Kidung Rahayu dan Sebuah Harap Dalam Mahesa Lawung

Kidung Rahayu dan Sebuah Harap Dalam Mahesa Lawung

hong prayoga niro….(rahayu)

sang hyang geni seko wetan…(rahayu)

putih warnane geni…(rahayu)

opo pakertine geni…(rahayu)

anglebur roro rogo roro wiguno…(rahayu)

 

hong prayoga niro….(rahayu)

edan hayan risubur geni seko wetan…(rahayu)

saking kilen kuning wernone geni…(rahayu)

saking kidul abrit warnane geni…(rahayu)

saking ler cemeng warnane geni…(rahayu)

saking tengah limo warnane geni…(rahayu)

_MG_0915_editWM
Persiapan pasukan di Magangan.
_MG_0935_editWM
Suasana dapur Gondorasan.
_MG_0938_editWM
Persembahan disiapkan di Dalem Gondorasan.

Tak ada kedudukan khusus bagi kerbau dalam mitologi Jawa. Berbeda dengan beberapa kultur Nusantara yang lain. Toraja misal, mengagungkan tanduknya sebagai simbol kehormatan. Pun ia dipercaya sebagai kendaraan pengantar roh ke alam baka. Selain itu masyarakat Jawa memang tak biasa menyantap daging kerbau. Kuli pembajak sawah adalah derajat yang cukup pantas baginya. Lalu bagaimana bisa hewan ini menjadi bagian vital dalam sebuah tradisi Jawa apalagi penyelenggaranya tak sembarangan, Keraton Surakarta. Bahkan ritual ini menyandang nama si hewan, Mahesa Lawung. Kerbau, mahesa. Sebuah anomali. Unsur sejarah menjadi hulu cerita. Mari berkunjung ke masa lalu.

Syahdan pada 1742 bangunan Keraton Kartasura lantak oleh api pertikaian. Sunan Pakubuwono II sang raja membangun penggantinya sekitar 15 kilometer tenggara lokasi lama, tepatnya di Desa Sala yang dilurahi oleh Ki Gede Sala. Dari sinilah kemudian nama Kota Solo berasal. 17 Februari 1745 Keraton Surakarta sebagai pengganti resmi dipakai. Tak berselang lama sang raja dawuh untuk mengadakan sebuah upacara sebagai wujud syukur atas lahirnya pusat kerajaan yang baru. Ritual tersebut bernama lengkap Wilujengan Nagari Mahesa Lawung. Dilangsungkan tiap hari Senin atau Kamis terakhir di bulan Rabiul Akhir dalam penanggalan Islam. Seperti umumnya tradisi Jawa, berbagai hasil bumi seperti kelapa, sayur, beras menjadi sesaji. Namun yang paling utama adalah kerbau. Sementara hasil bumi yang lain selanjutnya disantap bersama oleh masyarakat dan kerabat keraton, maka kepala, tracak (kuku kaki), pethit (ujung ekor), getih (darah), kotoran, usus, dan sebagian daging kerbau dikubur di Alas Krendowahono yang terletak di Karanganyar atau 20 kilometer dari Keraton Surakarta.

Beberapa alasan hadir atas dipilihnya hutan ini. Alas Krendowahono dipercaya di masa silam menjadi tempat bersemedi beberapa sosok mandraguna termasuk Sunan Kalijaga yang diabadikan menjadi petilasan Watu Gilang. Sebagian ahli sejarah juga meyakini disinilah lokasi pertemuan antara Pangeran Diponegoro dengan Pakubuwono VI ketika sang pangeran meminta bantuan untuk melawan Kasultanan Ngayogyakarta. Ya, pahlawan nasional tersebut adalah musuh bagi pemerintah yang sah saat itu. Ini yang menarik dari pelajaran sejarah. Ada banyak sudut pandang pada satu hal di dalamnya.

_MG_0946_editWM
Para pasukan beristirahat sejenak.
_MG_0960_editWM
Menyiapkan payung hias.
_MG_1006_editWM
Meninggalkan Gondorasan.

Kembali ke anomali. Pemilihan kerbau oleh Pakubuwono II nampaknya lebih karena faktor filosofis-simbolis. Mahesa, secara tak beruntung, adalah representasi kebodohan dalam masyarakat Jawa. Bodo plonga-plongo koyo kebo, begitu biasa mereka berujar. Menanam kepala kerbau adalah simbol membuang kebodohan. Bagi sang raja, kebodohan, ketidaktahuan, ketidakberdayaan dan berbagai kekurangan manusia dianggap sebagai sumber utama kehancuran termasuk peristiwa nihilnya keraton lama. Maka sekaligus dalam ritual syukuran itu ia melantunkan harap agar pemerintahan barunya dijauhkan dari keterpurukan akibat kekhilafan manusia. Menjadi sebuah kerajaan yang rahayu, satu kata yang menjadi makna gabungan selamat dan damai. Itu kenapa rahayu menjadi ucapan sapa dan jawab doa bagi penganut Kejawen.

Awal Februari 2016 yang lalu untuk ke sekian ratus kalinya Keraton Surakarta merekonstruksi Mahesa Lawung. Saya berkesempatan untuk mengikuti tradisi ini dari awal atas jasa dua orang. Cahyo Hardianto yang bernama paring sinuwun (nama keraton), M.Ng (Mas Ngabehi) Cahyo Prasetyo. Yoyok begitu biasa dipanggil, adalah pecinta sejarah sekaligus anggota pasukan Keraton Surakarta dari Bregada Tamtama. Kebetulan ia sedang tidak bertugas. Satu lagi R.T (Raden Tumenggung) Alex Prasetyo, semacam patih pasukan. Secara hubungan kekeratonan mereka adalah anak buah dan komandan. Hari masih pagi saat saya mengikuti keduanya menuju Bangsal Magangan di area dalam keraton. Pengunjung umum tak boleh masuk ke sini. Disitu terlihat beberapa prajurit sedang bersiap. Berbaju biru adalah Bregada Jayengastra sedangkan hijau yaitu Bregada Prawira Anom. Dua bregada ini yang mendapat giliran bertugas mengawal Mahesa Lawung tahun 2016.

_MG_1033_editWM
Memasuki halaman dalam keraton.
_MG_1043_editWM
Yang selalu melengkapi.
_MG_1046_editWM
Pasukan menunggu prosesi nyuwun palilah.
_MG_1056_editWM
K.P. A Winarno Kusumo menjadi sumber informasi.

Tak lama seorang pria paruh baya dengan busana keraton lengkap mendatangi Raden Alex. Warna beskap, bahasa tubuh serta gaya bicaranya menunjukkan aura kebangsawanan. Jelas ia tak menyandang status remeh. Yoyok memperkenalkan saya dengannya. K.P.A (Kanjeng Pangeran Aryo) Winarno Kusumo menjabat sebagai Wakil Pengageng Sasana Wilapa merangkap juru penerang keraton. Kanjeng Win, begitu panggilannya adalah orang yang memastikan semua acara Kerarton Surakarta berjalan lancar termasuk Mahesa Lawung. Kepadanya lah Yoyok menganjurkan saya untuk banyak bertanya.

Saya mengikuti Yoyok dan Raden Alex serta prajuritnya berjalan keluar menuju Dalem Gondorasan. Disinilah keraton mempercayakan urusan dapur. Mereka rupanya hendak menjemput aneka sesajen yang telah disiapkan sejak sehari sebelumnya. Salah satunya ialah sepaket bagian tubuh kerbau yang dibungkus plastik dan kain putih. “Ini dipotong kemarin dan saya dapat dari Boyolali. Kerbau lawung di Solo sepertinya sudah tidak mungkin ditemui”, seloroh Kanjeng Win. Ternyata lawung adalah istilah untuk hewan jantan yang masih muda dan liar. Tepatnya kerbau yang belum pernah dipakai untuk bekerja. Lawung juga memiliki pengertian lain yaitu tombak. Ini merujuk di masa lalu hewan dibunuh dengan cara ditombak. Makna yang lebih filosofis menyebut lawung adalah percampuran warna putih dan hitam, mencerminkan dua sisi manusia. Kata mahesa juga rupanya memiliki kepanjangan, mahes mring kang maha esa, bersujud pada Tuhan Yang Satu.

Iring-iringan sesajen yang dibawa abdi dalem dan dikawal prajurit kini memasuki area dalam keraton. Mereka menuju Sasono Sewoko untuk melakukan prosesi nyuwun palilah alias minta izin pada sinuwun (yang mulia) G.K.R (Gusti Kanjeng Ratu) Wandansari Koes Moertijah. Ia adalah putri pertama Pakubuwono XII. Penguasa keraton sebenarnya adalah sang adik lelaki yang menjadi Pakubuwono XIII. Namun sudah cukup lama yang bersangkutan tidak bisa memenuhi tugasnya karena beberapa alasan. Beruntung halaman di depan bangsal yang dijadikan pusat berbagai acara keraton ini luas dan banyak pohon sawo kecik. Cukup meringankan mengingat matahari mulai menyengat dan prosesi menyita waktu yang tak sebentar.

_MG_1091_editWM
Meninggalkan area dalam keraton.
_MG_1106_editWM
Masyarakat turut serta menyaksikan ritual.
_MG_1113_editWM
Para kerabat keraton yang telah menunggu di Siti Hinggil.
_MG_1121_editWM
Prosesi doa dalam tiga kepercayaan.

Sekali lagi Kanjeng Win meluangkan waktu untuk bercerita di sela-sela acara. Walaupun Islam sudah lama masuk namun kultur Jawa yang kuat masih menyisakan ruang bagi perkara klenik nan mistis. Kosmologi Jawa acap memberi identitas bentang alam sebagai persemayaman dunia astral yang menjaga kehidupan di sekitarnya dan mereka ini perlu diberi ‘sesuatu’ sebagai bentuk terima kasih. Dalam hal ini Keraton Surakarta secara spiritual dijaga oleh makhluk gaib di empat penjuru mata angin. Di timur terdapat Gunung Lawu tempat bersemayam Kanjeng Sunan Lawu. Nyi Roro Kidul tinggal di Laut Selatan. Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, Kyai Sapu Jagad, dan Kyai Sapu Regol mendiami Gunung Merapi di sisi barat. Terakhir sisi utara dijaga oleh Dewi Kalayuwati di Alas Krendowahono. Yang disebut terakhir inilah Mahesa Lawung berperan. Ada yang tak mempercayai sama sekali, demikian juga sebaliknya. Sementara yang lain menganggap mereka sekadar simbol. Sang penguasa Krendowahono tersebut contohnya. Secara etimolog kalayuwati berasal dari kata kala hayuning jiwa lan ati. Secara singkat artinya manusia hanya bisa selamat dan damai (hayu) jika meluangkan waktu (kala) untuk mengingat Tuhan.

Akhirnya sinuwun telah ber dawuh. Kepala kerbau dan persembahan lainnya dibawa menuju area yang lebih depan tepatnya di Siti Hinggil. Banyak kerabat keraton yang telah hadir sambil duduk bersila. Yang mengenakan beskap hitam adalah kerabat biasa sedangkan yang putih statusnya lebih tinggi, disebut ulama. Aroma dupa perlahan menyeruak ke udara. Nuansa kejawen sungguh terasa walaupun mereka mengawali prosesi doa dengan ucapan assalamualaikum dan bismillah. K.R.T (Kanjeng Raden Tumenggung) Pujo Setyono Dipuro selaku ulama dalem memimpin prosesi doa. Saya tak mengerti. Beberapa kalimat terdengar familiar, salah satunya yaitu yang sering disebut doa sapu jagad dalam Islam. Namun sisanya sulit dikenali. Lagi, Kanjeng Win menjadi pencerah. Bait-bait harapan yang lembut nan mendayu itu rupanya terlafalkan dalam tiga keyakinan; Budha, Kejawen-Hindu, dan Islam. Ia menerangkan prosesi ini semata bertujuan menghormati ketiganya sebagai agama yang bergiliran mewarnai masyarakat Jawa dalam urusan kerohanian. “Toh keimanan itu letaknya di hati. Hanya Tuhan yang tahu kualitas iman manusia”, lanjutnya. “Kalau mau rahayu, saling menghormati itu mutlak. Ini sekaligus pesan dan contoh bagi masyarakat agar menghormati keyakinan yang berbeda dan tidak mudah mengkafirkan orang lain. Itu kan yang sedang ramai terjadi sekarang”. Usia sepuh rupanya bukan penghalang bagi Kanjeng Win untuk mengikuti dinamika sosial yang sedang bergeliat.

Setengah jam berlalu. Para hadirin mulai beringsut menuju gerbang depan keraton. Disana rombongan kendaraan lengkap dengan vojrider sudah bersiap mengantar menuju Karanganyar. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Matahari nyaris tepat di atas kepala ketika kami sampai di tujuan. Hari ini bertepatan dengan perayaan imlek yang selalu identik dengan hujan. Tapi siang itu begitu terik. Pawang hujan Keraton Surakarta jelas salah satu yang terbaik. Sementara itu Alas Krendowahono kini tak sepenuhnya alas. Sudah banyak rumah berdiri di tepi jalan. Sebuah jalan setapak sepanjang hampir satu kilometer menjadi satu-satunya akses menuju lokasi. Di belakang pemukiman tersebut rupanya masih menyisakan ruang bagi warna hijau untuk menutup langit. Semakin ke dalam semakin sejuk. Pepohonan nan rimbun yang didominasi bambu melindungi pengunjung dari terpaan panas mentari.

_MG_1140_editWM
Meninggalkan Siti Hinggil.
_MG_1153_editWM
Salah satu persembahan berupa jadah ketan dibawa oleh abdi dalem.
_MG_1155_editWM
Satu jam menuju Alas Krendowahono.
_MG_1188_editWM
Iring-iringan persembahan memasuki Alas Krendowahono.
_MG_1242_editWM
Petilasan Watu Gilang

Sebuah pohon Grasak alias Beringin Pencekik dengan punden berundak yang berada tepat di tengah lokasi menjadi pusat ritual. Para kerabat keraton dan abdi dalem termasuk pengunjung umum menyemut di sekeliling pohon tersebut termasuk sinuwun G.K.R Wandansari. Tak jauh dari situ petilasan Watu Gilang secara bergiliran diziarahi pengunjung sambil menunggu ritual dimulai. Aroma dupa terhampar di udara saat sekali lagi K.R.T Pujo Setyono Dipuro memimpin panjatan doa, yang bagi saya lebih mirip larik-larik sajak. Kali ini hanya ada bahasa Jawa dibalas dengan pekik lembut rahayu di setiap akhir baitnya oleh hadirin. Sebagai orang Jawa saya mengerti maksud harfiah kalimat-kalimat tersebut walau tak selalu paham makna dibaliknya. Namun lisan saya belum tentu bisa mereplikanya. Ini bahasa halus tingkat tinggi. Ada keindahan dan makna yang dalam melekat padanya. Angin semilir, pepohonan nan rimbun, aroma mawar bercampur melati yang menyeruak dan lantunan puja-puji itu telah berkongsi untuk membius jamaah dalam semesta batin yang khidmat. Meskipun siang hari namun aura magis Alas Krendowahono terasa kuat. Tak salah memang sang Wali memilih tempat ini untuk mencari ketenangan, terlepas benar atau tidak cerita itu. Untuk beberapa saat bulu kuduk merinding. Saya terbawa suasana.

Sebuah lubang sedalam satu meter telah disiapkan di depan punden. Bungkusan di atas punden dibawa para abdi dalem menuju lubang tersebut. Satu persatu kain putih dan plastik yang membungkus dilucuti dan menyisakan satu paket kepala kerbau dan bagian tubuh lain untuk dikubur. Para pengunjung berebut untuk mengabadikan momen ini. Abdi dalem rupanya cukup paham dengan memberi waktu sejenak. Setelah itu sang kerbau pun lenyap ditelan bumi. Sedangkan persembahan yang lain dibawa kembali ke keraton untuk selanjutnya disantap bersama. Berakhir sudah inti upacara.

_MG_1238_editWM
Kerabat keraton dan abdi dalem mengikuti doa-doa.
_MG_1214_editWM
Punden berundak menjadi pusat ritual.
_MG_1283_editWM
Mengubur kepala kerbau dan beberapa organ lainnya.
_MG_1295_editWM
Kanjeng Win tengah bercerita tentang Mahesa Lawung.

Sementara itu Kanjeng Win sudah berada di depan jamaah. Kini gilirannya menjadi titik sentral saat ia bercerita tentang Mahesa Lawung dan berbagai filosofi Jawa dalam bahasa lokal dengan sesekali diselingi bahasa Indonesia. Pria bangsawan ini sedang menjalankan salah satu tanggung jawab nguri-uri budaya jawi (memelihara budaya Jawa) agar kerabat keraton dan masyarakat tidak melupakan budaya Jawa sebagai identitas pembentuk jati diri mereka.

Hampir jam dua siang, Kanjeng Win menutup sesinya sekaligus mengakhiri Wilujengan Nagari Mahesa Lawung dengan sebuah pesan yang dalam.

Wahai manusia yang lemah

Bertapalah ke hutan

Solatlah ke masjid

Misalah ke gereja

Tundukkan dirimu di pura

Panjatkan pintamu di wihara

Tapi jangan pernah lupa

Jaga lidahmu, jaga tangan kakimu

Ibadahmu urusan Tuhanmu

Tapi dunia butuh lisan laku muliamu

Barang siapa menanam kebaikan maka dia akan menuainya

Dan juga sebaliknya

 

Wahai manusia yang penuh alpa

Rendahkan hatimu

Bersihkan jiwamu

Bantulah sesamamu

Bersyukurlah bersabarlah bertaubatlah

Niscaya dunia akhiratmu senantiasa rahayu

Dalam perjalanan pulang saya mencoba meresapkan sebuah refleksi atas apa yang terjadi seharian ini. Sebuah harap, yang agak klise, pun terlahir. Bukan hanya Surakarta, namun semoga negeri nusantara ini selalu rahayu. Agama dan budaya luhur telah selesai dengan tugasnya sebagai tuntunan dan simbol kebaikan, saya pikir. Kini saatnya manusia mengejawantahkannya.

Indonesian-based photographer and story teller
4 comments
  1. Wah. tulisanmu apik banget mas. Suka sekali saya.
    Emang Jogja dan Solo itu punya keunikan dari sisi kejawennya ya.
    Btw, beruntung banget kamu mas bisa dapat momen ini dan ketemu narasumber yg tau banyak soal mahesa lawung. Tapi g ada pantangan ya kalau kebo didatangkan dari luar Solo?

    Suka banget tulisan ini pokoknya. akan menjadi list blog saya yg akan saya kunjungi terus. Permainan kata2mu bagus mas.
    Salam kenal nggih

    Hanif insanwisata.com

    1. Halo salam kenal. Terima kasih sudah berkunjung.
      Iya, lumayan beruntung kok pas lagi maen ke solo pas ada acara itu. Kebetulan ada temen Solo yang punya akses ke dalam kraton.

  2. Mas, pituturmu sungguh apik, mengalun. Foto-fotone sejoli pisan. Mengapa tak membuat buku foto cerita tentang keragaman budaya dan alam Indonesia? 🙂

    1. maturnuwun sam. btw emang ada rencana bikin buku tapi tema umumnya lebih ke storytelling.

What's on your mind