Menjual Kenangan

Seiring waktu berjalan yang terus dan hanya bergerak maju, manusia juga terus menciptakan berbagai hal yang bersifat futuristis, menggapai masa depan. Namun tetap saja ada sisi dalam manusia yang ingin memundurkan sang waktu kembali ke masa lalu, suatu masa dimana segalanya lebih sederhana tapi bermakna. Manusia memang tak bisa memundurkan sang waktu tapi ia bisa menyugesti dirinya sendiri untuk seolah merasakan hal yang sama ketika ia berada di masa lalu melalui hal yang biasa disebut sebagai kenangan

DSC04017 DSC04020 DSC04022 DSC04028

Menjual kenangan, begitulah kira-kira yang dilakukan oleh pedagang barang-barang memorabilia yang menempati sejumlah kios di sepanjang Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Berbagai barang klasik dijual disini seperti kaset pita, cakram hitam, lampu antik, botol minum, radio tabung, guci, uang koin, bahkan sampai meriam kuno dan masih banyak lainnya yang berhubungan dengan masa lalu. Rollei, Grundig, Brother, Yashica, Royal, National, Kodak, Philips, Bausch Laurence adalah sebagian merk yang tertera pada barang lawas tersebut. Mungkin sekarang sudah langka bahkan tak pernah terdengar lagi. Namun di masanya mereka adalah raja.

DSC04025 DSC04038 DSC04047 DSC04057

Kios barang antik ini sudah ada sejak tahun 1970. Awalnya hanya berjualan peralatan rumah tangga dan barang loak. Dari yang semula hanya menggunakan tenda dan gerobak keliling lalu dibuat bangunan semi permanen. Setelah diresmikan oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1974, kawasan jual beli barang antik ini mulai ramai terutama oleh warga negara asing. Boleh dikatakan kawasan yang dihimpit perumahan elit ini mencapai puncak keramaiannya pada periode 1980an yaitu ketika warga negara asing mengekspansi Jakarta sebagai pekerja ekspatriat. Sempat redup di tahun 1990an ketika krisis ekonomi melanda, kini para pedagang di Jalan Surabaya mulai bergairah kembali walau tak seramai dulu.

DSC04062 DSC04100 DSC04080 DSC04084

Salah satu dari lebih 150 pedagang yang mencari nafkah disini adalah Pak Jeki. Pria 52 tahun ini mengaku sudah berdagang barang antik sejak tahun 1985. Saat ini pria asal Ciamis ini mengkhususkan berjualan memorabilia yang berbau angkatan laut. Replika kapal, teropong, periskop, jangkar kapal, bahkan sampai helm selam tempo dulu yang masih terbuat dari logam dapat dijumpai di kiosnya. Ia mengaku mendapatkan barang-barang ini dengan berburu ke para relasinya atau juga ada orang yang datang ke kiosnya untuk menawarkan barang koleksinya.

DSC04097 DSC04098 DSC04102 DSC04107

Menurut penuturan Pak Jeki, sebagian besar yang datang ke Jalan Surabaya adalah para warga negara asing. Orang lokal yang datang kemari hanya sekedar untuk melihat-lihat. Kalaupun berniat membeli, setelah beberapa kali datang baru mereka serius menawar. Tak seperti warga asing yang cukup sekali datang. Namun sekali mereka datang, para warga asing ini bisa menghabiskan waktu seharian untuk bertanya-tanya tentang asal-usul barang dan melihat barang yang akan diincar sampai berkali-kali bahkan menggunakan kaca pembesar. Pria paruh baya ini juga bercerita bahwa sebagian besar pedagang di Jalan Surabaya adalah orang Sunda dan Minang. Kalau orang Sunda biasanya berjualan barang-barang dari bahan logam sedangkan orang Minang berjualan barang pecah-belah.

DSC04109 DSC04114 DSC04118 DSC04135

Kenangan atau sejarah yang menyertai adalah nilai terpenting dari berbagai barang lawas ini, bukan fungsi atau kualitas materi. Seperti kata Profesor Bryan Cox (BBC Knowledge), “Time is a medium that drives life. But the most important fact is not about the time itself, but what you feel within that time period. It’s your treasure, memories.”

DSC04092 DSC04106 DSC04075 DSC04083

What's on your mind