Siantar, Berkunjung Ke Negeri Seribu Marga (Bag. 2)

Saya bukanlah tipe pejalan yang mengutamakan keindahan dan ketenaran. Tapi kesederhanaan dan orisinalitas jauh lebih menarik. Dan itu saya dapatkan disini. Tak sampai 24 jam singgah tapi Pematangsiantar, atau yang biasa disebut Siantar saja, sudah membuat saya terpikat. Perjalanan saya dari Parapat ke Medan sebenarnya bisa ditempuh langsung dengan mobil. Tapi karena keinginan untuk menjajal kereta api di tanah sumatra ini (I’m a railfans anyway), maka saya sempatkan diri untuk menjejak ke Siantar karena kereta yang akan saya naiki, KA Sireks-Siantar Ekspres, berawal dari kota ini. Tak banyak yang saya ketahui tentang Siantar kecuali bahwa daerah ini terkenal akan perkebunannya, warisan sejak jaman pemerintah kolonial Belanda dulu. Teh, karet dan kelapa sawit adalah komoditas utamanya.

DSC02782 copy copy DSC02783 copy copy

Berbeda dengan Parapat atau Samosir, suasana ke-batak-an tidak begitu terasa disini. Bangunan dan berbagai ornamen khas batak tak banyak saya jumpai. Wajar karena penduduknya sudah bercampur antara warga asli dan pendatang, kebanyakan etnis melayu, tionghoa dan sebagian kecil jawa yang diawali oleh para pendahulunya untuk mencari penghidupan dari perkebunan. Usai mendapatkan penginapan, saya mencoba menyusuri jalanan kota Siantar, tepatnya di sekitar Jalan Merdeka dan Jalan Sutomo. Disinilah denyut ekonomi berdetak. Bangunan toko dengan arsitektur tahun 1960an berderet rapi. Bentuk jendela, pintu, atap, ornamen, serta papan nama dengan font gaya lama yang sengaja dibiarkan seperti aslinya. Berjalan lima menit dari situ saya mendapati stasiun kereta api Siantar. Bangunannya cukup tua dan klasik. Walaupun ada petugas tapi suasananya lumayan sepi, maklum hanya ada dua kereta yang rutin melalui stasiun ini, Siantar Ekspres dan Putri Deli. Ada satu hal yang menarik perhatian. Di depan stasiun tampak beberapa betor (becak motor) ngetem menunggu penumpang. Salah satu diantaranya betor dengan sepeda motor penarik bermerk BSA. Motor BSA sebenarnya dulu dibuat untuk keperluan perang. Motor asal Inggris ini masuk ke Indonesia pada tahun 1950an namun tahun 1970 fungsinya perlahan beralih menjadi moda transportasi umum. BSA sendiri kini keberadaanya langka dan menjadi buruan para koletor. Betor BSA yang saya lihat ini tampaknya cukup terawat. Birmingham Small Arm, sang legenda dari Inggris menarik becak. Dimana lagi bisa ditemui kalau bukan di Siantar. Memang, menyusuri kota Siantar serasa dejavu, kembali ke beberapa puluh tahun yang lalu. Waktu terasa berjalan lebih lambat. Tidak ada keramaian layaknya kota-kota besar. Orang-orangnya terlihat santai dan tidak terburu waktu. Jalanan yang bersih dan trotoar yang cukup nyaman untuk melangkahkan kaki makin membuat saya berpikir untuk datang lagi kesini.

IMG_0241 copy copy DSC02901 copy copy DSC02774 copy copy

Small town with big surprise. Kejutan berikutnya datang dari makanannya. Mengingat waktu singgah yang sebentar, sebenarnya saya hanya butuh cukup sekali makan besar. Tapi yang terjadi agenda susur kota ini sekaligus menjadi ajang wisata kuliner. Baru menjejak beberapa langkah keluar dari penginapan, sebuah bangunan kafe menarik perhatian saya. Kafe yang lebih mirip rumah makan ini bernama Malona Keramaian pengunjung menjadi pembeda dengan toko-toko disekitarnya. Hmmm…Sepertinya mereka punya makanan lezat. Tapi tak seperti yang saya pikir, Malona ternyata tak punya menu khusus yang jadi andalan. Ya sudah, saya pun memesan bakso dan ayam goreng penyet sambal hijau. Aahh…dugaan saya tak meleset. Kuah bakso tidak bening tapi berasa, seperti ada bumbunya sendiri. Mie nya panjang dan kenyal seperi spaghetti. Baksonya juga empuk dan berbumbu. Untuk pertama kalinya saya makan bakso tanpa campuran saos, sambal atau penambah rasa apapun. Saya ingin menikmati rasa aslinya yang memang sudah enak tanpa tercampur oleh rasa lain. Ayam goreng penyetnya juga tak kalah maknyus. Bumbu ayamnya meresap ke dalam daging dan dagingya pun juga empuk. Sambal hijaunya juga cocok dengan lidah saya, pedas sedang dan berkarakter. Makan malam pun diakhiri dengan teh asli Siantar yang legit dan menghangatkan ruang mulut ini. Oh tidak..!! Saking menikmatinya saya lupa diri untuk tidak mengambil gambar hidangan tersebut. Sebuah kesalahan fatal untuk seseorang yang gemar menekan tombol rana.

DSC02785 copy copy IMG_0256 copy copy

Lagi-lagi saya tergoda oleh makanan. Baru beberapa langkah keluar dari kafe Malona, persis di depannya, saya tertarik dengan seorang pedagang kaki lima yang sedang memanggang telor. Tangannya cekatan menggunakan spatula membolak-balikkan panggangan. Awalnya saya pikir itu martabak, ternyata bukan. Itu burger telor. Baru sekali ini saya tahu ada burger dipasangkan dengan telor. Kali ini saya tak mau mengulang kesalahan. Setelah memesan satu bungkus, saya keluarkan kamera dan mulai memotret. Tak lama burger seharga tujuh ribu rupiah sudah saya pegang dan siap diembat. Oh, my God…!! Burger telor ini enak sekali ternyata. Di dalamnya ada irisan daging ayam dan sayuran. Saya tidak tahu apakah burger telor ini ada di tempat lain. Tapi jika saja si mas pedagang mau buka waralaba, saya yakin ia bisa cepat kaya.

DSC02813 copy copy DSC02819 copy copy

Perjalanan kaki berlanjut ke tujuan berikutnya, toko roti ganda. Roti ini berupa roti tawar yang masih baru diangkat dari oven kemudian diolesi dengan selai srikaya atau meses. Toko penjual makanan khas Siantar ini sudah berdiri dari tahun 1970an. Bentuk tokonya seperti toko pada umumnya, berupa lorong memanjang ke belakang yang diapit dua etalase di pinggirnya. Ketika saya datang suasananya sangat ramai dan menurut salah seorang karyawan toko yang saya tanyai (hmm..saya tak melihat ada karyawan pria disini) memang hampir tiap hari suasana pengunjung di toko seperti itu. Wow, saya jadi penasaran seperti apa rasa roti ganda itu. Setelah membeli satu potong kecil yang diolesi selai srikaya saya pun mencobanya. Tak salah memang banyak orang memburunya. Roti tawarnya kenyal dan empuk. Selain itu selainya kental dan sangat terasa srikayanya. Pantas saja kalau roti ganda menjadi legenda tersendiri.

DSC02841 copy copy DSC02846 copy copy DSC02860 copy copy

Perhentian terakhir saya untuk memenuhi nafsu lidah akan citarasa, kedai kopi Kok Tong. Saya mengetahui tentang kedai kopi ini dari acara “100 Hari Keliling Indonesia” di KompasTV. Akhirnya saya bisa mencicipinya juga. Konon Kok Tong adalah kedai kopi tertua di Siantar dan juga mereka mengolah sendiri biji-biji kopinya. Suasana khas tempo dulu masih dipertahankan. Meskipun demikian saya melihat beberapa sentuhan modern sudah merambah, saya melihat sebuah CCTV di langit-langitnya. Tak lama setelah memesan, segelas kopi susu panas dan teh tarik tersaji. Meskipun saya bukan penikmat kopi tapi saya pernah mampir ke Starbucks. Dan setelah saya minum kopi susu Kok Tong, saya berani bilang kopi disini lebih enak daripada menu yang sama di Starbucks yang harganya tiga kali lebih mahal. Teh tariknya juga enak karena rasa tehnya unik dan berkarakter. Mungkin karena selama ini saya hanya mencicipi minuman teh dari tanah jawa saja.

DSC02880 copy copy DSC02873 copy copy

Jam setengah dua belas malam saya sudah masuk ke kamar penginapan. Meskipun tak lama, saya merasa puas bisa mampir ke Pematangsiantar. Kota kecil yang menyimpan kejutan dan kehangatan tersendiri. Di atas ranjang, di ujung batas kesadaran, saya tahu akan tidur sangat nyenyak. Satu hari nanti saya pasti kembali lagi kesini.

Indonesian-based photographer and story teller
2 comments
  1. Jadi penasaran dengan rasa burger telornya yang terlihat enak 🙂
    Setuju dengan pernyataan bahwa keserderhanaan dan originalitas jauh lebih menarik saat jalan ke suatu tempat. Salam kenal bung 🙂

    1. salam kenal juga. terima kasih atas kunjungannya

What's on your mind