Kelana Rasa Tanah Sulawesi Selatan (bag. 1, Parepare-Sidrap-Palopo)

Dini hari kami sampai di Bandara Sultan Hasanudidin, Makassar. Tak berselang lama mobil sewaan datang menjemput. Kota Parepare yang berjarak 146 kilometer atau sekitar 3-4 jam perjalanan darat menjadi tujuan pertama. Selama beberapa hari ke depan kami akan menjelajahi berbagai daerah di Provinsi Sulawesi Selatan dalam rangka Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara (#EkspedisiWarisanKuliner). Ekspedisi yang disponsori oleh salah satu merk kecap ini bertujuan untuk mendokumentasikan berbagai kuliner nusantara sebagai warisan kekayaan budaya Indonesia agar senantiasa selalu dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Anggota tim ini yaitu saya sendiri (@aansmile27) sebagai juru foto dan Dina (@duaransel). Perjalanan kami kali ini juga ditemani oleh Arie Parikesit (@arieparikesit) sebagai koordinator ekspedisi dan dua orang penggiat kuliner, Kojep (@JeffrySie), pemilik Gudeg Yu Nap dan Meliana (@melianach) salah satu peserta acara Master Chef.

DSC07348 editWM
Patung Bau Maseppe, Parepare
IMG_2676 editWM
Putu Berre
IMG_2659 editWM
Penjual putu berre
DSC07301 editWM
Sokko
DSC07294 editWM
Penjual sokko, R.M Nirwana

Setelah beristirahat sejenak di hotel, target pertama kami untuk sarapan pagi adalah jajanan pasar yaitu putu berre. Lokasinya ada di depan Pasar Senggol, di seberang patung Bau Maseppe. Kue khas Parepare ini layaknya kue putu yang terbuat dari tepung beras dan taburan parutan kelapa. Jika kue putu di Jawa memiliki rasa manis gurih, maka putu yang satu ini bercita rasa gurih pedas karena disajikan dengan sambal tae minyak, yaitu campuran sambal, ampas kelapa yang disangrai dan ikan kecil. Selain itu yang membedakan jika putu di Jawa dikukus dengan bantuan potongan bambu, maka kue putu ini menggunakan potongan pipa PVC.

Hari masih pagi dan kami masih lapar. Sasaran makan pagi berikutnya adalah Rumah Makan Nirwana, tak jauh dari Pasar Senggol, yang menyajikan sokko, yaitu ketan putih dengan lauk ikan Layang yang digoreng atau bisa juga yang berkuah, telor asin dan parutan kelapa. Sokko ini adalah menu khas makan pagi warga Parepare seperti halnya nasi uduk atau nasi kuning di Jawa. Melihat dari bahan-bahannya saya langsung tahu cita rasanya cenderung gurih.

DSC07370 editWM
Kafe D’Carlos, Parepare
DSC07389 editWM
Aneka menu yang dipesan di kafe D’Carlos
DSC_1641 editWM
Nasu palekko (foto oleh Dina @DuaRansel)
DSC07276 editWM
Ayam lekkua
IMG_2759 editWM
Sayur jantung pisang

Puncak arena kuliner di Parepare tiba saat jam makan siang, tepatnya di Cafe & Resto D’Carlos. Terletak di lantai dua sebuah ruko yang lantai satunya adalah toko baju, kafe ini menyajikan menu makanan yang sangat banyak. Menu paling banyak tentu saja adalah variasi ikan karena Parepare adalah daerah pantai. Beberapa menu yang kami coba yaitu manuk lekkua (ayam bumbu lengkuas), nasu palekko (itik cincang sambal hijau), terong goreng sambal, lawa ikan (campuran ikan metah, parutan kelapa dan jeruk nipis atau asam belimbing, bisa disebut urap ala sulawesi), ikan kakap sambal mangga, sayur bening, cumi tinta, dan kombu pare. Di antara menu tersebut yang menarik perhatian saya adalah sayur bening yang penampilan kuahnya sebenarnya coklat keruh tapi ternyata rasanya segar seperti sop. Naluri lidah saya mengatakan akar kunci penyebabnya walaupun para pelayan disini tidak menyebutnya ketika ditanya apa saja bumbunya. Rumah makan ini sepertinya populer di kalangan warga Parepare mengingat begitu banyak konsumen yang datang dari berbagai kalangan saat itu. Keramaian bertambah dengan adanya hiburan live music yang menemani pengunjung.

IMG_2793 editWM
Sanggara belanda
IMG_2835 editWM
Dadar gulung
IMG_2827 editWM
Sikaporo
IMG_2806 editWM
Biji nangka
IMG_2799 editWM
Katiri Sala
IMG_2796 editWM
Putu pese

Tak hanya masakan berat, D’Carlos juga menyediakan berbagai kue kecil seperti sanggara belanda, yaitu pisang goreng yang memakai margarin sebagai isi dan ditaburi gula pasir. Rasanya manis campur gurih. Kemudian katirisala yang terdiri dari dua lapis, kukusan santan, telor dan gula merah di bagian atas serta ketan dibagian bawah. Rasanya asin manis dan teksturnya campuran antara lembut kenyal dan padat kasar. Cukup unik. Dua kue ini adalah favorit saya diantara sekian banyak yang lain. Selain itu masih ada beberapa jenis kue seperti biji nangka, dadar gulung, putu pese, sikaporo, dan lain-lain.

DSC07560 editWM
R.M Donald Hj Dabbo, Sidrap
DSC07571 editWM
Bebek panggang pedas
DSC07509 editWM
Bebek goreng dan gore-gore
DSC07479 editWM
Memasak gore-gore
DSC07573  editWM
Warung Sedap, Sidrap
IMG_2903 editWM
Cawiwi goreng

Menjelang ashar kami menuju Palopo. Namun sebelumnya kami singgah ke Sidrap, tetangga dekat Parepare. Walaupun tak banyak, ada dua kuliner yang kami rasa perlu untuk disinggahi. Yang pertama adalah Rumah Makan Donald Hajjah Dabbo. Rumah makan yang berdiri sejak tahun 1997 ini menyajikan aneka masakan dari daging bebek sebagai menu utama. Yang pertama kali cicipi adalah gore-gore, mirip dengan nasu palekko tapi pedasnya lebih ringan. Hidangan yang kami pesan berikutnya adalah bebek goreng dan bebek panggang pedas yang diambil dari bagian dada, sayap, dan paha. Sedangkan leher dan jeroannya untuk bahan gore-gore. Kulitnya sendiri dibuang karena kandungan kolesterolnya tinggi. Kebetulan saat itu Bu Dabbo sang pemilik rumah makan sendiri yang memasaknya. Dina sangat menyukai masakan serba bebek disini karena tidak berbau amis dan dagingnya empuk. Bahkan ia sampai memesan dua potong bebek goreng lagi untuk dibungkus. Sambil menunggu kami meminta izin berkeliling ke dapur untuk melihat proses memasak. Di bagian belakang dapur kami menemui sebuah kandang bebek berukuran besar yang didalamnya terdapat ratusan ekor bebek. Ternyata Bu Dabbo juga beternak bebek untuk menjamin pasokan daging rumah makannya.

Tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Warung Sedap yang berada di perbatasan Sidrap-Wajo. Menu kuliner yang kami icip disitu adalah cawiwi, yaitu burung belibis. Bisa digoreng atau dipanggang. Kami memesan cawiwi goreng bagian sayap. Tak lama seporsi cawiwi yang disajikan dengan sambal, kuah asam manis, dan acar siap disantap. Dagingnya tidak anyir tapi sedikit lebih alot daripada daging bebek. Saya tidak tahu apakah karena cara memasaknya atau memang bawaan dagingnya. Usai mengambil gambar dan icip-icip, kami melanjutkan tujuh jam perjalanan dengan diguyur hujan deras menuju Palopo.

DSC07587 editWM
Pasar Andi Tadda, Palopo
DSC07648 editWM
Penjual songkolo, pasar Andi Tadda
DSC07667 editWM
Asam patikala
DSC07621 editWM
Balabba
IMG_2934 editWM
Dange atau ruji

Setelah berisitirahat semalam, esok paginya kami pergi ke pasar Andi Tadda, salah satu pasar tradisional di Palopo. Disini kami menemani Bu Kasma, salah seorang warga lokal untuk berbelanja aneka bahan masakan khas Palopo. Di rumah Bu Kasma juga nanti kami akan menyaksikan proses memasak aneka masakan tersebut. Di pasar kami mencoba songkolo, yaitu ketan hitam, ikan asin, sambal dan taburan parutan kelapa sangrai. Sama halnya dengan sokko di Parepare, songkolo adalah menu makan pagi warga Palopo. Di pasar ini saya menemukan beberapa bahan dan bumbu yang jarang ditemui di pasar-pasar pulau Jawa. Salah satunya yaitu asam patikala, atau biasa disebut kecombrang yang umumnya dipakai sebagai tanaman hias di Jawa. Patikala ini memberikan rasa asam yang ringan dan segar. Ada satu lagi yang menarik bagi saya. Namanya balabba, yaitu sagu mentah setengah basah dibungkus dengan daun pandan. Baunya cukup menyengat. Selain balabba kami juga banyak menjumpai penjual dange, atau juga disebut ruji, semacam lembaran roti yang terbuat dari sagu. Dange berfungsi sebagai pemasok karbohidrat, seperti nasi di Jawa. Jika nasi umumnya memiliki citra rasa tawar agak manis, maka dange rasanya tawar agak asam. Cara memakannya dengan mengkombinasikan dengan masakan lainnya. Sagu memang menjadi bahan pokok makanan sebagian masyarakat Sulawesi, termasuk Palopo. Tak heran banyak makanan yang terbuat dari sagu.

IMG_2957 editWM
Kapurung
IMG_2972 editWM
Ikan parede
IMG_3085 editWM
Lawa pakis
IMG_2940 editWM
Lawa ikan
IMG_3004 editWM
Sinole
DSC07781 editWM
Maddui
DSC07773 editWM
Kombinasi dange dan lawa ikan ala Palopo

Satu jam kemudian kami sudah berada di rumah Bu Kasma. Cukup ramai disini karena banyak keluarga dan tetangga yang hendak membantu memasak. Hidangan yang dimasak saat itu antara lain kapurung, yaitu sup yang berisi rebusan aneka sayur kangkung, bayam, kacang panjang, terong ungu, jantung pisang, udang atau ikan kembung dan bumbu seperti cabe, asam patikala, bawang merah, tomat, dan asam patikala. Kuahnya sendiri dicampur dengan dengan kuah kaldu ikan. Yang menjadi unik pada masakan ini yaitu bola sagu. Cara membuatnya yaitu mencampur sagu dengan air dingin lalu diaduk sampai kental seperti lem. Selanjutnya dengan bantuan sumpit, adonan tersebut dibentuk menyerupai bola. Bola sagu ini lalu dimasukkan ke dalam kapurung yng sedang direbus. Cara membuat bola sagu ini disebut maddui. Tak satupun dari tim ekspedisi yang sukses melakukan maddui dalam satu-dua kali percobaan pertama. Kapurung memiliki citarasa agak asam dengan campuran rasa ikan.

Hidangan berikutnya parede, yaitu ikan kakap atau tongkol yang direbus dengan kuah kuning. Kunyit menjadi bahan perasa sekaligus pemberi warna kuning. Sementara rasa asam segarnya berasal dari asam patikala. Ada juga sinole, yaitu sagu yang dicampur dengan parutan kelapa yang telah disangrai. Rasanya gurih. Masakan yang lain adalah lawa ikan dan lawa pakis. Lawa ikan disini sama dengan yang di Parepare. Sedangkan lawa pakis hanya berbeda di ikan yang diganti dengan daun pakis. Akhirnya semua hidangan tersaji di meja makan dan makan siang pun berlangsung meriah. Sambil diselingi mengobrol kami diajari cara makan ala orang Palopo. Salah satunya yaitu mengkombinasikan potongan dange dengan lawa ikan atau pakis. Rasa gurih berserat berpadu dengan rasa ikan asam atau daun pakis. Seru dan unik.

DSC07851 editWM
Bunga kecombrang muda
IMG_2948 editWM
Barobbo
DSC07884 editWM
Baruasa
DSC07885 editWM
Bagea

Setelah berpamitan dengan keluarga Bu Kasma, kami mampir ke Rumah Makan Dapur Suka-Suka dan Aroma Luwu. Disini kami mengicip makanan yang kurang lebih sama dengan yang dimasak oleh Bu Kasma. Hanya ada satu menu yang berbeda, yaitu barobbo, atau bubur jagung yang dihidangkan di R.M Aroma Luwu. Dihidangkan berupa bubur dan jagung manis ditambah dengan kuah gurih serta tambahan portongan ikan asin yang digoreng dan sambal. Manis, gurih, dan rasa ikan goreng berpadu. Enak. Bahkan saya dan Dina pun sampai berebut.

Kami melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Rantepao, ibukota kabupaten Toraja Utara. Namun sebelumnya kami mampir ke toko kue Bagea Anggrek. Toko kecil ini sudah terkenal di Palopo karena menjual kue khas yaitu kue bagea dan baruasa. Keduanya memiliki rasa gurih manis tapi berbeda karakter karena perbedaan bahan pembuatnya. Bagea terbuat dari tepung sagu sedangkan Baruasa dari tepung beras. Kami membeli masing-masing satu kotak sebagai cemilan di perjalanan.

cerita selanjutnya

Indonesian-based photographer and story teller
2 comments
  1. Aannnn… mana terongku?
    Aannnnn… ga pake bungkus an, minyaknya sampe ndrodos ndrodos di mobil, wkwkwk….
    Aannnnnn… untung barobbonya aku awasin, kalo ga kisah terong bisa kejadian lagi!!!

    1. iya ga pake bungkus, kamu makannya dijilatin macam eskrim aja.ckckckck….

What's on your mind