Samosir, Berkunjung Ke Negeri Seribu Marga (bag. 1)

Lady…sarihon au ito rohakki sai hot do tuho
Lady…anju ma au ito holongki holan diho
Lady..oh lady…oh lady…

Kurang lebih lima jam nyaris tanpa jeda, telinga ini disuguhi oleh suara tinggi dan lengkingan khas lagu Batak yang diputar oleh Mervin Pasaribu, supir travel yang saya naiki. “Lady”, dinyanyikan oleh Paniel Lahagu Panjaitan yang nadanya sama dengan lagu “She’s Gone” nya Steelheart itu mengantarkan saya ke pemberhentian berikutnya, pelabuhan Tiga Raja, Parapat. Tanpa menunggu lama, saya langsung naik ke kapal penyebrangan untuk mengarungi “lautan” danau Toba, danau terbesar di Asia Tenggara yang berkedalaman maksimal 450 meter ini. Diantara beberapa kali menumpang kapal, pengalaman kali ini mungkin yang paling menyenangkan. Airnya tenang tidak membuat mabuk. Yang paling membuat senang adalah kombinasi air tawar dan hawa khas pegunungan, membuat angin yang menerpa badan terasa sejuk dan segar, tidak seperti ketika menyebrang lautan yang anginnya terasa lengket dan gerah. Di atas kapal saya duduk bersebelahan dengan Maria, salah seorang turis asing asal Belanda. Bersama pacar dan beberapa temannya, ia sudah menetap dua hari di Samosir dan berencana menghabiskan dua bulan berikutnya menjelajah Indonesia. “Indonesia is so big yet beautiful. That’s why we’ve planned to travel in Indonesia for long time since a few months ago”, begitu katanya.

DSC02243 copy copy IMG_9999 copy copy IMG_0063 copy copy IMG_0017 copy copy

Satu jam terlewati dan saya mendarat di desa Tuk-Tuk, tepatnya di Bagus Bay. Setelah beberapa kali bertanya kepada warga setempat dan berjalan hampir satu kilometer akhirnya saya tiba di penginapan Liberta. Saya mendapatkan penginapan ini dari rekomendasi di internet yang menyebutkan bahwa di Liberta pelayanannya bagus dan harganya terbilang miring dibandingkan yang lain. Selain itu disini juga menyediakan sewa motor yang akan sangat bermanfaat untuk menjelajah tanah Samosir. Dan ternyata memang benar, karena sampai akhirnya check out keesokan harinya saya merasa puas walaupun agak kerepotan dengan kondisi WC nya yang mengadopsi gaya barat, WC duduk tanpa air pembilas, tapi dengan tisu.

DSC02706 copy copy IMG_0209 copy copy IMG_0057 copy copy IMG_0055 copy copy

Sayang karena dari sore sampai malam turun hujan saya tak bisa langsung keluar menjelajah. Namun ternyata ada hal lain yang bisa saya dapatkan. Saya berkenalan dengan dua pasang turis asal Inggris, Greg dan May. Dua pasangan (tanpa menikah) ini sudah delapan bulan jalan-jalan keliling sejumlah negara di lima benua. Di Indonesia sendiri mereka sudah tinggal selama dua minggu. Mereka sudah berkunjung ke Jakarta, Lombok, Dieng, Yogyakarta dan akhirnya ke danau Toba. Mereka sengaja mengundurkan diri dari pekerjaan masing-masing (Greg sebelumnya bekerja di galeri seni dan May bekerja sebagai penata rias) untuk traveling ke sejumlah negara dalam waktu lama. Menurut mereka hal semacam itu lumrah dilakukan oleh banyak warga eropa sejak lama. Selain karena jumlah hari libur di sejumlah negara benua biru yang rata-rata lebih banyak dibanding Indonesia, bagi mereka traveling bukan sekedar untuk bersenang-senang. .“Not just for fun, but to see so many differences makes us more respect for life and it’s important for us”. Tak heran justru orang asing yang lebih banyak mendatangi tempat-tempat di Indonesia sekaligus bersikap lebih santun daripada warga Indonesia sendiri.

DSC02394 copy copy DSC02407 copy copy IMG_0152 copy copy DSC02416 copy copy

Keesokannya, bermodalkan sepeda motor yang saya sewa dari Liberta dan informasi dari sebuah blog, saya memulai penjelajahan Samosir. Saat itu selama di desa Tuk-tuk di beberapa tempat jalanan kurang nyaman dilewati karena sedang ada pengerjaan selokan. Setelah beberapa saat saya memasuki desa Ambarita dan berhenti di situs Batu Kursi Siallagan. Di tempat ini terdapat kumpulan kursi dan meja batu yang dulu dipakai oleh Raja Siallagan, penguasa Batak Toba ratusan tahun yang lalu, untuk melakukan sidang pengadilan di depan umum. Ketika sidang berlangsung, terdakawa dipasung di bagian bawah salah satu dari deretan rumah Bolon (rumah adat Batak) dan setelah dieksekusi mati, dagingnya akan dimakan oleh raja dan rakyatnya. Dari sinilah muncul istilah “Batak makan orang”. Praktek kanibalisme ini berhenti setelah seorang pendeta misionaris asal Denmark, Ludwig Ingwer Nommensen, sukses mengkristenkan sang Raja dengan meninggalkan kepecayaan asli Batak saat itu, Pelebegu. Nommensen sendiri akhirnya mendapat julukan, “Rasul Orang Batak”.

DSC02534 copy copy DSC02540 copy copy DSC02576 copy copy DSC02582 copy copy

Perjalanan berlanjut semakin ke utara-barat. Melewati sepanjang jalan di desa Simanindo yang semakin rendah, saya tersadar bahwa bukan hanya rumah Bolon yang sering dijumpai, tapi juga makam-makam berbentuk prasasti unik. Makam-makam unik ini sepertinya memang tersebar di seluruh penjuru Samosir. Melihat bentuknya yang tidak biasa, pasti bukan sembarang orang yang bisa dimakamkan seperti itu. Setelah satu jam akhirnya saya berhenti di desa Parbaba, tepatnya di pantai Pasir Putih. Walaupun airnya bukan air asin laut, tapi sesuai namanya, pasir disini warnanya putih. Itulah keunikan pantai ini yang membuat saya ingin mampir. Selain pasir putihnya, yang menarik dari pantai ini adalah pemandangan di ujung horizon berupa dataran tinggi mirip gunung membentang, pulau Sumatra. Pemandangan seperti ini mengingatkan saya dengan film Jurassic Park The Lost World. Ingin rasanya ikut menceburkan diri seperti beberapa pengunjung yang lain. Pasti beda rasanya bisa berbasah ria tanpa harus badan terasa lengket dan bau amis. Namun karena tidak membawa baju ganti, niat tersebut saya urungkan.

DSC02476 copy copy DSC02511 copy copy IMG_0180 copy copy

Rencana berikutnya untuk melanjutkan perjalanan ke bukit Tele, sebuah dataran tinggi untuk melihat lanskap Samosir dengan luas, dan Panguruan, ibukota Samosir, terpaksa dibatalkan setelah melihat awan yang makin menghitam. Saya takut kehujanan mengingat di Toba sedang sering turun hujan di sore hari dan saya tidak membawa jas hujan. Selain itu juga karena saya mengejar waktu untuk menyebrang kembali ke Parapat sore harinya guna mendapatkan travel ke kota Siantar. Satu hal yang menarik tentang Panguruan. Saya mendapatkan informasi dari warga lokal bahwa disana terdapat sebuah jembatan bernama jembatan Tanah Ponggol yang menghubungkan pulau Samosir dengan daratan Sumatra. Yang menarik bukanlah jembatannya tapi aliran air yang melintas dibawahnya. Aliran tersebut sebenarnya bukanlah sungai melainkan terusan yang menghubungkan danau Toba sisi utara dengan selatan. Masih menurut warga lokal tersebut, dulu sebenarnya pulau Samosir adalah tanjung atau bagian dari pulau Sumatra yang menjorok ke danau Toba. Samosir baru menjadi pulau terpisah ketika terusan tersebut dibuat pada masa penjajahan Belanda. Kemungkinan besarnya untuk memudahkan transportasi air dari utara ke selatan dan sebaliknya. Namun tujuan sebenarnya masih perlu ditelusuri lagi. Jika memang benar demikian maka persepsi saya selama ini dan mungkin sebagian besar orang yang menganggap Samosir adalah pulau terpisah yang terbentuk dari material yang “tumbuh” dari dasar kawah danau Toba adalah salah.

IMG_0178 copy copy IMG_0110 copy copy IMG_0105 copy copy DSC02529 copy copy

IMG_0202 copy copy

Jam 14.00 saya sudah tiba di pelabuhan Bagus Bay. Tapi ternyata kapal yang akan membawa saya kembali ke Parapat baru akan datang jam 15.00. Sambil menunggu saya menikmati pemandangan sekitar dari atas kapal yang sedang bersandar. Beberapa anak kecil di dekat situ meminta kepada saya untuk melemparkan uang recehan ke danau dan mereka akan melompat dari ketinggian untuk mengambil uang tersebut. Dengan uang recehan seadanya saya pun mengiyakan permintaan mereka. Lumayan bisa mendapatkan gambar anak-anak kecil ini beratraksi. Namun terasa miris ketika melihat beberapa anak yang lain sedang mencuci di pinggir danau dan membuang air sisa cucian ke danau. Bahkan salah seorang diantaranya membuang sampah dengan entengnya ke danau Toba. Ironis, ketika dimana-mana dengan mudah ditemukan tempelan himbauan bahwa danau Toba bukan tempat sampah, namun justru penghuni danau Toba sendiri yang mengotorinya.

DSC02661 copy copy IMG_0220 copy copy

Tak beberapa lama kapal yang ditunggu datang. Di dalam kapal, selain saya ada juga sekelompok penumpang remaja wanita yang tampak begitu ceria seolah tak ingin menyia-nyiakan waktu terakhir mereka di danau Toba. Iringan lagu khas batak dan lagu cinta mendayu-dayu yang keluar dari spekaer kapal sontak membuat mereka menjadi koor massal. Tanpa rasa malu mereka menyanyi dan menari di atas geladak kapal yang terbuka. Mereka adalah para siswi tahun pertama Sekolah Tinggi Teologi Diakones di kota Balige. Saya menjadi maklum dengan tingkah polah mereka yang agak liar itu setelah mengetahu bahwa remaja wanita belasan tahun ini harus kembali dari masa berlibur ke sekolah mereka yang menerapkan disiplin tinggi ala militer esok harinya. Mereka bukan hanya menghabiskan beberapa jam untuk mencari ilmu, tapi seharian mereka memang tinggal di asrama sekolah tersebut. Bahkan tempat mereka belajar tersebut adalah sekolah khusus putri. Oleh karenanya saya agak kaget ketika beberapa diantara mereka mengajak saya berfoto bersama bahkan ada yang cenderung agresif dengan meminta alamat facebook atau twitter bahkan nomor telepon saya. Akhirnya hanya ajakan foto bersama saja yang saya kabulkan. Dasar anak muda…

Tepat satu jam kemudian saya sudah menjejakkan kaki di pelabuhan Tigaraja, Parapat. Tujuan berikutnya adalah kota Pematang Siantar atau biasa disebut Siantar saja. Kota yang niat awalnya hanya untuk transit sejenak sebelum kembali ke Medan, tapi ternyata kota kecil ini menyimpan banyak kejutan menyenangkan. Selamat tinggal Toba, semoga keindahanmu tetap terjaga dan tak lagi menjadi tempat sampah bagi kami para manusia yang tak tahu malu ini.

 

Indonesian-based photographer and story teller

What's on your mind