The Agony of Bekonang (Nyawa Meregang Bekonang)

It’s a common sight to find drums and firewood pile in front of a house. Those are mark of home industries of alcohol ran by the house owner. Bekonang, a small village in Mojolaban district, Sukoharjo regency, Central Java, Indonesia, is an old legend for generations to liquor lovers especially in Central Java and beyond thanks to its ciu (local liquor). It is a bold statement from the residents of Bekonang, one of them is Mujiman, 68, an alcohol producer titled Ngudi Rejeki.

The exact date the village began to produce alcohol massively epecially for living is unclear. Most of the story was shared orally for generations. As told by Mujiman who inherited the business handed down from previous three lines. He only knows the Dutch introduced the technique to produce alcohol from fermented  juice left over from sugar mill around 19th century. The spreading of sugar  factory in Central Java pioneered by Tasikmadu in Karanganyar regency owned by Mangkunegara Sultanate was a pro. Some even considered it as a manifestation of jenever, the Holland gin made from wine which miss-spelled as jenewer in Indonesian or Javanese language.

DSC00041_editWM_resize.jpg
Firewood is still the main choice since its capability to generate uniformly distributed heat.

Ciu, which at the beginning was made to meet the Dutch lifestyle, began to penetrate into the local residents. So the sugarcane juice beverages became a vital part of any parties held both by Dutch or local. The unique aroma and taste successfully raised ciu’s popularity. But in the other side the drunk effect as overdrink also issued a bad impact. Even in the past regular raid were carried out to bring down the ciu sellers and buyers in jail.

The alcohol production itself still uses quite traditional equipment compared to its early such as brick stove and firewood. Minor modification only applied on early bamboo and wooden drum which replaced by metal pipe and tank and the use of electric pump. Starting with mixing sugarcane juice with bacterial malt for a week. After that the fermented juice heated to releases vapor which later channeled to cooling tanks. The result is liquor with 30-40% alcohol. An extra process will applied for two until five days to produce ethanol contains 80-90% alcohol. Most of consumers of Bekonang alcohol are hospital and drugstore for medical purpose. Food, cosmetics and fertilizer also take an advantage.

Every month Ngudi Rejeki produces about 700 liters of ethanol. It takes 2,5 liters of liquor to result 1 liter ethanol with 85% purity level while per liter 30% alcoholic liquor comes from 1,5 liters fermented sugarcane juice. Mujiman said most of the raw materials delivered from some sugar mills in Madiun, Kediri and other areas around East Java. Central Java, even also have many and closer, the area is not a main source since its lack quality. The final result of ethanol itself sold by Mujiman at price IDR 25k ($ 1.84) per liter.

DSC00063_editWM_resize.jpg
Took a week to results fermented sugarcane juice.

The current trade license only allows the home industries owner in Bekonang to produce and sell alcohol as raw material or ingredient. However ciu has become a bold label firmly attached to the village. Therefore there are always consumers come to buy ciu. It’s a loophole for the business owners to sell the traditional liquor. As admitted by Mujiman, although most of his products is ethanol sometimes he still trade ciu because economically profitable. Today the price of per liter ciu is about IDR 8k ($ 0.59). The 1980s was the golden era since Ngudi Rejeki founded in 1975. The father of three revealed all of producers in Bekonang mostly results liquor than ethanol. At time they were free to trade ciu with only minor hindrance especially after a minister came to Bekonang and later issued policies to protect the small business in the village, Mujiman continued.

At 1990s Bekonang began to face its downfall along with the fade of alcoholic beverages prestige since the government issued a number of regulations to limit the its circulation based on moral grounds. Interestingly since that time the branded liquor flooded the market. The rise of case of deaths from fake liquor contributes to Bekonang blackened. Mujiman and friends also slammed by the price of sugarcane continue to soar. Currently a drum of sugarcane with volume 200 liter worth IDR 700k ($ 52) whereas three years ago less than half. Extra burden comes from illegal payments levied by some of low-integrity local police officer . The village’s reputation as liquor producer is an vivid appeal.  The industrial waste that sparks conflict with other parties is just a whammy bonus.

DSC00049_editWM_resize.jpg
Yono, the only worker at Ngudi Rejeki, channels the vapor into cooling tanks.

Nowadays many home industries have gone collapsed. As stated by Sabaryono, chairman of the community of Bekonang alcohol producers. There were 140 facilities in 2013 shrinked to 60 today. Sabar said Bekonang have lost many of its costumers as they cannot meet the demand which requires them to produce bigger quantities in a shorter period, a condition which only met by large-scale industry. “No need to killed by regulations, surely we’ll die slowly by ourselves”, Mujiman complained.

Bekonang now faces its agony. Loved but hated, same as its creation. Quoting J.Kats a Dutch officer in his book Het Alcoholkwaad published in early 1900s, alcohol does have certain pros but it also bring more cons. However it depends on the user not the producer.  Should we kill the alcohol home industry which hundred of years ran merely to meet the basic needs of many families?

***

Tumpukan drum serta kayu bakar di depan rumah adalah pemandangan lumrah. Itulah tengara bahwa di dalam rumah tersebut berlangsung industri alkohol skala kecil. Bekonang, nama sebuah desa di Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo adalah legenda turun temurun bagi pecinta minuman beralkohol terutama di sekitar Jawa Tengah berkat ciu nya itu. Setidaknya itu opini sejumlah warga Bekonang, salah satunya Mujiman, 68 tahun, pemilik usaha industri alkohol di  bertajuk Ngudi Rejeki.

Tak jelas persisnya kapan kampung kecil ini mulai menjadikan produksi ciu sebagai sumber ekonomi secara berjamaah. Sebagian besar cerita hanya tersebar lewat mulut secara bergenerasi. Seperti yang dituturkan Mujiman yang mewarisi usahanya turun temurun dari tiga angkatan sebelumnya. Yang ia tahu bahwa ciu yang berasal dari sisa tetes tebu untuk produksi gula mulai diperkenalkan oleh pendatang Belanda pada abad ke 19. Hal ini didukung oleh menjamurnya pabrik gula di Jawa Tengah dan sekitarnya yang dipelopori oleh Tasikmadu di Kabupaten Karanganyar milik Raja Mangkunegara saat itu. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai perwujudan jenever, minuman beralkohol asal Belanda yang terbuat dari anggur, yang terpelesetkan dalam bahasa Indonesia atau Jawa sebagai jenewer.

Ciu yang awalnya dibuat untuk memenuhi gaya hidup orang Belanda mulai merasuk ke kehidupan warga lokal. Maka minuman sari tebu itu menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai gelaran dan hajatan. Aroma dan rasanya yang khas meraih minat banyak orang dan mencuatkan reputasinya. Namun di sisi lain efek memabukkan saat diminum berlebih menumbuhkan citra buruk. Bahkan di masa lalu pun ciu pernah menjadi target operasi dimana penjual dan pembelinya terjerat urusan hukum.

DSC00068_editWM_resize.jpg
Brick stove still use to provide uniform heat in large scale.

Teknik pembuatan ciu sendiri sebenarnya tak banyak berubah. Peralatan yang dipakai pun terbilang masih tradisional seperti kompor batu dan kayu bakar. Yang berubah mungkin hanya drum dan pipa besi yang dulu masih berupa drum kayu dan bambu serta pemakaian pompa listrik. Dimulai dengan mencampur cairan tetes tebu dengan bakteri dan didiamkan selama seminggu. Setelah itu cairan yang terfermentasi dipanaskan. Uap hasil pemanasan inilah yang didinginkan dan menghasilkan cairan ciu dengan kadar alkohol sekitar 30 sampai 40%. Perlu proses lanjutan lagi selama dua sampai lima hari untuk mengubahnya menjadi ethanol dengan kandungan alkohol 80-90%. Sebagian besar konsumen alkohol Bekonang ini adalah rumah sakit dan apotek untuk keperluan medis selain juga dimanfaatkan sebagai bahan pupuk, makanan dan kosmetik.

Ngudi Rejeki sendiri tiap bulannya menghasilkan sekitar 700 liter ethanol. Sementara untuk menghasilkan 1 liter ethanol dengan tingkat kemurnian 85 % dibutuhkan sekitar 2,5 liter ciu beralkohol 30 % yang per liternya berasal dari 1,5 liter cairan tebu terfermentasi. Mujiman mengungkap sebagian besar bahan bakunya berasal dari sejumlah pabrik gula di Madiun, Kediri dan wilayah lain di Jawa Timur. Walaupun jumlahnya banyak namun pabrik gula di Jawa Tengah yang lokasinya lebih dekat justru bukan pilihan utama karena kualitas tetes tebu yang kurang baik. Hasil akhir ethanol sendiri dijual oleh Mujiman seharga dua puluh lima ribu rupiah per liter.

DSC00065_editWM_resize.jpg
The metal pipe as replacement for early bamboo ones.

Saat ini izin resmi dari pemerintah memang hanya membolehkan para pengusaha industri rumahan ini untuk memproduksi alkohol sebagai bahan mentah. Namun ciu telah menjadi label yang melekat erat pada Bekonang. Efeknya selalu ada saja orang yang datang ke Bekonang untuk membeli ciu. Ini menjadi celah bagi para pemilik usaha untuk menjual minuman beralkohol itu. Seperti yang diakui Mujiman walaupun sebagian besar produksinya adalah ethanol namun kadang ia masih menjual ciu lantaran secara ekonomi lebih menguntungkan. Saat ini per liter ciu dihargai sekitar delapan ribu rupiah. Bahkan era 1980an boleh dibilang era keemasan sejak Mujiman mendirikan Ngudi Rejeki pada 1975. Ayah tiga orang anak ini menyebut semua pengusaha alkohol di Bekonang lebih banyak memproduksi ciu daripada ethanol kala itu. Mereka leluasa memperdagangkan ciu tanpa banyak hambatan terutama ketika salah seorang pejabat menteri membuat kebijakan yang melindungi usaha kecil di Bekonang, lanjut Mujiman.

Memasuki tahun 1990an nafas Bekonang mulai terengah-engah seiring dengan merosotnya pamor minuman beralkohol sejak pemerintah mengeluarkan sejumlah peraturan yang membatasi peredarannya dengan alasan moral. Anehnya sejak saat itu minuman beralkohol bermerk justru mulai membanjiri pasar. Maraknya kasus kematian akibat miras oplosan turut menyumbang cemar bagi Bekonang. Mujiman dan rekan-rekan juga makin terhimpit karena harga tetes tebu yang terus melambung. Saat ini harga per drum tetes tebu dengan isi 200 liter bernilai tujuh ratus ribu rupiah. Padahal tiga tahun lalu harganya tak sampai setengah. Beban tambahan juga datang dari beberapa oknum aparat yang menarik pungutan liar. Reputasi desa ini sebagai penghasil ciu memang bak gula bagi semut-semut aparat berintegritas rendah. Konflik dengan pihak lain akibat terkait limbah menjadi pelengkap penderita.

DSC00059_editWM_resize.jpg
Yono pumps the bacterial malt which later mixed into sugarcane juice.

Kini banyak industri alkohol di Bekonang dan desa sekitar ambruk. Seperti yang diutarakan Sabaryono, ketua perkumpulan pengusaha industri alkohol Bekonang, dari 140 usaha aktif pada 2013 sekarang tersisa 60 saja. Sabar, begitu biasa ia dipanggil, mengakui Bekonang makin kehilangan pelanggan karena tak mampu memenuhi permintaan dalam jumlah besar dalam waktu singkat, sebuah keadaan yang hanya dimiliki oleh industri skala besar. Fakta tersebut membuat Mujiman melampiaskan curahan hatinya, “Tak perlu dibunuh dengan berbagai peraturan nanti juga pasti mati sendiri”.

Nyawa Bekonang kini meregang. Takdirnya bernasib sama seperti kreasinya, dibenci namun dicari, dicela namun dicinta. Mengutip tulisan J. Kats seorang pejabat Belanda dalam bukunya Het Alcoholkwaad (Bahaya Alkohol) yang terbit di awal abad 20, alkohol memang memiliki manfaat tertentu namun cairan itu lebih banyak membawa kerugian. Tapi sekali lagi itu tergantung dari penggunanya bukan pembuatnya. Haruskah kita membunuh industri alkohol ciu rumahan itu yang ratusan tahun hanya sekedar menjadi sumber pengisi perut banyak keluarga?

DSC00073_editWM_resize.jpg
Five times shot but still Mujiman didn’t smile, a clear expression about his business.

What's on your mind