Kamera apa yang paling bagus?

Semangkok mi instan ( yang herannya saya tau penuh micin tapi tetap saja doyan ) menghangatkan malam itu sambil menonton pilem paporit (sumpah saya bukan orang Sunda). Tapi kesyahduan terganggu ketika HP saya berbunyi. Sebuah pesan dari seorang sohib yang masih nubie dalam urusan fotografi ingin membeli kamera pertamanya dan berujung pada pertanyaan seperti judul tulisan ini. Itu artinya untuk entah yang ke berapa kali saya harus menjabarkan hal yang sama. Apalagi penjelasannya lumayan panjang. Akhirnya saya putuskan untuk membuat tulisan ini supaya saya tak perlu mengulang berbasah-basah bibir atau berpegal-pegal jari jika ada yang ingin bertanya hal yang sama. Cukup salin-unduh tautan tulisan ini ke si penanya. Hitung-hitung ikut membudayakan kebiasaan membaca yang masih kurang dari penghuni Indonesia ini.

Om,..om..aku ikutan nyimak boleh ya. Aku juga pengen beli kamera, om.

Ya,..ya..boleh saja. Tunggu. Sebelumnya kita sudah bersepakat ya bahwa kamera itu adalah alat untuk menghasilkan foto, gambar, citra, imaji, atau apapun itu istilahnya. Bukan sejenis pohon lho.

Itu cemara, om….

*garing *lupakan *lanjut

1. Merk apa yang paling oke?

Mana yang lebih enak, sate atau bakso? Siapa yang lebih hebat, Ronaldo atau Messi? Siapa yang lebih cantik, Luna Maya atau Cut Tari?

Kalau Ariel yang jawab dia mungkin akan bilang dua-duanya, om. soalnya….*skip

Pertanyaan dengan jawaban tak berujung. Pun demikian urusan merk kamera. Mana yang lebih bagus di antara sekian merk kamera yang ada? Inilah percabangan dari pertanyaan utama yang paling sering terlontar. Tanpa meremehkan yang lain, khusus di Indonesia praktis perseteruan sengit hanya di antara dua kubu saja, Canon vs Nikon. Keduanya jagoan dengan plus minusnya masing-masing. Tak jarang pendukung fanatiknya saling berperang kata-kata dan terlibat black campaign di sosmed. Untungnya lumayan damai di dunia nyata. Cukup familiar ya. Mengingatkan suatu masa di pertengahan tahun 2014 kemarin.

Both are the best one, for their own supporters ofcourse. Lalu? Jawabannya mudah. Lihat teman-teman kamu sesama penggemar fotografi. Pilihlah merk yang paling banyak dipakai oleh mereka. Dua alasan utamanya. Pertama, kamu akan mudah mendapatkan bantuan jika mengalami kebingungan atau masalah seputar kamera. Kedua, kamu bisa meminjam berbagai lensa dan asesorisnya dari teman-teman kamu tersebut, dengan asumsi yang digunakan adalah jenis yang kamera yang lensanya bisa diganti. Fotografi itu bukan hobi murah. Daripada langsung beli dan ternyata menyesal karena tak seperti harapan, lebih baik meminjam dulu untuk sekedar tes. Segera kembalikan ke si pemilik tentunya.

Lho, emangnya kalau pakai kamera Canon gak bisa pakai lensanya Nikon, dan juga sebaliknya ya, om?

Sayangnya kamera itu egois, hanya mau dengan yang satu merk, atau merk pihak ketiga yang secara khusus dibuat untuk Canon atau Nikon. Karena memang masing-masing pabrikan kamera memiliki mounting (colokan) tersendiri untuk beberapa perlengkapan dasar kamera seperti lensa, flash, dan remote. Jadi sekalinya kamu memilih salah satu kamera maka seterusnya kamu harus setia dengan merk perlengkapan yang sama dengan kamera kamu. See, benda mati seperti kamera saja mengajarkan kesetiaan dengan pasangan. Terus kenapa kamu selingkuh?

Jangankan selingkuh, pacar aja ga punya om. Aku setia jomblo, om. ..*sesenggukan*

Oh, maap *merasa bersalah*

2. Sistem apa yang sebaiknya dipakai?

photographylife
courtessy photographylife.com

Sebelum dimulai, sudah siap dengan kacang, gorengan, atau cemilan lainnya? Karena penjelasan berikut ini akan lumayan panjang. Maaf, saya tidak bertanggung jawab jika kamu kelaparan di tengah tulisan.

Udah om. Tapi bukan gorengan sih. Ini ada pete sama jengkol. Om mau?

F!@#$%(….

Well, masih banyak orang awam yang belum tahu bahwa membeli kamera itu artinya kamu sedang berinvestasi pada sebuah sistem. Seperti yang sudah ditulis diatas, ketika sudah memilih salah satu merk kamera maka kamu tak bisa lagi memakai merk perlengkapan yang lain. Belum lagi kalau beda sistem.

Aiisshh..!! Sistem apaan sih om?. Saya taunya kamera itu pencet tombol lalu tau-tau fotonya udah jadi. Semua kamera seperti itu kan, om?

Tak semudah itu. Di antara memencet tombol dan terciptanya sebuah gambar terdapat sebuah proses rumit. Tenang, saya tidak akan bercerita betapa rumitnya proses itu karena memang tidak mengerti proses tersebut. Tapi syukurlah saya masih mengerti proses secara umumnya dan saya akan berbagi dengan kamu, iya…kamuuu… *pasang muka Dodit*

Om, plis deh… *muka datar*

Kita flashback ke pelajaran sekolah fisika jaman SMP dulu. Indra mata kita dapat melihat sebuah benda karena ada cahaya yang mengenai benda tersebut lalu memantulkannya ke bola mata. Cahaya dilewatkan melalui lensa mata dan ditangkap oleh retina. Retina ini terhubung dengan otak yang kemudian diterjemahkan menjadi sebuah gambar.

Eengg…gitu ya om? Aku baru tau sekarang. Soalnya dulu sering bolos pas fisika.

Tenang. Saya maklum kok. Kamu tidak sendiri. Phyisics was just another nightmare. Once, and still. Hope me wrong.

Nah, kamera pun demikian. Yang berfungsi sebagai retina pada kamera digital adalah sensor cahaya. Sedangkan untuk kamera analog sebelum era digital adalah film. Yang membedakan adalah bagaimana cahaya itu dilewatkan sebelum ditangkap oleh sensor. Secara garis besar ada tiga cara dimana itu membentuk sistem masing-masing. Rangefinder, SLR, dan mirrorless.

courtessy togblog.biz
Perbandingan prinsip kerja kamera DSLR dan mirrorless. courtessy togblog.biz

Saya tidak akan membahas rangefinder karena pemakainya jarang. SLR kepanjangan dari single lens reflex. penambahan D pada DSLR hanya untuk membedakan SLR analog yang masih menggunakan film dan Digital SLR yang sudah menggunakan teknologi digital. Setelah melalui lensa, cahaya mengenai sebuah cermin yang akan memantulkannya ke atas. Selanjutnya cahaya akan dipantulkan lagi oleh sebuah prisma atau cermin statis di bagian atas sehingga kita dapat melihat pantulan gambar tersebut melalui jendela bidik atau viewfinder. Ketika kamu menekan tombol rana atau shutter, cermin pertama akan bergerak menutup ke atas sehingga cahaya bergerak lurus dan tertangkap sensor yang berada tepat di belakang cermin tersebut. Karena cermin menutup ke atas itulah jendela bidik akan terlihat gelap untuk sesaat.

Mirrorless, sesuai artinya maka sistem kamera ini menghilangkan cermin. Setelah melalui lensa cahaya langsung ditangkap oleh sensor. Karena itulah pada (sebagian besar) kamera mirrorless tidak lagi menggunakan jendela bidik. Sebagai gantinya kamu dapat langsung melihat gambar melalui layar LCD atau biasa disebut live view. Gambar yang terlihat adalah citra digital sementara pada SLR adalah murni cahaya karena ditangkap dan dipantulkan oleh cermin. Kamera HP dan pocket sebenarnya juga dikategorikan sebagai mirrorless karena memang tidak ada cermin. Tapi istilah mirrorless lebih ditujukan pada kamera mirrorless yang lensanya bisa diganti. Istilahnya interchangable.

Tahan bentar dong, om. Aku mau HIV.

Apa itu HIV?

Hasrat ingin vivis, om

Halah, alay juga ternyata

3. Megapixel makin besar, kamera makin bagus?

Pada dasarnya sebuah foto terdiri dari begitu banyak kotak-kotak kecil atau yang disebut pixel ( picture element ). Sebuah foto 1 megapixel artinya dalam foto tersebut terdapat 1 juta titik ( 1.048.576 pixel ). Silahkan klik disini untuk pemahaman detil tentang megapixel. Lalu apakah dengan semakin besar megapixel berarti semakin bagus kualitas foto yang akan dihasilkan oleh sebuah kamera? Tidak sepenuhnya benar. Masih ada parameter lain yang menentukan kualitas sebuah kamera seperti lensa dan sensor. Megapixel hanya akan terasa ketika kamu melakukan cropping atau perbesaran foto terutama ketika dicetak.

2.bp.blogspot
courtessy 2.bp.blogspot.com

Kalau begitu kenapa iklan kamera sering gembar-gembor megapixel om?

Jawabannya sederhana, strategi pemasaran. Para produsen dan toko kamera tahu bahwa mindset ini tidak sepenuhnya benar tapi mereka akan terus mempertahankannya. Karena mereka butuh alasan mudah untuk meyakinkan konsumen untuk meng-upgrade kamera. Untuk seseorang yang baru akan membeli kamera untuk pertama kali, percayalah bahwa semua kamera yang ada di pasaran saat ini sudah jauh lebih dari cukup dalam hal megapixel. Jadi sebaiknya kamu tidak perlu khawatir soal yang satu ini.

4. Kelebihan dan kekurangan

Dari sedikit penjelasan di atas. Baik DSLR maupn mirrorless memiliki plus minus masing-masing. Pada dasarnya DSLR memiliki kelebihan sebagai berikut :

  • Secara umum kamera DSLR lebih hemat daya dibanding mirrorless. Jendela bidiknya tidak membutuhkan daya sama sekali untuk menampilkan citra ketika membidik. Layar LCD hanya digunakan untuk melihat hasil gambar. Bandingkan dengan kamera mirrorless yang menggunakan layar LCD baik untuk membidik maupun melihat gambar hasil akhir. Akibatnya layar LCD menyala lebih lama. Padahal seperti halnya smartphone, layar LCD rakus daya. Ia memakan 50% dari total daya terpakai. Pengalaman saya menggunakan kamera mirrorless, batere 100% di pagi hari sering sudah sekarat di sore harinya.
  • Jumlah dan variasi lensa serta berbagai asesoris kamera sistem SLR lebih banyak dibanding kamera mirrorless sehingga DSLR memungkinkan kamu untuk lebih leluasa berkreasi karena sistem SLR sudah jauh lebih eksis dibanding mirrorless yang baru berkembang beberapa tahun belakangan. Lebih menyenangkan datang ke warung makan yang punya lebih banyak pilihan menu daripada yang sedikit bukan? Idealnya sih begitu.
  • Karena lebih besar dan lebih berat, kamera DSLR relatif lebih stabil dibandingkan kamera mirrorless. Dibantu juga ketika membidik posisi kamera dekat dengan tubuh. Semakin dekat titik berat sebuah benda dengan pangkalnya maka akan semakin stabil pula benda tersebut. Keunggulan ini akan sangat terasa dalam kondisi minim cahaya sehingga resiko menghasilkan gambar yang blur lebih kecil.

Mirrorless pun tak mau kalah. Sebagai teknologi yang relatif lebih baru, ia menawarkan kelebihan sebagai berikut :

  • Tanpa cermin, artinya dimensi fisik bisa dipangkas. Ukurannya yang kecil ini membuat kamera mirrorless lebih ringan dan ringkas dibanding DSLR. Kamera jenis ini cocok buat kamu yang memiliki beban hidup yang berat. lho…
  • Efek lain dari ukuran yang kecil adalah tidak mudah menarik perhatian. Kamu akan terlihat lebih low profile dan leluasa mengambil gambar terutama di lingkungan yang penuh orang. Fisik kamera DSLR yang besar cenderung mencolok dan intimidatif, membuat sebagian orang tidak nyaman ketika ia dijadikan obyek bidikan. Keamanan dan keselamatan kamera serta diri sendiri juga lebih beresiko jika menggunakan DSLR. Bigger is better? For this one, think again.
  • Tanpa cermin yang bergerak naik turun, artinya menghilangkan bagian yang fisiknya bergerak secara mekanik. Umumnya bagian terlemah pada sebuah alat adalah pada bagian yang bergerak. Selain itu menghilangkan bagian mekanik yang bergerak berarti memangkas waktu. Manfaatnya kamera mirrorless memilki burst rate yang lebih tinggi daripada kamera DSLR, dengan spesifikasi dan kelas kamera yang sama tentunya. Burst rate adalah jumlah gambar yang bisa diambil dalam satu detik ketika kamu mengaktifkan mode continous shot. Biasa dihitung dengan satuan fps (frame per second). Sangat bermanfaat ketika kamu mengambil gambar dengan obyek yang bergerak cepat. Ambil contoh dengan rentang harga 5-6 juta rupiah, kamera mirrorless memiliki kemampuan burst rate 8-10 fps. Sementara kamera DSLR dengan rentang harga yang sama hanya 4-6 fps. Tapi jika kamu jarang menggunakan fitur continous shot, maka lupakan keunggulan yang satu ini.
  • Kamera mirrorless adalah pilihan tepat untuk lensa manual ( lensa yang fokusnya hanya bisa diatur secara manual dengan memutar cincin fokusnya ), dengan bantuan adapter atau converter agar lensa manual dapat dipasang pada body kamera tentunya. Kamera mirrorless memiliki fitur peaking yang ketika membidik maka tampilan di layar LCD akan memberi tanda area mana yang fokus. Ketika ring fokus kamu putar maka otomatis area fokus juga langsung bergeser. Bandingkan jika kamu memasang lensa manual di kamera DSLR yang besar itu. Sudahlah berat, mata juga lebih cepat lelah karena dipaksa mengintip terus-terusan melalui viewfinder yang kecil itu.

5. Kesimpulan

Udah lumayan panjang penjelasannya om. Tapi aku masih bingung harus beli kamera seperti apa?

Ada beberapa pertanyaan yang bisa membantu kamu mengambil keputusan.

1. Merk kamera apa yang banyak digunakan oleh teman-teman di sekitar kamu?

Ambil merk itu agar mudah mendapatkan solusi masalah kamera. Kecuali ternyata (sialnya) semua teman kamu itu pelit. Kasian deh looo…..*gerakin jari telunjuk tangan meliuk dari atas ke bawah*

Hiks, om kejam… *nangis di pojokan*

2. Kebutuhan seperti apa yang kamu punyai ketika hendak membeli sebuah kamera?

a. Cuma mo selpih taruh jari di bibir, atau selpud, terus unggah ke sosmed. Biar ikut keliatan gahul gituh, om.

Dasar alay akut. Pakai kamera hape saja. Malah lebih praktis karena bisa langsung aplod foto.

b. Cuma buat foto dokumentasi teman-teman dan keluarga, om. Diliatin di kompie trus dipilihin yang bagus dicetak lalu dipajang di dinding om.

Hmm..sepertinya tidak ada niat lebih untuk belajar fotografi. Cuma butuh hasil. Kalau begitu beli kamera pocket saja. Harganya relatif lebih murah dan serba otomatis, tidak ada fungsi manual yang ribet. Paling mentok beli kamera mirrorless kelas amatir biar keliatan agak keren.

c. Aku senang liat gambar-gambar keren om. Pengen deh bisa bikin foto kayak gitu.

Pilih kamera mirrorless. Fitur manual memungkinkan untuk leluasa mengutak-atik pengaturan kamera. Kamu pun juga bisa belajar fotografi di lebih banyak tempat tanpa terlalu sering khawatir akan keamanan kamera dan diri kamu sendiri. Kalau tetap ngotot beli DSLR, harus lebih siap dengan resiko ini. Ingat kata Bang Napi, kejahatan ada bukan hanya karena ada kesempatan, tapi karena ada niat. Waspadalah.

Kalo sudah hati-hati tapi tetap saja hilang, gimana om?

Saya prihatin

d. Aku mau menghasilkan uang dari foto om. Aku mau foto-fotoku dilihat orang dan menginspirasi mereka. Aku mau seperti John Steinmeyer, Robert Capa, Arbain Rambey, Darwis Triadi, Ani..

Heh, Ani siapa?

Loh, masa om ga tau? Itu loh, Bu Ani esbeye.

Oh, ya..ya..oke..baeklah…

DSLR adalah pilihan terbaik. Niat kamu bukan sekedar ingin belajar menghasilkan sebuah gambar. Lebih dari itu, sebuah karya seni. Atau sebuah imaji visual yang mampu menggugah emosi manusia. Ketika kamu sadar bahwa ternyata fotografi itu bukanlah sebuah tujuan melainkan hanya alat yang membantu kamu mencapai tujuan yang lebih tinggi. DSLR menawarkan segala keleluasaan dalam berkarya. Berbagai minus yang ada bukan lagi sebuah kekurangan, melainkan bagian dari resiko pengorbanan dan perjuangan yang harus kamu jalani untuk menapaki level yang lebih tinggi. Seiring perkembangan teknologi, kamera mirrorless akan terus berkembang. Bahkan saya yakin DSLR akan tersingkir oleh mirrorless suatu saat nanti. Tapi tidak sekarang, mungkin beberapa tahun lagi. Ketika tulisan ini dibuat, DSLR masihlah seorang raja. Ya raja yang perlahan tapi pasti sedang dikudeta oleh calon raja yang lain. Tapi jika kamu memang serius dan sungguh-sungguh, maka waktu untuk memulai adalah sekarang.

Kalau masalah merk, untuk DSLR ya dua merk tadi yang bersaing ketat terutama di Indonesia. Sementara persaingan di level mirrorless lebih heterogen. Saya lihat setidaknya ada tiga pemain lama, Panasonic sebagai perintis pertama teknologi mirrorless, Olympus, dan Sony. Belakangan ada satu merk yang dulu nyaris tenggelam kini justru ikut dalam persaingan, Fuji. Samsung si pendatang baru yang biasa membuat HP pun juga membuat klasemen liga mirrorless makin panas. Lalu bagaimana dengan dua penguasa DSLR? Hmm..sepertinya Canon dan Nikon sudah cukup sadar bahwa masa depan dunia kamera ada di mirrorless dengan (akhirnya) ikut membangun sistem kamera mirrorless. Tapi kesadaran itu tidak dibangun secara sungguh-sungguh, setidaknya itu bagi saya ketika melihat varian produknya. Mungkin mereka masih terlena dengan kejayaan di alam DSLR.

3. Berapa bujet Kamu?

Doain aja ortu baik hati om, biar mau kasih duit lebih.

courtessy sealiaeka.blogspot.com

Berbagai penjelasan di atas akhirnya mentok pada urusan satu ini. Istilahnya UUD, ujung-ujungnya duit. Uang lah yang akhirnya akan membatasi pilihan kamera yang bisa dibeli. Secara umum baik DSLR maupun mirrorless memiliki rentang harga yang mirip tergantung kelasnya, amatir, semi pro, profesional. Walaupun kecil jangan pernah menyepelekan mirrorless karena sekarang ia pun memiliki kamera kategori profesional yang harganya membuat kamu menyeletuk oohh..eemm…jiiii…

Jika kamu tanya apa yang saya pakai, saya pakai kamera DSLR Canon dan kamera mirrorless Sony. Saya memilih kedua sistem tersebut karena saya sudah kecemplung di dunia fotografi lumayan serius. Kombinasi dua sistem kamera tersebut memudahkan saya untuk memotret tergantung dari sikon lokasi tempat memotret. Selain itu ketika dibayar untuk memotret, kamu tidak bisa mengandalkan pada satu kamera saja. Jika terjadi apa-apa pada satu kamera, kamu bisa menggunakan kamera yang lain sebagai cadangan. Jawaban yang mirip saya yakin juga akan keluar dari mereka yang sudah hidup dari fotografi. Jawaban akan berbeda dari orang yang kebutuhannya berbeda. Jadi lupakan pertanyaan mana yang paling bagus. Karena semuanya bagus dengan karakternya masing-masing. Tidak salah cari waktu dan lokasi yang tenang untuk berpikir, kalau perlu pergi bertapa ke gua.

Duh, segitunya. Kayak mikir negara aja, om.

Lalu tanyakan secara sungguh-sungguh kepada hati kecil kamu, kebutuhan seperti apa yang kamu punyai sehingga memutuskan membeli kamera. Lalu fungsi dan fitur kamera seperti apa saja yang mampu menjawab kebutuhan kamu. Jika sudah, mulailah buka dompet dan tabungan kamu. Kompromikan antara kebutuhan dan kemampuan. Jangan lupa untuk survey ke berbagai lapak online atau toko dengan mengajak teman yang lebih mengerti urusan fotografi agar kamu tidak terjebak masalah. Baik peperangan dengan nafsu pribadi ataupun tertipu dengan oknum penjual tak bertanggung jawab. Baca disini untuk tips nya.

Satu lagi yang terpenting. Man behind the gun. Fotografi itu 90% keatifitas dan sisanya alat. Jadi sesungguhnya kamera terbaik adalah yang kamu miliki sekarang.

Aaahh..makasih atas bagi-bagi ilmunya ya om. Tapi aku mau tanya nih. Gimana sih biar bisa bikin foto yang bagus om?

Latihan terus. Usahakan selalu memotret obyek apa saja yang kamu sukai atau menurutmu bagus setiap hari. Dengan begitu kemampuanmu akan terus terasah.

Kalau itu sih aku udah kerjakan dari dulu walaupun cuma pakai HP, om.

Oh ya? Bagus itu. Kamu memotret apa?

Diriku sendiri, om

*……..* tiba-tiba hening

15 Comment

  1. Salam kenal Om. Saya barusan beli Nikon D5100, masih amatir, kmren belinya buru2 mau travelling, mohon pencerahan om, niat banget belajar fotografi, mungkin sudah pernah bagi2 tips nya, boleh minta linknya tidak..hehehe (saya ibu-ibu om, takut salah, sering dipanggil mas sama blogger lain)

    1. Mas Aan says: Reply

      Halo, salam kenal juga. Saya panggil mbak Anggra saja ya. Sebelumnya terima kasih sudah mampir kemari. btw, maksudnya link apa ya?

  2. hallo om selamat malam saya anggn om
    mau tanya ya kalo menurut segi merk bagusan nikon ato canon ya? soalnya masih bingung om

    1. Mas Aan says: Reply

      terima kasih atas kunjungannya mbak anggun
      jawaban yang anda cari sebenarnya sudah ada di tulisan ini.silahkan baca kembali dari atas

  3. MasJun says: Reply

    terimakasih atas penjelasannya, akhirnya saya tau harus milih apa. selain nikah pastinya.*halah* makasih info2nya, mas. salam kenal.

    1. Mas Aan says: Reply

      Sama2. Makasih sudah mampir

  4. Rizkhas says: Reply

    ini ada komentar dari salah satu sepuh kaskuser yang suka saya jadikan patokan.
    dari link : http://www.kaskus.co.id/show_post/522e16f705346ae769000001/13/-

    from Materian. 🙂

    Kamera apa yg tepat untuk anda ?
    Ditulis 17 Februari 2013,
    Di update 24 Mei 2014

    Tips memilih kamera digital untuk pemula ala materian

    Kali ini saya akan menulis kamera digital apa yang tepat untuk pemula.
    Tulisan ini akan saya bagi menjadi dua bagian…
    Bagian umum yang dapat diaplikasikan kapan saja, -selama teknologi fotografi tidak berubah secara fundamental- dan bagian khusus yang berisi rekomendasi merk dan tipe, yang dapat berubah sewaktu-waktu.

    Bagian umum

    Tidak ada kamera digital (berikutnya saya hanya akan menulis kamera saja) yang tepat bagi semua orang. Tiap kamera diperuntukkan untuk kebutuhan tertentu dan untuk orang tertentu. Karena tiap orang punya kebutuhan dan keinginan tertentu yang tidak sama dengan kebutuhan dan keinginan yang lain. Namun yang jelas, setiap orang pengen fotonya bagus.

    Secara teknis, foto yang bagus itu dihasilkan oleh -skill fotografer yang baik- dengan -gear atau sistem yang bisa menghasilkan image quality (IQ) baik-

    Supaya kita bisa menghasilkan IQ yang baik, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam sebuah sistem
    1. Body kamera
    2. Lensa
    3. Lighting

    Mana yang paling tinggi persentasenya ?
    Tergantung orangnya,… suka fotografi yang natural (tanpa lighting) atau fotografi dengan menggunakan lighting.
    Kalau menurut saya yang suka fotografi natural, lensa yang paling banyak pengaruhnya. Saya sudah mencoba berbagai macam body dengan berbagai macam lensa. Lebih bagus IQ dari -lensa bagus dan body biasa- daripada -body bagus tapi lensanya biasa-.
    Kalau anda suka fotografi dengan lighting, jelas lighting yang paling banyak pengaruhnya, kemudian lensa, baru body.

    Lighting tersedia untuk semua kamera, tidak banyak yang spesifik, karena tiap kamera memiliki sistem yang universal untuk mengoperasikan lighting set. Sementara itu, tidak semua sistem (merk kamera dan lensa) jajaran lensanya lengkap. Jadi apa jenis dan merk kamera yang tepat bagi anda akan tergantung lensa apa yang tersedia dan bagaimana valuenya.

    ======================================================

    Bagian khusus

    Balik lagi ke keinginan dan kebutuhan, fotografi jenis apa yang anda minati ?

    Sebelum memutuskan untuk membeli alat fotografi, terlebih dahulu sebaiknya kita mengenal berbagai jenis fotografi.

    1. Landscape
    2. Arsitektur
    3. Wildlife
    4. Sport
    5. Wedding
    6. Fashion
    7. Macro
    8. Candid
    9. Human Interest
    10. Stage
    11. Street

    dan lain lain.

    Kalau anda bingung dan belum mengenal istilah-istilah diatas, anda juga tidak bisa memutuskan akan memprioritaskan penggunaan kamera untuk jenis fotografi apa, atau anda hanya menggunakannya sebagai dasar untuk belajar fotografi dan mencoba berbagai jenis fotografi lainnya belakangan…

    Saya merekomendasikan anda untuk membeli kamera DSLR pemula merk Canon atau Nikon. Tidak yang lain.

    Alasannya sederhana, dengan memilih diantara dua merk itu, pilihan jenis fotografi yang akan anda geluti tidak terbatas. Merk lain belum komplit pilhan lensa dan aksesorisnya.

    Tapi jika anda sudah mengenal bidang atau jenis fotografi yang saya tulis diatas, maka rekomendasi saya ada dibawah ini :

    1. Landscape dan arsitektur
    Fotografi landscape (pemandangan) dan arsitektur biasanya diambil menggunakan lensa wide dengan bukaan kecil. Semua merk ada lensa widenya. Dibandingkan merk lain, dibidang ini menurut saya Nikon yang paling unggul DSLRnya. Body Nikon rentang Dynamic Rangenya tinggi. Lensa Nikon juga terkenal tajam, warnanya pekat dan kontrast. Untuk kamera yang berukuran kecil, saya merekomendasikan Fuji.
    Jadi pilihannya :
    a. Nikon D3100 body + 35mm f1.8
    b. Fuji XM-1 dan lensa kit

    2. Wildlife dan birding
    Fotografi di alam liar biasanya menggunakan lensa tele dengan bukaan sebesar mungkin agar bisa mengabadikan hewan yang bergerak cepat. Semua kamera ada lensa telenya. Khusus untuk Sony NEX dan Samsung NX, sampai saat ini belum ada telezoom yang mencapai 300mm. Cuma diantara semua merk, Canon lah yang jajaran lensa tele nya paling lengkap. Nikon ada di peringkat kedua, bukan karena kalah bagus, tapi karena jajaran lensa telenya tidak selengkap Canon. Justru jika anda memiliki dana lebih (diatas 20jt), lebih baik memilih Nikon daripada Canon di bidang ini. Ini pilihan combo body dan kameranya

    a. Nikon D3100 + Nikon 70-300mm VR = (kualitas sekadarnya)
    b. Canon 600D + Canon 400mm f5.6L
    c. Nikon D7100 + Nikon 300mm f2.8 VR II + TC14E

    Mungkin anda bertanya “loh kok opci C puluhan juta buat pemula” ? ….
    Karena untuk professionalnya, mereka pake lensa harga 180jt (nikon 800mm f5.6) atau 1 milyaran (canon 1200mm) . Jadi jangan kaget, emang ini bidang fotografi yang paling mahal. Opsi b sudah bisa menghasilkan foto yg sangat baik.

    3. Macro
    Fotografi makro itu yang motret benda-benda kecil misalnya serangga dll dan kita coba tampilkan sebesar mungkin dan sedetail mungkin. Menurut saya dibidang ini Nikon dan Canon yang paling unggul

    a. Canon 600D atau Nikon D3100 + lensa Tamron 90mm f2.8 macro
    b. Canon 600D atau Nikon D3100 + Sigma 180mm f2.8 macro OS

    Pilihan opsi a dengan lighting yang cukup sudah bisa menghasilkan foto yg spektakuler.

    4. Sport
    Kebutuhan lensa untuk sport fotografi hampir sama dengan wildlife dan birding, jadi disini kembali Canon juaranya.

    5. Wedding dan Fashion
    Wedding dan fashion membutuhkan kamera yang bisa menghasilkan skintone (warna kulit) paling akurat. Nikon lemah dibidang ini, sementara Canon justru lebih unggul. Saya tidak mengatakan penggunaan kamera Nikon akan menghasilkan foto yang jelek, tapi kalau kita menggunakan Canon, hasil memang kurang tajam, tapi skintone akurat, tidak perlu banyak editing lagi.

    a. Canon 600D + Tamron 17-50mm f2.8 non VC = 8.5jt-an
    b. Canon 600D + Canon 17-55mm f2.8 = 15jt-an

    Untuk fashion yang membutuhkan lensa tele, anda bisa melirik Canon 85mm f1.8

    6. Candid, Human interest dan Street dan general purpose
    Ada banyak pilihan kamera untuk bidang ini. Mulai dari kamera yang ukurannya kecil sampai yang besar. Untuk yang ukurannya kecil saya merekomendasikan kamera Canon

    a. Nikon D3100 + Lensa kit
    b. Canon 100D + Lensa kit

    7. Kompromi terbaik untuk semuanya
    Kategori saya tambahkan, karena banyak kaskuser yang ingin kompromi dengan semua jenis fotografi dan seperti semua jenis kompromi, ada yang ditarik dan ada yang diulur. Jelas tidak bisa memuaskan semua aspek yang kita inginkan dari sebuah sistem. Tapi setelah membanding-bandingkan, menurut saya kompromi terbaik untuk semuanya adalah :

    Kategori DSLR normal : Nikon D5200
    === Sampai saat ini, Nikon D5200 bebas isu cacat produk seperti yang dialami Nikon D7000, Nikon D600 dan Nikon D800. Nikon D5200 juga menghasilkan foto yang tajam dan memiliki rentang Dynamic Range yang lebar, sehingga sangat baik digunakan untuk Landscape, Nature, Wildlife, Macro, Arsitektur, Street photography
    Sistem autofocusnya juga cukup modern sehingga sport photography dan wildlife sudah bisa terakomodasi.

    pilihan lensa yang digunakan adalah :
    Sigma 18-35mm f1.8 + Nikon 60mm f2.8 micro Nano + Nikon 70-300 VR
    semua jenis fotografi bisa kita coba dengan tiga lensa ini.

    Kekurangannya cuma satu : Mahal. Total sistem mencapai hampir 30jt.
    Kompromi memang banyak pengorbanannya. Nikon D5200 layak dibeli kalau anda ada dana untuk beli salah satu dari tiga lensa yang ane sebut diatas. Kalau cuma beli kit doang, masih lebih baik memilih body yang lebih murah dan lensa yang lebih baik

    Kategori mirrorless / kamera berukuran kecil : Olympus EPM-2
    === EPM-2 kecil, hasil fotonya bagus, pilihan lensa m4/3 lebih komplit daripada sistem NEX, NX atau Fuji. Perlu diingat, saat kita memilih kamera berukuran kecil, sebenarnya kita sudah mengucapkan selamat tinggal untuk kenyamanan memotret sport dan wildlife photography yang membutuhkan lensa panjang. Memang masih bisa, tapi tidak nyaman. Selain itu sistem autofocus kamera mirrorless masih lemah untuk motret objek bergerak.

    Pilihan lensa yang digunakan adalah :
    Sigma 19mm f2.8 DN + Olympus 60mm f2.8 macro dan Olympus 75-300 mkII
    Sebaiknya juga sistem dilengkapi dengan VF4… aksesoris tambahan berupa viewfinder elektronik yang dipasang di hotshoe flash.

    Kasus khusus :

    Beberapa bulan ini ane sering ditanyakan pilihan kamera untuk kasus khusus.
    Penanya tidak ada batasan budget, hanya mencari pilihan terbaik dengan value terbaik untuk kebutuhannya.

    —– Ingin punya DSLR untuk motoin anak yang sangat aktif
    —– Ingin punya DSLR yang tangguh, ga gampang rusak, bisa diajak kemana-mana, bisa mengerjakan semua hal dan tidak ada rencana upgrade ke tipe yang lebih tinggi seperti fullframe kamera

    Pentax K30 + Lensa kit WR
    pilihan lensa telenya 55-200 WR dan lensa premiumnya 20-40 f2.8 WR

    Seperti semua kamera, Pentax K30 punya kelemahan, bukan karena K30-nya tapi karena Pentax nya.

    Karena pemakai Pentax sedikit, dukungan aksesoris dan lensa dari pihak ketiga tidak sebanyak Canon Nikon atau Sony.

    Wildlife dan Sport Photography juga pilihannya terbatas. Pentax tidak punya teleconverter sama sekali.

    Arsitektur dan Landscape serius bakal kecewa dengan Pentax . Pentax tidak punya kamera Fullframe sampai sekarang, tapi begitu juga dengan Olympus dan Panasonic

    Tapi kalau bukan itu kebutuhan anda. Tidak ada kamera yang lebih baik value dan performance nya dari Pentax K30

    —– Ingin punya kamera untuk semua hal, tidak sering motret objek bergerak dan ingin hasilnya bagus tapi banyak pilihan settingan kamera

    SONY NEX6 dan FUJI XE-1

    —– Ingin punya kamera untuk semua hal, tidak sering motret objek bergerak, ingin hasilnya bagus tapi ukurannya kecil dan biasanya menggunakan mode auto atau scene mode

    Panasonic GM-1 dan Olympus EPM-2

    =================

    Semua kombo ini sudah bisa menghasilkan foto seperti yang anda biasa kagumi di majalah atau di internet. Kalau sehabis membeli kombo itu hasil foto anda biasa-biasa saja, berarti skill anda yang kurang (dan anda harus lebih banyak belajar) atau selera anda ketinggian bagi selera pemula dan anda bisa membeli lensa yang lebih baik.

    Saya memilihkan body yang paling murah karena alasan dana. Saya percaya bagi pemula yang akan banyak menghabiskan waktu untuk belajar mengenali fitur di kameranya, investasi di lensa adalah pilihan yang paling baik. Memang untuk kenyamanan, lebih nyaman menggunakan body di harga sekitar 7jt-an. Tapi IQ nya tidak lah banyak berbeda.

    Saya juga tidak menuliskan rekomendasi kamera pocket disini karena khawatir anda juga akan kecewa dengan fleksibilitas dan hasilnya. Saya juga tidak memasukkan kamera pocket mahal yang bisa menghasilkan foto dengan IQ baik karena harganya sangat mahal namun tidak bisa gonta-ganti lensa.

    Menurut saya, baiknya untuk pemula dibidang fotografi beli DSLR atau kamera yang agak kecil tapi bisa gonta-ganti lensa (seperti mirrorless) biar bisa eksplorasi jenis fotografi yang lain.

    Sering sekali saya menemui pemula yang patah arang dan berhenti motret gara-gara frustasi sudah menghabiskan uang banyak tapi tidak bisa menghasilkan kualitas foto seperti yang diharapkannya, karena kurang informasi, dan kurang latihan.

    =======
    Saya percaya tulisan ini bisa membantu anda menghemat pengeluaran yang tidak perlu karena salah beli alat fotografi dan menghemat waktu anda yang berharga untuk baca review disana sini.

    Saya menulis ini tidak dibayar dan informasi yang saya sampaikan disini didapatkan dari pengalaman dan menjelajah di internet lebih dari 6 jam sehari. Saya juga seller di FJB dan personal buyer* yang sangat membutuhkan testimoni positif dari rekan-rekan sekalian.

    Tidaklah berlebihan jika saya berharap donasi GRP atau testimoni positif rekan-rekan yang mendapatkan manfaat dari tulisan ini.

    *Personal Buyer = Orang yang dipercayakan untuk mereview, memilih dan membelanjakan item tertentu secara online atau direct buying untuk item baru dan bekas.

    ======================

    Sudah beli kamera ?

    Ini ada list aksesoris tambahan yg perlu dibeli :

    1. Memory SDHC/CF merk sandisk class 10 (30mb/detik) 8 gb aja. Kalau kurang beli dalam jumlah lebih banyak, jangan kapasitas lebih besar.
    2. LCD cover tempel di tempat orang jual BB aja, ngapain mahal2. Pas kamera dijual ngga dihitung
    3.Food container sebesar kamera merk KOMAX (di ace hardware) atau lock n lock di supermarket atau tupperware sekitar 100rb
    4. Bagus serap air …ukuran kecil harga 14rb maks atau silika gel
    5. Filter protektor lensa (bukan filter UV ya pak) sesuai ukuran lensa… ngga sampe 150rb harganya.
    6. Tas beli seken aja.
    7. Blower Giotto harganya 110rb.
    8. Kapas tanpa bau tanpa warna,…. paling 2rb.
    9. Cairan pembersih kacamata… untuk menghilangkan kotoran ringan 10rb
    10. Lenspen sekitar 70rb”

    1. Mas Aan says: Reply

      Halo rizkhas, trimakasih sudah mampir.
      Lumayan komplit dan panjang ya yg dari kaskus. Buat saya intinya sebenarnya jgn sampai kekreatifitasan terbatas oleh alat. Karena yg namanya seni itu lebih karena manusianya, bukan alatnya

  5. Hai mas aan, salam kenal. Artikel yang sangat menarik. Menekankan pada kesimpulan bahwa memang sebelum membeli sesuatu yang kita inginkan/butuhkan perlu riset yang mendalam karena kamera itupun adalah investasi 🙂

    1. Mas Aan says: Reply

      halo mas Rifqy, salam kenal juga
      ya kurang lebih begitu. btw, terima kasih atas kunjungannya.

  6. baca artikel ini jadi paham banyak tentang kamera,, tapi memang bener sih kamera terbaik adalah yang kita miliki sekarang…
    saya punyanya pocket om dari dulu, belum bisa kebeli DSLR-nya, hehehe
    btw salam kenal om 😀

    1. Mas Aan says: Reply

      Salam kenal juga mbak Lulu.
      Terimakasih sudah mampir

  7. mathias says: Reply

    Om mau nanya nih bagusan kamera apa buat yg baru blajar fotografer sony,nikon,canon,atau fuji film
    #sekalian spec nya#

    1. Mas Aan says: Reply

      Silahkan pilih merk & spec apapun yang anda suka. Itu tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah keinginan untuk belajar dan tentu saja kecintaan yang besar pada dunia fotografi. Silahkan baca kembali tulisan saya diatas.

  8. Tukiman says: Reply

    Nikon D810 + 50mm 1.8 G……..38 jt
    Nikon D90 + 200-400 f/2.8……..70 jt
    …..hehehe….kombinasi yg kurang sehat.

What's on your mind