Hidup Terlalu Singkat Untuk Minum Kopi Yang Jelek

Indonesia itu bangsa yang sedang butuh banyak diedukasi, bahkan sampai urusan minum kopi. Penghasil kopi nomor tiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam tapi peminum kopi sachet terbesar di dunia. Berangkat dari keresahan ini, berdirilah Klinik Kopi yang didirikan oleh salah seorang pecinta kopi tanah air, Pepeng. Pertama kali buka pada bulan Juli 2013, bagi si empunya Klinik Kopi tidak didirikan seperti kedai kopi pada umumnya. Menempati lantai dua bangunan Pusat Studi Lingkungan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dan hanya buka di malam hari dari jam 19.00 sampai last order jam 22.00, disini para pengunjung yang hampir semuanya adalah pecinta kopi dapat menikmati kopi dengan cara yang berbeda.

Saya berkesempatan mengunjungi Klinik Kopi beberapa waktu yang lalu. Awalnya Saya kaget ketika dipersilahkan mengambil nomor antrian, padahal pengunjung yang datang baru dua orang. Tak butuh lama untuk memahami. Ternyata Pepeng memperagakan langsung cara membuat kopi yang sesungguhnya di depan pengunjung. Layaknya sebuah klinik dimana terjadi sebuah interaksi layaknya dokter dengan pasien hanya saja yang dibicarakan disini adalah kopi. Di atas ‘meja praktek’, tersusun beberapa stoples berisi bermacam varian biji kopi yang sudah disangrai. Ada juga berbagai peralatan pembuat kopi seperti mesin penghancur biji kopi (grinder), alat pencampur air dengan bubuk kopi (presso), teko air dan berbagai alat penunjang lainnya.

Setelah beberapa menit akhirnya tiba giliran Saya. Biji kopi Bajawa menjadi pilihan. Proses membuat minuman kopi pun dimulai. Diawali dengan menghancurkan (grinding) dan memadatkan (temping) biji kopi. Diskusi seputar kopi pun terjadi. Disinilah tampak passion seorang Pepeng dalam hal kopi. Bukan hanya wawasannya yang luas tentang kopi, tapi juga cara penyampaian yang menyenangkan mampu membuat Saya dan mungkin pengunjung lain untuk terkoneksi dengan kopi-kopi itu. Tak hanya terkoneksi tapi juga teredukasi. Mulai dari cara membuat kopi bahkan sampai dengan sejarah dunia yang berkaitan dengan kopi, terutama di Indonesia. Si pembuat kopi yang sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan furniture ini bertutur bahwa masyarakat Indonesia cenderung kurang menghargai proses, hanya ingin cepat menikmati hasil akhir saja. Cerminan yang mudah dilihat, ya kopi. Di supermarket atau toko kelontong, begitu banyak merk dan varian kopi sachet terpajang disana. Padahal menurutnya kopi sachet itu kualitasnya rendah karena sudah tercampur dengan bahan-bahan lain dan biji kopinya sendiri juga jelek. Logika sederhananya adalah murahnya harga satu sachet kopi jika dibandingkan dengan biji kopi murni yang harganya bisa mencapai ratusan ribu tiap beberapa gram. Australia. Ia menyebut negara tetangga ini adalah negara yang kultur kopinya sudah maju dan layak menjadi contoh. Mulai dari penanaman sampai dengan cara masyarakatnya mengkonsumsi kopi menunjukkan bahwa mereka menaruh hormat pada kopi selayaknya minuman wine juga.

Kopi itu seperti agama, dan setiap pecinta kopi menganut ‘agama’nya masing-masing karena memiliki rasa dan karakter yang berbeda, begitu kata Pepeng. Indonesia sendiri adalah penghasil varian (single origin) biji kopi terbanyak di dunia. Mulai dari Gayo, Mandailing, Sidikalang, Dieng, Bali, Bajawa, Wamena, Toraja, Amungme dan masih banyak lainnya. Bermacam-macam rasa dari kopi ini dipengaruhi oleh kondisi tanah tempat menanam, mulai dari manis, asam, pahit, gurih sampai citrus. Namun dari sekian banyak kopi tanah air, ia memfavoritkan kopi Toraja karena dianggap paling kaya rasa. Ia juga merekomendasikan kopi Takengon bagi mereka yang baru pertama kali ingin mencoba kopi murni seperti ini atau bagi yang memiliki penyakit maag karena kandungan asamnya rendah dan masih cukup memiliki rasa manis. Perlu diketahui bahwa minuman kopi disini murni hanya dari biji kopi saja tanpa dicampur gula atau pemanis lainnya. Kenapa? Selain karena dapat merusak rasa kopi yang sesungguhnya, gula akan membuat ginjal bekerja lebih berat. padahal kopi sendiri sudah membuat ginjal bekerja dua kali lebih berat dibandingkan minuman lainnya karena kopi adalah minuman yang bersifat deuretik atau merangsang orang untuk buang air kecil.

Lalu bagaimana dengan mitos bahwa kopi adalah obat anti ngantuk? Bagi Pepeng, mitos itu tidak sepenuhnya benar. Kalau dikatakan bahwa kopi dapat membuat peminumnya merasa segar, ia setuju. Penyebabnya adalah kandungan kafein dalam kopi yang dapat merangsang jantung untuk bekerja lebih kencang, yang artinya lebih banyak oksigen dalam darah terpompa ke seluruh bagian tubuh terutama kepala. Itu juga sebabnya kopi berkhasiat mengurangi rasa sakit kepala. Kafein dalam kadar yang pas hanya berefek badan merasa segar tapi tidak akan sampai membuat peminumnya tidak bisa tidur. Jika itu terjadi artinya kadar kafein yang masuk ke tubuh terlalu banyak. Kuncinya adalah lama waktu persentuhan antara bubuk kopi dengan air. Semakin lama air bersentuhan dengan kopi, semakin banyak kafein yang terurai ke dalam air. Untuk itu Pepeng menganjurkan agar minuman kopi sudah habis terminum paling lama sepuluh menit setelah kopi diseduh air.

Tahap terakhir yaitu mencampur atau menyeduh kopi dengan air mendidih menggunakan presso. Akhirnya secangkir kopi Bajawa yang dihargai sepuluh ribu rupiah ini siap untuk diminum. Saya melirik ke salah seorang pengunjung di samping. Sepertinya ia adalah seorang pencinta berat kopi. Sebelum diminum, ia memperhatikan dengan seksama crema (busa krim) dan menciumi harum aroma kopi dari cangkirnya. Ya, crema dan aroma kopi yang masih panas adalah dua hal yang wajib dinikmati bagi mereka pecinta kopi selain rasa kopi itu sendiri tentunya.

Sambil lidah ini mencoba meraba-raba dimana letak kenikmatan dari cairan yang bagi Saya hanya ada rasa pahit asam ini (maklum, Saya sebenarnya bukan penikmat kopi), satu pertanyaan Saya lontarkan. Kenapa kopi, bukan yang lain? Menurut Pepeng, semua berawal kurang lebih dua tahun yang lalu ketika ia yang juga hobi traveling sering dimintai titipan oleh-oleh khas daerah yang ia kunjungi oleh teman-temannya. Ia menemukan kopi sebagai oleh-oleh yang mudah didapat karena hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kopi khas masing-masing. Saat itu ia sadar bahwa Indonesia sangat kaya akan kopi dan memilki citra rasa masing-masing. Kopi yang awalnya hanya sekedar oleh-oleh kini berubah menjadi tujuan utamanya dalam setiap perjalanan.

.

Pepeng pun mulai mempelajari berbagai hal tentang kopi mulai dari penanaman, sangrai, sampai cara pembuatan minuman kopi yang benar. Hingga akhirnya terbersitlah niat untuk membuat semacam media interaksi untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi. Dengan lebih banyak wawasan yang diketahui, maka masyarakat akan lebih menaruh respek pada kopi. Dan akhirnya terciptalah Klinik Kopi ini yang ia sebut juga sebagai ‘perpustakaan’ mini dunia kopi. Karena disini berbagai varian biji kopi disediakan, sebagian besar dari dalam negeri tapi ada juga dari luar negeri. Untuk semakin menambah khasanah perkopian, tak hanya sekedar mempraktekkan prosesi membuat kopi yang disebut dengan brewing ini, ia juga bersedia untuk mengajarkannya melalui sesi private brewing. Perlahan Saya undur diri dari meja praktek untuk mencicipi secangkir kopi bajawa dengan lebih khusyuk sambil bergabung dengan pecinta kopi lainnya. Menyenangkan bisa mendapat teman-teman baru yang latar belakangnya bervariasi namun disatukan oleh kecintaan pada kopi. Pukul 23.30 Saya berpamitan dan sekali lagi Pepeng the coffee teller mendoktrin Saya, “Mas, jangan minum kopi sachet lagi ya. Your life is too short to drink bad coffee

11 Comment

  1. wibi says: Reply

    Sebagai penikmat kopi tulisan ini lumayan informatif dan nambah wawasan…. Thanks for that.
    Cuma kenapa di foto kopinya terlihat putih kaya dicampur dengan krim atw susu? Katanya sebaiknya ga dicampur apa2….

    1. aansmile says: Reply

      yang putih itu adalah warna krim alami dari si kopi yang. warna kopinya sendiri hitam pekat. jadi kapan kita main ke bandung liat kopi aroma wib?

  2. vibishan says: Reply

    Sepertinya Sabtu depan saya bisa an. Enaknya berangkat jumat malam atau sabtu pagi?

  3. Nedia says: Reply

    mas aan ketemu mas pepeng lagi ya?pengeen kopi nya lagi…

    1. aansmile says: Reply

      yoi. dia kan emg orang jogja, jd ketemu pas aku mudik.
      monggo, di blog nya ada denah & alamatnya kok

  4. tulisannya mantes mas brow :-D…lanjutkan…..

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      terima kasih mas

  5. kopi adalah biji surga.

    gayo, takengon, lintong, sidikalang, mandailing, minang, bengkulu, jambi, lampung, taneuh sunda puntang, bobotsari, rawaseneng, ijen, kintamani, bajawa, kalosi, wamena, amungme.

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      klo kata orang, kopi itu anggur nya orang arab, nip

  6. Lala says: Reply

    keren nih artikelnya. dari judulnya aja udah menarik “Life Is Too Short To Drink Bad Coffee”

    1. Alfian W.S (Aan) says: Reply

      trimakasih sudah brkunjung 🙂

What's on your mind