Redefining The Dreams : The Best Moment in 2013 (Akhirnya Saya Memiliki Mimpi)

My journey in 2013 was getting farther and farther. Not just about in terms of distance but the life lesson as well. I met so many precious moments in unexpected places and it made my new vision. Its like a tiny point of light suddenly appear when you locked in a dark cave.

As many people have started to reach their dreams, I just found one of mine. Its a hard year but worth it. I had my reborn and I was so grateful for it. Instead of to be something, now my dreams are to do and create something. Some of the story below will tell a lot about my new intellection and purpose in life. Please enjoy everyone.

Perjalanan di tahun 2013 semakin jauh. Bukan sekedar dalam arti jarak yang ditempuh. Tapi juga pelajaran hidup yang didapat. Banyak momen penting yang justru saya alami di tempat yang dekat dari jangkauan. Perlahan saya memiliki pandangan hidup yang baru. Seperti titik cahaya kecil yang tiba-tiba terlihat saat terkurung rapat dalam gua yang gelap.

Ketika banyak orang sudah memulai usahanya untuk meraih mimpi mereka, saya justru baru menemukan cita-cita di 2013. Sebuah periode 365 hari yang sangat melelahkan. Tapi itu sepadan karena saya seolah terlahir kembali dan saya bersyukur karenanya. Kini cita-cita saya bukan menjadi sesuatu, tapi melakukan dan membuat sesuatu. Beberapa diantara momen dibawah ini bercerita banyak tentang kesadaran dan tujuan hidup saya yang baru. Selamat menikmati.

***

 _DSC0107_editWM

Once An Artist, Now A Therapist

Dari Artis Menjadi Terapis

Fuad Baradja. This name sounds familiar for those who undergo their children or teenage in 90’s, in Indonesia ofcourse. Long disappeared from entertainment world, finally I saw him in a UK’s documentary movie, Channel 4, Unreported World 2012 : Indonesia’s Tobacco Children ( watch the trailer here ). Jonathan Miller the host brought Fuad to Maulana Susanto, a six year kids who has been smoking since his two. Fuad has already changed his job as a smoking healing-therapist. I had an opportunity to talk and take his photo. Although for a while, he shared his thoughts and experiences as a therapist.

Read full story here.

Bagi anda yang menjalani usia anak-anak atau remaja di era 90an mungkin familiar dengan Fuad Baradja. Lama menghilang dari layar kaca, akhirnya saya melihatnya kembali dalam tayangan dokumenter luar negeri Channel 4, Unreported World 2012 : Indonesia’s Tobacco Children ( lihat cuplikannya disini ). Disitu Jonathan Miller sang pembawa acara mempertemukan Fuad dengan Maulana Susanto, seorang anak berusia enam tahun yang sudah merokok sejak usia dua tahun. Saat itu Fuad Baradja sudah beralih profesi menjadi terapis penyembuhan rokok. Saya sempat mengobrol dan mengambil gambar Fuad Baradja. Walau sebentar, ia berbagi pemikiran dan pengalamannya selama menjadi terapis.

Baca artikel lengkapnya disini.

***

DSC01949_editWM

National Monument

Monumen Nasional

As the icon of the capital city, The National Monument is one of popular place that frequently photographed. It is a challenge to get a different picture. This photo is my successful answer since I haven’t found a kind of this photo yet. Although once I again I got the idea by accident. The best photo I’ve ever took in terms of composition. I just dont like the high noise. I think I need to retake it.

Sebagai ikon ibukota, Monumen Nasional merupakan salah satu tempat populer yang paling sering dipotret. Adalah tantangan tersendiri untuk mendapatkan gambar Monas yang berbeda. Foto ini adalah jawabannya. Saya merasa berhasil karena belum pernah melihat foto Monas seperti ini sebelumnya. Walaupun sekali lagi saya mendapatkan idenya secara tidak sengaja. Foto terbaik yang pernah saya ambil dalam hal komposisi. Satu-satunya yang kurang mungkin noise yang tinggi. Mungkin lain kali saya perlu mengulanginya lagi.

***

IMG_1215_editWM

Life For A Luxurious Death

Hidup Untuk Mewahnya Kematian

At the end of the journey, I was interested in what was said by one of family members of the late. This is life in Toraja. Spending years to look for money then spent it all at once in Rambu Solo or funeral. Death is a luxurious with an expectation that the soul of the deceased successfully reach the afterlife to get happiness and peace.

The pictures took in Nanggala village, Rantepao. Read the full story here.

Di akhir perjalanan, saya tertarik dengan potongan ucapan salah satu anggota keluarga mendiang. Beginilah kehidupan di Toraja, bertahun-tahun mencari uang akhirnya hanya dihabiskan dalam sekali waktu saat Rambu Solo atau pemakaman. Kematian adalah hal yang mewah dengan harapan roh yang meninggal dapat menuju alam baka dengan keceriaan dan ketenangan.

Foto diambil di kampung Nanggala, Rantepao. Ikuti cerita lengkapnya disini.

***

IMG_7627_editWM

Money Is Not Everything

Karena Rupiah Bukan Segalanya

Sometimes money is not the main purpose for some people in living their job. There were blessing and greater happines. This old woman, Riyem is one of the example.

Read the story here.

Terkadang uang bukanlah tujuan utama beberapa orang dalam menjalani profesinya. Ada keberkahan dan kebahagiaan yang lebih besar daripada materi. Mbah Riyem ini adalah salah satu contohnya.

Baca kisahnya disini.

***

DSC_0135_editWM

Light The Candle Now

Nyalakan Lilin Sekarang

Indonesia have so many problems. The bad news and uneducated TV shows has made it even worse. I found my self carried away, peevish and pesimist. But life started to change as I joined Kelas Inspirasi, The Inspiration Class, a volunteerism community in education. Basically its just a day of sharing inspirations through profession stories to the primary school students. But I got more than that. I met so many good people who chose to do something rather than just complaining.

I realized, complaining and cursing does not solve the problem and wasting time as well. So I changed my option. Slowly I find my purpose in life. Using my passion and expertise in photography, I want to spread more good stories which encourage the hope and spirit. It is enough those mainstream media fed us with so many bad stories. Now its time for the inspiring people to rise up to the surface. Its an honor for me to be part of it. Who else would care to Indonesia if not their own people. Stop complaining the darkness, light the candle now. That’s what I want to do. One more thing, I met my wife at the first time here.

See my story about Kelas Inspirasi here and my new though here.

Masalah seolah tak berhenti mendera negeri ini. Diperburuk dengan arus berita negatif dan berbagai tayangan tak mendidik. Maka saya menjadi suka mengeluh dan pesimis. Kehidupan mulai berubah ketika saya berkenalan dengan Kelas Inspirasi, sebuah komunitas gerakan relawan pendidikan. Pada dasarnya hanya meluangkan waktu sehari berbagi inspirasi melalui cerita profesi kepada adik-adik di bangku sekolah dasar. Tapi yang saya dapatkan lebih dari itu. Saya bertemu dengan banyak orang baik yang memilih untuk bergerak daripada sekedar mengeluh.

Saya menjadi sadar bahwa mengeluh dan memaki hanya membuang waktu dan tidak menyelesaikan masalah. Maka saya mengubah pilihan dengan ikut bergerak. Perlahan saya menemukan tujuan hidup. Dengan memanfaatkan kecintaan dan keahlian di bidang fotografi, saya ingin turut serta menyebarkan lebih banyak cerita baik yang mampu membangkitkan harapan dan semangat. Sudah cukup Indonesia teracuni oleh berbagai tayangan negatif. Kini saatnya orang-orang baik naik ke permukaan. Sebuah kehormatan bagi saya untuk melakukannya. Siapa lagi yang mau peduli pada Indonesia jika bukan warganya sendiri. Berhenti mengutuk kegelapan, nyalakan lilin sekarang. Itu yang ingin saya lakukan sekarang. Satu lagi, saya bertemu istri saya pertama kali disini.

Baca cerita saya tentang Kelas Inspirasi disini dan pemikiran saya yang baru disini.

***

IMG_0789_editWM

The Beauty And Anxiety As Well

Keindahan Sekaligus Kecemasan

Labuan Bajo in East Nusa Tenggara is a absolute wonders for those who’ve been travel there. I had a concern however. I took this pic from Waecicu hill and just few meters from my standing spot there was a sign and its written, “For sold. Please call this number”.  Its not the only one. I found some in several spot in coastline of Labuan Bajo.  Bad attitude also become another thing to worried.

Watch more the beauty and anxiety I experienced here.

Keindahan alam Labuan Bajo, NTT, telah membuat begitu banyak orang terkesima. Namun saya menyimpan kekhawatiran tersendiri. Foto ini saya ambil dari bukit Waecicu dan hanya beberapa meter dari tempat saya memotret ini terdapat sebuah papan bertuliskan “Tanah ini dijual. Silahkan hubungi nomor ini”. Ini bukan satu-satunya. Papan serupa dan patok-patok pembatas tanah saya temukan juga di beberapa tempat di Labuan Bajo. Kebiasaan buruk juga menjadi kekhawatiran tersendiri.

Saksikan keindahan dan kecemasan selengkapnya yang saya alami di Labuan Bajo disini.

***

IMG_8774_editWM

Life Is Too Short To Drink Bad Coffee

Hidup Terlalu Singkat Untuk Menikmati Kopi Yang Buruk

His name is Pepeng, the founder of Klinik Kopi. His passion of coffee and sharing motivation has led him to establish Klinik Kopi. Go there and instead like other coffee shops, you will find an unique atmosphere, the storytelling one. He called himself as a coffee teller. The main goal is people become more educated about coffee especially Indonesian coffee which is have so many variations. Recently he also held on-street event called Coffee Sharing. He wanted his home made coffee could be enjoyed by people who work or live on the street. Simple but inspiring.

Read my moment with Pepeng here.

Panggilannya Pepeng, pendiri Klinik Kopi. Kecintaanya pada dunia kopi dan semangat yang tinggi untuk berbagi adalah modal utama untuk mendirikan Klinik Kopi. Jika berkunjung kesana, anda tak akan menemukan suasana seperti kedai kopi pada umumnya. Yang ada justru lebih mirip tempat mendongeng. Ya, dia menjuluki dirinya sebagai coffee teller, si pendongeng kopi. Tujuan utamanya adalah agar orang menjadi lebih teredukasi tentang kopi terutama kopi nusantara yang sangat banyak variasinya itu. Belakangan dia juga mengadakan acara Berbagi Kopi. Ia ingin kopi racikannya bisa dinikmati juga oleh orang-orang di jalanan. Sederhana tapi inspiratif.

Ikuti momen saya bersama Pepeng disini.

***

IMG_9869_editWM

I Feel Ashamed

Saya Malu

On October 2013 I joined as documentation committee in Festival Gerakan Indonesia Mengajar, FGIM, or the Indonesian Teaching Community Festival, held in Ancol, Jakarta. The visitors were doing voluntary work. They made educational props which will be distributed to the placement regions of the Pengajar Muda, or the Young Teacher, throughout Indonesia. Pengajar Muda itself is a program initiated by Gerakan Indonesia Mengajar ( Indonesia Teaching Community ) which puts high educated Indonesian youngsters as teacher throughout the country. I was very happy since I met so many good people. And thank god the FGIM was one of the media to express the good will. Professionally packaged, but who have thought the festival was not using any event organizer. Everything was done by unpaid volunteers. Even the committees also paid donation for IDR 40K just like the visitors.

Of the many visitors, I found two who could make my tears. First, a guy with crutches as walk support. I forgot his name but I remember his story as he told me. This guy is a big fan of music concert especially the international artist.  He always come to the concert held in Jakarta. Even several times he went abroad. He enrolled in FGIM just because of inducement of his friends who already did. Unfortunately for him, a car accident just a few days before made his leg broken. But somehow the accident changed his mind. He became very excited to come to the festival even with his unlucky condition.

“I feel ashamed to my self. I spent so much money for sake of my personal joy. Whilst it only forty thousand rupiah for our younger generations. It will return for our own country finally. I am ok despite my unlucky one. I have my friends to help me”, that’s what he said.

The other one was a grannie on her wheelchair, this picture. She came to FGIM with her son and her grandchild. Helped by her family, she looked excited making props.

“This is my grandchildren. And I am so proud of him since he is very smart. But even so he is not the only one. All Indonesian kids are my grandchildren too. I want all of them to be smart, not just him.”

Please enjoy my pics for documenting FGIM here.

Oktober 2013 lalu saya berpartisipasi sebagai panitia dokumentasi dalam acara Festival Gerakan Indonesia Mengajar atau disingkat FGIM yang diadakan di Ancol, Jakarta. Melalui beberapa wahana yang disediakan, para pengunjung diajak melakukan kerja bakti membuat berbagai alat peraga pelajaran yang kemudian akan dikirimkan ke berbagai daerah penempatan Pengajar Muda di seluruh penjuru Indonesia. Pengajar Muda sendiri adalah sebuah program milik Gerakan Indonesia Mengajar yang menempatkan anak-anak muda terbaik Indonesia sebagai guru di berbagai daerah di penjuru negeri. Saya sangat senang karena disitu saya bertemu dengan banyak orang baik. Dan FGIM bisa menjadi salah satu wadah penyalur niat baik tersebut. Dikemas secara profesional, siapa sangka festival ini tidak menggunakan EO. Semuanya dikerjakan oleh para relawan panitia ikhlas tanpa dibayar. Bahkan seperti pengunjung, panitia juga harus membayar Rp 40.000 sebagai iuran.

Dari sekian banyak pengunjung, ada dua orang yang sanggup membuat mata saya basah. Yang pertama seorang pria yang berjalan dengan dibantu tongkat. Saya lupa namanya namun saya ingat sekali kisahnya. Pria ini bercerita bahwa ia adalah penggemar konser musik artis luar negeri. Wajib baginya untuk datang ke konser musik artis luar negeri yang diadakan di Jakarta. Bahkan beberapa konser musik di luar Indonesia pun pernah didatangi. Awalnya ia tak berniat untuk datang ke FGIM. Ia mendaftar di FGIM karena bujukan beberapa temannya yang sudah mendaftar terlebih dulu. Beberapa hari sebelum FGIM, ia mengalami kecelakaan yang membuat kakinya patah. Namun kejadian itu justru mengubah pikirannya. Di antara teman-temannya ia menjadi orang yang paling bersemangat untuk datang ke FGIM walaupun dengan kondisi kurang menguntungkan.

“Malu sama diri sendiri aja, mas. Saya rela keluar duit banyak demi kesenangan pribadi. Ini cuma bayar empat puluh ribu buat sekolah adik-adik kita. Ya buat negeri kita sendiri akhirnya. Gak apa-apa lah biar sakit kayak gini. Masih ada teman-teman yang bantu saya, mas”, begitu katanya.

Satu lagi seorang nenek dengan kursi roda di foto ini. Ia hadir di FGIM bersama anak dan cucunya. Dibantu oleh anak dan cucunya ia tampak bersemangat membuat alat peraga.

“Ini cucu saya. Dia pintar di sekolah. Saya bangga. Tapi cucu saya bukan dia saja. Semua anak-anak Indonesia adalah cucu saya. Jangan cuma dia yang pintar. Semua cucu saya harus pintar”

Nikmati foto dan tulisan saya selama mendokumentasikan FGIM disini.

***

IMG_5199_editWM

There Is A Beauty Above The Cloud

Di Atas Awan Kita Kan Menang

This photo is a visual of top of Mount Pangrango taken at dusk from the top of its neighbour, Mount Gede in West Java. I love hiking. It refresh my mind and make me friends with nature as well. It also give me a lesson, life is a struggle. For those who do not give up and always pray, life will always ends up beautifully as this breathtaking views at the top of Gede here.

Foto ini adalah penampakan puncak Gunung Pangrango yang diambil saat senja dari puncak Gunung Gede, Jawa Barat. Saya menyukai aktifitas mendaki gunung. Bukan hanya membuat mata dan pikiran segar. Tapi juga untuk bersahabat dengan alam dan pelajaran bahwa hidup itu adalah perjuangan. Bagi yang tak menyerah dan selalu berdoa, perjuangan akan selalu berakhir indah, seperti pemandangan di puncak Gede ini.

***

???????????????????????????????

Muchtar

Muchtar

Probably become a traditional sulfur miner is tough job that never thought before for most people. Hazardous work area, high risk of health, heavy physical work, and low income. What a hellish place. But for these man, its a daily routine that must be faced. Behind a breathtaking natural vie of Ijen, there is a true story of a hard work for a living. Despite they seem always have a smile upon their face hopefully one day they will get more an appropriate reward. And hopefully this story makes us give more respect and gratitude for what we have.

Enjoy the complete story about Muchtar, the sulfur miner here.

Mungkin bagi sebagian besar orang menjadi penambang belerang tradisional adalah pekerjaan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tempat bekerja yang berbahaya, resiko kesehatan yang tinggi, kerja fisik yang sangat berat dan penghasilan yang tak banyak. Sungguh kombinasi yang mengerikan. Namun bagi sebagian lain, inilah rutinitas harian yang harus dihadapi. Dibalik keindahan alam Ijen terdapat sebuah cerita nyata akan kerja keras demi sebuah penghidupan. Walaupun terlihat selalu tersenyum semoga suatu saat nanti mereka mendapatkan imbalan yang lebih layak. Dan semoga kisah ini menjadikan kita semakin menghargai hidup dan bersyukur atas apa yang dimiliki.

Ikuti kisah selengkapnya tentang Muchtar, si penambang belerang disini.

4 Comment

  1. Tercenggang banget ttg kata2 “Hidup Untuk Mewahnya Kematian”
    Ada temen ku asli toraja, yg ama keluarga nya malah disuruh merantau dan menikah dengan orang luar toraja. Biar bisa menikmati indah nya hidup bukan untuk kematian saja hehehe. dan itu masih gw pikirin kata2 nya :-0

    1. Mas Aan says: Reply

      Yup. Sepertinya beberapa generasi muda Toraja juga sudah banyak yang merantau dan cari jodoh orang luar Toraja.
      Mahalnya biaya Rambu Solo membuat berpikir ulang untuk menetap di Toraja.

      Btw, makasih sudah mampir yes

  2. Dari tulisan njenengan, saya bisa belajar dan mengambil kesimpulan. Bahwa memiliki mimpi itu tak melulu tentang sebuah misi perburuan terhadap apa yang diidam-idamkan banyak orang. tetapi, menjadikan diri bahagia karena terlahir kembali dalam setiap perjalanan. Menjadi pribadi baru sepulang dari pencapaian mimpi sepertinya akan menjadikan diri lebih bijak, bukan? 🙂

    1. Mas Aan says: Reply

      Ah, kebetulan nulis ini habis solat jumat, jadi keliatan sok bijak aja setelah kesiram tausyiah. ha2….
      Kalau kata Jendral McArthur salah satu kunci kebahagiaan adalah jangan terlalu serius dengan hidupmu. Sedikit jenaka, sedikit bodoh, sedikit ceroboh.

What's on your mind