Kelana Rasa Tanah Papua (Bag. 3, Tobati)

Cerita sebelumnya

Jam tujuh pagi saya dan Dina meninggalkan hotel. Kami akan menuju kampung Tobati yang terletak di Teluk Yotefa, tak jauh dari Kota Jayapura. Kali ini kami hanya ditemani oleh Billy. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih satu jam. Mobil ternyata hanya bisa sampai di sebuah dermaga kecil. Selanjutnya kami harus menggunakan kapal kecil untuk menuju Tobati. Thelma  Ireuw, salah seorang warga Tobati menjemput kami di dermaga. Remaja perempuan yang masih berkuliah di Universitas Cendana ini akan menjadi tuan rumah bersama ibunya, Martha Iwo. Sepuluh menit kemudian kami sudah sampai di tujuan. Saya takjub dengan pemandangan disini. Awalnya saya kira Tobati adalah sebuah kampung yang berdiri di tepi laut. Tapi ternyata kampung ini benar-benar di atas laut walaupun masih cukup dekat dengan daratan. Hampir semua rumah disini terbuat dari kayu termasuk jalannya.

“Selamat datang di Tabati. Selamat datang di rumah kami”, Thelma mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. Tabati, begitu penyebutan tempat ini sesuai dialek setempat, artinya tempat matahari terbit. Sementara disisi utara terdapat kampung di atas laut yang lain. Namanya Enggros, artinya tempat kedua. Enggros dihuni oleh orang-orang yang dulu juga tinggal di Tobati namun memilih pindah karena tempat asalnya dirasa penuh.

???????????????????????????????
Kampung Tobati di atas laut Teluk Yotefa
DSC00204 editWM
Rumah dan jalan terbuat dari kayu.
DSC00103 editWM
Anak-anak Tobati
DSC00294 editWM
Gereja Viadolorosa adalah satu-satunya gereja di Tobati.

Sementara Billy memilih menunggu di teras, saya dan Dina langsung menuju ke dapur membantu mama Martha dan Thelma sibuk menyiapkan bahan-bahan masakan. Ada beberapa masakan khas kampung Tobati yang akan dimasak hari ini. Yang pertama adalah labu mentuk. Bahan utamanya adalah labu, kelapa, sagu kering, kayu manis, dan daun pandan. Cara membuatnya sagu kering dicampur air, garam, dan parutan kelapa. Kemudian dibentuk bulat kecil menyerupai kelereng. Setelah itu adonan tersebut dimasukkan ke dalam air yang sedang mendidih dan diangkat ketika matang. Butiran sagu yang sudah diangkat lalu dicuci dengan air untuk menghilangkan lendir. Sementara itu labu dipotong kecil menyerupai kubus dadu lalu direbus dengan santan muda, gula merah, daun pandan, garam dan kayu manis. Butiran sagu yang sudah dicuci, santan tua, air kelapa muda dan parutan kelapa ditambahkan ke adonan ketika labu matang. Setelah beberapa saat labu mentuk siap untuk disajikan. Labu mentuk ini rasanya seperti kolak dengan rasa manis yang berat. Cocok disantap sebagai sajian ringan. Karena itu sajian ini juga disebut kolak labu.

IMG_8040 editWM
Membuat butiran sagu
IMG_8111 editWM
Butiran sagu yang sudah dimasak dan dicuci.
IMG_8104 editWM
Potongan labu direbus dengan santan, daun pandan, gula merah dan kayu manis.
JAYAPURA_Labu Mentuk, terbut dari bola sagu, labu kuning,daun pandan, kelapa,gula merah, gula putih,kayu manis,
Labu Mentuk atau kolak labu.

Masakan kedua nor robrob, yaitu nor atau kerang putih yang dibakar. Pertama, kerang disiram air panas untuk membuka cangkang. Ketika sudah terbuka, air panas harus segera dibuang dari dalam kerang agar kerang tidak mati. Setelah itu daging di dalam cangkang diambil dan dicuci menggunakan air. Cangkang juga dibersihkan karena di dalamnya terdapat selaput bekas endapan lumpur. Daging yang sudah dicuci dimasukkan lagi ke dalam cangkang lalu dibungkus dengan kertas alumunium untuk mencegah kulit kerang gosong ketika dibakar. Trik membungkus dengan kertas alumunium ini didapatkan mama Martha dari salah seorang tetangganya yang pernah memenangkan sebuah kontes memasak se Papua. Kerang siap diangkat ketika matang. Cara mengetahuinya dengan mengangkat dan menggoyang-goyangkan kerang. Jika sudah tidak mengeluarkan air artinya kerang sudah matang. Meskipun tidak dibumbui apapun ternyata nor robrob memiliki rasa yang cukup kaya. Kenyal dan gurih seperti ati ayam.

Satu lagi masakan berbahan dasar kerang putih yaitu nor hsori. Cara membuatnya hampir sama seperti nor robrob. Setelah dibersihkan, daging kerang dimasukkan ke dalam cangkang dengan tambahan adonan sagu kering, garam, parutan kelapa dan air yang sudah dicampur sebelumnya. Setelah itu kerang direbus sampai adonan didalamnya mengental halus seperti lem. Jika pernah mencoba jajanan pasar bernama cenil, kurang lebih seperti itulah rasa nor hsori. Hanya saja dengan rasa daging kerang didalamnya.

IMG_8005 editWM
Nor, atau kerang putih
DSC09997 editWM
Membuka kerang lalu mengambil dagingya.
???????????????????????????????
Membakar kerang
JAYAPURA_Nor Robrob, kerang putih yang dibakar
Nor Robrob, atau kerang putih yang dibakar.
DSC00026 editWM
Dina ikut membantu memasukkan adonan ke dalam cangkang.
JAYAPURA_memasukkan adonan sagu kering, parutan kelapa, garam ke dalam kerang
Adonan dimasukkan ke dalam kerang.
JAYAPURA_Nor Hsori terbuat dari kerang putih yang kedalamnya dimasukkan adonan sagu kering,parutan kelapa,garam lalu direbus
Nor Hsori

Selanjutnya adalah ic wasic. Cara membuatnya ikan baronang, atau ikan rauw dalam istilah lokal, ditaruh di dalam wajan yang telah dialasi daun. Daun yang dipakai yaitu daun talas yang dikeringkan dengan cara digantung di dalam dapur selama beberapa hari sampai berwarna coklat tua. Warga Tobati menyebutnya sebagai daun bete. Daun ini ditaruh lagi diatas ikan dan diisi air sampai ikan terendam lalu direbus tanpa bumbu apapun. Ic wasic sudah masak ketika berwarna coklat tua kehijauan. Rasa masakan ini seperti umumnya ikan baronang namun dengan aroma wangi yang khas yang berasal dari daun bete.

Masakan terakhir adalah hcaw (dibaca hecauu), yaitu sagu merah, sagu putih dan parutan kelapa dimasukkan ke dalam air mendidih yang sebelumnya sudah diberi sedikit garam. Adonan tersebut diaduk sampai kental merata. Setelah itu diangkat dan dicampur lagi dengan parutan kelapa. Hcaw ini rasanya gurih kenyal dan biasanya disantap dengan ic wasic atau masakan ikan lainnya.

DSC00069 editWM
Memasak ic wasic
JAYAPURA_Ic Wasic, terbuat dari ikan Rauw (baronang) yang direbus dengan dibungkus daun bete (daun talas yang dikeringkan)
Ic Wasic
JAYAPURA_memarut kelapa
Memarut kelapa
DSC00187 editWM
Mencampur adonan sagu dengan parutan kelapa.
???????????????????????????????
Hcaw biasa disantap dengan masakah ikan.

Sudah tiga hari kami melakukan ekspedisi kuliner di Papua dan dibandingkan dua tempat sebelumnya baru disini saya berjumpa makanan dengan tema laut yang begitu terasa. Saya dan Dina sempat berdiskusi beberapa kali tentang penulisan nama kulinernya. Meskipun berasal dari tempat yang sama, para nara sumber kami bisa memberikan penulisan yang berbeda. Misal, nor hsori dan nor shori. Hecaw, hcaw, dan hecauu. Ic wasic dan ich wasich. Satu lagi yang membuat tak kunjung didapatnya kata sepakat adalah kami tidak bisa menemukan referensi kuliner Tobati ini di dunia maya. Padahal kami sudah mencarinya beberapa kali. Tapi itu justru membuat kami sadar sekaligus takjub. Itu artinya belum ada satupun orang yang membuat referensi tentang berbagai masakan ini. Dengan kata lain, ketika foto dan tulisan kami sudah terbit, setidaknya di dunia maya, maka bisa jadi kami adalah orang pertama yang melakukannya. Perkembangan informasi yang sangat cepat membuat nyaris tak ada hal yang tak bisa ditemukan di dunia maya. Maka menjadi pembuat dan penerbit pertama suatu informasi adalah sebuah kebanggan tersendiri.

DSC00289 editWM
Pemandangan kampung Tobati
DSC00193 editWM
Narsis sejanak

 

Makan siang yang agak sore pun kami nikmati di teras depan sambil menikmati pemandangan indah kampung Tobati dan Teluk Yotefa. Menjelang senja kami harus pamit walaupun sebenarnya berat meninggalkan tempat yang menyejukkan mata ini. Esok saya dan Dina akan melanjutkan perjalanan ekspedisi kuliner ke pulau Lombok dan tak sabar menjelajah rasa yang berbeda lagi. Karena Indonesia memang sangat kaya.

Cerita selanjutnya

2 Comment

  1. Masakan Papua kayaknya sehat2 ya… gak banyak garam, gula juga jarang? Foto2nya keren banget, masakannya kayak benar2 ada di depanku… sayang cuma bisa diliatin, hehe…

    1. Mas Aan says: Reply

      Mungkin karena saya tidak datang ke kotanya. Jadi masih banyak menggunakan bahan & bumbu tradisional

What's on your mind