Educating Indonesia By Visual (Cerdas Melalui Visual)

Boring. That’s most likely firts look of Indonesian schoolbook. Almost no significant improvement even compared to a few decades ago. Now let’s take a look at the imported one. It may has the same content but definetely also has a profound difference, colorful and full of pictures. This visual graphics is a very important feature to help kids easily understand the subject matter. So fun yet feast the mind. Even it’s still interesting for the adult. This could be one of the causes of  lack quality of education in Indonesia.

Actually these high quality textbook are sold in the market. Nonetheless it relatively expensive and only available in the mainstream bookstore so sadly it can be only accesed by the upper middle class society. In addition, a nationalism talks. Most of the books are not local product. Even if there are in Indonesian language most likely are international adaptation.

Basically it’s a concern for a graphics design lecturer, Inda Ariesta. A fact that the local visual works only take part in the commercial bussiness has take another of her attention. Ideally graphics design should be able to serve the community especially the lower one and play a big role in education.

Edugraphic about how camera works

 

Nathania Tifara Sjarief, a graphics designer and also Inda’s classmate in the master study has the same concern. As a person with hearing disorder, little Thania felt a discomfort with a fact that the learning activities in the school were always delivered orally. Little Thania forced to count on her eyes as the only dominant sense to receive information. Unluckily the conventional schoolbooks could not meet the expectations. Moreover there is a science fact until certain age the children brain development is not balanced yet. The right brain deal with visual ability and imagination is growing faster than the left brain which process the logical skill. It’s disappointing to know that local books ignore the fact. Now as adult Thania has a dream to fix the problem.

A quick response made. Along with two companions, Hario Sasongko and Dermawan Syamsudin, in Sepetmber 2013 they sparked an idea to apply the design graphics into learning kit and allow it to be accessed by community through pages visualcerdasindonesia.com. Visual Cerdas Indonesia itself literally means educating Indonesia by visual. Started from zero, they used a small room in Inda’s house as studio and the room itself still serves them well until today. Inda and Thania also counted on theirself. Converting information from the textbooks into visually appealing display is one of the process and the self funded operational cost as well.

Inda and Thania has become the main power source of Visual Cerdas Indonesia since its first. The duo has their hands down all of the matters, technically and strategically. By the time they began to ask others to join in, teacher as the source of the information and graphics designer who responsible to create the content. Recently they have Lucky Rizky and Kiki Anindra on their side as full-time designer. This is a manifestation of the value of collaboration carried. For them the page is a place where the local educators or knowledge experts met the local designers, illustrators or animators. Together they construct their concern about education of Indonesian early generation in form of edugraphics.

Edugraphic about Special Region of Yogyakarta

 

Edugraphics itself, education graphics, are graphic visual representation of educational information intended to simplify the communicational and linguistic aspect. Inda and Thania believe the use of rich visual content will improve cognition as the student comprehension is enhanced when both visual and text-based cues combined. It covers wide range subjects. History, physics, biology, science, maths, etc.

Inda who also co-founder of FDGI (Indonesian Graphics Design Forum) told that for some reasons internet is still the main focus as the media for Visual Cerdas Indonesia. First, it allows local even global community to have access easily and almost a penny as long as they have a proper infrastructure. After they agree with the terms and conditions, visitors are able to download the edugraphic contents. Farther it’s up to them wether use it digitally or print it into paper.

The next reason is to increase flexibility for both kids and educators (parents or teachers) to run their learning activities in terms of time and space. Formal school do not have this feature whereas students have their unique condition and situation. Academic achievement doesn’t reflect a hundred percent the individual capability. Mood also take a part in some occassion and not all the student have their best mood in the morning. The last one, internet allows Visual Cerdas Indonesia to safe time, money, and effort.

Edugraphic about wound

 

In addition, Visual Cerdas Indonesia also put their edugraphics content into daily phisical stuff. T-shirt is the best example since it is the most popular fashion item. An edugraphics shirt is believed to be worth more than the common one which simply enjoyed only from its artisitic aspect. The edugraphics shirts are on sale for public. So now everyone can participate to educate others with a simple way

To promote their ideas and works, Inda and Thania frequently organized visits to school and educational activities. The visits has a main purpose to provide an understanding of the importance of visual graphics in education and an acquaintanceship as well. They also put the value of collaboration on their visits in a hope that teachers, experts and generally the community can be encouraged to put visual graphics element thoroughly in both learning media and activities.

So many big hope carried over. The great one, a better Indonesia with its educated brain and hart next generations. Yet specifically they emphasize working together is better than alone. In respect of that Visual Cerdas Indonesia wants to have more partners to create edugraphics. In other hand also more educational institutions able to utilize the edugraphics on their learning activities. Even they will be so pleased to contribute through formal channel. Well it’s not an impossible dreams since the current minister of primary education is an academician who has a high profile of track records in education. Hopefully it come true.

***

Cenderung kaku dan membosankan. Mungkin ini yang dirasakan oleh banyak orang ketika melongok isi buku-buku pelajaran karya negeri ini. Nyaris tak ada perubahan berarti jika dibandingkan dengan satu atau dua dasawarsa silam. Sekarang mari menengok buku-buku pelajaran terbitan luar negeri. Isi utamanya mungkin sama namun yang membedakan adalah buku pelajaran luar negeri banyak yang dikemas penuh gambar dan berwarna-warni. Kelebihan visual dan grafis inilah yang berperan penting dalam penyerapan materi pelajaran oleh anak-anak. Begitu menyenangkan dan memancing imajinasi. Bahkan orang dewasa pun masih tertarik untuk menikmati lembar demi lembarnya. Bisa jadi ini salah satu penyebab kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari ideal karena buku sebagai media pembelajaran paling pentingnya saja belum sesuai harapan.

Sebenarnya buku-buku pelajaran yang menarik seperti ini sudah beredar di pasaran. Tapi sayangnya hanya segelintir orang saja yang bisa mendapatkannya yaitu mereka yang tinggal di kota besar dan memiliki finansial yang berkecukupan. Itu karena harganya relatif mahal dan hanya tersedia di toko-toko buku besar yang tentunya hanya menjangkau kota-kota besar saja. Satu lagi, sebagian besar buku-buku pelajaran ini bukan hasil karya anak bangsa. Kalaupun ada yang berbahasa Indonesia itu adalah saduran dari bahasa asing.

Where all the works created.

 

Attending the education fair

 

Inilah keprihatinan yang secara umum dirasakan oleh seorang Inda Ariesta. Ditambah lagi sebagai seorang pengajar desain grafis ia merasa gelisah akan karya seni grafis yang hanya berkutat secara komersil dan hanya bisa dinikmati golongan tertentu yang mampu secara finansial. Harusnya desain grafis bisa menjamah masyarakat yang lebih luas khususnya lapisan bawah dan memberi manfaat lebih besar terutama di bidang pendidikan.

Kegalauan serupa juga dialami oleh Nathania Tifara Sjarief, rekan Inda ketika menempuh studi S2 di Institut Kesenian Jakarta. Dengan latar belakang keterbatasan indra pendengaran, semasa kecil Thania sering kesulitan dalam belajar di sekolah karena proses materi pelajaran hampir selalu disampaikan secara lisan. Thania dipaksa mengandalkan mata sebagai indra yang dominan untuk menerima informasi. Tetapi buku-buku pelajaran konvensional yang didominasi oleh teks tak banyak membantu. Apalagi ditambah dengan fakta bahwa sebenarnya pertumbuhan otak anak-anak belum seimbang. Sampai umur tertentu otak kanan yang berurusan dengan kemampuan visual dan imajinasi berkembang lebih cepat dibanding otak kiri yang mengolah logika termasuk angka dan tulisan di dalamnya. Sayangnya keadaan ini belum disambut baik oleh media belajar yang tersedia. Maka Thania dewasa memiliki mimpi untuk mengurangi penderitaan anak-anak tersebut.

 

Edugraphic about human puberty

Alih-alih terus mengeluh, dibantu oleh dua rekan seperjuangan di IKJ, Hario Sasongko dan Dermawan Syamsudin, mereka mencetuskan ide pemanfaatan visual grafis pada media belajar yang dapat diakses oleh semua orang melalui laman visualcerdasindonesia.com pada September 2013. Mengawali semuanya dari nol, sebuah ruangan yang tak terlalu besar di salah satu sudut rumah pribadi milik Inda diubah menjadi studio. Dan ruangan tersebut masih menjadi tempat berkarya sampai sekarang. Inda dan Thania juga memulai semuanya dengan mengandalkan diri sendiri. Salah satunya yaitu proses membaca teks buku-buku pelajaran lalu dikonversi menjadi tampilan visual grafis yang menarik. Demikian juga untuk urusan kebutuhan operasional yang ditanggung dari kocek pribadi.

Sejak pertama berdiri hanya Inda dan Thania yang menjadi motor utama Visual Cerdas Indonesia. Segala hal tentang teknis dan strategi bersumber dari duo ini. Seiring waktu berjalan mereka mulai mengajak pihak lain untuk bergabung, guru sebagai orang yang lebih paham tentang konten pelajaran dan desainer grafis sebagai pihak yang bertanggung jawab mengemas konten. Saat ini bahkan dua orang desainer grafis telah membantu secara tetap sebagai tim kreatif yaitu Lucky Rizky dan Kiki Anindra. Ini sesuai dengan prinsip kolaborasi yang diemban oleh Visual Cerdas Indonesia. Mereka menyebut laman ini sebagai tempat kepedulian akan pendidikan bagi anak-anak Indonesia dibangun oleh profesi pendidik dan pakar ilmu pengetahuan bersama dengan desainer grafis, ilustrator dan animator Indonesia untuk berkolaborasi menghasilkan edugrafis.

Edugraphics applied on the school. (Visual Cerdas Indonesia docs)

 

Thania describes about edugraphics to kindergarten teacher. (Visual Cerdas Indonesia docs)

 

Edugrafis sendiri adalah produk berupa materi pelajaran atau pengetahuan yang divisualkan menurut kaidah ilmu desain grafis untuk mempermudah proses penyerapan isi pelajaran tersebut. Mereka percaya bahwa materi terbaik akan menjadi lebih kuat bila konten bersanding dengan visual yang sudah banyak dibuktikan mampu mempercepat pemahaman pelajaran. Materi yang digunakan juga bervariasi. Mulai dari sejarah, fisika, biologi, teknologi, dan sebagainya.

Inda yang juga salah satu co-founder Forum Desain Grafis Indonesia, menuturkan saat ini Visual Cerdas Indonesia masih fokus menggunakan internet sebagai media utama untuk menampilkan dan berbagi karya edugrafisnya dengan beberapa pertimbangan. Pertama, internet memungkinkan semua orang di berbagai penjuru negeri bahkan dunia mengakses informasi dengan mudah dan murah selama infrastrukturnya menunjang. Dengan syarat dan ketentuan tertentu, pengunjung dapat mengunduh konten edugrafis di visualcerdasindonesia.com. Selanjutnya terserah mereka apakah akan memanfaatkan konten tersebut melalui gawai atau dicetak.

Edugraphics t-shirt. (Visual Cerdas Indonesia docs)

 

Edugraphics t-shirt. (Visual Cerdas Indonesia docs)

 

Alasan selanjutnya adalah untuk membebaskan anak-anak/siswa dan orang tua/guru dari keterbatasan ruang dan waktu dalam proses belajar mengajar. Sekolah formal selama ini memiliki keterbatasan tersebut padahal anak-anak memiliki kondisi yang berbeda-beda.  Bisa jadi seorang siswa memiliki nilai dibawah standar di sekolah bukan karena kemampuannya kurang namun mood terbaiknya untuk belajar mungkin bukan di pagi hari atau di dalam ruangan seperti yang disajikan sistem sekolah formal saat ini. Terakhir adalah lebih karena faktor kepraktisan dalam urusan waktu, tenaga dan biaya dalam proses penyajian dan sharing konten bagi Visual Cerdas Indonesia sendiri.

Sebagai tambahan, konten edugrafis juga disajikan dalam media fisik yang sehari-hari bisa dilihat. Salah satunya adalah kaos oblong sebagai perangkat fesyen yang paling umum. Inda yakin dengan menampilkan konten edugrafis pada kaos akan lebih bermanfaat karena orang yang melihat juga mendapatkan pengetahuan. Bandingkan jika visual yang ditampilkan hanya berupa gambar atau tulisan biasa yang sekedar dinikmati dari sisi seninya. Kaos edugrafis ini dijual untuk umum jadi semua orang bisa memilikinya dan ikut mencerdaskan orang lain dengan cara yang sederhana.

Untuk memperkenalkan diri ke khalayak umum, Inda dan Thania aktif berkunjung ke berbagai sekolah dan kegiatan pendidikan. Selain untuk perkenalan, acara sosialisasi ini memiliki tujuan utama untuk memberi pengertian betapa pentingnya fungsi visual grafis dalam pendidikan, seperti yang sudah dijelaskan oleh tulisan di atas. Misi kolaborasi yang diemban juga mereka bawa dalam sosialisasi tersebut. Sebuah harapan agar para guru, pakar ilmu pengetahuan dan masyarakat luas secara umum dapat terlibat langsung untuk memasukkan unsur visual grafis secara lebih menyeluruh dalam media belajar maupun proses belajar mengajar itu sendiri.

Harapan besar terpanggul di pundak Visual Cerdas Indonesia. Mereka ingin pendidikan di Indonesia menjadi jauh lebih baik dan menghasilkan generasi yang terdidik akal dan jiwanya, harapan umum semua warga negeri ini. Namun secara khusus Visual Cerdas Indonesia menekankan bukan saatnya lagi pejuang pendidikan berjuang sendirian melainkan bersama-sama. Itu sebabnya mereka ingin menggandeng lebih banyak pihak dalam proyek ini untuk menghasilkan lebih banyak edugrafis. Di sisi lain lebih banyak institusi pendidikan baik formal, informal atau nonformal yang bisa memanfaatkan edugrafis dalam proses pengajaran. Bahkan jika memungkinkan, sebuah harapan terpercik untuk bisa turut berkontribusi pada dunia pendidikan melalui jalur formil. Sepertinya bukan isapan jempol jika melihat rekam jejak dan dedikasi sang menteri pengurus pendidikan negeri ini. Semoga saja terwujud.

Visual Cerdas Indonesia

web                       : visualcerdasindonesia.com

twitter                  : @visualcerdas

fb                           : VisualCerdasIndonesia

instagram            : @visualcerdas

email                    : visualcerdasindonesia@gmail.com

 

Contact Person

Inda Ariesta (Director)

0812-1034-979

Nathania Tifara Sjarief (Product development and creative director)

0821-1300-0462

2 Comment

  1. ini baru namanya infografik, keren deh mas..langsung menuju TKPnya..saya juga kadang bikin beginian..infografik dan tipografi 😀 hihihi

    1. silahkan. jangan lupa untuk berbagi cerita tentang Visual Indonesia pada teman-teman yang lain.

What's on your mind