The Grand Mosque Kauman. Between art, culture & spiritual (Antara Seni, Budaya & Agama)

Originally named Mosque of Kagungan Dalem Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, the worship place was built in 1773 by Sri Sultan Hamengkubuwono I as the first sultan (king) of the Sultanate of Mataram Yogyakarta with Kyai Faqih Ibrahim as the first headman of the palace and with the help of Kyai Wiryokusumo as the architect.

The Grand Mosque Kauman (the mosque is located in District Kauman), also the other name, has so many lure. The entrance was constructed with Semar Tinandu, the distinguish style of Islamic Mataram. At the outside, a blumbang (pond) which once used to serve as a place of ablution, surrounds the mosque which inagurated as cultural heritage in 1931. The main roof is three pyramid-shaped which symbolize the three spiritual stages of human life, the syariat (the moral law), makrifat (the konwledge) and hakikat (the truth). At the inside, the building consists of two parts and the outside platform and the main hall. In 1867 a great earthquake strucked and knocked down the platform. The renovation was done by replacing the pillars and the main frame with teak wood and replacing the original stone floor with Italian marble.

The outer foyer is so open while the main hall is more closed, leaving only dim light from the ceiling and the front windows. The left side of the mihrab (the place for imam to lead the pray) there is a Maqsurah, a large cube box made of teak wood that serves as a security for the sultan while praying. On the right side of the mihrab lied a large wooden podium decorated with carvings of plants which serves as a place to preach.

Like other, this  mosque organizes various religious activities. Its front yard also become a venue for the final series of Grebeg procession events, scrambling the gunungan (mountain-shaped composition of crops) as a symbol of the king’s gift to his people. Grebeg lasted four times a year at the holy day of Islam, Grebeg Syawal (Eid Fitr), Grebeg Besar (Eid al-Adha), Grebeg Suro (Islamic New Year) and Grebeg Mulud (the birth of the Prophet Muhammad). The Grand Mosque Kauman is a perfect architectural heritage which combines art, culture and spiritual.

***

Bernama asli Masjid Kagungan Dalem Karaton Ngayogyakarto Hadiningrat, dibangun pada tahun 1773 oleh  Sri Sultan Hamengkubuwono I sebagai raja pertama Kesultanan Yogyakarta bersama Kyai Faqih Ibrahim sebagai penghulu pertama kraton Yogyakarta, dan dengan bantuan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya.

Banyak pesona dihadirkan oleh bangunan yang cukup disebut dengan masjid Gedhe (agung) Kauman ini. Pintu masuknya bergaya konstruksi Semar Tinandu khas Mataram Islam. Di bagian luar terdapat sebuah blumbang (kolam) yang dulu berfungsi sebagai tempat wudhu, mengelilingi bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1931 ini. Atap utama masjid berbentuk limas tumpang tiga yang melambangkan tiga tahapan kehidupan manusia, syariat, makrifat dan hakikat. Lebih masuk ke dalam, bangunan masjid terdiri atas dua bangunan utama yaitu serambi luar dan induk. Pada tahun 1867 gempa besar melanda dan merobohkan bagian serambi luar. Renovasi pun dilakukan dengan mengganti tiang dan rangka utama dengan kayu jati serta mengganti lantai serambi yang semula berupa batu kali menjadi batu marmer dari Italia.

Lain di luar lain pula di dalam. Jika serambi luar sangat terbuka dan berkesan cerah, maka bagian induk lebih tertutup dan redup, hanya menyisakan cahaya masuk dari sejumlah jendela di bagian langit-langit dan jendela di bagian depan. Di sebelah kiri mihrab ( tempat imam memimpin sholat) terdapat sebuah maksura, yaitu sebuah kotak kubus besar terbuat dari kayu jati yang berfungsi sebagai tempat pengamanan bagi raja apabila sedang sholat di masjid Kauman ini. Sedangkan di sisi kanan mihrab terdapat sebuah mimbar besar terbuat dari kayu dan berhiaskan ukiran tumbuhan yang berfungsi sebagai tempat berkhotbah.

Seperti halnya masjid lainnya, Gedhe Kauman juga menyelenggarakan berbagai  kegiatan keagamaan. Selain itu di halaman masjid Kauman ini juga menjadi tempat berlangsungnya rangkaian terakhir prosesi acara adat Grebeg, yaitu berebut gunungan (susunan hasil bumi berbentuk gunung) oleh masyarakat sebagai simbol hadiah dari raja kepada rakyatnya. Grebeg berlangsung sebanyak empat kali selama setahun ketika perayaan hari besar Islam yaitu grebeg Syawal (Idul Fitri), Besar (Idul Adha), Suro (tahun baru Islam) dan Mulud (kelahiran Nabi Muhammad). Masjid Gedhe Kauman adalah salah satu contoh sempurna warisan arsitektur yang mengkombinasikan antara seni, budaya dan agama.

IMG_8230 copy copyIMG_8441 copy copy

IMG_8258 copy copyIMG_8245 copy copyIMG_8235 copy copyIMG_8402 copy copy IMG_8400 copy copy IMG_8393 copy copy IMG_8391 copy copyIMG_8274 copy copy IMG_8367 copy copyIMG_8358 copy copy IMG_8333 copy copy IMG_8326 copy copy IMG_8308 copy copy IMG_8305 copy copy IMG_8303 copy copy IMG_8296 copy copy IMG_8294 copy copy IMG_8271 copy copy IMG_8239 copy copy

What's on your mind