Jamu Cekok, Naturally Healthy Still Remains (Sehat Alami Melintas Generasi)

For some people in the Javanese society who lives in Yogyakarta, traditional medication is still favored and considered better than modern treatment. One of the most common is by drinking a herbal medicine so called jamu, like known in local shops as “Jamu Cekok Kerkop” which situated at Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kerkop, taken from dutch term, kerkoff means graveyard. The region once was a dutch cemetery. The oldest shop was since 1875 with  Kertowiryorahardjo as founder and has hold on until  its fourth generation, 76 years-old, Zaelali.

IMG_0871_edit

IMG_0837_edit

Most of its consumers are children who are brought by their mothers which have trouble in eating, having a cold, fever, and many other illnesses. Because of its bitter taste and pungent smell, kids usually refuses to drink down this herbal medicine. So in order for them to consume the jamu, the child is held down, especially their head, arms, and legs so they wont resist. Then his mouth is forced to be open and drink the liquid jamu. This method is called cekok and where jamu cekok got its name.

IMG_0817_edit

IMG_0878_edit

IMG_0898_edit

But there are also kids who are able to drink down the jamu without the hassle to be cekok. But these are usually for jamu which doesn’t taste bitter and has already been added a natural sweetener. Jamu itself is made by natural ingredients. Mostly extracted herbs like ginger, turmeric, curcuma, kencur (aromatic ginger), bratawali (heart-leaved moonseed), tamarind, etc. Every ingredients has its own savor. The herbs are then mixed together to produce a unique blend, depending on the type of illness or complaints. Not only for kids, jamu kerkop also serves the adults. Until now in the midst of modern medication the traditional herbs business continues to survive. 

***

Bagi sebagian masyarakat Jawa, pengobatan dengan cara alami masih sangat digemari dan dianggap memiliki banyak kelebihan daripada pengobatan modern. Beberapa alasan yang paling utama adalah biaya yang terjangkau dan bebas bahan kimia yang dapat membahayakan organ dan fungsi tubuh. Salah satu yang paling umum yaitu dengan minum jamu. Di Kota Yogyakarta, salah satu kantong utama komunitas budaya Jawa, ada suatu daerah di pusat kota yang terkenal  sebagai sentra jamu. Deretan kedai itu tampak selalu ramai didatangi oleh masyarakat yang ingin berobat atau sekedar menjaga kesehatan terutama di sore dan malam hari. Warung tersebut biasa disebut warung jamu kerkop, berada di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kerkop, mengambil dari bahasa Belanda kerkoff, yang berarti makam. Dulu di lingkungan tempat ini adalah pemakaman khusus bagi warga Belanda. Yang tertua di antara kedai-kedai tersebut didirikan oleh Kertowiryorahardjo pada tahun 1875 dan masih bertahan sampai sekarang hingga generasi ke empat, Zaelali, 76 tahun.

IMG_0845_edit

IMG_0883_edit

Seperti halnya warung jamu cekok yang lain, warung jamu milik Zaelali itu kebanyakan konsumennya adalah anak kecil yang dibawa oleh orang tuanya karena berbagai keluhan atau penyakit umum seperti sulit makan, masuk angin, batuk, sakit kepala, demam dan yang lainnya. Bisa dipastikan hampir semua anak kecil tidak menyukai jamu karena rasanya yang pahit dan aromanya yang menyengat. Maka metode yang dipakai adalah dengan meminumkannya secara paksa atau dicekokkan. Si anak dipegang seluruh badannya oleh orang tuanya agar tidak memberontak, terutama kepala, tangan dan kaki. Kemudian mulutnya dibuka secara paksa dan pelayan warung akan mengucurkan jamu dari kain khusus yang telah dicelupkan ke dalam cairan jamu. Dari sinilah istilah jamu cekok berasal.

Meskipun demikian ada juga anak yang mau minum jamu sendiri tanpa harus dipaksa. Anak tersebut sebenarnya tetap tidak menyukai jamu. Namun jamu yang diberikan rasanya tidaklah pahit karena sudah diberi pemanis alami. Ada beberapa jenis jamu yang memang bisa diberikan dengan penghilang rasa pahit tapi ada juga yang harus diminum tanpa pemanis. Jamu sendiri dibuat dari bahan-bahan alami. Kebanyakan adalah tanaman obat yang diekstrak untuk diambil sarinya seperti jahe, kunyit, temulawak, beras kencur, kunir, asam, brotowali dan lain-lain. Yang disebut terakhir bisa jadi adalah yang paling dibenci oleh pasien karena rasanya yang super pahit. Tiap-tiap bahan tersebut memiliki khasiat tersendiri. Cairan jamu ini kemudian diracik dengan saling mengkombinasikan untuk menghasilkan paduan unik, tergantung dari jenis penyakit atau keluhannya. Selain melayani pasien anak, jamu kerkop juga bisa meracik ramuan jamu untuk orang dewasa. Di tengah-tengah arus dunia kedokteran modern, usaha jamu tradisional ini masih mampu menggeliat karena tradisi sehat alami juga terus diwariskan. Mungkin Kertowiryorahardjo di masa hidupnya tak akan menyangka warisannya masih bertahan sampai hingga kini.

IMG_0888_edit

IMG_0813_edit

2 Comment

  1. Jadi ingat masa kecil, dipaksa simamah minum jamu cekok,,,

    1. yang penting sehat walaupun tersiksa.haha2…

What's on your mind