Start From Zero : The Best Moment In 2014 (Memulai Sebuah Awal)

Two critical decisions have been and it became the beginning of a completely new life to me in 2014. Being a husband and releasing the comfort zone as an office workers. I started it both almost in the same period. Some think I’m crazy. So let the time prove whether I have the right or wrong decision.

In the same year I travelled farther. My dream to visit Papua, the easternmost part country has come true. Manokwari, Sentani, Jayapura and Tobati for precisely. Thanks to assignment from Indonesian Culinary Heritage Expedition as the photographer. This project, which sponsored by one of well-known ketchup brand, has a goal to preserve the Indonesian culinary diversity through documentation both photos and writings. Makassar, Parepare, Palopo, Sidrap, Rantepao, Lombok, Kupang, Ende and Moni were also the places I visited during this project. The expedition also allowed me to make friends with some of traveling and culinary enthusiasts. Two of them are Arie Parikesit as the project coordinator and Dina DuaRansel who became my teammate.

This is the best moment in 2014. Please enjoy.

Dua keputusan besar telah diambil di tahun 2014 dan itu menjadi awal sebuah kehidupan yang benar-benar baru bagi saya. Menjadi imam yang sah bagi seorang perempuan dan melepaskan zona nyaman sebagai pekerja kantoran. Keduanya saya awali dalam jangka waktu yang nyaris bersamaan. Beberapa orang menganggap saya gila. Biarlah demikian karena pada akhirnya waktu lah yang akan membuktikan apakah keputusan saya benar atau salah.

Di tahun yang sama pula saya menjejak semakin jauh. Keinginan saya untuk mendatangi ujung timur negeri ini tercapai, Papua Tepatnya di Manokwari, Sentani, Tobati dan Jayapura. Semua itu karena saya tergabung sebagai fotografer dalam Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara yang bertujuan untuk melestarikan kekayaan kuliner nusantara melalui foto dan tulisan. Dalam ekspedisi yang disponsori oleh salah satu merk kecap tersebut saya juga berkesempatan untuk mengunjungi Makassar, Parepare, Palopo, Sidrap, Rantepao, Lombok, Kupang, Ende dan Moni. Proyek ini juga telah memungkinkan saya untuk berteman dengan mereka penggiat traveling dan kuliner. Dua diantaranya yaitu Arie Parikesit sebagai koordinator ekspedisi dan Dina DuaRansel yang menjadi rekan satu tim.

Inilah rekaman momen terbaik saya di 2014. Selamat menikmati.

***

IMG_5182 editWM.jpg

The Corners of Independence

Sudut-Sudut Kemerdekaan

This place not only serves as a place of worship for moslems, but also one of the city icon and a symbol of struggle for national freedom. Thats why it named Istiqlal, means The Independence. Enjoy the corners of Istiqlal that I captured through my camera here.

Tempat ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga merupakan salah satu ikon kota Jakarta dan simbol perjuangan untuk meraih kebebasan. Maka tak heran ia dinamakan Istiqlal, yang berarti Kemerdekaan. Nikmati berbagai sudut Istiqlal yang berhasil saya rekam melalui kamera disini.

***

DSC06882 editWM.jpg

Us*

Kami*

Her name is Andriyanti. We met at the first time in education volunteerism program called Kelas Inspirasi or Inspiration Class in Depok. The main activities of this program took a quick time, only for a half day. Thus with our first acquaintance. The only word I said to her was just when I asked her name and when I asked her to pose for photographs. After that I returned to Jakarta and she went back Bandung. Thats it. Nothing special.

Things about to changed when I read her blog. Its like I read my own mind. Instead of eye to eye conversation, since then we were more likely to talked through writings. Thanks to it we could managed to understand each other comprehensively. Finally on 19th April 2014 we tied the knot.

We are two very different personal. But we have the same fundamental thoughts as purpose in life. It united us. We have the different path, I chose photography and she with hidrogeology. However we have the same end, the usefulness for others. No more individual, but unit. No more me or you, but us.

Namanya Andriyanti. Kami bertemu pertama kali di kegiatan Kelas Inspirasi di Depok. Kegiatan relawan pendidikan tersebut berlangsung cepat hanya setengah hari. Pun demikian dengan proses awal kami berkenalan. Kalimat yang terlontar padanya hanyalah ketika saya menanyakan namanya dan ketika saya memintanya berpose untuk difoto. Setelah itu saya kembali ke Jakarta dan ia ke Bandung. Tak ada yang istimewa.

Keadaan mulai berubah ketika saya membaca blognya. Membaca tulisannya seolah sedang membaca pikiran saya sendiri. Sejak itu kami lebih sering bertukar pikiran melalui tulisan, bukan dengan pertemuan langsung. Melalui tulisan lah kami bisa memahami satu sama lain secara lebih menyeluruh. Puncaknya 19 April 2014 kami mengikatkan diri dalam satu janji suci.

Kami memiliki banyak hal yang saling bertolak belakang. Namun kami mempunyai pemikiran penting yang sama termasuk tujuan hidup. Hal itulah yang menyatukan. Jalan yang kami pilih berbeda. Saya memilih fotografi dan ia dengan hidrogeologinya. Walau demikian cita-cita di garis akhirnya sama, kebermanfaatan bagi sesama. Tidak ada lagi individu, melainkan unit. Tidak ada lagi aku atau kamu, melainkan kami.

**) Photo taken by Ismi Rinjani Adriani

***

IMG_2089 editWM.jpg

Ismi

Ismi

Books and nature. These things perhaps can describe who is Ismi Rinjani Adriani. I knew her at the first time in Mount Semeru in 2013. Even as a woman, it didn’t prevented her to came there alone. It was enough to make me stunned. For me Ismi, so she called, is a child of nature, child of earth. Her late father was a member of Wanadri (the oldest mountain & jungle explorer association in Indonesia). No wonder she has different  insights and ideas compare to most people. But perhaps the most precious treasures inherited by the father is a sense for caring the nature, the environment, and the creatures. She proved it by making a small school for the children around her neighbourhood in Sumedang. The world will still survive because of  these kind of people.

Buku dan alam, mungkin dua hal itu cukup menggambarkan seorang Ismi Rinjani Adriani. Saya mengenalnya ketika menapak Semeru di 2013. Ia datang kesana sendirian walaupun ia seorang perempuan. Itu sudah cukup membuat saya tertegun. Ismi, begitu panggilannya, bagi saya bukan anak gunung, bukan pula anak hutan. Tapi ia anak alam, anak bumi. Almarhum ayahnya adalah anggota Wanadri. Tak heran ia memiliki wawasan dan pemikiran berbeda yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Tapi mungkin harta paling berharga yang diwariskan oleh sang ayah adalah rasa peduli pada alam, lingkungan, dan makhluknya. Itu dibuktikannya dengan membuat sekolah kecil untuk anak-anak di sekitar rumahnya di Sumedang. Dunia masih akan selamat selama ada orang-orang sepertinya.

***

IMG_2676 editWM.jpg

Putu Berre

Putu Berre

While the javanese used to eat the putu cake with sweet taste, then in Parepare have the spicy one. Putu Berre was one of the traditional snacks that I photographed in my Indonesian Culinary Heritage Expedition project. There was a funny incident. My teammate Dina DuaRansel as the writer, repeatedly mentions the word Berre pronunciation with the letter ‘e’ as in the word ‘tempeh’, right in front of the hawker, which was an old lady, and some other buyers. Shortly after we left, our car driver, who also understand the locals, said that the correct one should like the pronunciation of the letter ‘e’ as in the word ‘the’, which in local means rice, the putu’s main ingredient. While the Berre spoken by Dina means the male genitalia. It is common in Indonesia to say the genitalia terms in local considered as rude or impolite word.

Follow my journey Indonesian Culinary Heritage Expedition in Parepare here.

Kalau orang Jawa biasa menjumpai kue putu dengan rasa manis, maka di Parepare rasanya pedas. Putu Berre adalah salah satu jajanan khas yang saya dokumentasikan dalam Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara. Ada satu kejadian menggelikan. Rekan satu tim yang bertanggung jawab sebagai penulis, Dina DuaRansel berulang kali menyebutkan kata Berre dengan pelafalan huruf ‘e’ seperti pada kata ‘tempe’, termasuk di depan ibu penjual jajanan tersebut dan beberapa pembeli yang lain. Tak lama setelah kami meninggalkan lokasi, sopir mobil sewaan kami, yang mengerti bahasa setempat, mengatakan bahwa seharusnya pengucapan yang benar adalah seperti pelafalan huruf ‘e’ seperti pada kata ‘lemper’, yang dalam bahasa setempat artinya beras, bahan dasar pembuatnya. Sedangkan kata Berre yang diucapkan oleh Dina artinya alat kelamin pria.

Ikuti perjalanan saya di Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara di Parepare dan sekitarnya disini.

***

DSC08287 editWM.jpg

When Price Met Pride

Ketika Rupiah Dan Harga Diri Bersenyawa

Buffalo is a sacred animal by the Torajan in South Sulawesi. At the same time Tedong, in locals, became a symbol of social status. Read the story here and here.

Kerbau adalah hewan yang dianggap suci oleh Suku Toraja, Sulawesi Selatan. Di saat yang sama Tedong, begitu sebutan dalam bahasa setempat, menjadi lambang status sosial seseorang. Saksikan kisahnya disini dan disini.

***

IMG_4216 editWM.jpg

Rinjani

Rinjani

This beautiful mountain became one of my bucket list for so long. In 2014 the dream came true. So gorgeous as so many story told. Unfortunately some problems whacked. If only Rinjani have the emotion, maybe she was crying now. Follow my journey to Rinjani here.

Sudah lama gunung cantik ini menjadi salah satu tempat yang ingin saya datangi. Di 2014 mimpi itu terwujud. Ia sungguh cantik seperti yang banyak diceritakan. Sayang beberapa masalah mendera. Jika saja Rinjani adalah seorang manusia, mungkin ia sedang sedih. Ikuti perjalanan saya di Rinjani disini.

***

IMG_7485 editWM.jpg

Aibon

Aibon

Something wrong with Indonesian government policies in the past that imposed rice as the main food. In fact many regions have their own one. That’s what I felt as I traveled to Papua on my Indonesian Culinary Heritage Expedition assignment. Corns, potatoes, and sago are the popular foodstuffs beside rice. But in Manokwari I found the different one when I visited the family of Ferdinand Mambraku from Biak Numfor. They called it Aibon, the local name of mangrove tubers. Follow my culinary venture in Manokwari, Papua here.

Ada yang salah dengan kebijakan pemerintah Indonesia di masa lalu yang memaksakan beras sebagai bahan pangan pokok. Padahal sebenarnya banyak daerah memiliki bahan pangan pokoknya sendiri. Itu yang saya rasakan ketika berkunjung ke Papua dalam rangka penugasan Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara. Jagung, ubi, dan sagu adalah makanan pokok yang cukup populer selain beras. Tapi di Manokwari saya bertamu ke rumah keluarga Ferdinand Mambraku asal Biak Numfor yang masyarakatnya memiliki bahan pokok yang lain namanya Aibon, yaitu buah tanaman bakau. Ikuti perjalanan saya menjelajah kuliner Papua di Manokwari disini.

***

SENTANI_.jpg

Barapen

Barapen

Still during my Indonesian Culinary Heritage Expedition assignment, I enjoyed the most delicious chicken ever although no seasoning at all, as I became a guest to family of Billy Yoku in Sentani. They cooked in traditional style of Papua, the Barapen. See how made it here.

Masih dalam rangka Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara, saya menikmati daging ayam paling enak yang pernah saya santap ketika bertamu ke keluarga Billy Yoku di Sentani meskipun tanpa bumbu sama sekali. Mereka memasak masakan dengan cara tradisional Papua, Barapen. Lihat cara mereka memasak disini.

***

IMG_6120 editWM.jpg

Let The Child Still Always Be A Child

Agar Anak-Anak Tetaplah Anak-Anak

This old man has the most vital part for the establishment of Kolong Tangga Museum, or The Under the Stairs Museum (the traditional kids toys museum) in Yogyakarta. His name is Rudi Corens. His long experience with youth collaborating with his art skill undeniable are the essentials factors to found and run this museum. Check out his work at the Museum here.

Pria ini adalah orang yang paling bertanggung jawab atas berdirinya Museum Mainan Anak Kolong Tangga di Yogyakarta. Namanya Rudi Corens. Segudang pengalaman berkolaborasi dengan kaum remaja serta ketrampilan di dunia seni adalah modal utamanya mendirikan museum ini. Simak apa yang dikerjakannya di Museum Kolong Tangga disini.

***

JAYAPURA_.jpg

A Proud

Kebanggan

This food called Nor Hsori, one of traditional foods that I found during my Indonesian Culinary Heritage Expedition assignment as I traveled to Tobati Village in Gulf Yotefa, Jayapura. There is an own pride related to this. Believe it or not, along with my teammate Dina DuaRansel, we are the first reference publisher about this Tobati culinary in internet. Explore it here.

Nama masakan ini adalah Nor Hsori, satu di antara beberapa makanan tradisional yang saya temukan dalam rangka Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara ketika berkunjung ke  Kampung Tobati di Teluk Yotefa, Jayapura. Ada kebanggan pribadi sehubungan dengan kuliner ini. Percaya atau tidak, bersama rekan satu tim Dina DuaRansel, kami adalah pembuat artikel referensi tentang aneka kuliner Kampung Tobati ini di dunia maya. Coba jelajahi disini.

What's on your mind