Labuan Bajo, Sebuah Keindahan Sekaligus Kecemasan

Sampai satu dasawarsa yang lalu mungkin nama kota ini masih asing. Baru beberapa tahun terakhir Labuan Bajo mulai mencuat ke permukaan. Setidaknya ada tiga hal penyebab. Pertama, komodo. Ya, satu-satunya rute umum untuk mencapai ke pulau tempat tinggal makhluk pra sejarah yang masih tersisa di bumi melalui kota ini. Dari sini selanjutnya pengunjung bisa menyewa kapal untuk menyebrang ke pulau komodo selama empat jam perjalanan atau bisa juga ke pulau-pulau lain yang tersebar di sepanjang perairan antara pulau Flores dan pulau Komodo. Kedua, secara politis Labuan Bajo adalah pendatang baru. Sejak dimekarkan dari kabupaten Manggarai pada tahun 2003, kabupaten Manggarai Barat meletakkan pusat pemerintahannya di kota ini. Ketiga, berposisi di ujung barat menjadikan Labuan Bajo sebagai gerbang Flores. Berbagai kebutuhan pokok dan logistik yang mayoritas dikirim melalui laut dari pulau Jawa dan Bali ditaruh disini untuk kemudian didistribusikan ke seluruh Flores. Pariwisata, politik dan ekonomi. Tiga kombinasi ini menjadikan Labuan Bajo sebagai kota baru yang mulai menggeliat. Ia adalah bayi yang sedang belajar berdiri. Itulah beberapa faktor kenapa saya ingin berkunjung kesini.

Belum sampai saja saya sudah bisa melihat keindahannya. Dari ketinggian 12000 kaki di balik jendela pesawat baling-baling MA60 saya dapati hamparan pulau-pulau dengan laut yang biru pekat. Saya bisa bayangkan betapa sering saya akan menekan rana kamera setibanya disana. Jam 10.30 WITA, atau setelah 1,5 jam penerbangan dari Denpasar, akhirnya kaki saya menjejak di Bandara Komodo. Sekilas pandang terlihat bandara nan kecil ini sedang membangun dirinya. Mulai dari memperpanjang landasan, memperluas apron, sampai membangun gedung baru. Pembangunan Labuan Bajo sudah tercermin dari pintu masuknya.

1 Pesawat MA60 ke Labuan Bajo 2 gugusan Pulau Laut Flores 3 nonton pesawat di bandara

Tak lama, wajah yang familiar memanggil saya. Yoko Untoro, seorang kawan lama semasa sekolah datang menjemput. Dengan motor bebeknya ia memboncengkan saya mengelilingi kota ini. Ternyata tak sampai setengah jam kami sudah mengelilingi bagian utama Labuan Bajo. Bagi saya kota ini seolah terbagi dua secara geografis. Bagian atas yang didominasi dengan bangunan pemerintahan dan pelayanan publik. Sedangkan bagian bawah yang lebih ramai, merupakan pusat kegiatan ekonomi. Jalan Soekarno Hatta, disinilah jantung ekonomi Labuan Bajo berdenyut. Di sepanjang jalan ini, pelabuhan, pasar, kafe, warung, tempat penginapan dan berbagai usaha pendukung pariwisata lainnya mengambil tempat. Kota ini memang cukup kecil. Bahkan stasiun pengisian bahan bakarnya saja hanya ada dua. Tak heran teman saya ini dengan entengnya melakukan hal yang mungkin bisa dibilang konyol di kota besar, menaruh sepeda motor sembarangan dengan kunci masih tertinggal. Kalau motor hilang, gampang mencari pencurinya. Wong jalannya ya cuma itu-itu saja, begitu kata teman saya yang juga pegawai Kementrian Kehutanan ini.

Selama tur singkat itu terutama saat melewati Labuan Bajo bawah, hampir di setiap sudut saya melihat gambar komodo atau namanya terpasang. Tapi yang aneh justru jarang ada jasa paket wisata menawarkan servisnya untuk melihat Ora, begitu warga lokal biasa memanggil si hewan sisa prasejarah itu. Sebagian besar justru menawarkan jasa snorkling dan diving. Ternyata minat para turis untuk datang kesini lebih karena ingin mencicipi keindahan bawah lautnya, bukan bertemu dengan makhluk langka yang hanya ada di Indonesia ini. Katanya diving spot disini termasuk kelas satu. Jumlah lokasi penyelaman yang lebih dari 60 titik, lebih banyak daripada di Raja Ampat, konon adalah yang terbanyak di Indonesia. Semoga Tuhan memberikan kesempatan kepada saya untuk berkunjung lagi kemari dan ketika masa itu tiba semoga saya sudah punya diving license. Amin. *LOL*.Bicara soal turis, 90% pengunjung yang saya lihat di Labuan Bajo adalah turis asing. Kemanakah gerangan para turis lokal? PR besar bagi mereka WNI yang mengaku hobi traveling tapi belum pernah menjejak kesini.

30 jalanan labuan bajo 31 kampung ujung 32 kantor bupati 34 ibu2 main voli 35 turis bule

Walaupun kotanya kecil dan hanya butuh waktu sebentar untuk menjelajah, tapi setelah melihat kondisi geografisnya saya yakin butuh waktu yang lama untuk mengeksplorasi seluruh lanskap Labuan Bajo, belum lagi wilayah laut beserta gugusan pulaunya. Tujuan penjelajahan pertama saya adalah pulau Komodo. Berkat Yoko saya beruntung bisa bergabung dengan speedboat milik Kementrian Kehutanan yang membawa anggota komisi V DPR dan beberapa petugas taman nasional setempat hendak berkunjung ke Kampung Komodo untuk meninjau pembangunan rumah yang didanai oleh pemerintah. Dalam kondisi normal, harusnya saya menyewa satu kapal motor biasa seharga Rp 1,5 juta PP tanpa menginap dengan sekali jalan menempuh waktu empat jam. Hari itu saya hanya menempuh satu setengah jam menuju pulau Komodo tanpa mengeluarkan sepeserpun rupiah. Yeaayy…

Sepanjang perjalanan tak hentinya saya dibuat terpesona oleh pulau-pulau eksotis mirip jaman prasejarah bertebaran berpadu dengan warna biru laut dan langit. Di beberapa tempat sering terlihat permukaan laut tampak membentuk pola melingkar. Meskipun tampak lebih tenang dibandingkan sekitarnya, dibawah pola melingkar itu adalah pusaran arus yang cukup berbahaya bila dilalui kapal kecil. Pola melingkar itu adalah pertemuan arus dari dari beberapa wilayah laut di sekitar pulau Flores dan pulau Komodo. Pertemuan arus ini membawa plankton dan sumber makanan bagi para ikan. Itulah rahasia keindahan alam bawah laut disini, begitu penjelasan salah seorang petugas taman nasional Komodo yang juga ikut serta rombongan.

4 di speedboat menuju pulau komodo 5 pulau Papagaran 6 kampung komodo 7 badge taman nasional

Selama perjalanan saya juga banyak mendengarkan cerita dari para rombongan. Selain anggota DPR dan petugas taman nasional, ada juga penyuluh dari Kementrian Kehutanan setempat. Dari obrolan tersebut saya mendapatkan informasi tentang betapa sulitnya menata dan membantu masyarakat yang tinggal di perkampungan pulau. Tiga perkampungan pulau terbesar disini ada di pulau Komodo, Papagaran dan Rinca. Hampir semua warga perkampungan pulau ini adalah nelayan miskin. Kemiskinan ini yang sengaja mereka manfaatkan untuk mendapatkan bantuan. Menjual kemiskinan, begitu istilahnya. Ibarat mencari ikan, mereka seolah tak mau diberi alat pancingnya tapi lebih memilih diberi ikannya langsung. Ada satu kasus di pulau Rinca dimana saat itu para warganya diberi bantuan berupa beberapa buah alat untuk merawat keramba yang harga satuannya sepuluh juta rupiah. Tak sampai sebulan alat tersebut dijual oleh warga, entah uangnya digunakan untuk apa.. Ketika akan diberikan bantuan pun mereka juga inginnya serba cepat. Mereka tak sadar proses memberikan bantuan itu tak seperti membalikkan telapak tangan. Hal itu banyak dipengaruhi tingkat pendidikan yang masih rendah. Bangunan sekolah hanya ada sampai tingkat SMP, itupun tak semuanya. Jika ingin melanjutkan ke SMA mereka harus menyebrang ke Labuan Bajo. Basi, begitu keluh salah seorang penyuluh tiap kali ditugaskan ke pulau Rinca. Ya, bagi para penyuluh perkampungan pulau Rinca adalah yang paling ‘parah’. Walau begitu tak semuanya demikian. Perkampungan pulau Komodo mulai berubah, sudah mau diajak berpikir jauh ke depan, kata penyuluh tersebut..

Setibanya di Kampung Komodo, saya dan Yoko memisahkan diri. Kami menuju ke Loh Liang, pintu utama bagi wisatawan untuk berkunjung ke pulau Komodo sekaligus tempat kantor taman nasional Komodo yang dikelola oleh Kementrian Kehutanan. Disana saya dikenalkan dengan Mukhlis, warga lokal yang berprofesi sebagai tenaga honorer petugas ranger taman nasional Komodo. Bersama rombongan turis usia lanjut yang berasal dari kapal pesiar Holland-America Line yang sedang buang sauh di dekat situ, kami menyusuri trek pendek ke dalam hutan pulau Komodo. Setengah jam berjalan kaki akhirnya kami sampai di wilayah yang disebut Hutan Asam. Disinilah pertama kalinya saya melihat langsung si Ora. Tiga ekor komodo tampak sedang ngadem dibawah pohon. Melihat dari gerak tubuhnya sepertinya mereka sedang tidak agresif bahkan cenderung manja. Mungkin mereka sudah makan. Disitu saya juga berjumpa dengan empat orang kru salah satu stasiun tv swasta untuk syuting acara Si Bolang.

8 rombongan turis lanjut usia 9 komodo 10 komodo dan turis 11 kantor taman nasional komodo 18 si bolang

Dibalik ketakjuban melihat langsung si komodo, sejengkal rasa tak habis pikir menggelitik di benak. Dua puluh turis usia lanjut beberapa diantaranya bahkan berjalan dibantu tongkat penyangga hanya ditemani oleh satu guide dan satu pawang, berdekatan dengan sekumpulan hewan karnivora ganas yang siap menyerang dengan cepat. Belum lagi ditambah cuaca panas yang rentan membuat drop orang berfisik lemah. Seperti yang terjadi saat itu, dua orang turis jatuh pingsan karena tak kuat menahan panas. Bayangkan apa yang terjadi jika sang kadal ganas itu tiba-tiba menyerang para turis karena lapar. Jangan lupakan juga fakta bahwa Ora berburu secara berkelompok. Setahu saya satu-satunya peraturan untuk masuk ke dalam area taman nasional Komodo adalah tidak sedang mengalami luka luar atau haid khusus bagi wanita sehubungan dengan kemampuan komodo mencium bau darah dari jarak jauh. Kenapa tidak ada aturan yang membatasi umur atau kondisi fisik pengunjung? Kenapa juga tidak ada aturan yang membatasi jumlah rombongan dalam jumlah yang lebih kecil supaya para petugas bisa lebih mudah mengamankan jika sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan? Ketika saya sampaikan hal itu ke para petugas, mereka tak bisa menjawab bahkan cenderung mengiyakan pertanyaan saya. Semua peraturan di area taman nasional adalah kebijakan ‘orang-orang diatas sana’. Tak jelas siapa yang mereka maksud. Mereka sudah beberapa kali menyampaikan keluhan tersebut pada atasannya. Tidak bisa dipungkiri pihak taman nasional sendiri juga mendapatkan pemasukan dari agen wisata yang mendatangkan turis kesana. Tapi seharusnya hal itu tidak menyampingkan sisi keamanan. Tak bisa dibayangkan wajah seorang SBY membaca koran internasional seperti New York Times atau Sunday Morning Herald menuliskan headline news di halaman paling depan, “A tourist become a meal for komodo dragons”

12 Loh Liang Pulau Komodo 1 14 Loh Liang Pulau Komodo 3 16 dermaga baru pulau komodo 17 penjual suvenir pulau komodo

Dibandingkan pulau Komodo, pulau Rinca sebenarnya lebih dekat dari Labuan Bajo dan juga habitat Ora lebih banyak dan juga lebih liar, begitu kata Yoko. Itu yang membuat saya sebenarnya ingin berkunjung ke pulau Rinca juga. Tapi keinginan tersebut harus dipendam karena saya hanya numpang yang artinya saya harus ikut dengan yang saya tumpangi. Sore harinya saya mendapatkan tumpangan balik ke Labuan Bajo (lagi-lagi gratis) bersama rombongan petugas imigrasi Dirjen Perhubungan Laut yang hendak pulang setelah menjalankan tugas IOB. Immigration On Board adalah pengecekan imigrasi diatas kendaraan yang hendak masuk ke wilayah negara lain untuk memudahkan penumpangnya keluar masuk wilayah negara yang dimasuki. Dalam hal ini para petugas tersebut menjalankan IOB di atas kapal pesiar Holland-America yang rombongannya saya temui tadi. Kami sempat mampir ke kapal pesiar asal Volendam, Belanda tersebut untuk membawa petugas kesehatan yang akan melakukan pengecekan terhadap jasad salah satu turis yang meninggal. Ada satu tragedi saat itu dimana salah satu penumpang kapal kolaps ketika berkunjung ke Pantai Merah di pulau Komodo lalu meninggal saat diatas kapal pesiar. Perasaan takjub tak bisa saya hindari karena inilah untuk pertama kalinya saya melihat langsung dan berdekatan dengan sebuah kapal pesiar raksasa. Saya sempat berbincang dengan salah satu kru kapal yang kebetulan orang Indonesia asal Surabaya. Katanya kapal ini berkapasitas 600 penumpang dan 300 kru. Tiba-tiba ia mengeluarkan handphone nya dan menunjukkan kepada saya foto ketika kapal pesiar tersebut bersanding dengan kapal pesiar yang lebih besar lagi, Royal Caribbean Cruises yang menampung 900 penumpang dan 400 kru. Holland-America hanya tiga per empat besarnya.

19 kapal pesiar 20 di atas kapal motor 2 21 di atas kapal motor 1 22 cahaya surga 23 sunset di atas kapal

Keesokannya saya menjelajah penjuru lanskap Labuan Bajo, dan ternyata pikiran saya benar. Butuh waktu lama untuk menyusuri Labuan Bajo. Jujur buat saya, dari beberapa kali pengalaman traveling disinilah pemandangan terindah yang pernah saya lihat. Padang rumput Gorontalo, pantai Pede, pantai Wae Rana, bukit Waringin, pelabuhan Bajo, dan pasar ikan adalah beberapa tempat yang saya datangi. Namun pemandangan terbaik saya dapatkan di atas Bukit Wae Cicu dan Bukit Cinta. Dari atas dua bukit yang sebenarnya saling membelakangi inilah tampak luas lanskap Labuan Bajo bawah dengan lautan biru dan gugusan pulaunya. Bahkan di atas Bukit Cinta saya mendapatkan pemandangan sebuah cekungan besar yang membentuk semacam laguna yang sangat indah. Di atas bukit ini tak terasa air mata meleleh. Bersyukur sekali menjadi orang Indonesia yang dianugrahi berbagai keindahan. Dalam hati saya berdoa meminta kepada Tuhan untuk memudahkan cita-cita saya mnejelajah, menemukan, merawat dan menjaga berbagai keindahan negeri ini. Sholat dua rakaat pun terlaksana dan sekali lagi doa itu terucap.

24 pelabuhan 25 pasar ikan 1 26 pasar ikan 2 28 anak-anak Labuan Bajo 29 perkampungan labuan bajo 33 padang rumput Gorontalo 36 dari atas bukit cinta 1 37 dari atas bukit cinta 2

Ada rasa cemas dan prihatin ketika saya menjelajah di atas deretan bukit terebut. Saya lihat di beberapa tempat sudah dipasang patok batas tanah. Lalu di pinggir jalan saya jumpai papan yang bertuliskan nama dan nomor telepon. Kemudian saya sempat berpapasan dengan dua orang warga negara asing dan beberapa orang petugas berseragam Badan Pertanahan Nasional. Informasi yang saya dapatkan juga menyebutkan bahwa beberapa pulau dekat Labuan Bajo sudah dibeli orang asing. Bahkan ternyata mayoritas penginapan, resort dan jasa snorkling & diving disini adalah milik orang luar. Komersialisasi sedang dimulai. Jangankan orang Indonesia, warga lokal pun suatu saat nanti bisa saja harus membayar mahal untuk menikmati keindahan tanah kelahirannya sendiri. Buat saya pribadi inilah bentuk kebijakan investasi asing yang berlebihan. Lalu kemanakah para investor lokal? dimanakah peran aktif pemerintah terutama pemerintah daerah dalam melindungi kepentingan dalam negerinya? Saya jadi teringat sebuah acara televisi yang saat itu mewawancarai seorang Nadine Chandrawinata yang membuka resort di Raja Ampat bukan karena ia ingin mencari uang disana tapi lebih karena rasa nasionalismenya terusik disebabkan semua resort di Raja Ampat pemiliknya adalah orang asing. Meskipun demikian harus saya akui bahwa para bule itu memang jauh lebih bisa merawat daripada orang Indonesia sendiri. Membuang sampah misalnya. Hal yang paling dasar dalam menjaga lingkungan ini masih sering terabaikan. Dengan mata sendiri saya melihat beberapa pedagang di warung Kampung Ujung membuang sampahnya ke pinggir laut. Situasi yang serba salah.

54 papan jual tanah 39 dari atas Waecicu 1 41 dari atas Waecicu 3 44 dari atas Waecicu 4 45 dari atas Waecicu 5 46 dari atas Waecicu 6

Walaupun kurang puas tetap saya harus kembali. Pengalaman singkat di Labuan Bajo memberikan saya banyak hal. Di satu sisi saya senang dan bersyukur telah diberikan kesempatan untuk menikmati keindahan negeri sendiri tapi di sisi lain saya juga khawatir. Kota kecil ini sedang menggeliat untuk membangun dirinya. Dalam beberapa tahun ke depan ia akan jauh lebih gemerlap dibanding sekarang. Tapi banyak hal juga yang harus segera dibenahi agar berbagai kecemasan dan keprihatinan tidak berubah menjadi katastropi fisik atau sosial. Negeri ini indah, terlalu indah malah. Jangan sampai ia rusak justru karena manusianya sendiri yang tak becus merawat dan menjaganya. Semoga.

47 dari atas Waecicu 7 49 dari atas Waecicu 9 52 labuan bajo dari atas bukit waringin 53 pantai waerana 55 pesawat mendarat 56 senja di Pede 58 sunset dari pelabuhan 2 48 dari atas Waecicu 8 59 sunset di Pede 60 bersama teman

8 Comment

  1. Membayangkan wajah SBY? paling beliau cuma bilang, “Saya prihatin..” haha
    btw, love the oceanic vistas.. breathtaking (y)

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      dan kantong matanya pun makin menghitam…

  2. yoko_un7 says: Reply

    ada koreksi an : Bukan Dinas Kehutanan tp Kementerian Kehutanan, Balai TN Komodo adalah satuan kerja yg menginduk ke Eselon I (Direktorat jenderal Perlindungan Hutan & Konservasi Alam (PHKA) Kemenhut

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      ok boy, sudah diedit. tengkyu koreksinya

  3. thino says: Reply

    terima kasih udh berkunjung k rumah kami. itu dia dengan keindahan dan kekurangannya. smoga tulisan anda bisa dibaca banyak orang dan semoga nntinya ada banyak hati yg tergerak mau membangunnya k perkembangan yg lbih baik.. 🙂

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      Halo mas/mbak thino.trimakasih jg sudah berkunjung ke tulisan blog ini.maaf klo ada yg salah/tulisan saya.ini hanya sudut pandang saya sbg tamu yg hnya singgah sbntar.mungkin tuan rumah yg lbh mngetahui kondisi sbnrnya.tapi harapannya tetap sama,agar Lab Bajo berkembang lbh baik dari sisi ekonomi,wisata,sosial dan lingkungan

  4. purwantyastuti says: Reply

    saya ingin berkunjung ke sekolah dasar di labuan bajo atau pulau rinca/p. komodo membawa sepatu dan alat tulis untuk adik2 yang tidak punya sepatu untuk kesekolah (rasanya saya pernah melihat di TV disuatu daerah di NTT yg saya lupa dimana. saya kebetulan akan ke labuan bajo/rinca/komodo; jadi ingin membantu adik2 yg memerlukan hal hal tersebut utk kesekolah. terimakasih. Mohon info adakah seseorang yg bisa saya hubungi, sebaiknya seorang guru atau dokter.

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      sebelumnya terima kasih telah berkunjung ke blog saya mbak. mohon diberikan alamat email yg bisa saya hubungi, nanti akan saya tulis disitu

What's on your mind