Kelana Rasa Tanah Papua (Bag. 2, Sentani)

Cerita sebelumnya

Sentani yang berjarak satu jam dari Jayapura ini menjadi tujuan berikutnya di hari kedua kami di tanah Papua. Henky Theo, atau biasa dipanggil Pak Boy, menjemput saya dan Dina di bandara Sentani. Ia mengajak kami ke kantornya yang tak jauh dari bandara dan mengenalkan kami dengan dua rekannya, Billy Yoku dan Vonet Hady. Rencananya kami akan memasak barapen di halaman rumah Billy. Kami pun segera berangkat ke pasar untuk membeli aneka bahan yang diperlukan seperti jagung, labu siam, betatas (singkong), keladi (talas), pisang mentah, daun bingga (sebutan lokal untuk aneka daun yang dimanfaatkan sebagai sayur), daging ayam dan lain-lain. Biasanya mereka menggunakan daging babi. Namun kali daging ayam menjadi pilihan agar bisa dimakan oleh semua orang. Barapen juga dikenal sebagai bakar batu. Sesuai namanya, masakan ini dimulai dengan membakar batu. Panas dari batu ini yang kemudian dimanfaatkan untuk memasak aneka bahan mentah yang sudah disiapkan.

Dari pasar kami langsung menuju kediaman Billy tepat di kaki sebuah bukit yang biasa disebut sebagai Bukit Cyclops. Disana sudah ada tiga orang rekan yang akan membantu, Esau Bahabol, Yoas Kobak, dan Liber Suhun. Mereka sudah memulai dengan mengumpulkan batu dan kayu untuk dibakar.  Tuan rumah yang lain, Rahab Mirino yaitu ibu Billy dan istri Billy juga ikut membantu. Para wanita termasuk Dina menyiapkan aneka bahan agar siap dimasak. Sementara menunggu batu yang dibakar membara sampai berwarna merah, Yoas menggali lubang sebagai tempat memasak. Sedangkan Liber dan Esau menyiapkan daun yang akan dipakai sebagai pembungkus. Daun yang dipakai yaitu daun pisang, daun talas dan alang-alang.

SENTANI_Proses memasak barapen diawali dengan membakar batu sampai kemerahan
Memasak barapen diawali dengan membakar batu sampai merah menyala.
SENTANI_setelah cukup panas, batu yang dibakar dipindahkan ke lubang yang sudah dilapisi dedaunan.
Batu yang dibakar dipindahkan ke lubang yang sudah diberi alas daun.

 

SENTANI_diatas lubang yang sudah digali kemudian ditaruh aneka daun seperti ilalang dan daun pisang
Daun pisang ditaruh di atas batu panas sebagai alas bahan yang akan dimasak

 

SENTANI_diatas batu yang dibakar ditutup oleh daun pisang kemudian aneka umbi dan bahan makanan lainnya ditaruh diatasnya
Aneka bahan masakan ditaruh di atas daun pisang.

Sambil mencuci bahan masakan, Dina sempat berujar bahwa baginya memasak barapen cukup repot dan melelahkan. Saya juga sependapat. Namun mama Rahab justru berpendapat sebaliknya. Ia bercerita bahwa di masa lalu barapen adalah makanan harian orang Papua. Bahkan sampai sekarang barapen masih dimasak secara teratur oleh berbagai suku Papua yang masih tinggal secara tradisional di pedalaman. Hanya orang-orang yang tinggal di kota saja yang mengubah cara mengolah masakan menjadi lebih moderen karena menyesuaikan dengan tempat tinggal. Mayoritas suku pedalaman di papua hidup berladang. Karena itu mereka memasak barapen juga di ladang. Kaum lelaki menyiapkan bahan makanan dan para wanita yang menyiapkan batu, kayu dan daun. Semua bahan makanan dan perlengkapan memasak sudah tersedia di ladang. Tinggal menyiapkan saja. Tidak perlu air atau minyak. Itulah alasan memasak barapen sebenarnya dianggap lebih sederhana.

Kira-kira setengah jam kemudian batu yang dibakar sudah berwarna merah. Menggunakan penjepit yang dibuat dari batang atau tangkai pohon, Esau, Yoas, dan Liber memindahkan satu per satu batu ke dalam lubang yang sebelumnya sudah dialasi dengan dedaunan. Setelah itu daun pisang ditaruh diatasnya sebagai alas. Bahan pertama yang dimasukkan adalah daging ayam. Diatas daging ayam ditaruh kembali daun pisang lalu aneka ubi dan semua bahan yang tersisa. Setelah semua bahan ditaruh, langkah terakhir yaitu membungkusnya dengan dedaunan yang sudah ditaruh sebelumnya. Lapisan daun yang paling luar diikat dengan rapat dan kuat agar panas dari batu tidak banyak terbuang. Yang bisa dilakukan sekarang adalah menunggu sampai masak selama kira-kira setengah jam. Namun sebenarnya tidak ada ukuran waktu yang pasti. Mama Rahab bercerita sebenarnya ada tanda alam yang bisa dipakai untuk mengetahui apakah barapen telah masak atau belum, yaitu lalat. Indra penciuman serangga tersebut diyakini sangat tajam dan mampu mengenali bau makanan dengan baik. Kehadiran lalat artinya barapen sudah masak. Tiba-tiba saya jadi teringat seorang kawan penggemar kuliner yang pernah berkata bahwa sebenarnya lalat bisa menjadi alat deteksi apakah suatu makanan menggunakan bahan pengawet atau tidak. Lalat akan cenderung mendekati makanan yang baunya alami alias tidak memakai bahan pengawet.

SENTANI_batu bakar diatas bahan makanan dengan terlbih dahulu dilapisi daun pisang
Batu panas ditaruh lagi di atas bahan masakan yang sudah diberi lapisan alas daun pisang.
SENTANI_barapen dibungkus dengan daun untuk mempercepat proses pemasakan
Alas daun juga dipakai sebagai bungkus penutup untuk mempercepat proses memasak.
SENTANI_setelah matang, bungkusan daun dibuka dan isinya dipindah
Setelah matang bungkusan daun dibuka dan isinya dipindah.
SENTANI_barapen yang sudah matang disajikan dengan sambel mentah
Barapen yang sudah matang disajikan dengan sambel mentah untuk menambah kenikmatan.

Empat puluh lima menit kemudian lalat mulai menampakkan kehadirannya. Saatnya membuka barapen. Setelah daun pembungkus dibuka, satu per satu bahan masakan diambil dan dipindahkan ke atas daun pisang yang masih baru. Semua orang sudah berkumpul dan memegang jatahnya masing-masing yang ditaruh di atas sobekan kecil daun pisang sebagai alas. Mama Rahab memimpin doa dan dilanjutkan dengan makan bersama. Sebagai orang yang biasa tinggal di kota, saya dan Dina terpesona dengan rasa barapen ini. Walaupun dengan cara yang tradisional dan tanpa bumbu apapun, aneka ubi dan daging ayam ini mampu mengeluarkan rasa aslinya, sangat enak dan khas. Saya paling suka jagung manis, talas dan labu siam. Rasa manis begitu terasa dengan karakternya masing-masing. Daging ayamnya juga tak kalah nikmat. Rasa dan kontur dagingnya sangat pas. Jujur bagi saya mungkin inilah daging ayam paling lezat yang pernah saya makan. Tak terasa  sudah tiga kali saya menambah porsi. Sepertinya Dina juga. Yang lain juga terlihat ceria. Sesekali terdengar gelak tawa dan gonggongan anjing milik Billy yang ikut berkerumun. Kesempurnaan sore itu semakin lengkap dengan ajakan Pak Boy untuk menyaksikan keindahan Danau Sentani dari atas Bukit McArthur tak jauh dari rumah Billy. Perut kenyang, hati riang. Sempurna.

SENTANI_Yoas Kobak bersama masakan barapen buatannya dan teman-temannya
Yoas Kobak dan barapen masakannya.
DSC09876 editWM
Danau Sentani dilihat dari Bukit McArthur. Tampak juga landasan pacu Bandara Sentani.
DSC09917
Saya dan Dina (kaos hitam) berfoto bersama dengan Pak Boy, Vonet, Billy dan putranya di Tugu McArthur.

cerita selanjutnya

2 Comment

  1. Salam kenal… Foto2nya keren… Aduh, itu makanannya bikin laper, kayaknya enak, fresh, dan sehat gitu 🙂

    1. Mas Aan says: Reply

      salam kenal juga. terima kasih sudah berkunjung. maaf, rasa lapar yang muncul setelah melihat foto2 ini diluar tanggung jawab redaksi. he2..

What's on your mind