregar dan Herra Pahlasari juga menetap disini. Wajar karena sesungguhnya ini adalah rumah yang memiliki fungsi tambahan sebagai ruang publik. S.14, merujuk dari alamatnya, sebenarnya lebih dikenal sebagai artspace yang berada di ruang tamu. Namun keberadaan perpustakaan di sisi tengah dan samping memungkinkan pengunjung umum untuk datang dan menikmati berbagai referensi bacaan.

S.14 mulai diinisiasi pada tahun 2008 lalu resmi dibuka untuk umum pada 2012. Mayoritas koleksi bacaan yang dimiliki beredar seputar seni, budaya, sejarah dan filsafat, bidang-bidang yang menjadi minat sang pemilik yang pekerja seni sekaligus pengajar di Institut Teknologi Bandung. Selain suasana rumahan, kolaborasi bersama ruang pamer mampu menjadi daya pikat tersendiri. Membaca buku sekaligus menikmati karya seni sepertinya menjadi alternatif yang menarik. Dari sekitar 8000 judul yang dimiliki, dua judul buku yang paling sering dipinjam adalah ‘Vitamin Ph(otography)’ dan ‘Vitamin P(ainting)’ terbitan Phaidon. Berbagai kegiatan seperti diskusi, kajian pustaka dan pemutaran film yang digelar rutin adalah wujud visi dan misi S.14 yang oleh sang empunya disebut sebagai ruang alternatif sebagai wadah kegiatan seni dan lintas disiplin untuk kepentingan aspirasi publik melalui program pameran, literasi, diskusi, lokakarya.

_MG_4155_editWM.jpg

_MG_4167_editWM.jpg

_MG_4160_editWM.jpg

_MG_4177_editWM.jpg

S.14 Artspace & Library

Jl. Sosiologi no 14, Bandung

Waktu operasional          : Selasa s/d Sabtu, 11.00 – 17.00

Libur                                   : Minggu & Senin

***

5. READING LIGHTS

Pada dasarnya tempat ini adalah toko buku yang menjual khusus buku-buku bekas berbahasa Inggris. Namun sang empunya mengaturnya agar publik dapat berkunjung untuk sekedar membaca di tempat berbagai koleksi yang dimiliki. Putri Devi Nitriawati, manajer Reading Lights mengungkap bahwa sang pemilik adalah pasangan ibu anak, Helen Lok dan Callum Lok. Sang ibu adalah warga negara asing yang menikah dengan pria Indonesia. Astrid, biasa ia dipanggil, melanjutkan cerita awal mula ruang baca ini berawal dari Helen yang senang membaca buku dan mengoleksi begitu banyak bacaan. Di rumah ia sering membaca selalu dengan ditemani lampu baca. Dari sinilah nama Reading Lights berasal.

Setelah pindah ke Indonesia akhirnya pada Februari 2006 Helen dan anaknya yang juga menggemari literasi memutuskan mendirikan sebuah toko buku sekaligus ruang baca di lokasi sekarang agar koleksi buku yang dimiliki dapat dinikmati oleh orang lain. Selain milik pribadi koleksi Reading Lights berasal dari donasi dan pengepul buku. Sebuah cerita menarik diungkap Astrid yang menuturkan bahwa para pengepul, sebagian besar berada di Bali dan Yogyakarta, mendapatkan buku-buku berbahasa Inggris dari turis asing yang sengaja meninggalkan bacaan mereka di hotel, pantai. Ternyata para pelancong luar negeri umumnya memiliki kebiasaan membaca buku selama perjalanan dan akan meninggalkan begitu saja bacaan tersebut ketika telah khatam lalu mereka akan membeli buku yang lain.

Sebagai penggemar literasi Helen dan Callum tahu betul menata tempatnya sehingga walaupun fasadnya berupa ruko namun terasa luwes, tenang dan nyaman seperti di rumah sendiri. Apalagi ketika sebuah kafe turut dihadirkan pada 2007 agar pengunjung semakin betah berlama-lama. Sayangnya pengunjung tidak bisa meminjam buku dan membawa pulang karena pada prinsipnya ruang baca ini adalah toko buku. Saat ini koleksi Reading Lights sendiri sudah mencapai sekitar 8000 an judul yang 80% nya berupa novel fiksi dan sisanya non fiksi serta majalah. Toko buku ini juga menggelar kegiatan rutin kelas merajut (knitting club), sesuai dengan kegemaran lain sang pemilik. Reading Lights juga menyediakan tempat bagi komunitas untuk melaksanakan kegiatan dengan syarat pembelian nominal tertentu di kafe.

_MG_4200_editWM.jpg

_MG_4192_editWM.jpg

DSC00121_editWM.jpg

Reading Lights Secondhand English Books

Jl. Siliwangi no 16, Bandung

Waktu operasional          : Selasa, Rabu, Minggu, 12.00 – 20.00

                                              Kamis, Jumat, Sabtu, 10.00 – 21.00

Libur                                    : Senin

UPDATE.
Reading Lights mulai Agustus 2016 telah berhenti beroperasi.

***

6. PUSTAKALANA

Menempati ruangan yang agak kecil bukan halangan bagi ruang baca ini untuk menggeliat. Bahkan jika lazimnya suasana perpustakaan cenderung tenang, Pustakalana justru riuh ramai karena ia memang diperuntukkan bagi anak-anak. Kembali ke Juni 2005, sekelompok remaja yang baru saja menyelesaikan kuliah mendirikan Pustakalana dalam konsep ruang terbuka dan perpustakaan. Karena kesibukan masing-masing Pustakalana vakum sejak 2006 hingga akhirnya pada Desember 2015 kembali beroperasional berkat turun tangan salah seorang pendirinya, Puti Ceniza.

Chika, begitu panggilan akrabnya, menyebut bahwa ia memilih untuk kembali aktif mengelola Pustakalana karena merasa saat ini belum ada perpustakaan khusus anak-anak di Bandung apalagi sebagian besar koleksi yang dimiliki adalah bacaan bawah umur. Ditambah lagi rasa irinya karena dengan mudahnya mengakses pusat literasi saat ia berada di luar negeri.  Saat ini Pustakalana memiliki sekitar 3000 judul bacaan yang sebagian besar berbahasa Inggris dengan koleksi terlaris antara lain karya Richard Scarry dan Eric Carle. Selain literasi Pustakalana juga mengadakan berbagai kegiatan secara reguler seperti storytelling for kids dan aneka kegiatan kreatif untuk anak-anak lainnya. Semua ini diwujudkan sebagai bentuk visi Pustakalana yang ingin menjadi ruang alternatif untuk anak melalui literasi.

_MG_4336_editWM.jpg

_MG_4318_editWM.jpg

_MG_4312_editWM.jpg

_MG_4329_editWM.jpg

Pustakalana Children’s Library

Jl. Taman Cibeunying Selatan no 5, Bandung

Waktu operasional          : Selasa – Sabtu, 9.30 s/d 16.00

Libur                                  : Minggu & Senin

***

7. PUSTAKA TROPIS WANADRI

Sesuai namanya, perpustakaan ini adalah unit usaha organisasi kegiatan alam bebas Wanadri. Pustrop terbilang masih baru karena baru berdiri pada Oktober 2014. Secara fisik tidak ada yang istimewa dari ruang baca ini. Menempati sudut ruangan mini di sebuah rumah yang juga merangkap sebagai kantor koperasi Wanadri, Pustrop mengkhususkan pada koleksi referensi kegiatan luar ruangan termasuk jurnal dan catatan perjalanan yang pernah digelar oleh Wanadri.

Menurut pustakawannya, Reza Steflyano, ruang baca ini memiliki sekitar 1900 judul yang dapat dibaca di tempat maupun dibawa pulang. Sebagian besar berasal dari donasi jejaring Wanadri. Buku bertema panduan outdoor survival menjadi pilihan paling laris para pengunjungnya. Selain menyediakan literasi referensi kegiatan alam luar, Pustrop juga rutin menggelar hajatan seperti diskusi, pemutaran film dan wali buku. Sisi depan yang sudah dilengkapi kursi dan meja yang dapat dipakai untuk berbagai kegiatan penunjang literasi plus wifi gratis adalah nilai tambah.

_MG_4217_editWM.jpg

_MG_4215_editWM.jpg

DSC00398_editWM.jpg

Pustaka Tropis Wanadri

Jl. Batik Jonas no 11, Bandung

Waktu operasional          : Senin – Jumat, 9.00 s/d 17.00

Libur                                  : Sabtu & Minggu

***

8. PUSTAKA SELASAR

Ruang baca ini menyempil di antara megahnya galeri pamer milik seniman legendaris Sunaryo yang bertajuk Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Secara ukuran Pustaka Selasar memang tak seberapa karena lokasinya yang tersudut. Bahkan dulunya relung yang saat ini dipakai bukan difungsikan khusus sebagai ruang baca. Seiring waktu jumlah referensi bertambah. Selain koleksi pribadi sang seniman, Pustaka Selasar juga beberapa kali mendapatkan donasi dari beberapa instansi seperti Goethe Institute, atau dari perseorangan seperti fotografer Yudhi Soerjoatmodjo dan almarhum seniman wanita Umi Dachlan. Dari sinilah kemudian Pustaka Selasar mendapatkan jatah ruangan khusus.

Menurut Diah Handayani, koordinator Dokumentasi Selasar Sunaryo yang mengelola Pustaka Selasar, perpustakaan ini sekarang memiliki lebih dari 2500 judul koleksi literasi yang sebagian besar, mudah ditebak, bertema seputar dunia seni. Beberapa tema lain seperti filsafat, arsitektur dan fotografi turut memeriahkan rak buku ruang baca ini. Sayangnya berbagai referensi tersebut belum bisa dipinjam untuk dibawa pulang namun masih memungkinkan untuk dibaca di tempat. Beberapa program mandiri maupun kolaborasi dalam rangka merayakan literasi turut menyemarakkan Pustaka Selasar dan SSAS. Salah satunya yaitu bedah buku koleksi Pustaka Selasar dan Afternoon Tea, semacam diskusi ringan seputar tema yang berkait erat dengan SSAS. Pemutaran film yang bekerja sama dengan lembaga seni budaya juga rutin mengisi daftar acara.

_MG_4233_editWM.jpg

_MG_4223_editWM.jpg

_MG_4220_editWM.jpg

Pustaka Selasar

Jl. Bukit Pakar Timur no 100, Bandung

Waktu operasional          : Selasa – Minggu, 10.00 – 17.00

Libur                                  : Senin

***

 

4 Comment

  1. Seru banget rumah-rumah baca yang ada di Bandung. Menurut saya ini salah satu ‘surga’ dunia. Tempat yang asik buat baca-baca. Duh, saya jadi berharap kalau yang macam ini juga banyak berdiri di Bogor 🙁

    1. Absolutley true. Yakin di Bogor ada cuma ga tau dimana.

  2. Selain pusat kuliner, perpus di Bandung lumayan banyak juga ya , keren

    1. Sudah sewajarnya sih.

What's on your mind